Posted by: dinnasabriani | January 27, 2012

Kesan Bergalau dari Mba Ovie

Ini bukan perkenalan pertama saya dengan perempuan cantik itu. Tapi, pertemuan kita selalu memberi kesan.

Jika bertemu dengan sosoknya, siapa yang percaya dia sudah berusia 40 tahun. Ah, penampilannya jauh dari itu. Kami seperti teman saja, padahal kita terpaut lebih dari 15 tahun. Hangat dan ramah. Gaya bicaranya pun santai, seperti yaa, seperti antara saya dan teman-teman sebaya.

Baiklah, saya perkenalkan dulu, siapa dia. Kita akrab menyapanya dengan Mba Ovie. Salah satu pemilik kios jilbab di Pusat Grosir terbesar di Jakarta. Dan jilbab-jilbab itu ia bikin sendiri. Di rumahnya. Ya, bersama sekitar 20 pegawainya.

Mba Ovie, senang sekali berbagi cerita. Pengalaman hidupnya. Itu kenapa banyak hal-hal berkesan yang saya dapat dalam bincang-bincang sore kita tadi. Dari mulai bagaimana dia merintis usahanya hingga cerita-cerita ‘penting’ soal wanita.

Tak mau membahas soal yang berbau ‘ibadah’ sebenarnya di sini. Tapi, saya salut karena dia punya cara sendiri dalam mengelola usahanya ini. Usahanya, membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Dan tak sembarang itu, ia selalu menanamkan nilai moral pada pegawainya. Setiap kamis malam, mereka rutin mengadakan sholat berjamaah dan pengajian. Ya, karena dia tak ingin pegawai-pegawainya itu semata bekerja. Tapi juga beribadah. Bertambah ilmu untuk mencapai ridho illahi.

Tak pernah ia tidur, saat mereka lembur bekerja. Bukan karena tak percaya. Tapi, ada rasa tak tega, ketika ia terpaksa meminta pegawai-pegawainya untuk bekerja. Karena mereka bekerja untuk dia. Begitu katanya.

Well, pembicaraan kita tentu tak sampai di situ saja. Bagaimana perjuangan dia merintis usahanya. Benar-benar dari nol. Bayangkan, dulu ia menggotong sendiri kain yang ia jual ke pasar. Kini, ia sudah punya toko dan pabrik sendiri dengan pelanggan dari seluruh Indonesia.

Subhanallah.

Sebagai perempuan berdarah Padang, saya salut dengan kegigihannya. Menghadapi kehidupan. Ia termasuk wanita beruntung, punya suami setia yang menyayanginya hingga di usia pernikahannya yang ke ___ (saya gak tau berapa). Ah, Mba Ovie dan suaminya masih hangat meski sudah punya 3 anak. Hal yang mulai jarang saya temukan di kota-kota besar jaman sekarang.

Mungkin, saya harus melembutkan sedikit hati. Kepada saya perempuan single, Mba Ovie kasih advice soal kehidupan pernikahan. Kekawatiran, pasti ada. Tapi bukan sesuatu yang lalu membuat kita patah arang. Ya, karena bagi Mba Ovie menikah adalah perintah Allah yang harus disegerakan. Bagaimana dengan saya? Sampai saat ini saya masih dilanda ketakutan-ketakutan.

Bahwa sebenarnya wanita itu tak punya banyak pilihan. Karena kita punya batasan-batasan. Jangan sampai menyesal. Jika sudah ada, mengapa menunda? Pertanyaan retoris itu diberikan untuk saya.

Tapi, saya tampak masih keras hati. Karena jodoh tak bisa dipaksakan. Sama sekali tak bisa.

Mba Ovie, tetap tegas pada prinsipnya.

Mengapa begitu kawatir dengan pernikahan? Rezeki pernikahan itu udah punya paketnya sendiri.

Harus mencari yang seperti apa? Begitu lagi pertanyaannya. Saya terdiam. Mmhh, berpikir. Saya tak mencari yang seperti apa. Ah, pertanyaan seperti itu tentu tidak begitu menyenangkan bagi wanita seusia saya.

Saya kembali tak mampu melunakkan hati. Ini kegalauan akut, kalau kita pengen ikut bahasa Twitter. Saya tetap takut. Dan keras hati, apa harus?

Bertemu dengan banyak cerita pahit soal rumah tangga, membuat saya ketakutan setengah mati. Dan andai saja saya tak perlu menjadi dewasa. Ketakutan saya teramat.

Namun, saya gak mau. Karena katanya, ketakutan itu hanya untuk orang-orang yang tak punya keyakinan. Atau, sebut saja, tak beriman. Naudzubillah. Saya tak mau jadi orang-orang yang tergolong seperti itu.

Selayaknya malam-malam sebelumnya. Saya tak mampu memejamkan mata malam ini. Teramat tidak. Saya tidak tau harus kawatir tentang apa. Saya tak mengerti harus takut bagaimana. Saya hanya tak sanggup untuk memejamkan mata.

Bagaimana bisa? Hanya satu pertanyaan saya malam ini.

Baiklah, entah untuk apa saja. Saya bersyukur, Kamis telah berlalu. Saya sungguh tak menantikan Jumat ini, atau hari-hari apa saja. Apa yang saya tunggu? Impian? Harapan? Tak satu pun yang bisa kasih tau saya.

Malam ini tetap dingin dan sepi. Semua sudah tertidur. Dengan segala bahagia dan masalah mereka malam ini.

Untuk berita duka hari ini, #iPray

Untuk tidur nyenyak malam ini, #iCry

Untuk senyum hangat itu, #iWish

Another Bismillah. Nice to share with you, Dear Mba Ovie! :* Also thanks for that Sambal Sacuang with Pete nya. Awesome!

Posted by: dinnasabriani | January 25, 2012

Today #iPray

Ada senyum, tawa, dan, air mata.

Itulah hari saya hari ini. Bahwa bahagia itu memang idealnya tak mungkin selalu. Ketika bangun di pagi hari, kita bisa tersenyum bahagia mendapat telpon dari orang tersayang dan bersyukur masih bisa menikmati lezatnya nasi uduk hangat dengan taburan bawang gorengnya. Apalagi yang mampu saya katakan?

Bahwa kebahagian itu tak kekal. Jika kita masih bisa menikmati sejuknya udara pagi hari, bergumul dengan selimut tebal dan malas-malasan untuk bergeser dari tempat tidur. Itu juga satu hal yang patut disyukuri.

Dan bahagia itu memang tak selalu. Bagaimana menikmati emosi yang naik turun hari ini?

Satu BBM saya dapat pagi ini. Ini penting. Soal hidup. Ingatkah, ketika bahagianya melihat rona dan semu pada wajah pengantin? Dan pagi ini, berita itu membuat saya ingin pingsan saja. Sebegitukah hidup?

