Posted by: dinnasabriani | May 4, 2012

Batu, Ujian Cinta

Nyolong dari blog nya temen nih, suka banget postingannya. ;)

Bagaimana kami tahu bahwa cinta kami cukup dalam untuk menghantar kami ke arah berdampingan seumur hidup, menuju kepada kesetiaan yang sempurna?

Bagaimana kami dapat yakin bahwa cinta kami ini cukup matang untuk diikat sumpah nikah serta janji untuk berdampingan seumur hidup sampai maut memisahkan?
Pertama, Ujian untuk merasakan sesuatu bersama.

Cinta sejati ingin merasakan bersama, memberi, mengulurkan tangan. Cinta sejati memikirkan pihak yang lainnya, bukan memikirkan diri sendiri. Jika kalian membaca sesuatu, pernahkah kalian berpikir, aku ingin membagi ini bersama sahabatku?

Jika kalian merencanakan sesuatu, adakah kalian hanya berpikir tentang apa yang ingin kalian lakukan, ataukah apa yang akan menyenangkan pihak lain?

Sebagaimana Herman Oeser, seorang penulis Jerman pernah mengatakan, “Mereka yang ingin bahagia sendiri, janganlah kawin. Karena yang penting dalam perkawinan ialah membuat pihak yang lain bahagia. mereka yang ingin dimengerti pihak yang lain, janganlah kawin. Karena yang penting di sini ialah mengerti pasangannya.”

Maka batu ujian yang pertama ialah:

“Apakah kita bisa sama-sama merasakan sesuatu? Apakah aku ingin menjadi bahagia atau membuat pihak yang lain bahagia?”

Kedua, Ujian kekuatan.

Saya pernah menerima surat dari seorang yang jatuh cinta, tapi sedang risau hatinya. Dia pernah membaca entah di mana, bahwa berat badan seseorang akan berkurang kalau orang itu betul-betul jatuh cinta.

Meskipun dia sendiri mencurahkan segala perasaan cintanya, dia tidak kehilangan berat badannya dan inilah yang merisaukan hatinya. Memang benar, bahwa pengalaman cinta itu juga bisa mempengaruhi keadaan jasmani.

Tapi dalam jangka panjang cinta sejati tidak akan menghilangkan kekuatan kalian; bahkan sebaliknya akan memberikan kekuatan dan tenaga baru pada kalian. Cinta akan memenuhi kalian dengan kegembiraan serta membuat kalian kreaktif, dan ingin menghasilkan lebih banyak lagi.

Batu ujian kedua :

“Apakah cinta kita memberi kekuatan baru dan memenuhi kita dengan tenaga kreaktif, ataukah cinta kita justru menghilangkan kekuatan dan tenaga kita?”

Ketiga, Ujian penghargaan.

Cinta sejati berarti juga menjunjung tinggi pihak yang lain. Seorang gadis mungkin mengagumi seorang jejaka, ketika ia melihatnya bermain bola dan mencetak banyak gol. Tapi jika ia bertanya pada diri sendiri, “apakah aku mengingini dia sebagai ayah dari anak-anakku?”, jawabnya sering sekali menjadi negatif.

Seorang pemuda mungkin mengagumi seorang gadis, yang dilihatnya sedang berdansa. Tapi sewaktu ia bertanya pada diri sendiri, “apakah aku mengingini dia sebagai ibu dari anak-anakku?”, gadis tadi mungkin akan berubah dalam pandangannya.

Pertanyaannya ialah: “Apakah kita benar-benar sudah punya penghargaan yang tinggi satu kepada yang lainnya? Apa aku bangga atas pasanganku?”

Keempat, Ujian kebiasaan.

Pada suatu hari seorang gadis Eropa yang sudah bertunangan datang pada saya. Dia sangat risau, “Aku sangat mencintai tunanganku,” katanya, “tapi aku tak tahan caranya dia makan apel.” Gelak tawa penuh pengertian memenuhi ruangan.

“Cinta menerima orang lain bersama dengan kebiasaannya. Jangan kawin berdasarkan paham cicilan, lalu mengira bahwa kebiasaan-kebiasaan itu akan berubah di kemudian hari. Kemungkinan besar itu takkan terjadi. Kalian harus menerima pasanganmu sebagaimana adanya beserta segala kebiasaan dan kekurangannya.

Pertanyaannya:

“Apakah kita hanya saling mencintai atau juga saling menyukai?”

Kelima, Ujian pertengkaran.

Bilamana sepasang muda mudi datang mengatakan ingin kawin, saya selalu menanyakan mereka, apakah mereka pernah sesekali benar-benar bertengkar – tidak hanya berupa perbedaan pendapat yang kecil, tetapi benar-benar bagaikan berperang.

Seringkali mereka menjawab, “Ah, belum pernah, pak, kami saling mencintai.” Saya katakan kepada mereka, “Bertengkarlah dahulu – barulah akan kukawinkan kalian.” Persoalannya tentulah, bukan pertengkarannya, tapi kesanggupan untuk saling berdamai lagi.

Kemampuan ini mesti dilatih dan diuji sebelum kawin. Bukan seks, tapi batu ujian pertengkaranlah yang merupakan pengalaman yang “dibutuhkan” sebelum kawin.

Pertanyaannya:

“Bisakah kita saling memaafkan dan saling mengalah?”

Keenam, Ujian waktu.

Sepasang muda mudi datang kepada saya untuk dikawinkan. “Sudah berapa lama kalian saling mencintai?” Tanya saya. “Sudah tiga, hampir empat minggu,” jawab mereka. Ini terlalu singkat. Menurut saya minimum satu tahun bolehlah. Dua tahun lebih baik lagi.

Ada baiknya untuk saling bertemu, bukan saja pada hari-hari libur atau hari minggu dengan berpakaian rapih, tapi juga pada saat bekerja di dalam hidup sehari-hari, waktu belum rapi, atau cukur, masih mengenakan kaos oblong, belum cuci muka, rambut masih awut-awutan, dalam suasana yang tegang atau berbahaya. Ada suatu peribahasa kuno, “Jangan kawin sebelum mengalami musim panas dan musim dingin bersama dengan pasanganmu.”

