Posted by: dinnasabriani | November 20, 2009

Papa

Biasanya anak-anak yg jauh dari orang tuanya merasa kangeen sekali dgn mamanya.

Lalu bagimana dgn papa?

Mungkin mama lebih sering menanyakan keadaan anaknya setiap hari .tp
taukah kamu jika papamu yg mengingatkannya utk menelfonmu?

Mgkn mama yg lebih sering mengajakmu bercerita,tp taukah kamu
sepulangnya ia bekerja dgn wajah lelah ia selalu menanyakan kabarmu
dari mama mu?

waktu kecil..

Papa mengajari putri kecilnya bermain sepeda. Setelah dia mengganggap
kamu bisa ia melepaskan roda bantu di sepedamu, Saat itu mama menutup
mata karena takut anaknya terjatuh lalu terluka. tp ayah dgn yakin
menatapmu mengayuh sepeda dgn pelan karena dia tahu putri kecilnya
pasti bisa.

Saat kamu menangis meronta meminta boneka yg baru,mama menatapmu
iba,tetapi ayah mengatakan dgn tegas “kita beli nanti,tapi tidak
sekarang” karena ia tidak ingin kamu menjadi manja dgn semua tuntutan
yg selalu di penuhi.

ketika kamu remaja

kamu mulai menuntut utk keluar malam. Lalu papa mulai bersikap lebih
tegas ketika mengatakan “tidak”.
itu utk menjagamu karena kamu adalah sesuatu yg berharga.
Lalu kamu masuk ke kamar membanting pintu.
Tp yg dtg mengetok pintu dan membujuk mu adalah mama.
Taukah kamu saat itu dia memejamkan matanya dan menahan diri,karena
Dia sangat ingin mengikuti keinginanmu. Tp lagi2 dia harus menjagamu.

saat seorang cowok mulai sering datang mencarimu, Papa akan memasang
wajah paling cool sedunia. Dan sesekali menguping atau mengintip saat
kmu sdg brdua di ruang tamu. Tahukah kmu dia merasa cemburu?

dan saat dia melonggarkan sedikit peraturan, kamu melanggar jam
malamnya. Ia duduk di ruang tamu menunggu mu pulang dgn sangat2
khawatir. Wajah khawatir itu mengeras ketika melihat putri kecilnya
pulang terlalu larut. Dia marah. Karena hal yg di takutinya akhirnya
datang “putri kecilnya sudah tidak ada lg”

saat papa sedikit memaksamu utk menjd seorang dokter. Ketahuilah bahwa
ia hanya memikirkan masa depanmu nanti. Tp toh dia tetap tersenyum
saat pilihanmu adalah menjd seorang penulis.

sampai saat papa harus melepasmu di bandara. Bahkan badannya terlalu
kaku utk memelukmu. Ia hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini-itu.
Dia ingin menangis seperti mama yg menangis dan memelukmu erat. Tp dia
hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya dan menepuk pundakmu
berkata “jaga diri baik2″. Agar kamu kuat utk pergi.

saat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu,
orang pertama yg mengerutkan kening adalah Papa. Berusaha mencari
jalan agar anaknya bisa merasa sama dgn yg lain.

ketika permintaanmu bukan lg sekedar meminta boneka baru, dan ia tau
ia tidak bisa memberikan. Dia sangat ingin mengatakan “iya nak,nanti
kita beli” dan saat kata2 yg keluar adalah “tidak bisa” dari bibirnya.
Tahukah kamu Ia merasa gagal membuat anaknya tersenyum.

saat kamu sakit dan tidak berada di dekatnya. Papa terlalu khawatir
sampai kadang sedikit membentak berkata “sudah di blg jgn minum air
dingin!”.berbeda dgn mama yg memperhatikanmu dgn lembut.
ketahuilah saat itu ia benar2 khawatir dgn keadaanmu.

dan di saatnya nanti kamu wisuda sebagai seorang sarjana. Papa adalah
org pertama yg berdiri dan memberi tepuk tangan utk mu. Dia yg
tersenyum bangga dan puas melihat “putri kecilnya yg tidak manja
berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”

sampai saat seorang teman hidupmu datang dan meminta izin mengambilmu
darinya. Papa akan sangat berhati2 memberikan izin.karena ia tau laki2
itu yg nanti akan menggantikannya.

dan saat Papa melihat mu duduk di panggung pernikahan bersama
seseorang yg di anggapnya pantas menggantikannya. Papa pergi
kebelakang panggung,dan menangis “tugasku telah selesai dgn baik.putri
kecilku yg lucu telah menjadi wanita yg cantik”