Sejujurnya, saya bukan tak pernah mengalami fluktuasi semacam ini. Cobaan dan rezeki pasti ada saja. Begitu juga dengan orang-orang di sekitar saya.  Saya ingat, hampir setiap detilnya. Tapi, yaa, hanya untuk yang berkesan (tentu saja) yang saya ingat.

Oke, bbm itu masih membuat saya syok. Berat. Perceraian lagi. Setelah sederet perceraian yang sering kita dengar dari berita di TV. Dan lagi, saya mendengarnya dari orang dekat saya. Begitu kalimat sederhananya. Pasangan itu, memutuskan ber’pisah’ pagi ini.

Ya, jika perceraian sedang menjadi trend, oke, ada baiknya jika kita bukan tergolong orang-orang yang mengikutinya. Toh, trend tak selalu baik untuk diikuti. Ya, saya memang bukan orang yang pernah mengalami rumitnya rumah tangga. Jadi, berteori apa pun, saya tidak pernah tau, karena saya tidak pernah mengalaminya.

Hanya, berita tak menyenangkan dari BBM teman saya itu, menyambut kesedihan saya hari ini. Pasang lampu kedap kedip ke kiri, dan saya menepi. Membaca sekali lagi, kalau-kalau saya salah baca. Sesederhana itu kah sebuah perceraian? Saya tak mampu berkata apa-apa. Segala nasehat pasti sudah didapat dari mereka yang lebih berpengalaman. Lalu saya harus bilang apa?

Semudah itu pula saya semakin parno dengan pernikahan. Semuanya menjadi naik turun. Ketika begitu banyak cerita yang saya dapat, semuanya hanya membuat isi pikiran saya, naik turun. Sederhana, kita semua pernah menjadi anak, bukan? Perceraian adalah mimpi buruk bagi setiap pasangan, dan mimpi paling buruk bagi setiap anak. Saya menjadi picik sedikit, mengapa menikah jika harus bercerai? Ya, hidup sekejam itu. Kita tak pernah tahu masa depan.

Saya, harus balas apa itu BBM pagi hari? Saya sendiri pun masih tak kuasa menahan gemuruhnya. Dengan penuh cinta, untuk usia beranjak dewasa, saya hanya berharap mereka bisa berpikir. Dua kali. Atau sampai delapan puluh kali. Really, dua hari berpikir soal perceraian, saya rasa itu jauh dari cukup. Ntah apa masalahnya. Andai saya, bisa peluk mereka berdua. Dengan bayinya yang lucu itu. Yang tak salah apa-apa.

Harus apa? Oh Plis. #iPray today.

Saya melanjutkan perjalanan saya hari ini. Toh, saya tetap harus melaju ke kantor. Meski, hati gak karuan begini. Empat meter lagi, saya sampai kantor. Saya bertemu dengan tim saya.

“Jenguk Ibu Kang Rusdi, sedang kritis”

Saya putar balik, ikut mereka. Sepanjang jalan saya berpikir. Belum usai gemuruh yang satu. Berita apa lagi ini? Kang Rusdi, putera tunggal sang Ibunda. Sudah ditinggal ayahnya. Tak sampai dua bulan, ia akan menikah. Masa yang dinantikannya, apalagi ibunya.

Ya, usia sudah menjadi takdir yang ditentukan Tuhan, bukan. Tak ada yang tahu, sampai kapan. Toh, tanpa sakit pun nyawa bisa hilang seketika jika Yang Kuasa berkehendak. Merinding saya, menceritakannya. Saya bisa merasakan masa-masa sulit untuk mengikhlaskan.

Kami sampai di Rumah Sakit. Tentu saja, tak bisa bertemu ibu Kang Rusdi. Beliau sedang dirawat di ICU. Hanya dukungan, semangat, dan doa yang mampu kami sampaikan. Tuhan pasti selalu punya cerita baik. Oh, saya buruk berkata-kata. Mudah-mudahan Kang Rusdi tetap tabah dan tegar.

Kita berkumpul di lobby Rumah Sakit. Sedikit canda, agar berkurang sedikit gurat sedih di hati Kang Rusdi. Well, #iPray for every better thing.

Dan kalimat kecewa dari seorang sahabat dalam perjalanan pulang. Bagaimana ia menghadapi percintaan menyakitkan. Sudah saya katakan, bahwa laki-laki emang kaum paling br*ngs*k. Hehe.

Dan masa-masa sakit hati soal percintaan terlalu melelahkan untuk saya bagi di sini. Yaa, yang ga worth untuk dipertahankan dibuang saja. Setuju? Kalau saya ingin memaki, saya bisa hujat sejuta makian. Ya, tapi begitu saja hidup. Sesederhana sebuah tawa dan air mata. Bagaimana setiap cerita bisa sesuai dengan impian kita. Bahkan, mimpi indah yang menjadi nyata pun, hanya terjadi sekedar kejap mata. Kemudian hilang.

Dan gemuruh, semakin jadi saja. Saya tarik nafas. Sekali. Dua kali. Saya matikan segala sambungan telpon. Tak mau lagi rasanya saya menerima segala berita.

Apa itu sampah-sampah bermoral. Saya tak mau jadi manusia yang tak berhati. Dan saya mencoba tarik nafas lagi.  Entah demi apa pun, saya tak kuat menahan gemuruh hari ini.

Jadilah saya di sini sekarang. Berhadapan dengan layar 13 inc ini. Toh kita adalah kaum yang berpikir. Punya hati sedikit atau banyak. Saya lah yang tak punya kuasa apa-apa.

Kamu, impian ku. Kita bikin cerita indah itu. Jika tak mungkin persis sama, kita rangkai pelangi yang serupa. #iPray for one sincere. About us.

Bismillah.

Posted by: dinnasabriani | January 20, 2012

Anjing, ya, Anjing.

Saya sempat heboh sendiri dengan twit saya tentang anjing. Ya, seorang teman malah berpikir bahwa saya menganalogikannya dengan manusia. Oh. Itu kejam sekali. Sangat kejam. Bagi saya, seburuk apa pun, marilah kita berpikir agak naif dan positif. Manusia tetaplah manusia. Tak layak dikatakan anjing.

Anjing bisa menjadi makna yang berseberangan. Jauh. Tergantung apa yang sedang ada dalam pikiran kita. Jika mau benar, yaa, anjing adalah sosok hewan peliharaan yang lucu, sahabat manusia. Pasti banyak di antara kita yang menjadi sahabat anjing bukan? Atau ingin punya peliharaan anjing? Walau pun sayang, dalam agama (islam) anjing haram untuk dimakan. Padahal katanya, daging anjing bakar dengan bumbu blackpepper atau BBQ itu enakk banget lohh. Mmmhh, saya jadi enggan untuk membayangkannya. Yang menikmati, yaa, selamat menikmati. Hehe.