Sekiranya kalian ragu-ragu tentang perasaan cintamu, sang waktu akan memberi kepastian. Tanyakan: “Apakah cinta kita telah melewati musim panas dan musim dingin? Sudah cukup lamakah kita saling mengenal?”

Dan izinkan saya memberikan suatu kesimpulan yang gamblang. Seks bukan batu ujian bagi cinta. “Jika sepasang muda mudi ingin punya hubungan seksual untuk mengetahui apakah mereka saling mencintai, perlu ditanyakan pada mereka, “Demikian kecilnya cinta kalian?”

Jika kedua-duanya berpikir, “Nanti malam kita mesti melakukan seks – kalau tidak pasanganku akan mengira bahwa aku tidak mencintai dia atau bahwa dia tidak mencintai aku,” maka rasa takut akan kemungkinan gagal sudah cukup menghalau keberhasilan percobaan itu.

Seks bukan suatu batu ujian bagi cinta, sebab seks akan musnah saat diuji. Cobalah adakan observasi atas diri saudara sendiri pada waktu saudara pergi tidur. Saudara mengobservasi diri sendiri, kemudian tidak bisa tidur. Atau saudara tidur, kemudian tidak lagi bisa mengobservasi diri sendiri.

Sama benar halnya dengan seks sebagai suatu batu ujian untuk cinta. Saudara menguji, sesudah itu tidak lagi mau mencintai. Atau saudara mencintai, kemudian tidak menguji. Untuk kepentingan cinta itu sendiri, cinta perlu mengekang menyatakan dirinya secara jasmaniah sampai bisa dimasukkan ke dalam dinamika segitiga perkawinan.

– SUMBER : “JODOHKU”, oleh Walter Trobisch Beberapa dari Batu Ujian

ini dikutip Trobisch dari buku “LOVE AND THE FACTS OF LIFE” oleh Evelyn Duvall.

Posted by: dinnasabriani | May 1, 2012

Banyak Cara untuk Sebuah Selamat Tinggal

Ada banyak cara, untuk meninggalkan sesuatu atau seseorang yang selama ini selalu ada. Sebut saja, cara untuk mengucapkan ‘selamat tinggal’

Tidak ada yang menyenangkan dari meninggalkan sesuatu yang selama ini menjadi kebiasaan. Dan, toh, membuat hari-hari menjadi menyenangkan. Tapi, kadang, ada yang harus. Mau gak mau.

Dan ini mungkin. Sedang saya, atau kamu alami. Bertahan dengan sebuah awal ‘Selamat Tinggal’. Tidak selamanya, ‘Selamat Tinggal’ itu menyisakan sedih atau sakit. Bisa jadi, itu baik. Kebersamaan selama ini, adalah pengalaman berharga yang digariskan. Tak ada yang lebih mampu menguatkan selain ikhlas.

Banyak cara. Mungkin dengan diam dan bertahan. Atau tidak mau tau. Bisa juga dengan membuang, dibuang, atau terbuang. Ya, apa saja bisa.

Sekarang, ‘Selamat Tinggal’ itu sebenarnya untuk siapa? Atau untuk apa?

Baru-baru ini, saya punya satu cara ‘Selamat Tinggal’ untuk beberapa personel isi lemari. Yang, jujur sejujurnya adalah barang-barang kesayangan. Sebagian orang, menyortir, dipaketin, kemudian disumbangin. Berhubung, saya punya sedikit semangat, saya mengucapkan ‘Selamat Tinggal’ itu dengan menyelenggarakan GARAGE SALE.

Minggu pagi, saya buka garasi mobil, menempatkan semua barang-barang lucu itu, kemudian di jual. Dengan harga sangat miring. Pembelinya gak tanggung tanggung ramainya. Senang dan semangat bergemuruh pagi itu. Tawar menawar pun alot. Harganya ditawar, se tawar-tawarnya. Pun, semangat saya gak ada itung-itungan. Lupa, kalau dulu barang-barang itu dibeli dari rupiah yang tidak sedikit.

Tapi, toh niat saya dari awal, sudah bulat. Saya harus mengucapkan ‘selamat tinggal’ pada isi lemari yang udah membludak itu. Rasanya puas, bisa membuat pembeli puas karena dapat baju-baju, tas, atau sepatu dengan harga yang mereka inginkan. Selintas, ketika deal tawar menawar itu terjadi, ada rasa tidak rela. Tapi, itu harus. Usai garage sale, saya menghitung rupiah. Hasilnya? Tak seberapa, padahal banyak BANGET yang terjual. Dan detik itu, saya sudah mengucapkan ‘Selamat Tinggal’ untuk barang-barang kesayangan itu. Senang, karena lemari kembali lengang. Siap diisi dengan yang baru? *mikir*

Bagaimana dengan ‘Selamat Tinggal’ yang lain? Ya, ada juga cara yang lebih sederhana. Sesederhana, oke, bye! Gitu. Ya, gitu aja. Sekian.

Terus, sekarang? ‘Selamat Tinggal’ yang gimana? Yang ribetan dikit?

 

Posted by: dinnasabriani | May 1, 2012

Rumah. Untuk Pulang.

Tidak semua orang seberuntung kita. Punya tempat tinggal, atau rumah, untuk pulang. Bukan tidak mungkin, sebagian kita justru tidak tau, ke mana harus pulang. Bukan selalu karena mereka tidak punya dinding dan atap tempat berteduh. Tapi, hanya karena mereka tak merasakan itu sebagai rumah. Tempat manusia mengakhiri setiap hari dan kesibukannya.

Hari ini, saya pulang. Ke rumah. Apa pun alasannya, saya tetap pulang ke rumah.

Hidup di kota besar dengan segala permasalahannya, membuat kita punya sejuta alasan untuk tidak pulang ke rumah. Entah karena jalanan yang macet, aktivitas yang padat, atau hari esok yang harus dimulai lebih awal. Apalagi, kalau lokasi rumah itu jauhnya ampun-ampunan (dan macet sepanjang hari).

