The soul that sees beauty may sometimes walk alone.
Walk Alone
Posted in My diary
Si Facebook
Bicara tentang keranjingan facebook, ini memang udah mewabah sekitar 2 tahun yang lalu. Berhubung dulu (ketika pertama kali aku bikin account facebook), aku adalah seorang anak kos dengan uang jajan pas-pas an yang hanya bisa connect ke internet di warnet atau wifi-an di perpus (yang jaringannya lamban abis), itu juga kalau lagi ada tugas, maka aku salah satu orang yang agak lambat tertular ‘keranjingan facebook’ ini. At least, udah punya account nya lah, walau pun ga pernah diurusin. Jadi pas ketemu temen atau kenalan, punya facebook? ‘yes, I have one’. Ga peduli ga ada aplikasi apa pun di facebook dan friends yang ga seberapa. Yang penting, cukup eksis dengan ‘punya’ account facebook. Lagi pula saat itu, friendster juga belum terlalu ditinggalkan.
Kemudian, saat jam kuliah udah mulai digantikan dengan waktu leyeh-leyeh mengerjakan skripsi, facebook ku mulai ramai. Aku mulai sibuk sendiri, kirim-kirim aplikasi ke teman-teman, dan yang aku inget waktu itu, kita bisa menata kamar sendiri sesuai dengan keinginan kita. Mirip The Sims. Tapi, tetap ga menjadikan ku keranjingan, karena waktu itu meng-access facebook di laptop ku lambat banget.
Lulus kuliah, yang sekaligus menjadikan ku pengangguran, waktu ku semakin banyak untuk facebook. Seiring waktu pula, semakin banyak, teman-teman main, teman-teman lama, juga teman-teman baru, yang menjadi friend list ku. Yang seru, teman-teman yang udah lama ngilang, jadi ketemu di sini. Yang biasanya ga akrab, facebook mendekatkan. Juga kenalan-kenalan baru.
Sekarang, facebook udah jadi keseharian buat kita. Gak peduli siapa kita, apa pun profesi kita, yang tua yang muda, yang sibuk yang bengong, kita selalu bisa meluangkan waktu untuk facebook-ing.
Di balik keranjingan itu, aku mengakui sempet pengen cuti dari facebook. Selain ngerasa bahwa facebook mulai bosan dan bikin aku mengabaikan kewajiban-kewajiban ku, facebook juga gak selama nyenengin. Mengetahui kenyataan ini itu, yang semua nya di publish di facebook, bikin kita jadi lebih curigaan. Untuk beberapa orang, terutama yang in relationship, facebook juga seakan memfasilitasi kita untuk selingkuh. Aku pun sempat pengen ga facebook-ing.
Tapi ternyata, sampai saat ini kepopuleran facebook masih tak terbantah. Cuti dari facebook ku ga berlangsung lebih dari 24 jam. *payah. Segaring-garing nya facebook, tetep bikin kangen. Menyapa teman-teman, share our mind, dan cela-celaan di wall temen, update kabar si ini dan si inu atau sesekali ngurusin Itoy, bisa mengatasi ke pusingan dan kejenuhan di tengah kerasnya hidup di Ibukota (beuhhh!).
Jadi, ya udahlah, walau pun kemaren MUI sempat mengeluarkan fatwa haram, sampai sejauh ini, seberapa pun ga pengennya facebook-an, kadang tangan kita menjadi di luar kendali, tak sengaja menghampiri si Facebook itu. Dengan sederet pengaruh negatif facebook, kita juga ga bisa menafikan kalo banyak sisi positif dengan join di facebook. At least, facebook bisa bikin yang patahhati jadi jatuh cinta, dan yang jatuh cinta jadi patahhati. Happy facebook-ing. 
Posted in Life
Big Guy
… there’s big guy next to me, and his gigantic body has already fell on me.. three times while he was sleeping.. arrgghh
Haha, kontan aku tak bisa menahan tawa saat menerima sebuah pesan singkat itu pagi ini. Saat itu si pengirim sedang perjalananan lintas kota yang memakan waktu sekitar 5 jam perjalanan dengan topografi berkelok dan jalanan dengan lapisan aspal yang rusak. Which is, perjalanan akan lebih menyenangkan dengan menenggak 2 butir antimo, dan kemudian terlelap.