Saya, tetap pada kesimpulan yang sama. Bahwa saya, tak bisa bersahabat dengan anjing. Atau ‘anjing’? Ouch!

Yaa, kadang kita terlalu kejam. Mungkin, sudah tidak asing di telinga kita, bahwa kata ‘anjing’ kerap dijadikan makian. Dan itu bisa kita dengar dari siapa saja. Dari kalangan mana saja. Di pasar, di angkutan umum, atau bahkan di gedung-gedung mewah di ibu kota. Di mana saja. Dan bagi saya, itu terlalu kasar untuk di dengar di kuping. Jika itu sempat dari mulut saya, oh Maafkan.

Mudah-mudahan saya, dan kita semua termasuk orang-orang yang mampu menahan diri yaa.

Saya trauma dengan anjing. Mungkin, itu salah satu alasan saya tetap setia dengan Simba (kucing peliharaan saya). Waktu kecil saya, pernah merasa habis dikejar anjing. Kejadian itu, bukan sekali. Tiga kali. Asli, ga bisa lupa. Waktu pulang sekolah, saya panik setengah mati dikejar anjing. Rasanya saat itu, saya pengen pasrah saja. Merelakan diri. Saya kehabisan akal untuk menyelamatkan diri. Apakah kemudian saya harus berakhir di rumah sakit karena digigit anjing? Atau mati terkoyak! Bayangan saya sejauh itu. Asli parno berat. Dan kemudian saya lupa, bagaimana saya bisa selamat sampai di rumah. Peluk mama, dengan nafas terengah setengah menangis. Bersyukur, saya masih selamat sampai sekarang.

Well, anjing ya anjing. Intinya akan tetap sama. Saya harus merelakan diri saya, bahwa saya tidak bisa bersahabat dengan anjing. Dan tidak pernah bisa, menjadi tidak apa-apa bagi saya. Gapapa yaa?

Anyway, untuk sebuah makian. Mari kita ber ke peri ke manusia an sedikit. Bahwa tak ada wajar nya sedikit pun. Untuk menyamakan manusia dengan anjing. Untuk semua benci, dendam, kecewa dan sakit hati. Kita saling memaafkan. Susah? Pasti.

Ga ada salahnya dicoba kan? Jika sinis? Ah rasanya, apa pantas. Sombong? Haduhh, mending ga usah. Tarik nafas panjang.

Damai. Penuh sayang.

Posted by: dinnasabriani | January 19, 2012

Sinergi Sebuah Perbedaan

Yaa, untuk hari ini rasa-rasanya saya semakin tak sabar untuk cerita. Mumpung sambungan internet lagi lancar, mumpung temen galau depan saya lagi gak bawel. Dan mumpung batere laptop masih 39 persen. Meski sebenarnya, masih ada prioritas lain yang harus saya kerjakan semacam naskah atau thesis. Tapi, tenang. Kita refresh isi kepala sejenak untuk mampir ke sini.

Well, ini bukan pertemuan saya yang pertama sebenarnya. Dengan Pak Suparman. Tapi, narasumber liputan kali ini benar benar berkesan bagi saya. Yaa, siapa sangka, Pak Parman, adalah seorang guru seni dan budaya beragama muslim di sekolah keristen. Ia bertubuh pendek. Dann, mungkin ini kejutan bagi saya. Bahwa ia tinggal di asrama biarawati. Yaa, ngerti kan maksud saya dengan biarawati. Bukan seperti kita, mungkin yang memang tinggal dalam keberagaman. Biarawati itu ekstrem, dalam agamanya. Yaa, seperti ustad saja. Mungkin sii, anyway saya ga begitu paham sebenarnya. Hanya saja, sempat ngobrol tadi dengan salah satu biarawati di sana bahwa dalam katolik itu ada dua pilihan, mengabdikan diri ke laki laki (suami) atau ke Tuhan. Dan biarawati adalah mereka yang mengabdikan dirinya ke Tuhan. Dan mereka memutuskan untuk tidak menikah.

Oke, Pak Parman. Bertemu pertama kali dengannya, satu kesimpulan awal adalah ia sosok yang sangat bersemangat. Entah, karena bertubuh kecil sehingga dia menjadi mampu bergerak ke sana ke mari, begitu aktif. Ya, dia begitu penuh semangat menjalani setiap aktifitasnya.

Lalu, apa yang diajarkan Pak Parman di sekolahnya? Ia mengajarkan segala yang berbau seni. Terutama menari dan drama teater. Bisa dibayangkan bagaimana Pak Parman mengajar tari? Bukan hanya melatih dan memberi komando. Tapi, bayangkan. Bahwa Pak Parman juga mempraktekkan nya. Ia memberi contoh bagaimana gerakan tarinya dan bagaimana menghayati ekspresi dalam drama. Mengikuti kegiatannya seharian, banyak kesimpulan lain yang di dapat. Bahwa ia sosok guru yang tegas dan berbakat. Ya, dibalik kekurangannya darah seni mengalir hebat dalam dirinya. Semua anak didiknya sayang padanya. Begitu juga di daerah tempat tinggalnya, yang tak jauh dari tempat dia mengajar. Ia menjadi sahabat, bagi semua.

Menurut pandangan saya, tak sedikit pun ia menjadikan kekurangannya sebagai halangannya. Dan, semata, ia ingin bermanfaat bagi orang lain. Itulah yang menjadi alasan, mengapa ia memilih untuk menjadi guru. Ia seorang pahlawan, tanpa tanda jasa.

Kemudian, saya berkaca pada diri saya sendiri. Seringkali kita mengeluhkan banyak hal dalam hidup. Padahal kita dilahirkan ‘normal’ bukan? Pak Parman tak sedikitpun mengeluhkan takdir yang Tuhan berikan untuknya? Bagaimana dengan saya. Kalau mau dibandingkan, oh, rasanya saya ga mau ngaca. Malu.

Hidup ditengah tengah lingkungan yang berbeda agama, pun tak terasa perbedaannya. Saya menangkap satu kesan. Ketika saya datang ke asrama itu, tak terasa ada batas. Biarawati atau sering disebut suster, begitu hangat menyambut saya. Padahal, jelas, bahwa saya berbeda dengan mereka. Saya datang dengan pakaian muslim, menutup aurat. Seperti pakaian yang biasa saya kenakan sehari-hari. Dan sambutan itu gambaran awal, bahwa perbedaan lah yang menyatukan kita. Perbedaan lantas tak membuat kita harus pecah. Setuju?

