Posted by: dinnasabriani | February 8, 2010

Bukan Lagi

Postingan tentara, ternyata menarik bagi sebagian kalangan. Tentu kalangan yang dalam kehidupannya berkaitan erat dengan ketentaraan, entah kalangan apa itu namanya.

Beberapa postingan ku di Incredible Dinna ini, menulis tentang kehidupan tentara. Lebih tepatnya kisah ku dengan seorang tentara. hehe. Walaupun postingan yang kutulis ga banyak, tanggapan yang masuk relatif lebih banyak dibanding postingan ku yang lain.

Terus terang saja, selain memang belakangan blog ini jarang ter update, comment yang masuk pun jadi jarang ditanggapi. Walaupun hampir pasti setiap comment yang masuk, kubaca dan kupahami dengan baik. Hanya saja, belum kutanggapi secara online.

Padahal sebenarnya, aku seneng banget kalo ada yang mampir dan meninggal comment di setiap postingan ku. Thanks for sharing, all.

Comment yang masuk dalam postingan ku di kategori ‘army’s spouse’ lebih berupa sharing, dan sebagian supporting. What am i supposed to say. Saat ini aku bukan lagi bagian dari mereka. Pacar Tentara. Lebih dari setahun, aku tidak lagi bersamanya. Komunikasi tentu masi ada, tapi tak lebih dari sekedar teman biasa. Rasa cinta pun sudah melebur untuk menghargai sebuah silaturahmi.

Dia pun, menurut informasi terbaru yang aku tau, sedang menjalin hubungan yang serius dengan seseorang. So, am not in the gank for more, all.

Sekarang, aku bisa jadi sedang jatuh cinta. Bisa jadi juga sedang patahati. Bisa jadi  sedang tidak peduli. Tapi tidak dengan tentara. Am just very welcome to be your friend, for everyone.

Posted by: dinnasabriani | January 27, 2010

Weekend

Taken: http://lemperayam.deviantart.com

I just wanna make a very shorty post.

It is about last weekend, that was very perfect weekend ever.

People could say there’s nothing perfect in this world. But i feel that day was simply perfect.

Hanging out in Bandung and around with friends, meet my old best friend, enjoying so delicious chocomelted on romantics cafe, c0incidence meets with ex-lover ‘caught with his newest girlfriend, and unlimited debate and laugh. And the most important is all covered with love.

Well, maybe i’m fallin’ love. Fallin’ in blind love, could be.

Posted by: dinnasabriani | January 14, 2010

Berputar

Hampir semua diantara kita pasti pernah merasa bahwa hidup ini memang ada naik ada turunnya. Seperti roda yang berputar, suatu saat kita pernah berada di atas, pernah di bawah. Saat terpuruk, sering kali kita merasa bahwa kita sedang berada dalam lapisan paling bawah nasib. Kesedihan menjadi berkepanjangan. Merasa paling na as. Mungkin agak berlebihan, tapi itu kenyataan yang saya lihat di antara sebagian teman-teman saya, atau mungkin saya sendiri. Padahal, bisa jadi masih ada yang lebih terpuruk dari itu. Kita gak pernah tau seberapa bawah kita mungkin jatuh. Kita lalu menjadi tidak bersyukur. Tidak melihat bahwa masih ada yang bernasib jauh lebih ‘tidak baik’ dari kita. Padahal kalo dipikir-pikir dan disadari, sebenarnya kita ini makhluk kecil, yang ga berdaya apa-apa. Mestinya kita sudah menyadari ini sejak awal. Sekuat-kuat kita berusaha, jika bukan kehendak-Nya, mau bilang apa. Kalo Tuhan ingin kita jatuh, ya jatuhlah. Bersyukur. Ya, itu kata ampuh *ga ampuh-ampuh banget si*, yang sering aku pakai, terutama untuk diriku sendiri, untuk meng ‘encourage’ teman-teman ku.

