Fotografer

Apa sih yang gak boleh ketinggalan saat liburan? Foto-fotonya! Apalagi, sekarang social media buat share foto makin banyak, tentu saja, dengan keunggulannya masing-masing. Social media begini nih, yang bikin anak-anak kekinian makin menggila buat foto-foto.

Foto gak lagi jadi koleksi di kamar atau di hardisk aja sekarang. Tapi, di-share di berbagai media. Gak sedikit loh, orang yang bisa share ratusan foto dalam liburan dua minggunya. Atau lima puluh foto dalam liburan lima harinya. Dan seriusli, deh, gak termasuk saya kok. Hehe.

Nah, saking canggihnya jenis kamera jaman sekarang, gambar yang dihasilkan pun macam-macam. Dari segi kualitas, jepretan dari kamera profesional SLR (Single Lens Reflex) jelas yang paling gak bisa dikalahin. Plis lah, jangan samain kamera HP tercanggih manapun dengan kualitas kamera SLR. Walaupun soal hasil tetap tergantung jenis lensa, dan yang gak kalah penting adalah keahlian si penjepretnya. Alias si fotografer. Toh kerennya sebuah foto tergantung sama selera. Intinya, foto itu hasil karya. Continue reading

Citra di Social Media

Intinya, sii ga usah iri dengan keberhasilan dan kebahagiaan orang lain.

Iseng aja ngomong gini, cuma karna ada salah satu status temen yang bilang “kenapa path isinya jadi pamer makanan ya?”

Kalau saya mau perjelas sii, path bukan cuma buat pamer makanan, tapi jadi tempat buat pamer apa pun. Pamer lagi ngapain, pamer lagi liburan, pamer lagi jalan-jalan, pamer lagi sama siapa, pamer abis belanja apa, pamer pengen belanja apa, dan lain-lain dan lain-lain. Terus? Ya udah.

Continue reading

Ribet Satu Episode

Kita yang bikin hidup kita ribet sendiri.

Ah, cape banget ga si bahas beginian. Haha. Tapi pernyataan begini saya dapat dari orang yang saya kenal menjelang akhir tahun 2012 lalu. Sejak kenal, saya jadi punya sudut pandang yang baru soal hidup. Karena dia? Kayanya gak juga si, ya. Berhubung keseharian saya cukup dinamis dan ekplosif, wajar aja, kalau sudut pandang saya akan hidup jadi macam-macam. Kata lainnya, ga berpirinsip atau labil? Ah, gak juga, kok. Silakan judge saya defensif! Emang. Haha.

Tapi, kata-kata ribet cukup bikin saya mikir juga sih. Apa jangan-jangan ini cuma denial saya yang pengen bikin semuanya jadi simpel, tapi ternyata sebenarnya malah saya lah yang ribet. Atau ada yang merasa sama dan sepenanggungan dengan pikiran saya ini? Continue reading

Baru, Lebih Keren.

Here I am. In my third place between work and home.

Jujur aja, udah berbulan-bulan saya gak ngabisin waktu berjam-jam di sini. Sejak punya kegiatan yang lebih menarik daripada sekedar manyun-manyun pake wi-fi ditemani segelas kopi. Kata lain, sibuk berat, cui. Hehe.

Ya, sejak saya udah ga perlu lagi nunggu macet reda seusai kerjaan kelar. Atau harga lahan parkir berubah dari dua ribu jadi tiga ribu per-jam. Untuk orang macam saya, kenaikan tarif parkir, jelas berasa banget. Saya memilih untuk langsung pulang, setelah urusan kelar. Gak perlu diperjelas ya, urusan apa. :D

Jadi, sekitar dua bulan lalu tempat ini under renovation. Rupanya, mereka lagi bikin design baru. Seriously, this coffee shop became pretty dasher with their new design. Continue reading

SAYA BUKAN GAY!

Saya memang gak pernah tau rasanya jadi ‘gay’. Jadi, kalau celotehan saya kali ini menimbulkan kesan ini kesan itu, plis kita berdamai. Karena maksud saya, tak lebih dari sekedar berbagi.