Mereka mampu hidup rukun, dengan sesamanya. Atau dengan tidak sesamanya. Bisa dinilai dalam konteks apa pun.

Ini seharusnya mengetuk hati dan isi pikiran kita. Inilah sinergi atas sebuah perbedaan. Perbedaan agama atau bentuk fisik.

Bagaimana pun kita menyamakan, tak ada manusia yang benar benar serupa. Sekalipun kembar. Yaa, seperti saya dan Imim saja. Meski terlahir kembar, banyak perbedaan saya dan Imim. Banyak sekali. Nanti dibahas di postingan lain yaa. Hehe.

Satu hal, bahwa perbedaan bisa menjadi pelajaran agar kita lebih legowo. Menerima setiap perbedaan itu.

Jadi, mengapa kita begitu takut akan perbedaan? Meski susah, ikhlas lah yang harus kita usahakan. Ini pesan moral yang bisa berlaku general yaa. Untuk sahabat saya yang ada dihadapan saya saat ini salah satunya. Yang sedang galau akan perbedaan. Mungkin itu bisa menyatukan? Ya, apa pun itu, bagaimana pun, toh di mana-mana kita akan menemukan perbedaan, kan? Mudah-mudahan yang terbaik yaa.

Mmhh, bagaimana dengan saya. Atau kamu? karena hidup ini penuh dengan pilihan, ayoo, kita sama-sama ikhlas. Perbedaan itu bisa menjadi sinergi sempurna. Yang indah. Bismillah ya, Sayang.

Posted by: dinnasabriani | January 16, 2012

Ku. Lit.

Salahkah jika saya menjadi penggemar kulit?

Belakangan, saya sedang menikmati menjadi penggemar kulit. Lah, istilahnya agak susah ditebak ke mana arahnya ga si? Tapi, sejujurnya ini bisa menjadi apa saja. Kulit apa saja.

Niat nge post tentang ini, berawal karena saya mendadak jadi penggemar berbagai aksesoris fashion kulit, ber tag ‘genuine leather’. Jika kemudian kulit kulit ini melebar kemana-mana jadi kulit lainnya, yaa, boleh lahh. Saya juga penggemar kulit lainnya.

Sebenarnya, ada perang perasaan juga, ketika menyukai fashion serba kulit ini. Rasanya ga tega, jika hewan-hewan itu dikuliti. Tapi berusaha berpikir positif bahwa sebagian memang hewan yang diternakkan. Semacam pembelaan diri yaa. Kemudian, semakin lama, sebagai wanita normal, saya menjadi tergila-gila dengan produk kulit. Asli. bukan yang imitasi tentu saja.

Ya, meski berbandrol harga yang cukup tinggi, saya dengan pikiran pendek, rela merogoh kocek lebih dalam. Oh, tidak. Plisss, maafkan yaa. Tapi, produk produk ini begitu menggoda saya. Ini, bagian dari kesenangan dunia, menurut saya. Mudah-mudahan saja, saya ga sampai harus ber status ‘kalap’ yaa.

Dan, bagaimana dengan pembahasan kulit lainnya? Ini perkara kulit ayam crispy, yang tidak sehat itu. Saya suka. Sekian. hehe. ketika makan, ayam goreng crispy ini, saya mendadak menjadikannya GONG ketika makan. Kulitnya disisakan untuk kenikmatan terakhir saat makan. Mmhhh, rasanya sedihh banget saat kunyahan terakhir tiba. Mau nambah lagi, ya, saya harus ingat berat badan. Dan kesehatan tentu saja. Semua udah tau pastinya, bahwa kulit ayam itu jauh dari gizi dan makanan sehat.

Dan saya jadi menyimpulkan, bahwa memang yang enak, tak selamanya baik. Hehe. Okee, batere nya kian menipis. Ini dipublish dulu, ya.

Your color, You are coloring my day. Thanks, dear!

 

Posted by: dinnasabriani | January 6, 2012

Kopi Segelas di Sabang Enam Belas

Jenis kehilangan apa lagi yang harus saya hadapi di awal tahun 2012 ini. Setelah masalah demi masalah datangnya berbarengan. Setelah saya harus galau tingkat dewa, merasa tidak ada lagi teman yang sanggup menjadi teman saya bercerita saya (kecuali blog ini), saya harus kehilangan a place for escape, sebuah warung kopi, yang menjadi tempat mampir saya, kapan saja saya mau.

Dan kegalauan pun dimulai. Saat warung kopi andalan saya itu, mengalami error terhadap koneksi internetnya. Saya seperti kehilangan, tempat mampir. Jadi bingung mau ke mana, saat saya butuh cetak cetik laptop untuk menumpah ruahkan segala onderdil isi kepala, air di pelupuk mata, dan sampah-sampah dalam hati.

Positifnya, saya jadi lebih cepat pulang ke rumah, sabar menghadapi jalanan yang masih tersendat, dan fokus bersujud.

Dan sampailah saya sore ini, di sini. Lokasi nya juga tak jauh-jauh, dari kantor.

Sabang 16.

Image

Untuk ukuran warung kopi, tempatnya tidak terlalu mewah dan ukurannya tidak luas. Tapi nyaman. Rasanya pas lah untuk menyebutnya sebagai tempat ngopi. Kalau cuma untuk mampir dan ngopi bareng teman-teman, yaa, tempat ini bisa jadi pilihan. Untuk penggemar kopi serius, bisa menikmati aneka kopi spesial khas Indonesia, seperti Aceh Gayo, Sumatera Lintang, Sidikalang, Bali Kintamani, Toraja Kalosi, dan Papua Nabire.

Sayangnya, sebagian penikmat kopi, biasanya memasangkan kopi dengan rokok. Dan tempat ini, tidak menyediakan tempat yang nyaman untuk merokok. Smoking Area, tersedia, cuma sedikit. Sekitar 3 bangku di luar. Berjejer rapi di pinggir trotoar. Dan, yaa, warung kopi ini, pas bagi penikmat kopi saja, tanpa rokok. Hehe.

Jika kelaparan, bukan di sini tempatnya. Karena di warung kopi ini, tidak disediakan menu-menu yang ngenyangin. Hanya tersedia camilan-camilan ringan, well, rekomendasi di sini adalah roti bakar srikayanya.

Saya pesan satu kalau begitu. Yoi. Gigitan pertamanyaaa, mmmhh, okeeeyy. Gurih. Dan manis. Boleh laahh dicoba.

Variasi menu es krimnya juga lumayan. Tapi saya tidak pesan. Berhubung lagi diet dan sudah kenyang. Menu-menu disediakan dengan sederhana, dan agak mahal untuk ukuran yang sederhana. Tapi, toh pengunjung membayar kenyamanannya. Segelas kopi pasang harga IDR 16000. Mahal ga si?

