This is first and will be the last. Hello 2014!

My very first post in 2014.

Ini udah bulan Maret. Bulan ke tiga di 2014. Dan demi apa, belum satu pun postingan yang saya tulis di blog kesayangan ini. Bukan. Bukan karena saya terlalu sibuk.

Tapi karena saya lagi berbenah. Berbenah mulu. Berbenah apaan si? Haha. Emang ini dunia maya, sih. Tapi, mau ga mau, suka ga suka, kita semua udah hidup di dunia maya begini. Ya ampun, siapa si yang ga keranjingan social media. Bahkan banyak yang lebih enjoy bergaul di Social Media ketimbang di dunia nyata.

Bagaimana saya bisa berhenti nge-blog sampai sekian lama? Setelah blog ini setia menemani celotehan berlian (mau ngomong sampah, kok, kesian ya ini blog, haha!) saya lebih dari 5 tahun lamanya. Bukan bermaksud untuk cuti, apalagi resign sebagai blogger angin-anginan. Tapi, saya lagi ngalamin krisis kepercayaan sama publik. Ya elah, emang situ siapa. Haha!

Tapi, ya emang gitu. Kalau lucu-lucu an yang sedang beredar di social media sih, katanya, berkicau di social media itu serba salah. Apalagi nge posting ini itu.

Foto barang dibilang pamer. Update foto tempat dibilang sok gaul. Update foto makanan dibilang sok iye. Update foto sendiri dibilang sok cakep. Update tentang agama dibilang sok alim. Update yang curhat dibilang alay labil, dan seterusnya. Intinya serba salah. Ngikik sendiri sih, baca update-an ini, tapi ya itu ada benarnya. Serba salah bok. Apalagi nge-blog. Khususnya saya yang isi blognya curhattttt mulu.

Belum lagi nanggepin persepsi salah, karena tulisan kadang emang bisa jadi beda pemahaman. Atau celotehan dari sebagian kita yang berasa paling tau. Berasa paling ini, berasa paling itu. Kita itu unik. Beda masing-masingnya. Let’s respect others. Put your self on other shoes. Care bukan berarti ga move on, Herman. (Lah kok curhat?)

Ah sudahlah. Kadang geregetan sendiri, buat ngejelasin biar orang ngerti. Rambut boleh sama hitam, tapi isi kepala orang beda-beda. Ya, itu emang risikonya hidup bersosial. Kalau ga mau, ya mendem aja di kamar kali ya. Hehe.

So, nice to see you, All this blog friends. Enjoy my pastis postis! Mudah-mudahan bermanfaat, buat yang masih pingin bales-balesan comment di beberapa postingan, monggo. I will never really leave this blog, kok. Atau buat yang masih pingin kepo, ngerumpi, nge-judge. Feel free. Try to be positive, as hard as you can. 

My very first post in 2014, might be the last too. Wish to meet another good friend in another blog!

Love. Love. Love. 

Kisah Pasukan Kereta

Baru saja saya membatin soal perjuangan naik kereta pagi, bertepatan dengan kecelakaan sebuah mobil tangki yang menabrak gerbong kereta dan memakan sejumah korban jiwa dan luka-luka. Ketika suatu pagi, akhirnya saya memutuskan untuk kembali menjadi pasukan kereta lagi. Istilah yang saya kutip dari teman-teman seperjuangan yang mengandalkan commuter line untuk berangkat ke tempat kerjanya setiap hari.

Ketika sudah tidak tahan harus nyetir di pagi buta, dan harus terjebak macet ketika terlambat beberapa menit keluar rumah, saya pikir lebih baik naik kereta saja. Jalanan tidak pernah bersahabat. Belum lagi, pulangnya, saya harus kembali membawa pulang kendaraan itu, karena meninggalkan mobil di parkiran kantor menjadi masalah baru.

Jalanan bukan sahabat yang baik. Saya pernah pulang kantor pukul dua siang, karena masih ingin menyelesaikan banyak urusan. Ternyata, macetnya 11-12 sama macet pagi. OMG, jam dua sama sekali bukan jam bubaran kantor kan? Continue reading

Hello Agung

Tentu saja ini bukan cerita cinta karna ada lelaki baru dalam hidup saya bernama Agung. Ini cerita suddenly Bali kemaren yang diisi dengan mendaki Gunung Agung.

Saat nafas saya mulai habis sementara mencapai puncak gunung masih jauh, yang ada dalam pikiran saya saat itu, ah, saya kangen blog ini. Saya kangen dataran. Sekali lagi, dataran dengan kemiringan nol derajat. Bukan kemiringan 50 – 70 derajat yang seolah tak berujung itu. Saya kangen menghirup aroma kopi di coffee shop langganan sambil cetak cetik ntah apa. Dan saya harus cerita soal ini. Soal pengalaman mendaki Gunung Agung, yang merupakan gunung tertinggi di Bali, 3.142 mdpl. Memang Gunung Agung tidak termasuk 10 gunung yang paling tinggi di Indonesia. Tapi, gunung ini gak boleh disepelekan. Apalagi bagi pendaki pemula seperti saya. Hehe. Continue reading

Haha!