Saat kehidupan sudah mulai membaik, roda mulai berputar, dan kita mulai berada di permukaan, lalu kita pun merasa diawang-awang. Makin lama merasa makin di atas. Tapi itu tidak pula membuat kita lantas merasa cukup. Pengen lebih, dan lebih lagi. Kita menjadi lupa, pernah mengalami yang namanya hidup dalam lapisan paling bawah ‘nasib’. Bersyukur tidak, yang ada jadi maruk. Tidak pernah puas. Ingin lebih baik dalam segala hal itu wajar, tapi jika untuk mencapai nya menghalalkan segala cara, itu bukan lagi hal wajar. Seiring berjalannya waktu, berubahnya zaman dan bergesernya etika, hal yang dulunya tidak wajar sekarang menjadi wajar. Dan lagi, berputar. Wajar. Tidak wajar. Wajar. Tidak wajar.

Berputar. Saat berada di atas, mudah bagi kita untuk menjadi sombong. Bukankah sangat mungkin bagi kita untuk jatuh kembali. Jadi, kenapa harus sombong?

Posted by: dinnasabriani | January 8, 2010

Dear Hukumonline

side of my desk on the last day in Hukumonline

January 8, 2010

Friday.

This is not a resignation letter, for sure.  My appreciate wordings for them.

Dear All,

As many of you are aware that today is my last day working at Hukumonline.

Before leaving, i just want to say that i have enjoyed my time in Hukumonline and will miss you all. I really appreciate all the support, insights, good relationship, jokes while working, snacks after lunch and help you have provided me with, for almost a year, and want to thank you for it.

It’s been a great time for me representing in Hukumonline.com, as one of the most precious experience in my career. I have learnt a lot and gained considerable knowledge and thus I shall always cherish this.

I will always be feeling very lucky that i have had a great pleasure of time working with you, very close and warm relationship with all the people that i encountered in Hukumonline.com

I personally believe that Hukumonline.com will consistently group up so great. Thanks again for everything and very best wishes for you and the company.

All the best and keep in touch.

Love,

Dinna

Posted by: dinnasabriani | November 20, 2009

Papa

Biasanya anak-anak yg jauh dari orang tuanya merasa kangeen sekali dgn mamanya.

Lalu bagimana dgn papa?

Mungkin mama lebih sering menanyakan keadaan anaknya setiap hari .tp
taukah kamu jika papamu yg mengingatkannya utk menelfonmu?

Mgkn mama yg lebih sering mengajakmu bercerita,tp taukah kamu
sepulangnya ia bekerja dgn wajah lelah ia selalu menanyakan kabarmu
dari mama mu?

waktu kecil..

Papa mengajari putri kecilnya bermain sepeda. Setelah dia mengganggap
kamu bisa ia melepaskan roda bantu di sepedamu, Saat itu mama menutup
mata karena takut anaknya terjatuh lalu terluka. tp ayah dgn yakin
menatapmu mengayuh sepeda dgn pelan karena dia tahu putri kecilnya
pasti bisa.

Saat kamu menangis meronta meminta boneka yg baru,mama menatapmu
iba,tetapi ayah mengatakan dgn tegas “kita beli nanti,tapi tidak
sekarang” karena ia tidak ingin kamu menjadi manja dgn semua tuntutan
yg selalu di penuhi.

ketika kamu remaja

kamu mulai menuntut utk keluar malam. Lalu papa mulai bersikap lebih
tegas ketika mengatakan “tidak”.
itu utk menjagamu karena kamu adalah sesuatu yg berharga.
Lalu kamu masuk ke kamar membanting pintu.
Tp yg dtg mengetok pintu dan membujuk mu adalah mama.
Taukah kamu saat itu dia memejamkan matanya dan menahan diri,karena
Dia sangat ingin mengikuti keinginanmu. Tp lagi2 dia harus menjagamu.

saat seorang cowok mulai sering datang mencarimu, Papa akan memasang
wajah paling cool sedunia. Dan sesekali menguping atau mengintip saat
kmu sdg brdua di ruang tamu. Tahukah kmu dia merasa cemburu?