Saya. Sambil ngopi.

Yaa, setidaknya saya jadi punya pilihan kedua setelah warung kopi kesayangan saya itu. Lumayan. Saya berhasil menghabiskan separuh hari saya di sini. Berarti? Saya betah. Tempat ini mampu menjadi tempat kabur sejenak, dari betapa memuakkannya lika liku hubungan sesama manusia. Saya berada di tempat yang tepat. Memilih bertahan dengan benda-benda ini, tanpa harus merasa dimusuhi, membebani diri segala prasangka tak punya hati, dan menikmati menjadi sendiri. Di sini.

Enjoy the coffee, guys!

Posted by: dinnasabriani | January 6, 2012

Ah!

Harus kah kemudian saya marah?

Saya gerah.

Adakah ternyata selama ini saya salah. 

Jiwa ruang sombong, biasa menjadi jadi, namun, Kini saya menyerah.

Pasrah. 

Saya bukan lagi sapi perah. Atau keledai dengan air mata berdarah.

Anda mau apa, terserah!

Bermain-bermain, bersenang-senang lah dengan segala asumsi, Oh itu parah. 

Sayang, saya lelah.

Jika Anda lihat muka ini merah. Bukan karena terbakar marah segala arah. 

Tapi mencoba segala telaah. Agar tak perlu pikiran ini lemah.

Apakah! Terserah lah. Bah!

 

Posted by: dinnasabriani | December 31, 2011

Bye 2011!

Akhirnya, kita harus segera mengucapkan selamat tinggal pada tahun 2011 ini. Namanya saja pergantian tahun, semarak pergantian tahun begitu terasa di Ibu Kota. Entah, bagaimana saya harus membandingkan dengan tahun sebelumnya. Yang pasti, saya, mungkin salah satu yang tak terlalu suka hura-hura pesta pergantian tahun.

Rasanya, saya pun tak sabar agar 2011 segera berganti angka. Bukan karena saya suka angkanya tentu saja. Tapi, tahun baru tetap sebuah perubahan. Meski kalau kita cerna, apa bedanya dengan hari yang lain?

Mari kita berbicara lebih santai. Menyeragami apa saja yang biasa dibahas muda-mudi saat pergantian tahun. Resolusi? Ada yang bilang, masi percaya resolusi? Ya, boleh saja tidak percaya. Tapi, kenyataannya, kebanyakan kita menyusun resolusi di tahun 2012. Saya lebih senang menyebutnya dengan wishlist. Tentu saja, saya tak punya serentetan wishlist yang panjang di tahun 2012 ini. Karena, memang saya adalah tipikal orang yang lebih suka menjalani saja. Saya, jauh dari istilah obsesif apalagi ambisif.

Tapi, kita serasa tak hidup tanpa mimpi. Saya punya mimpi, impian, tapi malu malu untuk saya ungkapkan. Mungkin impian ini, pun, seragam pada kebanyakan wanita ‘muda’ seperti saya. Tapi ya, sutralaaah, kita semua bebas punya resolusi. Dan menyimpannya sebagai rahasia.

Setahun, menjadi tak lama, jika dihadapi dengan berbagai pelik masalah kehidupan. Saya, tak sendiri bukan? Bukan hanya saya yang pelik. Begitu juga, teman-teman semua. Toh, kita semua punya masalah sendiri.

2011, adalah tahun di mana pengalaman menjadi sebuah saksi dalam hidup, yang saya harap, tak akan terulang lagi di tahun 2012. Sederhana saja, karena kita semua ingin menjadi yang lebih baik, bukan? Mari kita tarik nafas panjang, dan menghelanya biar lega. Pengalaman pengalaman ini lah yang kini menjadi hadiah pergantian tahun yang begitu berkesan bagi saya.

Di awal tahun, saya jatuh cinta dengan profesi jurnalis. Untuk kesempatan ini, mungkin saya harus mengucap terima kasih pada seorang teman ( @sandysyafiek ), yang membuka jalan, hingga, alhamdulillah, di malam pergantian tahun ini saya masih harus berkutat dari bagian pengabdian saya terhadap profesi ini. Meski tak akan menyelesaikan tugas berjudul ‘time code’ malam ini, kenyataannya, saya tetap datang ke kantor, ‘nyicil’ kerjaan yang tak habis habis ini.

Sepanjang tahun, saya menikmati proses menjadi seorang jurnalis. Tidak mudah, dan saya menikmatinya. Jika kita bicara lelah, tak terbayar mungkin. Tapi saya menikmati setiap detilnya. Bagaimana saya bertemu banyak sekali karakter orang dalam pekerjaan ini. Entah itu, narasumber, rekan kerja, atau orang-orang lama yang kembali hadir. Saya menikmati masa-masa saya harus mengejar berita, mendapat berita tapi ga ditayangin, kebagian piket malam atau pulang ke kantor tanpa berita.

Menikmati setiap masa-masa ketika naskah yang saya kemas, dengan waktu yang amat terbatas tak terpakai atau dipandang tak kualitas. Ini adalah kala belajar yang begitu saya nikmati. Termasuk pula, menghadapi berbagai karakter rekan kerja atau atasan. Mengalami serunya punya teman-teman baru, menghadapi karakter orang-orang, bahkan merasakan apa yang biasa disebut orang-orang sikut-sikutan.

Di tahun ini, saya mendapatkan kesempatan untuk merasakan pekerjaan yang saya impikan. Menjadi presenter tapi juga mengemas naskahnya. Berat, ga boong. Tapi saya bersyukur dengan kesempatan ini. Pembelajaran ini menjadi passion hebat dalam diri saya. Entah, soal hasil. Siapa pun bebas menilai, berselera, atau punya judge sendiri. Saya, sederhana, menikmati masa-masa saya berkarya. Bahkan menikmati masa-masa mumet, kehabisan ide, atau dicap tak bermutu.

Lalu, apa lagi yang kamu liwati di tahun 2011 ini? Menjelang akhir tahun, saya punya hidup baru. Mmmhh, mungkin bukan saya tepatnya. Tapi kembaran saya. Dan ini menjadi hidup baru pula bagi saya. Terlahir kembar, membuat saya seakan punya bayangan yang tampak nyata. Kini, ia menikah. Memulai hidup barunya. Dan saya harus merelakannya.

Dan menjalani keseharian, tanpa bayangan saya itu.

Bagaimana dengan kisah cinta? Ah, ini terlalu vulgar kalo diceritakan. Kita skip saja, ya. Mending kita mulai dengan yang baru. Sudah cukup rasanya, segala macam galau dan kacau terjadi di tahun 2011 ini. Pembelajaran adalah kalimat yang bisa kita ambil.