Kebayang gimana rasanya, pasti pengen ngamuk-ngamuk, treak-treak sampe keluar air mata, sambil menghentak-hentakkan kaki. Kejadian seperti itu mungkin bukan hanya dialami si pengirim pesan singkat itu. Beberapa di antara kita tentu pernah mengalaminya. Entah sebagai si pengirim pesan singkat atau pun sebagai big guy nya.
Mau menyalahkan siapa? Yang bikin bus karena bikin bangku ga compatible dengan ukuran tubuh, menyalahkan orang kok punya badan gede banget, atau menyalahkan diri sendiri karena salah memilih tempat duduk? Bukan bermaksud menggurui (karena jika itu terjadi pada ku mungkin, kekesalanku tak akan jauh berbeda sama seperti yang pernah merasakannya), tapi yang lebih penting adalah ber tepo seliro. Ikut merasakan apa yang orang lain rasakan.
Jika kita orang yang duduk di sebelah big guy itu, maklumilah. Mungkin bukan mau nya dia punya badan gede kaya gitu. Percaya atau tidak, hampir semua orang gede, tidak nyaman dengan ukuran tubuhnya dan berusaha keras untuk diet (bahkan aku pun sedang berusaha keras). Kalo udah ga tahan, berani lah untuk menegurnya dengan kalimat yang udah sangat diperhalus (kalo bisa). Ga ampuh, ya udah silahkan nangis-nangis, uring-uringan, hentak-hentakkan kaki, kemudian tarik napas dalam-dalam dan berdoa agar segera sampai tujuan dengan selamat.
Jika kita sebagai big guy itu, all u have to do is diet, no cheeseburger and cokes, dont ever fall a sleep or take ur own transportation. hihi
Posted in Life
Aku masuk berita!!
Senangnya fotoku ada di salah satu media terkemuka di Indonesia. Walaupun cuma foto, nyempil pula, tapi aku senang. Selama ini, aku cuma bisa narsis-narsis an di blog pribadi atau facebook. Fenomenal bukan? Mampirlah di sini jika ingin melihat bagaimana aku berhasil nyempil di media itu.
That’s me on a red circle. Berada di antara orang-orang yang aku gak tau siapa (kecuali di sebelahku, Mas Amrie), tapi yang pasti mereka semua adalah orang-orang yang awam soal hukum.
Bagaimana aku bisa sampai di situ? Bersyukurlah karena saat itu aku jadi joki 3 in 1 dengan iming-iming makan gratis di hotel millenium, kebon sirih, Jakarta.

Posted in My diary
HTS
Apa status itu penting? Sebagian kita akan mengatakan itu penting banget dan sebagian bebas berpendapat sebaliknya. Menurutku, status itu salah satu komitmen dalam menjalin sebuah hubungan. Kalau emang ga ada yang salah dengan hubungan yang dijalani, lalu apa yang salah dengan berkomitmen untuk memiliki status.
Sebagian diantara kita, keukeuh dengan tidak pentingnya status. Asal tau sama tau perasaan masing-masing itu udah cukup. Untuk apa gembar gembor soal status tapi hubungan yang terjadi di dalam nya bobrok. Mending ga pake status, tapi hubungan dan perasaan sayang di antara nya kuat dan tulus. Begitu pendapat seorang teman. Lalu, bagaimana dengan pilihan ku tentang penting nya status didukung oleh hubungan dan perasaan sayang yang kuat dan tulus itu. Adakah yang salah dengan kondisi itu? Dan apakah itu begitu sulit?
Bagaimana pun sebagian di antara kita bersikeras ga mau memiliki status. Karena
- ada selain dia dalam hati or keseharian kita. selain menjalani sama cewe or cowo yang ini, kita juga sedang melakukan penjajakan atau mengepakkan sayap dengan cewe or cowo lain. Ga rela ninggalin dan nyakitin salah satunya, lebih baik ga usah pake status. Memiliki status bikin kita ga bisa lagi deket sama dua-duanya, tiga-tiganya, bahkan lebih. Cowo ini ganteng, lumayan buat keren-kerenan diajak jalan ke mall. Yang satu lagi, kaya, boleh juga, kalo lagi pengen beli baju branded tapi ga punya duit. Yang ini, sabar, bisa buat temen uring2an dan manja2an. Yang lainnya, pinter, bisa buat nanya apa aja kalo lagi kepusingan pelajaran or ngadepin soal-soal apa pun yang susah. Ada yang alim, penyejuk hati dikala tersadar sudah berlimpah dosa dan butuh bimbingan . Begitulah yang terjadi, mengapa sulit sekali untuk sebuah status, karena kita ga mau kehilangan salah satunya. Sebut saja dengan maruk.