Mungkin, saya termasuk salah satu yang mengalaminya. Jarang pulang ke rumah. Sejak lulus kuliah, saya terbiasa tinggal sendiri. Terpaksa, karena kuliahnya geser sedikit dari ibukota. Kemudian, setelah lulus, saya jadi ketagihan tinggal sendiri. Mengurus semua-muanya sendiri. Rumah, saya rasakan sebagai daerah pengasingan yang membuat saya terkekang. Itu, dulu. *lebay dikit* Dan seriusan, bukan cuma saya yang mengalami ini. Ada yang secara terpaksa, dipaksa, atau tak ada paksaan, memilih untuk tinggal sendiri. Tidak di rumah bersama keluarga.

Sampai akhirnya, beberapa bulan belakangan, saya memutuskan untuk pulang ke rumah. Ya, rumah itu. Dengan segala kekurangannya. Lalu, dengan segala pertimbangan ini itu, saya bersyukur, karena masih punya kesempatan untuk pulang ke rumah.

Alasan yang paling kuat adalah, mama. Dulu, mama ada Imim dan Berel (bukan nama sebenarnya) yang menemaninya, yang siap antar-antar atau jaga-jaga ke mana mama pergi. Sekarang, Imim udah nikah dan ikut suaminya ke daerah Indonesia Timur sana. Berel? Mengemban tugas di daerah barat pulau Jawa (saya pun ga tau di mana). Saya, menjadi harapan satu-satunya. (Pede, diminta pulang).

Dan hari ini Jakarta hujan deras. Hebat. Rumah banjir. Orang rumah ngungsi. Saya? Masih terjebak di jalanan ibu kota. Mau ke mana? Saya tetap pulang. Ke rumah. Bukan untuk pertama kalinya, daerah perumahan saya ini banjir. Sejak sebelah kanan kiri rumah rumah saya membangun rumah mewah, rumah saya jadi korban paling apes kalo hujan deras tiba.

Gelap dan tergenang. Saya gulung sedikit celana panjang bekas pulang kantor itu. Walaupun saya udah tau, pasti akan basah juga. Oke, banjirnya gak begitu tinggi. Tak bisa lagi saya menghiraukan sepatu lucu yang sedang saya pakai. Sudahlah, relakan saja. Gak mau membayangkan yang aneh-aneh, kira-kira 200 langkah saja. Saya sampai ke rumah. Menyusuri genangan air di kala banjir begitu, saya jadi ingat kalau dulu pas pramuka ada kegiatan menyusur sungai. Hihi. Jalanan depan rumah persis sungai. Makin dekat rumah, genangan air makin dalam.

Alhamdulillah, saya sampai rumah. Dan kering. Air tak sampai masuk ke dalam rumah. Rumah? Sepi. Mmmhh, sepertinya dari sekian banyak anggota keluarga saya, saya satu-satunya orang yang segitu niatnya untuk pulang ke rumah.

Ya, karena rumah, untuk pulang.

Then, How Muc I Miss My #Joglo Team. 

 

 

 

Posted by: dinnasabriani | April 27, 2012

Berkah Lebah

Kali ini, tentang lebah.

Dan sebelum cerita berpanjang-panjang, saya mau bersyukur dulu, karena Pak Sutiyono, pemilik Pondok Lebah yang mau diliput, orangnya baik banget. Sebagai jurnalis kemaren sore, saya selalu suka, untuk setiap narsum yang asik diajak kerjasama. Seakan dia ngerti banget, pentingnya fungsi media untuk produk dan profil dirinya. Koordinasi, bisa dibilang berjalan lancar. Tak sungkan, dia menjawab semua info yang saya gak tau.

Pernah di sengat lebah? Pasti kapok. Dibalik itu semua, lebah itu berkah.

Madu yang diambil? Tinggi khasiatnya. Kunjungan saya kali ini, ke daerah Lido, Sukabumi, Jawa Barat. Kebetulan, lebah yang diternak di sini bukan pengkonsumsi madu. Tapi, pollen atau dikenal dengan serbuk sari. Jadi, yang dipanen pun tentu bukan madu, tapi bee pollen. Yaa, bee pollen itu diambil dari tanaman jagung yang ada disekitar peternakan itu.

Memasuki peternakan lebah di sana, saya diingetin dulu untuk jangan pakai wangi-wangian. Lebah, suka banget bau wangi. Jadi, saya sengaja gak semprot parfum untuk liputan kali ini. Bahkan, ssst, saya juga ga mandi. Bukan karna segitu takutnya sii, tapi karena hari itu saya harus berangkat pagi banget. Air dingin dini hari, kayanya ga asik deh kalo di siram ke tubuh. Hehe. Tanpa bau, atau sedikit bau asem, kayanya udah cukup banget deh, bikin lebah-lebah itu ogah menyengat saya. Tapii, untuk keselamatan dan kesejahteraan bersama, saya tetap harus pakai pelindung muka.

Pagi-pagi, saya melihat bagaimana lebah pekerja mengambil serbuk sari, kemudian dibawa ke rumah atau ke koloninya. Kerja sama yang baik. Kata Pak Sulistiyo, lebah-lebah ini punya radius terbang 2 km. Sejak pagi, mereka bergerombol untuk mencari makanan, karena katanya, serbuk sari lagi banyak-banyaknya di pagi hari. Sebagian serbuk sari yang dibawa lebah, di ‘perangkap’ untuk dipanen. Tapi, jangan semua dipanen, karena serbuk sari adalah makanan utama lebah-lebah itu. Kalau semua diambil, terus mereka makan apa? Di sini, Pak Sulistiyo mengajarkan saya, sebagai peternak gak boleh maruk. Fresh! Saya nyobain langsung serbuk sari itu. Rasanya? hiks, manis manis sepet keset gitu. Hehe.