Saya menghadapi banyak sekali karakter lelaki sepanjang 2011 ini. Bukan karena saya laku keras tentu saja, tapi karena saya senang berteman dengan siapa saja. Mengenali sisi lain kehidupan mereka, yang mungkin tak pernah saya rasakan. Dan mendapati kesimpulan yang sama. Semua laki-laki brengsek. Yang homo pun, brengsek. Haha.

Usia kian menua. Langkah maju harus tetap ditapaki. Semangat harus tetap mengalir. Dan semuanya hanya bisa datang dari diri sendiri. Tak laku lah, dari siapa pun. Semakin kita dewasa, semakin berat beban yang harus kita emban. Sendiri.

2011, saya bersyukur punya sahabat-sahabat hebat. Yang mampu, memahami, menyayangi, dan tanpa syarat. Yang tetap ada, sehingga tak haruslah saya merasa sepi. Yang tak pernah meninggalkan. Oh, thanks Bestfriend.

Lalu, malam ini kian semarak. Terompet sudah mulai ditiupkan. Kalau melihat langit, oh dia warna warni. Ya, semangat tahun baru begitu terasa. 2011 segera meninggalkan kita. Tepat hari ini pula, segala-segala yang ribet berakhir. Saya menyambut kisah yang lebih sederhana dan manusiawi di tahun 2012 nanti. Harus lega apa, saya tak ingin mengulang 2011. Pergilah, karena sudah tiba masanya.

Untuk benci, sakit hati, dan hadiah tercantik malam ini. Harus bilang apa? Ayoo! 2011 tinggal hitungan menit. Pergilah! Selamat beresolusi, teman-teman. Selamat menjalani mimpi dan keputusan. Tegas mu, sungguh memuakkan. Dan kesempatan ga akan datang lagi. Toh, 2011 sudah ditutup. Lembaran kembali baru. Sampah-sampah busuk sudah dibuang.

Mmmhh, semprot parfum malam ini. Biar wangi dan segar terasa. Tidur, yuk!

Posted by: dinnasabriani | December 25, 2011

Waktu dan Kopi

Menghabiskan waktu di warung kopi.

Ada yang senang menghabiskan waktu di warung kopi? Mungkin sebagian di antara kita  setuju. Lihat saja, hampir setiap saat warung kopi ramai pengunjung. Sebagian menganggap, menghabiskan waktu di warung kopi itu semacam buang-buang waktu. Coba, kita telaah lagi. Menghabiskan waktu, artinya, waktu yang tersisa kemudian dihabiskan, dan bagi saya, lebih baik dihabiskan daripada dibuang-buang. Bener ga? Gimana? Masih ada anggapan bahwa menghabiskan waktu di warung kopi itu buang-buang waktu?

Ya, mungkin ada maksud lain dibalik, pilihan kata ‘buang-buang waktu’ itu. Banyak yang bisa dilakukan daripada menghabiskan waktu di warung kopi. Bukankah, lebih baik pulang ke rumah kemudian beristirahat? Atau berkumpul bersama keluarga? Itu sebagian komentar dari teman-teman saya.

Dan kembali lagi, itu adalah pilihan. Setiap orang punya hak untuk memilih apa yang harus dilakukannya untuk menghabiskan waktu.

Saya, bukan penggemar kopi. Saya penggemar duduk santai di warung kopi. Karena gemar duduk-duduk di tempat itu, kemudian lidah saya menjadi akrab dengan kopi. Saya menjadi punya jenis-jenis kopi favorit meskipun saya tak ingin mengkategorikan diri saya sebagai penggila kopi.

Bagi saya, duduk duduk santai begini, adalah salah satu pilihan refreshing bagi saya. Tak mampu, setiap akhir pekan untuk liburan ke luar dari ibukota. Saya memilih, untuk menghabiskan waktu di warung kopi. Bersama teman (-teman) atau sendiri. Keduanya punya kenikmatan yang berbeda.

Mungkin tak banyak yang mampu menyaingi kemampuan saya untuk bertahan dan bermalas-malasan di sebuah warung kopi favorite saya di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat itu. Jika ada, hai, hai, salam kenal. Senang rasanya punya teman yang senasib.

Untuk itu, kadang saya lebih senang menghabiskan waktu sendirian. Jika begitu, mengapa saya tidak memilih untuk menghabiskan waktu sendirian saja di kamar? Ya, karena menghabiskan waktu di warung kopi ini punya sensasi yang berbeda. Boleh lah, kemudian saya menobatkan tempat ini sebagai rumah ke dua saya. Setelah, mobil. Haha. Ya, rasanya kok hidup di Jakarta, jadi lebih sering dihabiskan di jalanan, ya. Bukan karna jaraknya yang jauh tentu saja, tapi karena volume kendaraan yang padat.

Saya punya cara sendiri menikmati waktu-waktu di warung kopi ini. Saya mampu menghabiskan waktu 24 jam yang saya punya, jika ada. Ditemani dengan berbagai teknologi terkini tentu saja. Untuk itu, kadang, saya menyangsikan apakah ada di antara teman-teman saya yang sanggup seperti saya. (*nyengir*) Itu salah satu alasan mengapa saya seringkali memilih sendiri di tempat ini. Percayalah, bukan karena tempat ini cukup bergengsi di Ibukota. Atau, karena privilege yang saya dapatkan dari para baristanya. Tapi semata saya senang menghabiskan waktu saya di sini.

Di sini, kita bisa se bodo amat an dengan apa yang orang-orang lakukan di sekitar kita. Terkadang saya mengamati pengunjung yang datang silih berganti. Mereka tak peduli. Dan tak ada kekawatiran, akan di usir. Warung kopi ini beroperasi 24 jam. Seolah memang disediakan untuk orang-orang seperti saya.

Jika sebagian berpikir, untuk apa buang buang waktu (juga uang) di sini. Mereka beranggapan ini tidak produktif. Wahh, jelass, bahwa saya punya pendapat yang berbeda. Ini jelas, lebih produktif dari pada menghabiskan waktu di jalanan padat yang membuat mesin mobil tua saya semakin ngadat. Jika mau dibandingkan dengan biaya nya? Ini sekedar ‘ngeles’ kali yaa. Daripada saya membiarkan mesin mobil bekerja lebih keras saat macet atau bahan bakar yang lebih boros ketika kopling terus ditahan, belum lagi stress kelelahan bersaing dengan kendaraan lain, ini tentu jauh lebih irit. Sekali lagi, yang protes tidak setuju, feel free lohh. Karena ini cuma nge les.

Saya tetap merasa lebih produktif di sini. Saya senang mengamati berbagai karakter pengunjung yang datang. Dari mulai orangtua yang berkumpul bersama anak-anaknya, para bikers dengan peluh setelah menyusuri ibukota, sampe beberapa wanita dengan dandanan seronok tampak sedang menunggu, entah apa. Ya, begitu beragam gaya hidup yang bisa saya amati di sini.