dan saat dia melonggarkan sedikit peraturan, kamu melanggar jam
malamnya. Ia duduk di ruang tamu menunggu mu pulang dgn sangat2
khawatir. Wajah khawatir itu mengeras ketika melihat putri kecilnya
pulang terlalu larut. Dia marah. Karena hal yg di takutinya akhirnya
datang “putri kecilnya sudah tidak ada lg”

saat papa sedikit memaksamu utk menjd seorang dokter. Ketahuilah bahwa
ia hanya memikirkan masa depanmu nanti. Tp toh dia tetap tersenyum
saat pilihanmu adalah menjd seorang penulis.

sampai saat papa harus melepasmu di bandara. Bahkan badannya terlalu
kaku utk memelukmu. Ia hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini-itu.
Dia ingin menangis seperti mama yg menangis dan memelukmu erat. Tp dia
hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya dan menepuk pundakmu
berkata “jaga diri baik2″. Agar kamu kuat utk pergi.

saat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu,
orang pertama yg mengerutkan kening adalah Papa. Berusaha mencari
jalan agar anaknya bisa merasa sama dgn yg lain.

ketika permintaanmu bukan lg sekedar meminta boneka baru, dan ia tau
ia tidak bisa memberikan. Dia sangat ingin mengatakan “iya nak,nanti
kita beli” dan saat kata2 yg keluar adalah “tidak bisa” dari bibirnya.
Tahukah kamu Ia merasa gagal membuat anaknya tersenyum.

saat kamu sakit dan tidak berada di dekatnya. Papa terlalu khawatir
sampai kadang sedikit membentak berkata “sudah di blg jgn minum air
dingin!”.berbeda dgn mama yg memperhatikanmu dgn lembut.
ketahuilah saat itu ia benar2 khawatir dgn keadaanmu.

dan di saatnya nanti kamu wisuda sebagai seorang sarjana. Papa adalah
org pertama yg berdiri dan memberi tepuk tangan utk mu. Dia yg
tersenyum bangga dan puas melihat “putri kecilnya yg tidak manja
berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”

sampai saat seorang teman hidupmu datang dan meminta izin mengambilmu
darinya. Papa akan sangat berhati2 memberikan izin.karena ia tau laki2
itu yg nanti akan menggantikannya.

dan saat Papa melihat mu duduk di panggung pernikahan bersama
seseorang yg di anggapnya pantas menggantikannya. Papa pergi
kebelakang panggung,dan menangis “tugasku telah selesai dgn baik.putri
kecilku yg lucu telah menjadi wanita yg cantik”

Papa hanya bisa menunggu kedatangan mu dan cucu2nya sesekali utk
menjenguknya. Dgn rambut yg telah memutih dan badan yg tak lagi kuat
utk menjagamu dari bahaya.

papa adalah sosok yg harus selalu terlihat kuat bahkan ketika dia
tidak kuat utk tdk menangis. Harus terlihat tegas bahkan saat dia
ingin memanjakanmu. papa jg orang pertama yg selalu yakin bahwa “kamu
bisa” dalam hal apapun.

tersenyum dan bersyukurlah ketika kamu bisa merasakan kasih syg
seorang papa hingga tugasnya selesai.kmu adalah salah satu org yg
beruntung. Karna papa adalah sosok superhero yg hebat.

-anonymous

Bdw, is he?

(Dapet dari forward-an imel)

Posted by: dinnasabriani | November 20, 2009

Benar atau Salah

Dengan beraninya kita berbicara tentang benar atau salah. Saya benar, kamu yang salah. Memang berat mengakui kesalahan. Masing-masing ego kita mengatakan bahwa kita benar.