Berkah. Lebah kaya khasiat. Selain bee pollen? Pernah dengar royal jelly? Ya, lebah juga bisa diambil royal jellynya. Bagaimana terbentuknya? Intinya, royal jelly itu adalah kepunyaannya sang ratu lebah. Untuk menghasilkan royal jelly, adalah trik peternak untuk menghasilkan ratu lebah dalam setiap koloninya. Kudu banget itu, saya nyobain royal jelly. Rasanyaa, aseliii. Asem, gak ada enak-enaknya. Seperti madu, kental hanya saja warnanya putih. Rasanya jauh! Jadi, royal jelly emang lebih enak kalau dikonsumsi setelah dicampur madu. Cukup tertarik dengan khasiat royal jelly, yang katanya bagus untuk pertumbuhan sel tubuh. Sel kulit? Berarti bagus buat regenerasi kulit. Sel otak? Bagus buat kecerdasan bangsa. Hehe.

Bergaul dengan lebah-lebah? Kayanya ga sah, kalau saya ga disengat lebah. Eits, tapi bukan ga sengaja yaa. Ini terapi sengat lebah namanya. Putra Pak Sutiyono, Mas Rio, udah dua tahun belakangan mendalami ilmu terapi sengat lebah. Lebah penuh khasiat sampai ke sengat-sengatnya. Katanya, hampir sama seperti teknik akupuntur, lebah bisa mengobati berbagai penyakit, seperti pegal-pegal, kolesterol, pilek dan lain-lain.

Bismillah, saya disengat sekali! Asli sakitnya bukan main. Belum lagi udah parno duluan. Hehe. Yang paling sakit pas, racunnya masuk ke dalam tubuh. Sakitnya, lebih dari disuntik. Oh life. gapapa dehh, katanya bagus, bagus bisa menghilangkan pegal-pegal. Hasilnya, saya tetap berencana untuk pijet di akhir pekan. Hehe. Yaa, sebenernya terapi sengat lebah ini gak bisa sekali dua kali aja. Tapi harus rutin, periodikal tertentu, tergantung penyakitnya. Tapi? Untuk coba sengat lebah lagi? Mmmhh, coba saya pikir-pikir dulu.

Intinya, dari kunjungan saya ke Pondok Lebah kali ini? Saya paling suka madunya. Asli! Rasanya masih orijinal. Well, produk lebah banyak khasiatnya, nah, sekarang tinggal pilih nii, mau coba yang mana? Bee pollen, Royal Jelly, madu, atau sengatnya. Saya? Madu cukup.

 

 

 

 

 

Posted by: dinnasabriani | April 27, 2012

Polisi Hari Ini

Agak-agak takut cerita tentang kejadian hari ini sebenernya. Tapiii, tetep pengen cerita.

Jadi, tadi pagi. Ke ‘apes’ an saya bikin saya senyum-senyum sendiri.

Melintas di kawasan 3 in 1 pagi ini, secara terpaksa. Walaupun hampir tiap hari, si. Yaa, semuanya saya lakukan dengan terpaksa. Dengan alasan yang mungkin gak bisa diterima banyak orang. Tapi, seyakin-yakinnya bukan cuma saya yang melakukan ini. Ayoo, ngaku!

Singkat cerita, DANG!! Saya disetop polisi dengan rompi hijau menyala itu, dan begini percakapannya.

Polisi (P): 3 in 1, Mba!

Saya (S): Iya, maaf Pak.

P: Mau ke mana?

S: (sebut gedung kantor)

P: SIM nya ada?

S: (ngasihin SIM)

P: Mau di pengadilan atau di sini aja, Mba?

S: Gapapa deh Pak, tilang aja, emang saya salah

P: Kalau di sini gapapa loh, Mba. Seikhlasnya Mba aja. Di Pengadilan jatohnya lebih mahal, tiga ratus ribuan.

S: Yahh, begimana lagi ya, Pak. Gapapa, saya biasa ambil di POLDA.

P: Iya, sama aja di Polda juga bayar. Saya juga pernah ambilin adek saya, saya bayarin.

S: Hehe, gapapah de, Pak. Saya biasanya minta tolong juga, ntar dibayarinn. Lumayan.

P: Bentar ya, Mba. (Polisi diskusi dengan temannya yang lain)

Kemudian,,

P: Lanjut Mba, ga enak. (sambil balikin SIM)

S: Makasih, Pak, maaf ya, Pak. (Lanjuttt jalan)

Makasih, Pak Polisi. Walaupun, ini awal bulan, tapi saya lagi kecangkan ikat pinggang banget nihhh. Ga sanggupp, ngeluarin duit macam-macam. Makanya pasrah aja waktu ditilang. Well, saya ga ngerti maksudnya apa, dengan bisa bayar di tempat. Kawatir juga, si, karena pernah terima broadcast message di BBM, yang bilang, dilarang menyogok polisi. Dan saya gak mau terjebak. Ngomong-ngomong, yaa, saya juga gak punya keluarga polisi, sihh. Hanya bukan pengguna jalan yang patuh. *ngaku penih penyesalan*

Melintasi jalur protokol itu, sebenernya saya jarang banget kena tilang. Emang banyak polisi berjaga, tapi, yaa, selama ini mereka bekerja dengan baik. Mengatur lalu lintas. Dan saya selalu suka jalur itu pada jam 3 in 1. Jauh lebih lancar daripada jalur biasa. Dan kayanya jadi jadwal yang pas aja gitu, buat nilang, karena hampir semua pengendara habis gajian. Hihi.

Tapi, tapi, yaa, saya lega. Akhirnya saya bisa bebas jalan, tanpa harus ribet ini itu dengan prosedur macem-macem. Maafin ya, Pak. Makasih atas kerja sama nya hari ini :)

*kisah nyata, tapi bukan saya.

 

Posted by: dinnasabriani | April 19, 2012

Bukan Sekadar Rumah

Berkunjung ke Panti Asuhan Darussalam , di Kawasan Caringin, Bogor, Jawa Barat, saya melihat sisi lain dari sekedar Panti. Tak hanya menjadi rumah bagi anak-anak yang sudah kehilangan orang tuanya, di sini mereka juga belajar soal peternakan dan pertanian.