Di tempat ini, saya pun bisa seakan lepas dari kepenatan hidup (pasti dianggap lebay deh, nih). Saya merasa bisa menikmati dunia saya sendiri. Tersambung dengan koneksi internet membuat saya dapat terus meng-update berita terkini, yang menarik menurut pandangan saya. Saya merasa bisa begitu seru dengan diri saya sendiri.

Di sini, saya tidak peduli, ketika ingin marah atau menangis pada diri sendiri. Pekerja dan pengunjung di sini, punya urusan masing-masing. Dan mereka dapat dengan leluasa membiarkan saya. Walaupun sesekali saya dapat bocoran bahwa mereka juga suka ngomongin customer di backroom. Wkwkk, tapi ya sutralaaahh. Toh, dibelakang kan? Saya ga denger.

Sebagian inspirasi dan buah pikir, bisa muncul di tempat ini. Dari yang wajib macam #naskah dan #thesis, sampai tulisan-tulisan yang di-publish (di blog dan twitter) dan yang tidak di-publish. Browsing, web walking, dan socializing. 

Pada suatu masa, saya menjadi khawatir apakah ada yang mau menyesuaikan gaya hidup yang saya pilih seperti ini. Atau mungkin nanti saya lah yang harus mengalah, meninggalkan kebiasaan ini karena masih banyak prioritas yang perlu diurus daripada sekedar duduk santai dan malas-malasan di tempat ini. Menentukan calon suami mungkin salah satunya. ;)

Jika mencari saya, seringkali saya didapati di sini. Ya, karena hampir sebagian waktu saya habiskan di sini. Bukannya, tak pernah jenuh, saya juga bisa untuk absen ga mampir dulu ke sini. Itu, sudah pernah saya lakukan. Saya lebih senang pulang ke rumah lebih cepat atau menghabiskan waktu lebih lama di kantor untuk berkumpul bersama teman-teman. Tapi, jika jenuh itu sudah lampau, saya kembali lagi dengan kebiasaan menghabiskan waktu di sini.

Selain karena tempatnya yang dekat kemana-mana karena terletak di pusat di ibukota, tempat ini juga punya pelayanan menyenangkan. Barista-barista nya ramah dan tampak akrab. Meski, akhir-akhir ini mulai muncul barista-barista baru yang masih asing dalam pandangan saya. Entah, karena kebiasaan, ramuan kopinya pun menjadi berbeda dibandingkan dengan store se brand, di tempat lain.

Kalau mau tau diri sedikit, saya termasuk customer yang ‘high complaining’ loh terhadap pelayanan sebuah cafe, restoran, atau coffeeshop. Tapi di sini, mereka dengan sabar (di depan) melayani. Rasa minuman yang tidak sesuai dengan pesanan pasti diganti baru. Tak jarang, saya mendapat compliment (walaupun sekedar air putih) dari barista-baristanya yang sudah berubah status menjadi teman-teman saya. Tapi soal gratisan ini rahasia yaa. :) Terlebih, saya tak perlu malu-malu minta tolong untuk mencuci tumbler saya, sampai-sampai dinobatkan sebagai tumbler purbakala. Haha, ini lucu. Sangat lucu melihat ekspresi mereka ketika harus mencuci tumbler yang sering dalam jangka waktu lama lupa dicuci itu. Thanks, guys! ;)

Smoking dan non smoking area nya juga dipisah. Selain untuk menjaga kenyamanan pengunjung, juga untuk tetap menjaga kualitas biji kopinya. Mungkin ini juga alasan yang membuat banyak orang yang menyukai beragam kopi di sini.

Bukan, sepenuhnya saya menghabiskan waktu sendiri di sini, kok. Bersama teman-teman juga ga kalah seru. Bahkan, sebagian juga setuju kalau tempat ini bikin malas gerak. Embuerrrann, deh. Hehe. Kita bisa baca novel, wifi an, bikin #naskah atau nge gossip bareng-bareng ditempat ini.

Jadi, selamat menikmati, yaa. Menikmati tulisan ini. Menikmati waktu. Ayoo, kita lebih produktif, anak pintar :D

 

Posted by: dinnasabriani | December 23, 2011

Cerita Malas Jumat Pagi

Mengapa ribet.

Tahukah Anda, bahwa seringkali kita meributkan hal-hal kecil. Hidup di kota besar semacam Jakarta ini, membuat kita harus lebih santai menjalaninya. Setiap hal, bisa membuat kita menjadi seteress atau tertekan. Mulai lah dari mengurus diri sendiri.

Saya, mungkin adalah salah atau satu pribadi yang punya rasa malas yang sangat tinggi. Bahkan terlalu malas untuk mengurusi diri sendiri. Bayangkan, ketika saya sudah membuang jutaan rupiah untuk sebuah perawatan kulit wajah (catet, wajah doang, sedih ga sii?) saya masih malas untuk tetap rutin menggunakannya setiap malam sebelum tidur atau setelah mandi di pagi hari. Malas menggunakan tabir surya ketika akan terjun dibawah sengatan matahari. Ya, saya bahkan masih terlalu malas, untuk sesuatu yang telah saya korbankan.

Dan saya, semalas itu. Boro-boro untuk thesis, sesuatu yang terus menghantui kepala saya. Setiap hari, layar laptop ini terbuka dan menyala. Dan saya malas untuk menggeser panah dan klik ke folder Thesis yang tersimpan aman dalam komputer saya. Padahal, kalau mau sedikit bersyukur, saya punya fasilitas lengkap dan canggih, dengan teknologi nomor satu. Kalau mau marah, apa saya masih punya alasan untuk malas?

Apakah kekhawatiran semacam ini hanya saya yang merasakannya? Entah, saya berharap ada share dengan teman-teman yang ada di sekeliling saya.

Kadang, saya merasa dinamika hidup ini terlalu bergejolak. Itu membuat saya sangat malas. Dan cape. Mencuci piring setelah makan, oh, oke, kita jangan bicara soal piring. Ukurannya terlalu besar jika dibanding dengan sendok. Mencuci sendok pun, bisa membuat saya begitu malas.

Menikmati diri menjadi orang yang pemalas, itu jauh lebih menyenangkan. Mmhh, saya tidak tau apakah saya tergolong wanita (muda) yang sibuk. Tapi, rasanya tidak juga ya. Saya melihat, banyak orang yang jauh lebih sibuk dari saya. Toh, kapasitas saya hanya mengurusi diri sendiri. Saya tidak berkewajiban sebagai seorang istri atau orangtua yang harus mengurusi rumah tangga. Saya juga bukan seorang pemimpin, yang harus mengurusi tim dalam jumlah besar. Saya murni berkasta paling bawah, atau kalau mau sedikit halus, toh saya sekedar ujung tombak yang bekerja di lapangan, dalam sebuah televisi swasta saat ini. Saya, tentu jauh lah dari istilah pejabat atau presiden yang harus mengurusi negara. Dan yang paling penting, saya masih punya waktu untuk menikmati kopi blended sendirian berkutat dengan teknologi teknologi ini. Saya, tidak sesibuk itu.