Kita tau kita lah yang salah, tapi siapa yang mau disalahkan. Kita pun kemudian terus-terusan membela diri, dengan dalih ini dalih itu. Kalau ketauan salah, waduh bisa ribet urusannya. Mesti tanggung jawab ini itu. ‘Lempar batu sembunyi tangan’ kalau kata pepatah. Ganti rugi, minta maaf, atau  tanggung jawab lain menjadi hal yang sulit untuk dilakukan.

Maling misalnya, sudah tau salah, tapi tetap dilakukan. Disuruh mengaku maling pun tentu mengelak, segala alasan tak masuk akal diucapkan, padahal sudah jelas barang bukti di tangan. Lalu bak drama di sinetron-sinetron kemudian mengaku, saya dijebak. “Bukan saya yang melakukannya” Ya, bisa saja yang tertuduh maling itu memang dijebak, tapi bisa jadi tidak. Bisa jadi kalau ternyata memang benar dia maling nya. Lalu kepercayaan pun sudah tidak bisa diandalkan di sini.

Kita berpikir, ada lagi. Lah kalau sudah tau salah kenapa saya lakukan. Yang saya lakukan saat ini ya karena tau ini hal benar. Itu lah lalu yang membuat kita tak mau goyah sedikit pun dengan pernyataan ‘saya lah yang benar’ dan kemudian mengaku kesalahan. Mau melunakkan hati pun rasanya susah, karena saya rasa, saya pikir, dan sudah saya renungkan lagi dari segi A, B, C, kemana-kemana, saya yang benar. Maka mengakui kesalahan untuk sesuatu yang kita anggap benar pun tentu jauh lebih susah. “Wong saya bukan maling, kok, disuruh mengaku maling”

Bagaimana dengan menjadi di antaranya. Tidak membenarkan tidak juga menyalahkan. Apatis kah? Ntah lah. Kalau tidak tau apakah seharusnya yang dibenarkan memang hal benar dan yang disalahkan memang hal salah, lalu harus apa? Diam saja? Mungkin ga juga. Cari tahu? Boleh aja. Kalau sudah tau?  Sudah tau salah, kenapa dibenarkan. Itu keterlaluan. Bagaimana jika dua-dua nya salah? Kenapa harus mati-matian membela. Katakan salah kepada keduanya. Katakan benar jika memang benar.

Kesimpulannya, siapa yang benar atau siapa yang salah? Pikir-pikir.

*ini tentang dua kubu itu. Yang sangat populer di sepanjang tahun 2009.

Posted by: dinnasabriani | October 13, 2009

N.I.K.A.H

Pernikahan.

Weekend kemaren berlalu dengan nuansa pernikahan. Dari mulai hunting kado pernikahan, bantuin persiapan seserahan sahabat yang mau nikah, datang ke AKAD nikah sahabat, dengerin khayalan temen yang pengen banget punya Wedding Organizer, beliin kado buat pasangan yang baru lahiran, sampai diajak nikah. Hehe.

Ngomongin pernikahan bisa jadi permasalahan yang sentimentil sebenarnya. Bisa jadi ribet, atau bisa jadi sangat sederhana. Bisa jadi case yang sensitif tapi bisa jadi fenomena yang ditunggu-tunggu. Apalagi untuk wanita sepantaranku.

Aku dan geng manyunku sempat ngebahas ini weekend kemaren. Dan pembahasan mengenai pernikahan itu tetap tidak menemukan ujungnya sampai jam 1 malam. Karena pernikahan itu sendiri, sebenarnya sesuatu yang tak perlu berujung. Setidaknya begitulah yang kita idam-idamkan. Menikah hanya untuk sekali seumur hidup. Tanpa ujung.

Karena kesempatan itu seharusnya hanya datang sekali, tentunya kita tak mau salah langkah. Tak bisa hanya dengan mengharapkan sekali jentikan jari, lalu kita bisa mengatakan siap menikah dengannya atau siapa. Tidak semudah itu. Ada BANYAK SEKALI hal yang harus kita pikirkan sebelumnya, walaupun katanya menikah adalah salah satu hal yang harus disegerakan.