- ga mau pasaran turun. Status bisa jadi bikin pasaran kita turun. Yang biasanya kalo lagi liwat tengah lapangan, smua mata tertuju pada kita, setelah punya pacar, seakan ga ada yang peduli dengan pesona yang kita pancarkan. Kalo biasanya tiap hari, orang-orang berebut mencari perhatian kita, hal itu ga akan terjadi lagi setelah semua orang tau kalau kita sudah menjatuhkan pilihan kita pada seseorang. Lagi ngumpul sama temen-temen, kita sering jadi center of excellence. Kita bisa mendapatkan perlakuan special dari siapa saja, karena kita still being single. Dan ga siap meninggalkan semua itu.
- masih tetep pengen ngerasain enaknya being single. There’are much privillege of being single. Kita bebas mau ngapain aja. Melakukan hal-hal menyenangkan sesukanya. Ga ada pacar yang bisa ngomel2in karena ga ada kabar seharian. Ga ada yang protes kalau mau flirting sama cowo or cewe lain. Bisa punya lebih banyak waktu sama teman-teman. Bisa nge-date dengan beberapa cewe (or cowo). Pasangan tanpa status (baca: HTS-an) kita toh ga bisa menuntut apa-apa karena pada kenyataannya dia bukan siapa-siapa kita.
- malu punya pacar yang muka atau duit nya pas-pasan. Agak kejam, tapi begitulah kenyataannya. Pacar kita tak punya paras yang rupawan, tapi cinta nya begitu tulus sehingga gak mungkin kita menyia-nyiakan cinta suci nya itu. Meski ga punya mata teduh dan body yahuud, tapi dia yang paling sabar dan mengerti apa yang kita mau. Lantas, memilih untuk tidak bestatus dengannya karena malu dengan lingkungan pergaulan kita yang dipenuhi orang-orang dengan gaya jetset dan raut muka yang tertata apik. Soal ga punya duit, biasanya terjadi pada cewe. Pasangan kita ga punya duit banyak. Kalo jalan, selalu bayar sendiri-sendiri, bahkan ga jarang kita (kalo cewe) yang bayarin. Ga pernah jemput ke rumah dengan mobil kerenan dikit. Tapi jaman sekarang, ga dikit juga cowo yang mengharapkan cewe nya juga punya duit banyak (baca: tajir).
- ga dibolehin orang tua. Takut diomelin enyak babe, mending HTS an aja. Ga perlu boong atau backstreet, toh pada kenyataannya, memang tidak punya pacar. atau bisa jadi orang tua ga suka dengan pasangan kita, untuk step to the next level jadi agak susah.
- belum yakin sama pasangan. Ini bikin kita memilih untuk tidak berstatus dulu. Sayang sih sayang, tapi belum tentu nanti dia bisa jadi pacar yang sesuai dengan yang kita harapkan. Intinya kita memang masih perlu waktu untuk memutuskan ini orang ok buat dijadiin pacar atau memang cuma asik dijadiin flirting-an. Atau mungkin pasangan kita ga cukup worth menyandang status ‘in relationship with __________*’
Nah, sebagian lagi keukeuh seumeukeuh dengan pentingnya status. Karena
- Im not available or gw laku. Yes, they both need status. Being single is choice, also being couple. Ada yang sengaja memilih single karena memang masi ingin menikmati kesendirian, belum ada yang cocok atau memang gak melihat apa pentingnya memiliki pasangan. Tapi gak sedikit, orang-orang menunggu waktu lama untuk punya pacar karena alasan tertentu. Intinya, mereka yang keukeuh perlu status dengan pasangannya bisa jadi karena pengen punya brand ‘sudah laku’. Gak ada lagi HP tanpa dering telp dan SMS. Ga ada lagi malam minggu sendirian. Juga ga perlu datang ke resepsi pernikahan teman atau reunian SMA sendirian. Ya, intinya, ‘gw laku’
- Sebagai barrier buat diri sendiri or pasangan untuk ga selingkuh. Emang penting banget sebenarnya suatu hubungan ditopang oleh pilar yang kokoh. Perasaan sayang, saling percaya, saling menghargai, jujur, perhatian, setia, dan lain-lain adalah sebagian kecil dari pilar itu. Tapi tentunya, cerita tentang ‘dunia cuma milik berdua, yang lain ngontrak’ itu cuma boleh jadi bahan ledekan doang. Itu gak bisa dijadikan sesuatu yang serius, karena pada hakikat nya kita hidup bersama orang lain juga. Membutuhkan mereka. Mempertahankan suatu hubungan, gak cukup cuma dari pilar-pilar yang kokoh itu. Cobaan juga akan datang dari luar. Untuk itu, status menjadi hal yang penting walaupun bukan yang utama. Sebagian orang akan mundur untuk mendekati atau didekati seseorang jika tau si pelaku udah in relationship with other. Walaupun sebagian bisa jadi akan tetap maju terus pantang mundur dengan bodo amat nya.