Saya menemui Pak Atang, pengelola panti ini. Orangnya ramah dan rendah hati. Alhamdulillah, juga asik di ajak kerjasama. Jadinya, liputan kali ini lancar, car, carr, dehh.

Sekitar 70 anak yang tinggal di sini dari usia 3 tahunan sampai yang udah SMA. Mereka semua berkumpul, layaknya keluarga sendiri. Yang paling seru, karena di panti asuhan ini ada peternakan dan lahan pertaniannya.

Masuk ke Panti Asuhan Darussalam, saya langsung menemukan lapangan dan aula tempat anak-anak kumpul dan bermain. Kala itu, anak-anak lagi seru banget main basket, waduhh, kalau ga lagi taping, kayanya saya ikutan gabung deh, kangen banget pengen main basket, Bro.

Pak Atang dan keluarganya juga tinggal di situ. Ya, keluarganya yang besar banget itu, maksudnya. Nah, bergeserlah kita ke kawasan peternakannya. Asli, lengkap banget itu peternakan. Dari mulai segala jenis ikan, unggas, sapi, dan domba ada. Walaupun, lulusan pertanian, baru kali ini nihh, saya datang langsung dan melihat langsung budidaya lele. Hiks, payah ya? Gapapa deh, yang penting sekarang udah pernah. Haha.

Liat indukan lele, wow, wow, wow, gede bener yaa. Ga kebayang kalo lele segede itu yang kita makan. Kenyangnya kaya apa. Tapi kata Pak Atang, lele segede itu ga begitu enak dimakan, walaupun ada juga si yang makanin. Yaa, biasanya lele yang enak yang umurnya 60 hari, kaya yang biasa kita makan di warung-warung ituu. Selain untuk dimakan sendiri, lele-lele ini juga di jual. Sayangnya, permintaan lele banyak banget, jadi ga semuanya bisa dipenuhi.

Nah, sejauh ini unggas yang diternak Pak Atang masih untuk konsumsi sendiri, ada segala jenis ayam, bebek, dan angsa. Sapi yang ada di sana, khusus buat diternakkan dan diambil dagingnya, jadi, biasanya dibeli pas hari raya qurban. Nah, kalau kambing yang ada di sana justru diambil susu nya. Katanya si khasiatnya lebih bagus dari susu sapi, bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kalau di minum tiap hari, badan rasanya lebih segar. Sayangnya, saya ga begitu suka susu apalagi yang masih asli begitu hehe.

Di sana, saya juga dapat kesempatan untuk belajar gimana merah susu kambing. Merahnya harus penuh perasaan, dan yang paling penting kambingnya harus disayang terlebih dahulu. Kalo gaak, kita yang repot loh. Kambingnya bisa ngamuk. Yang ga kalah seru adalah waktu kasih makan lele nya. Yuhuiiiii, kalo liat airnya butek dan tenang, tapi tiba-tiba ikan nya jadi pada leloncatan deh, ngejar makanan. Seru!

Alhamdulillah, meski ga punya orangtua, keceriaan mereka gak hilang. Mereka keliatan enjoy banget tinggal di Panti Asuhan ini. Saya salut sama Pak Atang. Bukan perkara materi, tapi bagaimana ia rela menghabiskan hari dan usianya, untuk anak-anak di sini.

Posted by: dinnasabriani | March 18, 2012

Berkebun, Gak Ya?

Wowowowoooww!

Kayanya udah lama banget. Saya kaya balik ke jaman kuliah dulu, nih. Hehe. Sebagai seorang Sarjana Pertanian, aduh, rasanya malu muka (dan malu title) deh.

Hari ini, saya secara (gak) sengaja, liputan soal berkebun. Akhirnya bisa liat langsung, komunitas yang cukup happening saat ini. Indonesia Berkebun, namanya. Mungkin sebagian udah pernah denger ya. Ya, ya, ya, ngaku deh, saya emang salah satu Sarjana Pertanian yang ‘kafir’ dari dunia pertanian. Ketinggalan banyak sekali informasi soal komunitas ini. Seriusli, saya pengen, kapan waktu, kalau ada kesempatan, bisa terjun di dunia pertanian sesuai dengan pendidikan formal saya. Cita-citanya ga tinggi, kok. Berkebun di rumah sendiri. Jadi kalau mau masak apa, tinggal petik aja gitu. Hehe.

Setali tiga uang, saya ketemu dengan komunitas ini. Salah satu penggiatnya, namanya Ibu Ida Amal. Salutnya, beliau concern banget sama dunia pertanian. Dan tanpa basic ilmu formal (menurut informasi yang saya dapat), concern itu berawal dari hobi. Gimana, ya, bilangnya. Emang susah si, maksain minat. Saya, kok, ya, agak susah jatuh cinta dengan dunia ini. Padahal hampir empat tahun saya berkecimpung, lengkap dengan teori-teorinya yang cukup njelimet. Satu-satunya, yang bikin saya suka dengan dunia pertanian cuma masa-masa panen. Itu pun, panen buah-buahan kesukaan saya. Mmh!

Tapi, hari ini, saya punya pandangan berbeda. Bukan masa panennya yang saya suka. Tapi, saya seneng banget ketemu teman-teman yang sangat excited dengan dunia cocok tanam. Seneng ngeliat mereka punya rasa penasaran yang tinggi soal berkebun. Bayangin, ini Minggu loh. Mereka rela melewatkan hari Minggu dengan berkebun yang seharusnya hari yang pas banget buat tidur atau sekedar manyun di kamar. Hehe.

Yang seru dari berkebun, adalah foto-fotonya. Foto-foto dengan back (fore) ground tanaman itu cool, loh. Sayangnya, berkebun kali ini, saya dalam misi kerjaan. Jadi, ga bisa puas foto-foto. Teman-teman Indonesia Berkebun yang lain? Puas bangett, pasti.