Sebenarnya apa yang ingin aku tulis tentang pernikahan? Mungkin aku pun akan sulit mencari ujungnya. Saking sulitnya, mencari awalnya pun begitu sulit. Entah mulai dari mana. Kalo teman-teman ku berbicara tentang bab I, aku sendiri ga tau bab I itu apa? Apakah lantas teori-teori itu berlaku dalam kehidupan nyata? Tak ada yang mutlak seperti teori-teori itu.

Orang bilang harus ini harus itu, tapi ternyata setelah menjalani keharusan ini itu, tak mutlak semuanya akan berhasil.

Di infotainment kudengar, pacaran sebulan tidak cukup untuk kemudian memutuskan menikah.  Lalu bagaimana dengan pacaran 3 tahun bahkan 8 tahun? Tak sedikit yang kandas. Term pacaran sebelum menikah pun membuat ku ragu untuk menjadi ukuran kapan pasangan siap untuk menikah. Teori apa lagi.

Menikah lah dengan pria dari suku ‘x’, misalnya. Atau jangan menikah dengan pria dari suku ‘y’. Atau ada lagi, yang bilang suku ‘x’ dan suku ‘y’ ga cocok. O, seriously, aku tak bisa melihat relevansi kesukuan tersebut terhadap keberhasilan sebuah pernikahan.

Ada yang bilang, sebaiknya isteri tak terlalu sibuk mengejar karir. PNS atau ibu rumah tangga adalah profesi ideal jika ingin rumah tangga utuh. Aku banyak melihat contoh yang pada kenyataannya berseberangan. Teori yang ini lagi-lagi tak mutlak berlaku bagiku.

Lalu apa, kita harus pintar-pintar memilih pasangan yang pintar, baik agamanya, ganteng, dari keluarga baik-baik, dan mapan. Lihat bibit, bebet, dan bobotnya. Lagi-lagi pria seperti itu pun tak menjadi harga mati sebuah hubungan pernikahan akan berhasil. Semua bernilai relatif.  Apakah hubungan akan menyenangkan jika punya suami pintar yang tau semua-muanya. Ngerti geografi, hukum, kedokteran, dan apa pun, dia tau. Baik agamanya pun tak melulu membuat kita semua lantas dengan penuh keyakinan mengatakan ‘yes, I do’ ketika dilamar. Ganteng seperti Choky Sitohang? Apa gunanya jika dia hanya menjadi patung di rumah. Tidak mau, karena keluarganya berantakan. Bapaknya koruptor, ibunya penipu. Lalu apakah menikah dengan pria dari latar belakang keluarga baik-baik pun menjadi patokan sebuah pernikahan akan berhasil? Lalu bagaimana dengan mapan. Money can’t buy love. Punya kerjaan bagus dan uang melimpah pun bukan jaminan  keberhasilan sebuah pernikahan. kenyataannya, pejabat yang duit nya ga abis tujuh turunan pun, bisa punya selingkuhan dimana-mana.

Kita sama sekali gak bisa bikin patokan. Pejabat, selebritis, PNS, orang biasa, dokter, pengemis, bahkan kyai sekali pun. Itu bukan patokan.

Lalu apa. Apa. Apa. Apakah kita semua harus berhenti berteori tentang itu? Diam, dan menunggu jodoh itu datang. Mungkin kita semua terlalu sibuk memikirkan teori bibit, bebet, dan bobot, lalu lupa bahwa anugrah cinta itu hanya akan datang jika waktunya tiba. Dan bisa kapan saja pergi jika memang sudah selesai. Dan seharusnya kita bertahan dengan percikan kasih sayang yang senantiasa membasuh hati kita. Siapa pun pasangan kita nanti.

Now, I’m praying. Let’s praying.