Papa hanya bisa menunggu kedatangan mu dan cucu2nya sesekali utk
menjenguknya. Dgn rambut yg telah memutih dan badan yg tak lagi kuat
utk menjagamu dari bahaya.

papa adalah sosok yg harus selalu terlihat kuat bahkan ketika dia
tidak kuat utk tdk menangis. Harus terlihat tegas bahkan saat dia
ingin memanjakanmu. papa jg orang pertama yg selalu yakin bahwa “kamu
bisa” dalam hal apapun.

tersenyum dan bersyukurlah ketika kamu bisa merasakan kasih syg
seorang papa hingga tugasnya selesai.kmu adalah salah satu org yg
beruntung. Karna papa adalah sosok superhero yg hebat.

-anonymous

Bdw, is he?

(Dapet dari forward-an imel)

Posted by: dinnasabriani | November 20, 2009

Benar atau Salah

Dengan beraninya kita berbicara tentang benar atau salah. Saya benar, kamu yang salah. Memang berat mengakui kesalahan. Masing-masing ego kita mengatakan bahwa kita benar.

Kita tau kita lah yang salah, tapi siapa yang mau disalahkan. Kita pun kemudian terus-terusan membela diri, dengan dalih ini dalih itu. Kalau ketauan salah, waduh bisa ribet urusannya. Mesti tanggung jawab ini itu. ‘Lempar batu sembunyi tangan’ kalau kata pepatah. Ganti rugi, minta maaf, atau  tanggung jawab lain menjadi hal yang sulit untuk dilakukan.

Maling misalnya, sudah tau salah, tapi tetap dilakukan. Disuruh mengaku maling pun tentu mengelak, segala alasan tak masuk akal diucapkan, padahal sudah jelas barang bukti di tangan. Lalu bak drama di sinetron-sinetron kemudian mengaku, saya dijebak. “Bukan saya yang melakukannya” Ya, bisa saja yang tertuduh maling itu memang dijebak, tapi bisa jadi tidak. Bisa jadi kalau ternyata memang benar dia maling nya. Lalu kepercayaan pun sudah tidak bisa diandalkan di sini.

Kita berpikir, ada lagi. Lah kalau sudah tau salah kenapa saya lakukan. Yang saya lakukan saat ini ya karena tau ini hal benar. Itu lah lalu yang membuat kita tak mau goyah sedikit pun dengan pernyataan ‘saya lah yang benar’ dan kemudian mengaku kesalahan. Mau melunakkan hati pun rasanya susah, karena saya rasa, saya pikir, dan sudah saya renungkan lagi dari segi A, B, C, kemana-kemana, saya yang benar. Maka mengakui kesalahan untuk sesuatu yang kita anggap benar pun tentu jauh lebih susah. “Wong saya bukan maling, kok, disuruh mengaku maling”

Bagaimana dengan menjadi di antaranya. Tidak membenarkan tidak juga menyalahkan. Apatis kah? Ntah lah. Kalau tidak tau apakah seharusnya yang dibenarkan memang hal benar dan yang disalahkan memang hal salah, lalu harus apa? Diam saja? Mungkin ga juga. Cari tahu? Boleh aja. Kalau sudah tau?  Sudah tau salah, kenapa dibenarkan. Itu keterlaluan. Bagaimana jika dua-dua nya salah? Kenapa harus mati-matian membela. Katakan salah kepada keduanya. Katakan benar jika memang benar.

Kesimpulannya, siapa yang benar atau siapa yang salah? Pikir-pikir.

*ini tentang dua kubu itu. Yang sangat populer di sepanjang tahun 2009.

Posted by: dinnasabriani | October 13, 2009

N.I.K.A.H

Pernikahan.

Weekend kemaren berlalu dengan nuansa pernikahan. Dari mulai hunting kado pernikahan, bantuin persiapan seserahan sahabat yang mau nikah, datang ke AKAD nikah sahabat, dengerin khayalan temen yang pengen banget punya Wedding Organizer, beliin kado buat pasangan yang baru lahiran, sampai diajak nikah. Hehe.

Ngomongin pernikahan bisa jadi permasalahan yang sentimentil sebenarnya. Bisa jadi ribet, atau bisa jadi sangat sederhana. Bisa jadi case yang sensitif tapi bisa jadi fenomena yang ditunggu-tunggu. Apalagi untuk wanita sepantaranku.