Ngobrol-ngobrol sama Bu Ida, saya jadi tau, kalau berkebun, ternyata ga senjelimet itu. Sederhana banget. Tebar-tebar bibit aja (karena saya part teori di kelas kali ya?) Dan bisa dilakukan di mana aja, tanpa perlu punya lahan atau pekarangan luas di rumah. Tanam satu dua bibit, lumayan banget loh, untuk mengurangi bajet belanja bulanan. Ibu rumah tangga banget ga si, pembahasan saya. Padahal aslinya, saya jauh dari sosok rumah tangga itu. Ya, begimana. Saya salah satu makhluk Jakarta, yang kesehariannya pergi pagi pulang malem. Kalau pun berangkat siangan dikit, paginya saya habiskan untuk tidur, makan nasi uduk, atau nyetel TV.

Bu Ida, gencar. Bahwa berkebun itu juga bisa dilakukan di perkotaan. Ga melulu, berkebun cuma jadi aktivitas di kampung-kampung. Dan berkebun ini, organik. Jelas lebih sehat. Berhubung, saya adalah salah satu orang yang bergaya hidup tidak sehat, saya seneng, untuk tau hal-hal yang berhubungan dengan hidup sehat. Karena mungkin, gaya hidup tidak sehat yang saya jalani sekarang, bisa diminimalisir, sedikit demi sedikit.

Dunia, emang sempit, ya. Ternyata punya ternyata, Ketua Indonesia Berkebun ini adalah dosen saya sendiri, Pak Achmad Marendes, bukan dosen IPB, tapi London School (pascasarjana yang sedang saya ambil saat ini). Wkwkwkwk, makin malu hati buat kasih tau, kalau saya sebenarnya sarjana pertanian, karna minim banget (udah lupa) ilmu pertanian. Hallo, Pak. ;)

Pulangnya, saya oleh-olehin mama dengan hasil panen hari ini. Seiket bayam dan kangkung. Bikinin cah kangkung ya, ma. (ngarep)

Kapan-kapan. Kapan-kapan. Saya mau punya kebun sendiri di depan kamar. Mungkin bisa dimulai dari punya boot lucu, kali ya. Biar semangat. Loh, tetep ya. Haha.

Yuk, ah. Besok kita lanjut lagi berkebunnya. Mudah-mudahan tambah ilmu. Saya dapat satu lagi ilmu dari berkebun hari ini, apa yang kita tanam, itulah yang kita petik. Ga mungkin kan, nanem bayam, yang dipetik kangkung. Kecuali kangkung punya orang. Itu ga pas. Sama kaya hidup juga, kan? Jadi, bismillah. Saya, mau tanam benih yang baik-baik. Mudah-mudahan bisa petik hasil yang baik pula. Ini berlaku untuk segala urusan, ya. Bye. Bye. Benih jelek. :p

 

 

Posted by: dinnasabriani | March 18, 2012

Single or Married. Tetep Fun!

Namanya saja hidup. Ada aja ceritanya. Ini salah satu cerita malaminggu saya. Bahkan saya pun bingung harus bikin judul apa untuk malaminggu saya kali ini. Berawal dari sebuah perayaan. Mmh, perayaan bukan ya, namanya. Syukuran juga bukan.

Saya tau, tidak ada yang menyenangkan dari sebuah perpisahan. Untuk kesekian kalinya, saya mendengar cerita. Dan kali ini terjadi pada (anggap saja) teman saya sendiri. Sebagai wanita pada umumya, yang seringkali bikin #penciteraan ala-ala anak muda, punya stigma sendiri soal laki-laki. Ya, semacam istilah, ah, ‘ah, laki-laki gak ada yang bener’ (ditimpuk rame-rame, deh).

Tapi kejadian kali ini, ya, agak anomali. Teman saya, galau karena menyandang status duda. Ya, saya ga tau si, dalam hati beneran galau atau enggak. Tapi, bertahun-tahun menikah kemudian harus pisah, itu pasti bukan hal mudah. Dan, dari si lelaki ini bilang, yang menginginkan pisah bukan dia, tapi si mantan istri. Ah, rasanya kok aneh ya, biasanya istri rela survive dengan kondisi rumah tangga macam apa pun, apalagi udah punya anak. Demi anak. Tapi, beberapa temen saya bilang, saya ga boleh mengeneralisasikan semua masalah sama. Setiap orang, punya masalah sendiri-sendiri. Dan cara sendiri-sendiri untuk menyelesaikannya.

Dalam seseruan malam itu, pikiran-pikiran saya pun jadi punya kesimpulan. Kita semua ‘fun’ malam itu. Mengatasi sakit hati, emang ga gampang. Pura-pura seneng, padahal ‘nyesss’. Walaupun, ada aja banyak cara yang bisa membuat kita menjalani hidup lebih ringan. Intinya, dari sekian banyak cerita, saya mengumpulkan satu kesimpulan. Bahwa, pada dasarnya kita adalah satu individu. Mau single atau married, ya yang menjalani hidup itu memang kita. Sendiri. Yang lain? Cuma status. Yang terjadi? adalah hasil atau sebut saja itu takdir.

Good friend, good life. Malam itu. Kita semua ketawa-ketawa ga abis-abis. Beruntung, teman-teman kaya gini bisa bikin hidup lebih ringan. Ditemani aneka daging bakar dan minuman-minuman kelas bangsawan, membuat sejenak lupa soal aneh-aneh nya hidup. Bahagia itu sekarang, bukan masa lalu yang harus kita kenang-kenang, atau masa depan yang baru sekadar harapan. So, enjoy! ;)

Selesai kenyang-kenyangan dengan macam-macam makanan tinggi kolesterol, kita pun lanjut karaoke bareng. Sebagian tepar, pingsan, atau jangan-jangan mabok ya? Hehe. Dan playlist lagu pun full, lagu-lagu galau. Dipersembahkan khusus buat yang punya hajat. Ya, mungkin masing-masing juga punya cerita di setiap lagu yang dinyanyiin, sii. Karaoke, emang salah satu cara paling ampuh, buang-buang penat, marah, jenuh, dan galau.

Oke, saya bikin tips ah, buat mengatasi patahati. Sebagian ampuh kok.

1. Dekat sama Allah. Serius, ini udah makin jarang dilakuin, tapi beneran, deh. Ampuh kok. Kayanya lebih optimis aja gitu ngadepin hidup. Dan lebih semangat, karena beda di jalan yang lebih baik.