Posted by: dinnasabriani | September 20, 2009

Rumah 1430 h

Aku memandang ke rumah itu. Ke setiap sudutnya. Rasanya sudah lama aku tidak berkunjung ke sana. Dan di hari yang fitri ini, tentu wajib bagi ku untuk mampir dan bersilaturahmi. Rumah tampak lengang. Tidak lagi bersahaja seperti lebaran-lebaran sebelumnya. Apa yang salah ini.

Mereka satu per satu diam, tak hangat. Tak sumringah di hari raya yang fitrah ini. Apakah mereka juga merasa tak menang di hari kemenangan ini. Aku memandangi mereka dalam. Tak ada yang salah. Hidup mereka masih sebaik sebelumnya. Mereka semua lelaki gagah yang bijak dan perempuan cantik yang pintar. Andai aku seperti mereka, aku yakin orangtua ku berbangga dan mendulang beribu syukur.

Ah, tawa mereka  masih sama. Canda dan kehangatan yang tercipta tak sedikit pun redup. Karena aku tau mereka bijak dan pintar. Walau pun perih luka masih tersimpan. Mereka begitu kuat dan tangguh. Begitulah yang orang-orang harapkan pada mereka.  Begitu pula dengan ku.

Suasana lebaran kali ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Perbedaan yang seharusnya menuju perubahan yang lebih baik. Sekilas memang terlihat tak baik. Sebagian mungkin akan memandang sebelah mata. Ada yang kasian. Atau menghinakan. Memprihatinkan. Tapi, Allah Swt punya maksud di balik ini semua. Sekeras-kerasnya kita berusaha, tak kan hasil tanpa kehendak-Nya. Kehidupan dunia memang akan jauh dari sempurna. Keikhlasan dan rasa syukur yang membuat nya istimewa.

Kita tak berdaya apa-apa. Rupa, harta dan bahagia, hanya titipan. Akan dikembalikan jika sudah waktunya. Akan diambil jika sudah selesai jodohnya. Dan mereka akan selalu menjadi kebanggaanku. Tak peduli orang bilang apa.

Mohon maaf lahir dan batin. Selamat hari raya Idul Fitri 1430 h.

Posted by: dinnasabriani | September 11, 2009

Need a laugh?

11 REASONS WHY WOMEN FIND IT HARD TO FiND THE MAN OF THEiR DREAM……

(11 alasan kenapa perempuan mendapatkan kesukaran dalam menemukan pangeran impiannya)

1. Nice men are ugly. (Lelaki yang baik ko’ jelek ya..)

2. Handsome men are not nice. (Lelaki yang ganteng ko’ ga baik ya…)

3. Handsome and nice men are gay. (Lelaki yang ganteng dan baik, ko’ gay yaa…)

4. Handsome, nice and heterosexual men are married. (Lelaki yang ganteng, baik dan ga gay, ko’ udah merit yaaa..)

5. Men who are not so handsome, but nice, have no money. (Lelaki yang nggak terlalu ganteng, tapi baik hati, ko’ ga punya uang yaa..)

6. Men who are not so handsome, but nice n with money, think we are only after their money. ( Lelaki yang nggak terlalu ganteng, tapi baik hati dan punya duit, ko mikirnya kita ngejar duitnya….. .)

7. Handsome men without money are after our money. (Lelaki yang ganteng tapi nggak punya uang, ko malah morotin….. )

8. Handsome men, who are not so nice and somewhat heterosexual, don’t think we are beautiful enough. ( Lelaki ganteng, yang nggak terlalu baik dan kayaknya ga gay, berpikir kita nggak cukup cantik buat dia……)

9. Men who think we are beautiful, that are heterosexual, somewhat nice and have money, are cowards. (Lelaki yang berpikir kita itu cantik, dan dia ga gay, sepertinya baik hati dan punya duit, rata-rata pengecut deh)

10. Somewhat handsome man, kinda nice and have some money, and thank God heterosexual, are shy and NEVER MAKE THE FIRST MOVE!!!! (Lelaki yang rada ganteng, kayaknya baik hati dan punya uang, dan ga gay, rata2 pemalu dan ga pernah melakukan pendekatan pertama!!!!! !!)