- Bangga sama pacar. Bangga sama pacar ga cuma berlaku untuk orang-orang yang memiliki pasangan dengan kualitas tinggi. Toh setiap orang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Berbanggalah dengan pasangan kita. That’s was a particle of romance.
- Pengen didoain orang banyak. Kenapa si, penting semua orang tau kalo kita pacaran. Kalo gitu bagaimana dengan menikah? Penting kah kalo orang tau kita sudah menikah. Ya begitulah arti sebuah status. Dengan niat yang tulus kita ingin didoain orang banyak untuk kebaikan hubungan kita. Sakinah, mawaddah, dan warohmah.
- Open minded. Toh kita memang sedang menjalin hubungan dengan seseorang. We life in realty at the present, not in a dream nor beyond imagination.
- Ingin diakui or dianggep. Semurah-murahnya orang, masing-masing tetap punya harga diri. Binatang aja punya, apalagi manusia. Ga sedikit malah diantara kita yang meng agung-agungkan harga diri. Diakui or dianggep adalah bagian dari sebuah penghargaan. Bayangkan gimana perasaan kita kalo ga diakui atau ga dianggep? Sedih, sakit, tersinggung, kah? Jika jawabannya ya, hal yang sama juga berlaku pada pasangan kita. Belajar lah untuk mengerti mengapa mereka menginginkan status itu. Mereka membutuhkan lebih dari sekedar perhatian, kasih sayang, dan paket-paket manis dari kamu. Kind of appreciation.
Anw, ini semua murni pendapat ku aja. Feel free to tell if you are disagree with me.
*diisi dengan nama kita.
Posted in Life
Politik Makan Banyak
Saat itu kepala ku mulai pusing dengan lika-liku politik dan hukum di Indonesia.
Saat itu aku mulai tak habis pikir dengan begitu ribet nya perkara hukum, pemilu, negara, yang ga abis-abis.
Saat itu kekhawatiran mulai muncul, jangan-jangan Indonesia akan jatuh (baca: dipimpin) ke tangan yang salah.
Seolah mengambil jalan pintas, aku meminta seseorang untuk mengajak ku keluar dari Indonesia. Tinggal dan menetap di sana.
‘Ayah, kalo ke San Ramon, aku diajak, ya.’
‘Iya.’ Jawabnya. ‘Nanti diajak kalo makannya udah ga banyak’
*sigh
Posted in My diary
Protected: Maaf, Aku Tidak Suka Pacarnya
Enter your password to view comments
Posted in My diary
Tersihir Keindahan Gunung Bromo
Dinginnnnn,,, buru-buru aku masuk penginapan ketika sampai sekitar pukul 10 di penginapanyang sudah tak jauh dari lokasi wisata Gunung Bromo. Tapi kehangatan tak juga kutemukan. Tempat tidur di penginapan itu sulit dibedakan antara basah, lembab, atau basah. Saking dinginnya.
Ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka pun rasanya malas. Tak mau berlama-lama menapakkan kakiku di lantai. Aku segera menyelimuti tubuhku, agar lebih hangat. Untung ngantukku mengalah kan dingin malam itu.
Jam 3 pagi (ngaret beberapa menit) kami bersiap. Pake baju setebel-setebel nya. dan sepanjang-panjangnya. Sayangnya aku ga persiapan jaket yang agak panjang sampe separo betis atau kalo ga mau lebay di atas lutut dikit. Pokoknya sehangat mungkin. Dont wear jeans! Dingin. But i did
Sarung tangan dan sarung kepala it a must!

Sunrise
Menaiki mobil 4 wheel jeep – hardtop yang disewa dengan harga sekitar 275 ribu inc driver dan BBM untuk one Bromo Trip sampe kembali lagi ke penginapan, kami menuju ke penanjakan untuk menantikan sunrise. Saat itu, ramai sekali turis-turis asing juga lokal. Padahal bukan weekend loh..