2. Nyanyi. Lagu apa aja. Lagu jatuh cinta, bikin semangat ngebayangin hari depan yang indah-indah. Lagu galau, juga salah kok. Kalau saya pribadi, si, nyanyi lagu galau bukan bikin tambah mellow. Tapi jadi lebih seru aja, karena ga ngerasa kita sendiri yang ngalamin cerita kaya di lirik lagu. Hehe, ini ujungnya mellow ya?

3. Jadi lebih hebat. Semangat. Soal hasil? Belakangan lah. Kalau kita jadi lebih hebat dan lebih keren itu artinya kita menang. Orang yang bikin sakit hati, cuma bisa nyesel. Dan kita bisa senyum-senyum sok cool. 

4. Have fun. Fun sama apa aja yang kita suka. Hobi baru, teman-teman, kerjaan yang semuanya dilakukan dengan fun, bikin kita ngerasa, ga perlu, sakit hati berlama-lama. Ah, ga penting. Kemudian mati rasa dengan orang-orang yang udah bikin kita kecewa, marah, sakit hati atau ngamuk. Kalau udah masuk fase, ga peduli sama orang itu artinya kita udah masuk dalam zona aman. Satu langkah maju, bahagia itu segera datang.

Well, well, well, malam itu, seruu banget. Banyak kejadian yang bisa bikin saya ketawa ga abis-abis. Saya bisa menikmati malam, meski di sana ada yang ga penting. Ga peduli. Itu sesuatu loh. Hehe. Thanks, guys!

Cheers. 

Oh, iya, demi apa pun. Alhamdulillah, saya ga ikut minum-minuman macam begitu, kok. Tenang. Hehe.

Posted by: dinnasabriani | March 13, 2012

Nge Track Orang di Dunia Maya

Hari gini, mudah banget kalau mau nge-track orang di dunia maya. Jujur nih, itu sering saya lakukan kalau kenal sama orang-orang baru. Atau denger nama-nama yang lagi jadi bahan pembicaraan, biar ga ketinggalan berita. Se ga populer nya orang, setidaknya dia punya facebook. Yang susah kalau, orang itu pakai nama aneh-aneh buat profile facebook-nya. Coba aja search satu nama. Teman, misalnya. Meski ga semua orang di muka bumi ini aktif di dunia maya, tapi setidaknya nama mereka pasti muncul kalau kita googling. Ya, seapes-apesnya yang keluar adalah namanya di facebook yang udah ga pernah aktif atau info tentang nama itu bukan orang yang kita maksud.

Yang paling cihui adalah, kalau orang itu begitu populer di dunia maya. Well, saya bukan bicara tokoh politik atau selebritis, kok. Yaa, orang-orang di sekitar kita aja. Kapan waktu, saya iseng googling nama teman saya. Katanya si, populer dengan nama Ichanx pake X di dunia maya. Dan ga usah susah-susah untuk tau siapa dia. Bla bla, info tentang dia gampang banget, itu karena dia sempat menjadi selebblogger dan selebtwitter. Ichanx bukan artis kan, ya?

Bagaimana dengan nama yang lain, semuanya begitu mudah. Apalagi kalau dia aktif di Twitter. Gak cuma info tentang dia aja, kita bahkan bisa merasa kenal banget sama dia dengan memantau timeline-nya. Misalnya, salah satu teman dekat saya, namanya Chandra. Bisa dibilang, dia salah satu banci Twitter yang memenuhi timeline saya hari ke hari. Dia, bahkan bukan dari kalangan selebblogger atau selebtwitter seperti Ichanx. Tapi, cek timeline nya, ya cukup lah, untuk kenal Chandra atau melepas kangen kalau dia abis cuti seminggu. Hehe. Waduh, untung dia bukan peminat blog saya, yaa. Bisa GR nanti. Ngok!

Ya, sekarang ini, Twitter emang media paling mudah untuk nge track orang. Itu juga dilakukan ayah saya, kalau lagi nyariin anaknya. (Iya, kan, pa, hehe). Dari Twitter, selain bisa update berita berita dengan cepat, saya juga bisa tau kalau ada yang lagi boong sama saya. So you, beware! Hehe. Yaa, kecuali kongkalikong dulu, biar aman.

Sekilas tentang Twitter yang masih happening sampai sekarang. Lihatlah begitu hebatnya Twitter merubah gaya hidup seseorang. Hehe. Sampai-sampai ada yang bilang, bahwa mereka tidak perlu lagi kasih perhatian ke pasangan dengan nanya ‘lagi apa?’ karena udah terjawab dengan memantau timeline-nya. Haha, padahal kalau dipikir, pertanyaan itu bukan sekedar pertanyaan yaa, tapi esensi nya lebih ke ‘perhatian’ atau ‘care’. Saya, mmh, gak tau, ya, apakah termasuk yang banci Twitter atau enggak. Tapi, saya sejauh ini bisa cukup jenuh, kalau Twitter sedang error atau smartphone lagi ga bisa connect internet. Twitter, cukuplah sebagai obat antimatigaya. Kalau gitu, saya tergolong banci atau masih taraf wajar? Sekedar info, sampai hari ini setahunan lebih deh, saya pake account @incredibledinna itu, dan tweet saya sekarang sekitar sebelas ribuan. Itu banci gak? *cari pembenaran*

Enaknya Twitter, kita bisa bebas pilih siapa yang mau kita follow. Toh, ga follow bukan berarti kita ga temenan kan? Bebas dibilang alay atau enggak, biasanya saya senang follow, twit-twit motivator. Lumayan quotes-nya, bagi saya yang senang dengan teori dan miskin praktek ini. Hehe. Baru-baru ini, saya baru melakukan pembersihan besar-besaran bagi timeline. Dan mau minta maaf sebelum dan sesudahnya. Saya baru saja unfollow, profile yang jarang update atau timeline-nya mulai berisi spam (promo-promo ga jelas juga saya kategorikan spam). Berapa profile yang isinya sumpah serapah mulu, juga saya unfollow, karena kadang, secara ga sengaja bikin mood jadi jelek. Ini, saya lakukan dalam misi, membuat image Twitter yang kadang dianggap miring bagi sebagian orang, menjadi positif, dalam dunia maya atau dunia nyata.