11. Men who never make the first move, automatically lose interest in us when we take the initiative. NOW, WHO THE HELL UNDERSTANDS MEN? (Lelaki yang ga pernah melakukan pendekatan pertama, otomatis akan kehilangan ketertarikan kepada kita ketika kita melakukan pendekatan ke dia. Jadinya…, siapa nih yang bener2 ngerti lelaki?)

“Men are like a fine wine.They all start out like grapes, and it’s our job to stomp on them and keep them in the dark until they mature into something you’d like to have dinner with.”

(Lelaki itu seperti minuman anggur yang baik. Mereka mulai dari buah anggur dan adalah pekerjaan kita, para wanita, untuk menginjak-injaknya dan menyimpan mereka di dalam kegelapan sampai mereka matang dan berubah menjadi sesuatu yang menarik sehingga kita ingin makan malam bersamanya)

SEND THIS TO SMART WOMEN WHO NEED A LAUGH AND TO THE GUYS YOU THINK CAN HANDLE IT

Setelah semalaman ngakak  yang masih ga abis-abis sampe besok paginya, tawa itu berlanjut sampai aku mendapat forward-an e-mail ini. Yang (lagi-lagi) kontan membuat ku terbahak saat membaca nya.  Haha,,

Hard to say, but yes it’s true. Then, when will we meet again, girls! Promise me to not over laugh anymore. Pegal-pegal sekujur tubuhhh. hehe. We better stop to laugh at innocents and lets’s grab some fat!

Posted by: dinnasabriani | September 1, 2009

Di Atas Sajadah

Kalau taraweh di Masjid, seringkali aku memperhatikan orang-orang terutama jamaah wanita membawa sajadah sendiri. Mungkin karena ga kebiasaan, aku adalah salah satu orang yang paling sering lupa malah hampir ga pernah bawa sajadah ke masjid. Alhamdulillah, sebagian orang, tampak ikhlas berbagi sajadah dengan ku. Tapi tak jarang aku tetap sholat berjamaah tanpa sajadah saat di kanan kiri ku beralaskan sajadah yang di bawa dari rumah masing-masing.

Padahal tadi nya kupikir masjid adalah rumah ibadah yang suci, sehingga tak perlu lagi sajadah. Malah hampir di setiap masjid sudah disediakan karpet cantik untuk kenyamanan kita beribadah. Lalu mengapa diantara kita masih membawa sajadah masing-masing? Saya sendiri belum tau alasan pasti, belum pernah nanya juga ke teman-teman yang tidak pernah absen membawa sajadah kalau mau sholat taraweh di masjid. Lain hal nya jika akan sholat ied di lapangan. Aku, insyAllah, tidah pernah absen membawa Koran dan sajadah. Tapi kalau di masjid?

Aku merasa amat disayangkan jika sajadah jadi kotak kemotak dalam menjalankan ibadah jamaah. Sajadah seolah menjadi kapling bagi masing-masing pemiliknya. Karena sajadah sudah terkembang, ketika shalat dimulai pun, tak berlaku lagi ‘rapat kan saf’ yang biasa disampaikan imam sebelum sholat berjamaah dimulai. Aku bingung, kalau geser ke kanan, kiri nya kosong, begitu juga sebaliknya.

Aku, bukan wanita pengkritis ibadah. Bukan. Bahkan hanya mengerti sedikit sekali tentang ibadah. Hanya saja merasa tidak nyaman jika shalat berjamaah tapi saf nya ga rapat. Di luar dari ayat al-quran atau hadis yang mengaturnya, yang aku ingat kalau jamaah an itu saf nya rapat.

Nah, mungkin diantara kita ada yang lebih tau mengenai saf yang ga rapat itu. Kalau  ternyata shalat jamaah itu, ga perlu saf yang rapat, mungkin memang kekhawatiran ku selama ini ga beralasan.

Older Posts »

Categories