Siaga di penanjakan sekitar pukul setengah lima – setengah enam, kita menikmati terbitnya matahari dengan semburat merah yang muncul perlahan. Subhanallah,,
Dari sana kita juga bisa melihat lautan pasir dengan hiasan 3 serangkai (Gunung Bromo, Tengger dan Semeru).
Ketika matahari sudah mulai meninggi, saatnya melihat dari dekat lautan pasir yang sedari tadi kukagumi. Kami melanjutkan perjalanan dengan kendaraan yang disewa untuk satu trip wisata bromo. Sekitar 30 menit perjalanan dengan melewati jalanan berkelok dan menurun terjal. Pantas saja, tidak sembarang mobil boleh dan mampu melewati jalan ini.
Kami sampai di lautan pasir itu. Segerombolan kuda-kuda dengan joki nya mendekati mobil kami. Menuju puncak bromo, kita bisa menyewa kuda atau kalo pengen olahraga dikit, bisa jalan kaki. Kami memilih menunggang kuda. Sewa kuda nya sekitar 80-100 ribu dan setiap kuda punya nama-nama yang unik.
Mengendarai kuda, sebenarnya tidak perlu keahlian khusus. Cuma kita harus sedikit lebih bersahabat dengan kuda tersebut. Bersahabat di sini bukan berarti harus mengemong atau sejenisnya. Justru harus di pecut biar jalan.

menuju kawah Condrodimuko
Dari kejauhan sudah tampak pemandangan indah menuju kawah condro dimuko. Untuk sampai ke kawah nya, kita harus menaiki sekitar 400 anak tangga.
Aku benar-benar kagum dengan keindahan Gunung Bromo. Jauh-jauh ke pelosok Indonesia, ternyata, di pulau Jawa pun ada panorama surgawi yang membuat ku tersihir.
Perjalanan pun harus berakhir karena kami harus melanjutkan perjalanan ke lokasi selanjutnya tak jauh dari kawasan wisata Gunung Bromo.

BROMO
Posted in Around Indonesia
Langkah Demi Langkah di Gunung Gede
Check, check, check.
Syuting kali ini berbeda dari biasanya. Kita akan membuat satu epiode Ulang Tahun Perjalanan 3 Wanita yang kedua.
Semua perlengkapan mendaki udah dipersiapkan. Terutama perbekalan (indomie, pop mie, roti, dan cemilan lainnya), obat-obatan dan perlengkapan pribadi. Ini untuk pertama kali nya aku menyandang carrier, yang kuperkirakan beratnya lebih dari 10 kg (saking beratnya). Isi nya adalah barang ku dan barang Silvie. Maklum saja, silvie harus membawa tenda.
Kami berangkat dari Cibodas. Medan pendakian yang sebenarnya udah dibikin jalan batuan sehingga memudahkan kita mendaki. Memang Gunung Gede ini termasuk dalam Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang telah dikelola dengan baik oleh pemerintah. Melalui jalur Cibodas ini, ada banyak objek menarik yang bisa kita lihat.
Pertama adalah Telaga Biru. Telaga dengan luas 5 hektar ini selalu tampak biru diterpa sinar matahari karena dilapisi oleh ganggang biru.
Setelah menikmati telaga biru itu sejenak, perjalanan dilanjutkan dengan melewati batuan, jalan tanah, dan jembatan kayu yang agak rapuh sepanjang 500 meter.
Ini baru sepersejuta perjalanan, tapi nafas udah ngos-ngos an. Aku sebenarnya agak pesimis, apa aku bisa melanjutkan pendakian dengan kemampuan fisikku yang amat terbatas ini. Tapi, toh yang lain tetap terlihat semangat. Aku pun gak boleh patah semangat (panas ceritanya).
Kalo mau mampir melihat keindahan air terjun Cibeureum, kita bisa belok dikit sebelum melanjutkan pendakian. Lumayan kalau mau istirahat, cuci-cuci muka, sambil menikmati keindahan air terjun, biar seger lagi. Sebelumnya, kami makan dulu. Nasi putih, telor, dan kering tempe, mantepp banget.
Entah karena saking santai nya, gelap begitu cepat tiba (emang berangkatnya udah kesiangan juga, si). Masing-masing kita telah berbekal senter untuk menerangi langkah kami. Beberapa kali kami harus beristirahat untuk mengumpulkan energi yang begitu cepat hilang.