Aku dan geng manyunku sempat ngebahas ini weekend kemaren. Dan pembahasan mengenai pernikahan itu tetap tidak menemukan ujungnya sampai jam 1 malam. Karena pernikahan itu sendiri, sebenarnya sesuatu yang tak perlu berujung. Setidaknya begitulah yang kita idam-idamkan. Menikah hanya untuk sekali seumur hidup. Tanpa ujung.

Karena kesempatan itu seharusnya hanya datang sekali, tentunya kita tak mau salah langkah. Tak bisa hanya dengan mengharapkan sekali jentikan jari, lalu kita bisa mengatakan siap menikah dengannya atau siapa. Tidak semudah itu. Ada BANYAK SEKALI hal yang harus kita pikirkan sebelumnya, walaupun katanya menikah adalah salah satu hal yang harus disegerakan.

Sebenarnya apa yang ingin aku tulis tentang pernikahan? Mungkin aku pun akan sulit mencari ujungnya. Saking sulitnya, mencari awalnya pun begitu sulit. Entah mulai dari mana. Kalo teman-teman ku berbicara tentang bab I, aku sendiri ga tau bab I itu apa? Apakah lantas teori-teori itu berlaku dalam kehidupan nyata? Tak ada yang mutlak seperti teori-teori itu.

Orang bilang harus ini harus itu, tapi ternyata setelah menjalani keharusan ini itu, tak mutlak semuanya akan berhasil.

Di infotainment kudengar, pacaran sebulan tidak cukup untuk kemudian memutuskan menikah.  Lalu bagaimana dengan pacaran 3 tahun bahkan 8 tahun? Tak sedikit yang kandas. Term pacaran sebelum menikah pun membuat ku ragu untuk menjadi ukuran kapan pasangan siap untuk menikah. Teori apa lagi.

Menikah lah dengan pria dari suku ‘x’, misalnya. Atau jangan menikah dengan pria dari suku ‘y’. Atau ada lagi, yang bilang suku ‘x’ dan suku ‘y’ ga cocok. O, seriously, aku tak bisa melihat relevansi kesukuan tersebut terhadap keberhasilan sebuah pernikahan.

Ada yang bilang, sebaiknya isteri tak terlalu sibuk mengejar karir. PNS atau ibu rumah tangga adalah profesi ideal jika ingin rumah tangga utuh. Aku banyak melihat contoh yang pada kenyataannya berseberangan. Teori yang ini lagi-lagi tak mutlak berlaku bagiku.

Lalu apa, kita harus pintar-pintar memilih pasangan yang pintar, baik agamanya, ganteng, dari keluarga baik-baik, dan mapan. Lihat bibit, bebet, dan bobotnya. Lagi-lagi pria seperti itu pun tak menjadi harga mati sebuah hubungan pernikahan akan berhasil. Semua bernilai relatif.  Apakah hubungan akan menyenangkan jika punya suami pintar yang tau semua-muanya. Ngerti geografi, hukum, kedokteran, dan apa pun, dia tau. Baik agamanya pun tak melulu membuat kita semua lantas dengan penuh keyakinan mengatakan ‘yes, I do’ ketika dilamar. Ganteng seperti Choky Sitohang? Apa gunanya jika dia hanya menjadi patung di rumah. Tidak mau, karena keluarganya berantakan. Bapaknya koruptor, ibunya penipu. Lalu apakah menikah dengan pria dari latar belakang keluarga baik-baik pun menjadi patokan sebuah pernikahan akan berhasil? Lalu bagaimana dengan mapan. Money can’t buy love. Punya kerjaan bagus dan uang melimpah pun bukan jaminan  keberhasilan sebuah pernikahan. kenyataannya, pejabat yang duit nya ga abis tujuh turunan pun, bisa punya selingkuhan dimana-mana.

Kita sama sekali gak bisa bikin patokan. Pejabat, selebritis, PNS, orang biasa, dokter, pengemis, bahkan kyai sekali pun. Itu bukan patokan.

Lalu apa. Apa. Apa. Apakah kita semua harus berhenti berteori tentang itu? Diam, dan menunggu jodoh itu datang. Mungkin kita semua terlalu sibuk memikirkan teori bibit, bebet, dan bobot, lalu lupa bahwa anugrah cinta itu hanya akan datang jika waktunya tiba. Dan bisa kapan saja pergi jika memang sudah selesai. Dan seharusnya kita bertahan dengan percikan kasih sayang yang senantiasa membasuh hati kita. Siapa pun pasangan kita nanti.

Now, I’m praying. Let’s praying.