Mungkin sekarang kita udah ga perlu lagi pura-pura tutup mata, dengan dunia seperti ini. Kenyataannya, komunitas atau pasangan sesama jenis sangat mudah kita temukan di setiap sudut ibu kota.  Continue reading

Opini Kedua

Second Opinion.

Begitu biasanya kita mencari masukan setelah ‘galau’ dengan masukan yang pertama. Hampir semua kita melakukannya. Apalagi, untuk beberapa keputusan penting, sering kali kita membutuhkan opini atau masukan. Ntah sebenarnya (dalam hati kita) sudah punya keputusan sendiri. Bahkan ada yang sudah sangat yakin. Atau justru ga punya keputusan apa-apa. Blank!

Opini, bisa dijadikan masukan tersendiri. Kekawatiran akan rasa percaya diri yang terlalu besar, membuat kita butuh opini atau ada yang menyebutnya pendapat. Jika tidak timbul sedikitpun keraguan, biasanya kita cukup dengan apa yang kita yakini. Opini dari mana pun, dari siapa pun rasa-rasanya tidak perlu. Boro-boro opini kedua. Pokoknya, yakin aja. Continue reading

Couple

Sometimes I wonder why we never had proper conversations like normal couples did. 

Like today, like yesterday. How about tomorrow. We’re together. 

Bernama Bandara

Saya selalu suka Bandara. Karena ketika di sana itu, saya akan pergi ke suatu tempat. Bukan tempat tinggal saya. Bukan rumah, bukan Jakarta. Keluar dari rutinitas yang biasa saya lakukan.

Tak selalu itu. Bisa juga kan, ke Bandara sekedar mengantar atau menjemput seseorang. Dan saya? Tetap suka, dengan suka yang berbeda.

Bagi saya, bangunan terminal megah dengan landasan pesawat yang luas merupakan salah satu perpaduan pas, untuk merasakan kerennya semesta. Selain berbagai pesona alam yang disediakan penjuru dunia oleh Sang Maha Pencipta, saya tetap suka bangunan yang selalu sibuk dua puluh empat jam ini.   Continue reading

Siapa elo??

“Siapa Elo?”

Pernah gak dengar kata-kata itu? Kalau di sini saya bisa menjelaskan gimana intonasinya, gini nih, kata-kata “siapa elo” disampaikan dengan nada tinggi, sinis, ditambah raut muka yang mencibir. jadi ‘Elo’ di sini sama sekali bukan nama orang.

Mudah-mudahan ngerti ya, dengan kata-kata, yang saya maksud. Hehe.

Kita, tanpa sadar, mungkin pernah mengucapkannya. Tanpa maksud atau justru dengan penuh maksud. Atau kita adalah salah satu orang yang mendapat kata-kata cibiran tersebut? Continue reading

Tidak Satu Pun

Tidak ada satu orang pun orang yang rela dikatakan ‘bodoh’ dan istilah lain yang setara dengan itu. Makanya, saya orang yang cukup terenyuh, eaaa, kok terenyuh, sih, ya pokoknya itulah, terenyuh mendengar orang dikatakan ‘bodoh’.

Saya yakin, tidak ada orang yang bodoh. Yang ada cuma khilaf. *pembenaran*

Saat kita menganggap orang lain bodoh, coba kita berkaca dulu ke diri kita sendiri. Bukan berkaca untuk mempertanyakan “saya bodoh, ga ya?” bukan itu. Tapi, andai kata-kata bodoh itu, ditujukan pada kita. Gimana rasanya? Ada yang gak kesel atau ngerasa biasa-biasa aja setelah dikatain bodoh? Oh, kenalan dong. Hehe.

Makanya, saya sendiri, sih, agak-agak memaafkan, kalau orang lain bertindak salah. Dia bukan bodoh. Continue reading

Memori SD

Haha. Ini bukan karena saya masih gak bisa move on dari kenangan saya waktu SD kok. Meskipun, masa SD emang cukup bikin saya girang dan gemilang. Pasalnya, masa SD adalah masa-masanya kita gak perlu pusing mikirin hidup, perkara proses dan hasil. Dan serentet teori lain, yang kita terima di umur segini. Ah, ya udah, sekip, jadi curhat.