Untuk itu, saya pun menjadi terlalu malas untuk komplen ini itu soal apa yang tak sanggup mereka kerjakan. Saya, hanya mencoba memahami, meski saya tak pernah berada di posisi mereka. Jika tak sanggup, saya akan menyesuaikan. Jauhlah dari apa yang disebut ‘pengertian’ dong. Simple, saya hanya malas. Ah, rasanya itu bukan urusan saya. Jika saya saja tak mampu mengurusi diri saya sendiri, mengapa saya harus protes dengan mereka yang tak mampu mengurusi apa pun yang harus menjadi urusan mereka. Mereka mungkin punya urusan sangat besar. Punya masalah sendiri yang membuat dirinya kalang kabut.

Saya, punya satu cerita. Ketika gosip menyebar bahwa seorang teman ke gep selingkuh dengan teman satu kantornya. Lalu, teman-teman lainnya menghakimi. Dipaksa mengaku. Untuk apa? Apakah kemudian setelah mengaku, keadaan jadi berubah. Toh, itu murni urusan mereka. Yang akan menjadi tanggung jawab mereka pula. Bukan berarti, saya ga peduli dengan teman si, sebenarnya. Saya hanya malas mungkin. Mengurusi sesuatu yang bukan urusan saya, apalagi. Beda hal nya, ketika dia datang pada saya. Curhat. Seakan kalut ingin dibantu. Saya siap pasang badan. Membantu dia, setidaknya mengingatkan. Really, saya cukup fair soal ini. Toh, setiap orang punya kesalahan masing-masing. Selalu salah, pun? Itu manusiawi. Manusia, tempat salah dan khilaf. Terus-terusan menghakimi dan menjelekkan orang lain, ga ada untungnya bagi kita. Menjadi teman bagi siapa saja, bahkan bagi musuh sendiri, itu menjadi kemenangan menyenangkan buat saya. Setidaknya niat baik loohh. Hehe. Well, untuk kasus yang satu ini, yang ada dalam pikiran saya, jika mau selingkuh? Kenapa harus sama dia? Haduuhh. Bukan perkara dia pria beristri dan beranak satu lohh. Tapi, aahh, saya jadi ga enak ngomongnya. Sudahlah, dia pasti punya alasan. Bermuka tak tampan dan kocek tak berisi, kini bukan alasan pria itu menjadi tak enak dijadikan selingkuhan. Pasti ada alasan lain. Entah apa, biarkan saja. :p

Sahabatku, datang. Muka berbinar tapi saya tau itu galau. Dia perempuan baik, menyenangkan, dan pintar. Sedikit egois. Sama seperti saya. Tapi, dia sahabat saya. Sejak 2009 lalu. Ya, belum terlalu lama yaa. Di usia yang sudah terbilang matang, dia ingin menikah. Tentu saja dengan pria impiannya. Bukan dengan wanita atau pria beda iman. Dia mengingkari jatuh cinta dengan orang itu. Oh, noo. Kalau dia tau saya menyelipkan kisah ini dalam cerita malas saya, mungkin dia bakal marah seharian sama saya. Tapi ahhh, sombong dikit. Saya sahabatnya sampai mati. Jadi jangan marah, kakakkk :p

Oke, dilanjut. Selancar itu dia bercerita. Hubungan yang menyenangkan itu. Persahabatan? Ya silakan saja menamakan apa. Saya tau kemudian ini semakin salah. Dia jatuh cinta? Boleh ga ya saya mengatakan, sudah pasti. Dia melakukan hal hal yang tidak dilakukan seorang sahabat (normal) lainnya. Dia tidak melakukan hal hal sebaik ini kepada saya. Tidak perlu, tentu saja, dan saya sudah cukup mengakui dia sebagai sahabat. Jika kemudian, dia melakukan banyak hal, bahkan berusaha keras melakukan hal yang tak lazim dia lakukan, mengorbankan beberapa hal, apakah hubungan dia dan orang itu bisa dianggap sebagai sahabat? Membayangkan jika dia melakukan sweet things itu pada saya, kok jatuhnya jiji yaa. Wkwkwk,,

Kalau begini, barulah naluri malas saya hilang. Sedikit. Meski tak selalu melakukan segalanya buat dia, andai saya bisa menyelamatkannya. Dari perasaannya yang kian dalam. Semata, saya tidak ingin dia masuk, terjerumus ke dalam masalah baru. Dan ini permasalahan jodoh. Yang belum juga didekatkan. Setiap kenal cowo, dengan kualitas baik, saya selalu ingat sahabat saya ini. Siapa tau bisa diprospek untuk perjodohan. Hehe. Yaah, tapi niat baik ada saja halangannya. Saya, tak terima cowo brengsek (meski hampir semua cowo brengsek) yang harus saya ‘comblang’ in dengan sahabat saya. Ya ampunnn, sahabat saya ini, orang baik bangettt. Jadi, kau, kau, kau, jangan aneh-aneh. Jangan macam-macam. Meski saya sendiri, masih sulit mencari pasangan untuk diri saya sendiri, tapi saya lebih senang menyibukkan diri mencari pasangan untuk sahabat saya. Haha, saya tidak bermaksud untuk obral di sini, yaa. Hanya sekedar berbagi. Tapi, jujur, saya mencari cowok berkualitas baik (tidak harus tinggi, tenang ajaa, jangan minder teman-teman. hehe) yang punya niatan baik untuk menyayangi dan menikahi teman saya. Ingat, saya tidak obral ya. Yang setengah-setengah, mending ga usah. :D Saya bisa jamin, diaaa, wanita pintar yang lucu dan menyenangkan.

Nahh, segini dulu cerita malas dari saya. Nanti, kita lanjut lagi, yaa. Mari kita kembali ke jalan kita masing-masing. Stop judging, lahh. Kesalahan itu milik kita semua. Bahkan salah untuk sebuah rasa malas. Jika Anda yang salah, toh, saya ga ngilik dan ngulik. Kita hanya perlu waktu untuk menjadi dewasa. Toh, sebenarnya kita semua ini pintar. Lupakanlah ada kata bernama ‘bego’ di muka bumi ini. Itu kata-kata tak berkelas. Hehe.

Happy living, Guys. Enjoy Jakarta!

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.