Posted by: dinnasabriani | September 20, 2009

Rumah 1430 h

Aku memandang ke rumah itu. Ke setiap sudutnya. Rasanya sudah lama aku tidak berkunjung ke sana. Dan di hari yang fitri ini, tentu wajib bagi ku untuk mampir dan bersilaturahmi. Rumah tampak lengang. Tidak lagi bersahaja seperti lebaran-lebaran sebelumnya. Apa yang salah ini.

Mereka satu per satu diam, tak hangat. Tak sumringah di hari raya yang fitrah ini. Apakah mereka juga merasa tak menang di hari kemenangan ini. Aku memandangi mereka dalam. Tak ada yang salah. Hidup mereka masih sebaik sebelumnya. Mereka semua lelaki gagah yang bijak dan perempuan cantik yang pintar. Andai aku seperti mereka, aku yakin orangtua ku berbangga dan mendulang beribu syukur.

Ah, tawa mereka  masih sama. Canda dan kehangatan yang tercipta tak sedikit pun redup. Karena aku tau mereka bijak dan pintar. Walau pun perih luka masih tersimpan. Mereka begitu kuat dan tangguh. Begitulah yang orang-orang harapkan pada mereka.  Begitu pula dengan ku.

Suasana lebaran kali ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Perbedaan yang seharusnya menuju perubahan yang lebih baik. Sekilas memang terlihat tak baik. Sebagian mungkin akan memandang sebelah mata. Ada yang kasian. Atau menghinakan. Memprihatinkan. Tapi, Allah Swt punya maksud di balik ini semua. Sekeras-kerasnya kita berusaha, tak kan hasil tanpa kehendak-Nya. Kehidupan dunia memang akan jauh dari sempurna. Keikhlasan dan rasa syukur yang membuat nya istimewa.

Kita tak berdaya apa-apa. Rupa, harta dan bahagia, hanya titipan. Akan dikembalikan jika sudah waktunya. Akan diambil jika sudah selesai jodohnya. Dan mereka akan selalu menjadi kebanggaanku. Tak peduli orang bilang apa.

Mohon maaf lahir dan batin. Selamat hari raya Idul Fitri 1430 h.

Posted by: dinnasabriani | September 11, 2009

Need a laugh?

11 REASONS WHY WOMEN FIND IT HARD TO FiND THE MAN OF THEiR DREAM……

(11 alasan kenapa perempuan mendapatkan kesukaran dalam menemukan pangeran impiannya)

1. Nice men are ugly. (Lelaki yang baik ko’ jelek ya..)

2. Handsome men are not nice. (Lelaki yang ganteng ko’ ga baik ya…)

3. Handsome and nice men are gay. (Lelaki yang ganteng dan baik, ko’ gay yaa…)

4. Handsome, nice and heterosexual men are married. (Lelaki yang ganteng, baik dan ga gay, ko’ udah merit yaaa..)

5. Men who are not so handsome, but nice, have no money. (Lelaki yang nggak terlalu ganteng, tapi baik hati, ko’ ga punya uang yaa..)

6. Men who are not so handsome, but nice n with money, think we are only after their money. ( Lelaki yang nggak terlalu ganteng, tapi baik hati dan punya duit, ko mikirnya kita ngejar duitnya….. .)

7. Handsome men without money are after our money. (Lelaki yang ganteng tapi nggak punya uang, ko malah morotin….. )

8. Handsome men, who are not so nice and somewhat heterosexual, don’t think we are beautiful enough. ( Lelaki ganteng, yang nggak terlalu baik dan kayaknya ga gay, berpikir kita nggak cukup cantik buat dia……)

9. Men who think we are beautiful, that are heterosexual, somewhat nice and have money, are cowards. (Lelaki yang berpikir kita itu cantik, dan dia ga gay, sepertinya baik hati dan punya duit, rata-rata pengecut deh)

10. Somewhat handsome man, kinda nice and have some money, and thank God heterosexual, are shy and NEVER MAKE THE FIRST MOVE!!!! (Lelaki yang rada ganteng, kayaknya baik hati dan punya uang, dan ga gay, rata2 pemalu dan ga pernah melakukan pendekatan pertama!!!!! !!)

11. Men who never make the first move, automatically lose interest in us when we take the initiative. NOW, WHO THE HELL UNDERSTANDS MEN? (Lelaki yang ga pernah melakukan pendekatan pertama, otomatis akan kehilangan ketertarikan kepada kita ketika kita melakukan pendekatan ke dia. Jadinya…, siapa nih yang bener2 ngerti lelaki?)