Karena hidup cuma sekali, itu sebabnya sebagian kita lebih senang menghadapi hari dengan tertawa daripada menangis. Kalau boleh memilih. Banyak orang bijak bilang, hidup ini terlalu singkat jika dihabiskan dengan bersedih. Benar? Ada benarnya. Kenyataannya? Gak semudah itu. Saya yakin, gak cuma saya yang berpendapat demikian.

Berteori atau berkata-kata jelas lebih gampang daripada realisasinya. Hehe. Oke, bukan itu.

Gegara kita lebih senang tertawa, sering kali kita gak bisa memilah mana-mana menempatkan tawa yang tepat. Gak semua yang kita pikir konyol atau lucu, pun lucu bagi orang lain. Niatnya menghibur, blah si empunya kisah malah tersinggung.  Continue reading

Yang Asli

Seperti biasa, salah satu aktivitas pagi saya sebelum benar-benar bangun menghadapi realita, ya, ngutak ngatik handphone. Nah, kalau soal mantau twitter atau #kepo sana sini si, gak usah dibahas lagi, ya. Eh, kok #kepo si bahasanya, lebih tepatnya pengen update aja kali. Hehe.

Masih, ga jauh soal #kepo si sebenarnya. Bentar, kenapa #kepo harus pake ‘hashtag’ si, korban social media banget ga tuh. Nah, iya, pokoknya seputar update kecanggihan terkini deh, ya. Sejak bergabung sebagai pemilik account instagram kira-kira dua tahun silam, saya jadi suka terkagum-kagum dengan kekerenan foto orang-orang dan foto hasil jepretan saya sendiri yang di-upload di instagram. Dih, pede banget sih. Bukan itu point-nya. Hehe.  Continue reading

Fotografer

Apa sih yang gak boleh ketinggalan saat liburan? Foto-fotonya! Apalagi, sekarang social media buat share foto makin banyak, tentu saja, dengan keunggulannya masing-masing. Social media begini nih, yang bikin anak-anak kekinian makin menggila buat foto-foto.

Foto gak lagi jadi koleksi di kamar atau di hardisk aja sekarang. Tapi, di-share di berbagai media. Gak sedikit loh, orang yang bisa share ratusan foto dalam liburan dua minggunya. Atau lima puluh foto dalam liburan lima harinya. Dan seriusli, deh, gak termasuk saya kok. Hehe.

Nah, saking canggihnya jenis kamera jaman sekarang, gambar yang dihasilkan pun macam-macam. Dari segi kualitas, jepretan dari kamera profesional SLR (Single Lens Reflex) jelas yang paling gak bisa dikalahin. Plis lah, jangan samain kamera HP tercanggih manapun dengan kualitas kamera SLR. Walaupun soal hasil tetap tergantung jenis lensa, dan yang gak kalah penting adalah keahlian si penjepretnya. Alias si fotografer. Toh kerennya sebuah foto tergantung sama selera. Intinya, foto itu hasil karya. Continue reading

Tetap Menunggu

Apa hal yang paling kamu gak suka? Banyak orang yang bilang, “gw ga suka menunggu”.

Pertanyaannya, kenapa kita harus ga suka menunggu? Atau saya ganti pertanyaannya dengan, kenapa harus menunggu. Saya tambahkan, kenapa harus menunggu kalau ga suka?

Menunggu apa dan menunggu siapa? Atau menunggu berapa lama dan menunggu dimana? Mungkin ini bisa jadi jawaban kenapa orang (termasuk saya? Pake tanda tanya ya) tidak suka menunggu.

Menunggu akan semakin menyebalkan, ketika kita sedang diburu sesuatu. Rasa rasanya banyak hal yang lebih penting dilakukan, selain menunggu. Berjuta pikiran memenuhi kepala ketika kita menunggu. “Seharusnya gw bisa ini, ini, dan ini. Dari pada nungguin gini. Ga jelas, buang-buang waktu” Pernah punya pikiran seperti itu? Plis, jangan bilang cuma saya yang punya pikiran begitu. Continue reading

Citra di Social Media

Intinya, sii ga usah iri dengan keberhasilan dan kebahagiaan orang lain.

Iseng aja ngomong gini, cuma karna ada salah satu status temen yang bilang “kenapa path isinya jadi pamer makanan ya?”

Kalau saya mau perjelas sii, path bukan cuma buat pamer makanan, tapi jadi tempat buat pamer apa pun. Pamer lagi ngapain, pamer lagi liburan, pamer lagi jalan-jalan, pamer lagi sama siapa, pamer abis belanja apa, pamer pengen belanja apa, dan lain-lain dan lain-lain. Terus? Ya udah.

Continue reading

Ribet Satu Episode

Kita yang bikin hidup kita ribet sendiri.