Sebenarnya, menurut pengalaman ku kemaren, semakin sering kita beristirahat, semakin berat rasanya untuk mulai melangkah kembali. Tipsnya, kalau memang masih sanggup melangkah, teruskan saja. Sebaiknya jangan terlalu sering berhenti. Tapi kalau emang udah ga sanggup, beristirahatlah, jangan dipaksakan. Sampai terkumpul lagi energi dan semangat untuk melanjutkan perjalanan. Kalau bisa jangan sampai tubuh kembali dingin karena suhu gunung yang dingin biasanya sangat cepat menyerap keringat.
Tubuhku mulai menggigil karena selain istirahat yang kelamaan, saat itu hujan mengguyur penelusuran kami. Tapi kemudian, subhanallah, betapa kagetnya aku setelah lebih dari 5 km perjalanan, aku melintasi sebuah sumber air panas. Subhanallah, airnya bukan lagi hangat, tapi benar-benar panas mencapai 70 derajat celcius. Allah menciptakan alam begitu sempurna. Udara dingin yang menusuk kalbu, dilengkapiNya dengan kehangatan aliran air panas yang membasuh langkahku.
Setelah melintasi air panas, kami beristirahat di sebuah pos peristirahatan sambil menunggu hujan lebat mereda jadi rintik-rintik. Lumayan, sambil minum dan ngemil perbekalan yang sudah kami bawa. Setelah dirasa cukup, raut kuyu dan letih yang ada di aku dan teman-teman lainnya berubah menjadi semangat agar segera sampai ke Kandang Badak, tempat kami akan mendirikan tenda.
Sekitar 4 jam perjalanan (normalnya 3,5 jam) kami sampai di Kandang Badak. Dingin semakin menusuk di ketinggian 2.220 m diatas permukaan laut, saat itu hujan pun sedang turun. Awalnya aku pikir, di sini ada badaknya. Tapi, ternyata dari seorang teman, aku tau kalau disebut Kandang Badak karena ukurannya yang besar kaya badak.

Mencari Kehangatan
Kami pun mendirikan tenda dan menyiapkan makan malam. Lumayan, segelas pop mie dengan kuah berbumbu nya yang hangat mengisi perut ku yang kriuk kriuk. Emang karena suhunya yang dingin, aku, khususnya, jadi lebih mudah lapar. Bisa jadi targetku untuk turun 5 kg setelah turun Gunung Gede gagal (dan emang udah dipastikan gagal).
Setelah take untuk sebuah gimmick syuting, kami pun beristirahat di tenda masing-masing. Tapi ternyata, mataku ga bisa terpejam sedetik pun. Aku kedinginan kala itu. Terbersit rasa kawatir saat itu. Sampai kuucapkan takbir dan istigfar dalam hati. Kuteteskan pula air mata karena dingin semakin menusuk sekujur tubuh ku. Entah kemana aku harus menghangatkan diri, karena setiap sudut Kandang Badak itu diliputi dingin. Dingin yang sampai sekarang masih membuat ku ‘trauma’ .
Kapan ya matahari akan menyinari Kandang Badak untuk membagikan kehangatannya. Aku benar-benar berharap matahari segera terbit. Sangat berlawanan dalam kehidupan sehari-sehari ku di mana aku berharap agar pagi jangan segera tiba karena aku masih pengen tidur (baca: keblug).
Aku masih membeku, di kala teman-teman yang lain sudah mulai bergerak menyiapkan sarapan. Saatnya bangun dan sarapan, tapi napsu makan udah ga sedahsyat sebelumnya. Perutku mulai ga enak mungkin karena sudah mulai dipenuhi angin.
Setelah sarapan, kami pun bersiap-siap melanjutkan perjalananan menuju Puncak Gunung Gede. Medan yang kami hadapi semakin berat. Akar-akar pohon dan kemiringannya semakin terjal. Tak begitu lama, kami menghadapi tanjakan setan, begitu mereka menyebutnya. Tanjakannya benar-benar curam, untuk itu kita harus menggunakan bantuan tali untuk mendakinya. Tips dari ku, jangan liat ke bawah. serem ih, kaya pengen jatuh.
Energi semakin terkuras, kaki semakin berat melangkah. Seakan pendakian ini gak ada ujungnya. Ini mah udah ga pengen nangis lagi, tapi pengen treak.