Dan saya jadi cukup salut dengan orang-orang yang memiliki begitu sedikit identitas di dunia maya. Bagaimana mereka bisa begitu hebatnya bersembunyi? Haha, ya mungkin mereka bukan bermaksud bersembunyi, si. Mereka hanya tidak tertarik dengan dunia macam begitu. Kehidupan nyata, sudah cukup membuat mereka sibuk. Jadi, sebenarnya nii, saya mau nanya, bagaimana si caranya bisa ga keranjingan bergaul di dunia maya? Anyone?

Posted by: dinnasabriani | March 12, 2012

Makan Siangnya, Incredible!

Hampir setiap akhir pekan, mall ramai pengunjung. Mmh, bakal berkurang sedikit pengunjungnya, kalau lagi tanggal tua, ya kan. Itu pun kurangnya cuma sedikit. Karena mall memang menjadi hiburan paling sederhana, murah dan mudah (bagi yang pandai menyiasatinya, hehe).

Yaa, seperti kebanyakan, biasanya kalo ke mall, wajib, buat makan. Kalau cuma iseng untuk isi perut, biasanya saya memilih foodcourt untuk menghilangkan rasa lapar. Selain pilihannya yang banyak, harganya pun lebih masuk akal sesuai porsinya.

Siang itu, kita (sebut saja, saya dan dia, ya) kelaparan luar biasa. Yang jadi sasaran pastinya adalah makanan-makanan standar dan udah pasti rasanya sesuai selera. Biasanya makanan cepat saji semacam fried chicken itu menjadi salah satu pilihan yang udah dijamin kenyang. Kalau harus coba-coba menu baru, kawatir rasanya aneh dan akhirnya jadi makin lapar.

Oke, kebiasaan itu berbeda sedikit di Minggu siang kali ini. Kita pilih makanan yang belum pernah kita coba sebelumnya, tapiii, rame yang mesan. Mudah-mudahan si selera kebanyakan orang itu ga jauh beda dengan selera kita.

Little Wok. Namanya. Dengan penyajiannya yang pake kuali panas begitu, membuat sajiannya jadi lebih menarik. Liat penampakan menunya juga lumayan.

Pertanyaan standar ketika mencoba makanan baru adalah apa yang jadi menu favorit kios makan itu. Pramusaji menawarkan beberapa pilihan. Berhubung saya sedang diet nasi, saya pilih menu mi goreng dengan ayam krispi di atasnya. Keliatannya enak.

Dan siang itu menjadi siang yang ‘sweet’ menurut pendapat saya sendiri. Lunchdate, tidak harus makan di tempat-tempat mewah dengan dandanan all-out, kok. Ala kadarnya, lunch kali ini bisa bikin saya yang berangkat manyun karena kelaparan bisa jadi senyum-senyum sendiri.

Kesalahan pertama saya adalah lupa bilang kalau mi gorengnya jangan pake sayur. Well, saya memang bukan penggemar sayuran untuk beberapa jenis makanan tertentu. Menurut saya, mi goreng yang dicampur dengan sayur, merusak cita rasa mi itu sendiri. Hehe. Yaa, kebayang aja ind*mie yang enak banget, kalau harus dicampur sayuran sawi rasanya pasti jadi beda. Peraturan ini pun menjadi berlaku untuk jenis mi yang lain.

Selera dan rasa lapar saya seketika pupus, waktu mi goreng yang saya pesan jadi. Hiks, sayurnya, polll, banyaknya. Bingung kalau mau disisihin juga. Lupa total, order tanpa sayur. Alhamdulillah.

Pertama, tanpa harus manyun berlama-lama, saya disuruh pesan lagi. Tentu dengan catatan kaki ‘tanpa sayur’. Oh, saya haru penuh terima kasih. Dan acara makan siang itu menjadi istimewa. Dia yang sebenarnya juga ga begitu suka menu mi goreng dengan sayur, rela menyantap menu saya yang salah. Hehe, saya jahat ya? Yaa, sayang dong, daripada dibuang, ga tega banget di saat orang susah-susah cari makan.Image

Jadi, ini lah makanan yang tersaji di meja. Untuk dua orang. Hehe.

Image

Dan ini, bagaimana dia berusaha meng-combine makanan yang ia pesan dengan pesanan saya yang salah itu. Enjoy? Am lil bit guilty anyway. Ups!

Image

Saya lupa memesan telor mata sapi, salah satu lauk favorite kita. Dan dia berbagi separuhnya untuk saya. Boleh saya terharu dulu?

Image

Nah, saya begitu. Begitu menikmati menu pesanan saya ini. Sempurna. Mi goreng tanpa sayur dengan ayam crispy yang gurih, separuh telor matasapi dengan pembagian kuning dan putih telurnya yang pas, dan bumbu-bumbu cinta.

Image

Es teh tarik? Oh, segarnya!

Image

Lalu, dalam sekejap, saya mampu menghabiskan menu sempurna siang itu. Sedangkan dia? Sedang berjuang menghabiskan pesanannya (dan pesanan saya yang salah, tentu saja). Nasi putih dengan taburan blackpepper beef? Yaa, memang perlu perjuangan cukup keras untuk menikmati rasa blackpepper nya yang sangat menyengat itu, apalagi bagi yang tidak biasa. Semangat!

Dan, makan siang kita dilanjutkan dengan jalan-jalan setengah penting di mall paling happening di kota itu. Berjuang, untuk tetap menjadi smartshopper.

Makan siangnya, Incredible! Makasih, yaa. Saya tau, dia gak cukup puas dengan pesanannya siang itu. Padahal, kita sama-sama lapar. Nanti, saya masakin nasi goreng andalan saya. Janji!

Dan saya memenuhi janji saya, untuk dinner-nya. Dinner kamu.

Image

Ini diaa, nasi gorengnya. Suka? Hehe.

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.