Ah, cape banget ga si bahas beginian. Haha. Tapi pernyataan begini saya dapat dari orang yang saya kenal menjelang akhir tahun 2012 lalu. Sejak kenal, saya jadi punya sudut pandang yang baru soal hidup. Karena dia? Kayanya gak juga si, ya. Berhubung keseharian saya cukup dinamis dan ekplosif, wajar aja, kalau sudut pandang saya akan hidup jadi macam-macam. Kata lainnya, ga berpirinsip atau labil? Ah, gak juga, kok. Silakan judge saya defensif! Emang. Haha.

Tapi, kata-kata ribet cukup bikin saya mikir juga sih. Apa jangan-jangan ini cuma denial saya yang pengen bikin semuanya jadi simpel, tapi ternyata sebenarnya malah saya lah yang ribet. Atau ada yang merasa sama dan sepenanggungan dengan pikiran saya ini? Continue reading

Baru, Lebih Keren.

Here I am. In my third place between work and home.

Jujur aja, udah berbulan-bulan saya gak ngabisin waktu berjam-jam di sini. Sejak punya kegiatan yang lebih menarik daripada sekedar manyun-manyun pake wi-fi ditemani segelas kopi. Kata lain, sibuk berat, cui. Hehe.

Ya, sejak saya udah ga perlu lagi nunggu macet reda seusai kerjaan kelar. Atau harga lahan parkir berubah dari dua ribu jadi tiga ribu per-jam. Untuk orang macam saya, kenaikan tarif parkir, jelas berasa banget. Saya memilih untuk langsung pulang, setelah urusan kelar. Gak perlu diperjelas ya, urusan apa. :D

Jadi, sekitar dua bulan lalu tempat ini under renovation. Rupanya, mereka lagi bikin design baru. Seriously, this coffee shop became pretty dasher with their new design. Continue reading

SAYA BUKAN GAY!

Saya memang gak pernah tau rasanya jadi ‘gay’. Jadi, kalau celotehan saya kali ini menimbulkan kesan ini kesan itu, plis kita berdamai. Karena maksud saya, tak lebih dari sekedar berbagi.

Mungkin sekarang kita udah ga perlu lagi pura-pura tutup mata, dengan dunia seperti ini. Kenyataannya, komunitas atau pasangan sesama jenis sangat mudah kita temukan di setiap sudut ibu kota.  Continue reading

Opini Kedua

Second Opinion.

Begitu biasanya kita mencari masukan setelah ‘galau’ dengan masukan yang pertama. Hampir semua kita melakukannya. Apalagi, untuk beberapa keputusan penting, sering kali kita membutuhkan opini atau masukan. Ntah sebenarnya (dalam hati kita) sudah punya keputusan sendiri. Bahkan ada yang sudah sangat yakin. Atau justru ga punya keputusan apa-apa. Blank!

Opini, bisa dijadikan masukan tersendiri. Kekawatiran akan rasa percaya diri yang terlalu besar, membuat kita butuh opini atau ada yang menyebutnya pendapat. Jika tidak timbul sedikitpun keraguan, biasanya kita cukup dengan apa yang kita yakini. Opini dari mana pun, dari siapa pun rasa-rasanya tidak perlu. Boro-boro opini kedua. Pokoknya, yakin aja. Continue reading

Couple

Sometimes I wonder why we never had proper conversations like normal couples did. 

Like today, like yesterday. How about tomorrow. We’re together. 

Bernama Bandara

Saya selalu suka Bandara. Karena ketika di sana itu, saya akan pergi ke suatu tempat. Bukan tempat tinggal saya. Bukan rumah, bukan Jakarta. Keluar dari rutinitas yang biasa saya lakukan.

Tak selalu itu. Bisa juga kan, ke Bandara sekedar mengantar atau menjemput seseorang. Dan saya? Tetap suka, dengan suka yang berbeda.

Bagi saya, bangunan terminal megah dengan landasan pesawat yang luas merupakan salah satu perpaduan pas, untuk merasakan kerennya semesta. Selain berbagai pesona alam yang disediakan penjuru dunia oleh Sang Maha Pencipta, saya tetap suka bangunan yang selalu sibuk dua puluh empat jam ini.   Continue reading

Hari Pers!

Bukannya nyesel si, dulu ga kuliah jurnalis. Tapi jujur se jujurnya sempet ada rasa gak pede gimana gitu, waktu saya mewakili kantor untuk jadi pembicara di Hari Pers Nasional 2013, sembilan Februari lalu. Ya, acaranya gak se-hits yang dibayangkan. Tapi, tetap aja lingkupnya nasional, karena RI 1 juga ikut hadir di hari penutupannya. Kedengarannya hits, kan, yes? Hehe.

Tapi gapapa kali yaa, pengen cerita dikit seputar dunia jurnalis begini. Rasa-rasanya pengen kuliah lagi deh, biar lebih mantep. Gak semua orang juga si, yang dulunya kuliah jurnalis bakal jadi jurnalis yang keren atau gak sedikit mereka yang akhirnya mangkir dari dunia jurnalis.

Nah, saya? Punya cerita beda lagi nih, karena emang saya dulunya gak kuliah jurnalis, tapi malah sekarang jatuh cinta dengan dunia jurnalis. Continue reading