Jadi gini, beberapa hari lalu, saya survei ke salah seorang penjual kerupuk memori SD. Katanya, si, mereka yang SD nya di sekitaran Jakarta Pusat atau Jakarta Selatan, pasti tau. Nah, permasalahannya adalah, SD saya bukan di Jakarta. Di seberang pulau sana. Jadi, waktu SD saya gak tau, yang namanya kerupuk memori SD ini. *penting berat* Continue reading

ProfesiONAR

Saya, jadi inget kejadian pas liputan, beberapa hari lalu. Masih anyar.

Waktu itu produksi tayangan sudah jalan satu setengah segmen (satu tayangan yang kita bikin itu 3 segmen untuk durasi 30 menit udah termasuk iklan, tentu saja). Malamnya, saya berdebat panjang lebar dengan narasumber. Dia minta, agar logo produknya disampaikan di awal acara, nama restoran disebutin, dan aturan satu lagi, saya lupa. Intinya iklan.

Berhubung saya dari divisi pemberitaan, saya gak terlalu paham soal barteran promo seperti itu.  Yang ada kaitannya dengan promosi, bagian promosi lah yang mengerjakan. Bukan saya, saya murni bagian pemberitaan. Continue reading

Bentar. Iklan Dulu.

Eits. Jangan buru-buru ganti channel. Serius, ini bukan iklan beneran.

Gak bisa tidur gini, bikin saya keabisan gaya. Ngantuk belum. Tugas nyecript, bahkan belum dimulai. Apalagi belum dapat lemparan bola hasil brainstorm dengan si bos. *manja*

Tapi, ada benernya juga gak si, waktu lagi seru nonton acara TV, eh, pas iklan kita milih untuk ganti channel. Kalau saya sih, begitu. Gak selalu, tapi hampir. Kecuali, lagi males atur-atur remote, ya gitu deh, biarin aja itu iklan liwat. Tapi, gak saya tonton juga. Itulah fungsi iklan, bisa ditangkap maksudnya, tanpa membutuhkan energi berat untuk mencernanya. Haha, malas mikir amet, yes.

Jenuh dengan blog sendiri, saya milih untuk jalan-jalan ke blog milik beberapa seleb blogger . Emang gak banyak sii, blog yang sering saya kunjungin, tapi, mendadak drop menyadari postingan mereka udah jadi postingan beriklan. Atau yaa, ituu, postingan berbayar. Continue reading

Bersiap-siap ke 2013

Kebetulan saya orang yang mudah lupa dengan masa lalu. Haha. Masa? Ya ga segitu lupanya, si. Kejadian-kejadian yang sangat berkesan, jelas aja gak mungkin lupa. Tapi, melongok ke beberapa teman, mereka sudah sangat siap untuk introspeksi apa saja resolusi mereka yang gagal atau kesampaian di tahun 2012 ini.

Saya? Bahkan mendadak lupa punya resolusi apa. Yang saya ingat, sebagian pasti gagal, sedikit yang berhasil. Tapi apa ya? *pura-pura lupa*

Kalau mau bikin kaleidoskop pun, asli susah banget buat dijabarkan satu per satu. Terlalu banyak kejadian yang berharga yang bisa dijadikan pelajaran, baik buat diri sendiri, atau buat orang lain. Kali, gitu. Continue reading

Indonesia-ku

Boleh dong, menyambut pergantian tahun ngomongin Indonesia, dikit aja. Bukan karena saya orang yang sangat nasionalis. Sama sekali enggak lah. Dari muka aja, orang-orang tau kalau saya separuh bule. Haha. *kaboorr*

Bukan itu intinya.

Beberapa kali, saya dapat komentar begini.

“Duh, din, nonton film Indonesia nunggu DVD nya aja deh” Itu di saat saya begitu semangatnya menunggu, kapan film A muncul di bioskop atau penyesalan karena saya ga bisa nonton beberapa film Indonesia yang udah lenyap dari bioskop.

Atau.

“Ah karaoke sama lo, mah lagunya Indonesia semua” begitu, ketika saya memilih list lagu-lagu Indonesia kesukaan saya di acara karaoke bersama teman-teman kantor. Continue reading