Dan setelah sekitar 2 jam dari tanjakan setan itu, aku sampai di Kawah Gunung Gede. Pemandangan yang kami tunggu-tunggu dari perjalanan panjang ini. Saat itu kabut tebal, hanya detik-detik tertentu ketika kabut menepi, kami bisa menikmati pemandangan kawahnya.
Rasa syukur dan haru menyelimuti tubuh letih ku saat itu. Akhirnya aku berhasil sampai di puncak Gunung Gede. Sambil menunggu yang lain, sejenak aku tertidur sambil menikmati sejuknya hawa kawah Gunung Gede. Ternyata yang lain pun melakukan hal yang sama dengan ku, terlelap di Kawah Gunung Gede.
Euphoria telah berhasil sampai di puncak Gunung Gede ternyata tak berlangsung lama. Karena menuruni Gunung Gede melalui jalur Gunung Putri, kita akan disuguhkan permadani jutaan edelweis (sayang kala itu sedang kuncup). Tapi, tidak mengurangi keterpesonaan ku pada keindahannya. Anginnya semilir walau matahari pasti diam-diam membakar kulit wajahku. Kami menghabiskan perbekalan yang masi tersisa. Botol-botol diisi dari aliran sungai yang mengalir di Alun-Alun Surya Kencana untuk bekal perjalanan pulang.
Pendakian Gunung Gede memberikan pengalaman berbeda dari perjalanan-perjalanan kami yang lain. Di sini sangat terasa kebersamaan di antara tim perjalanan tiga wanita selain karena memang episode ini dibuat khusus untuk episode ulang tahun.
Saksikan ekspedisi perjalanan 3 wanita di Gunung Gede, Kamis 21 Mei 2009 jam 6 pagi, ditrans TV.
Posted in Around Indonesia
Basa Basi Patah Hati
Siapa yang mau patah hati. Gak satu pun.
Waktu patah hati dulu, aku berjanji gak mau mengulangi nya lagi. Tapi ternyata, itu tetap terjadi. Saat itu aku berpikir, ah, mungkin aku belum cukup dewasa untuk mengendalikan perasaan ku. Mungkin aku masi kebawa emosi.
Lalu, saat usia ku (kurasa) sudah mulai beranjak dewasa, ternyata aku masih merasakan patah hati itu lagi. Aku merasa, apa aku seperti keledai. Mengulangi kesalahan yang sama dua kali. Bukan kah orang pintar tak akan mengulangi kesalahan yang sama apa lagi sampai berkali-kali.
Tapi patah hati, layak nya cerita basi yang selalu mengisi hari-hari ku. Ketika semakin dewasa, patah hati itu terasa kian sakit. Lalu, aku kembali berjanji, ini tak akan terjadi lagi dalam fase hidup ku. Tidak akan. Berusaha keras aku mempertahankan hubungan ku yang luluh lantak itu. Aku ga mau patahhati lagi. Itu tekad ku, alasan ku, mengapa aku begitu keukeuh (mareukeuh) mempertahankannya. Mengapa aku berusaha keras merubah kepribadian ku menjadi seseorang yang diinginkannya. Orang-orang bilang, tak perlu segitunya kalau memang ga bisa. Kamu berhak bahagia, dan harus punya jati diri. Ternyata o ternyata, cinta itu bukan hanya buta, tapi juga tuli. Cinta membuatku tak mau mendengar, toh tak ada salahnya, berubah demi kebahagiaan orang yang kita cintai.
Pada akhirnya, tak ada yang bisa dipaksakan. Begitu pula cinta. Walau pun menyakitkan, keputusan itu harus diambil. Palu pun harus diketok. Meski berat.
Anyway, broken heart is not the end of the world. Hari-hari ku akan terus berjalan. Berjalan senormal yang ia bisa.
Diselimuti orkes patah hati itu, ternyata kita masih boleh percaya kalau cinta ada di mana-mana. Being single is privilege (pembelaan kaum single). Termasuk karena bisa merasakan jatuh cinta lagi. Bahkan, bisa jadi akan lebih hebat dari cinta pertama yang kita rasakan waktu SD dulu.
Lalu aku bimbang. Apa dengan jatuh cinta, aku juga harus mempersiapkan diriku untuk patah hati lagi? Apakah kisah ‘happily ever after’ itu cuma dalam dongeng? *sigh
Aku ga mau patah hati lagi. Im begging.