“Men are like a fine wine.They all start out like grapes, and it’s our job to stomp on them and keep them in the dark until they mature into something you’d like to have dinner with.”

(Lelaki itu seperti minuman anggur yang baik. Mereka mulai dari buah anggur dan adalah pekerjaan kita, para wanita, untuk menginjak-injaknya dan menyimpan mereka di dalam kegelapan sampai mereka matang dan berubah menjadi sesuatu yang menarik sehingga kita ingin makan malam bersamanya)

SEND THIS TO SMART WOMEN WHO NEED A LAUGH AND TO THE GUYS YOU THINK CAN HANDLE IT

Setelah semalaman ngakak  yang masih ga abis-abis sampe besok paginya, tawa itu berlanjut sampai aku mendapat forward-an e-mail ini. Yang (lagi-lagi) kontan membuat ku terbahak saat membaca nya.  Haha,,

Hard to say, but yes it’s true. Then, when will we meet again, girls! Promise me to not over laugh anymore. Pegal-pegal sekujur tubuhhh. hehe. We better stop to laugh at innocents and lets’s grab some fat!

Posted by: dinnasabriani | September 1, 2009

Di Atas Sajadah

Kalau taraweh di Masjid, seringkali aku memperhatikan orang-orang terutama jamaah wanita membawa sajadah sendiri. Mungkin karena ga kebiasaan, aku adalah salah satu orang yang paling sering lupa malah hampir ga pernah bawa sajadah ke masjid. Alhamdulillah, sebagian orang, tampak ikhlas berbagi sajadah dengan ku. Tapi tak jarang aku tetap sholat berjamaah tanpa sajadah saat di kanan kiri ku beralaskan sajadah yang di bawa dari rumah masing-masing.

Padahal tadi nya kupikir masjid adalah rumah ibadah yang suci, sehingga tak perlu lagi sajadah. Malah hampir di setiap masjid sudah disediakan karpet cantik untuk kenyamanan kita beribadah. Lalu mengapa diantara kita masih membawa sajadah masing-masing? Saya sendiri belum tau alasan pasti, belum pernah nanya juga ke teman-teman yang tidak pernah absen membawa sajadah kalau mau sholat taraweh di masjid. Lain hal nya jika akan sholat ied di lapangan. Aku, insyAllah, tidah pernah absen membawa Koran dan sajadah. Tapi kalau di masjid?

Aku merasa amat disayangkan jika sajadah jadi kotak kemotak dalam menjalankan ibadah jamaah. Sajadah seolah menjadi kapling bagi masing-masing pemiliknya. Karena sajadah sudah terkembang, ketika shalat dimulai pun, tak berlaku lagi ‘rapat kan saf’ yang biasa disampaikan imam sebelum sholat berjamaah dimulai. Aku bingung, kalau geser ke kanan, kiri nya kosong, begitu juga sebaliknya.

Aku, bukan wanita pengkritis ibadah. Bukan. Bahkan hanya mengerti sedikit sekali tentang ibadah. Hanya saja merasa tidak nyaman jika shalat berjamaah tapi saf nya ga rapat. Di luar dari ayat al-quran atau hadis yang mengaturnya, yang aku ingat kalau jamaah an itu saf nya rapat.

Nah, mungkin diantara kita ada yang lebih tau mengenai saf yang ga rapat itu. Kalau  ternyata shalat jamaah itu, ga perlu saf yang rapat, mungkin memang kekhawatiran ku selama ini ga beralasan.

Posted by: dinnasabriani | August 28, 2009

Mungkin Baru Kulitnya Saja

Between You and  x

X August 27 at 9:20pm

Subhanallah, sangat beruntung lah pria yang mendapatkan kau menjadi istri nya ;)

Sent via Facebook Mobile

Dinna Sabriani August 27 at 9:23pm

Ahh, kata siapa. Lebay, de :p

Sent via Facebook Mobile

X August 27 at 9:28pm

Sudah cantiq, pinter, klo di mall ga lupa shalat magrib, ga pelit + suka nraktir..subhanallah ;)

Sent via Facebook Mobile

Dinna Sabriani August 27 at 9:29pm

Nyindirrrr.

Sent via Facebook Mobile

X August 27 at 9:32pm

Ko nyindirr siy, orang memuji koq..tuh rendah diri lg orangnya..what could a man ask for dh pokoknya

Sent via Facebook Mobile

Dinna Sabriani August 27 at 9:41pm

Sama sekali enggak lah.

Sent via Facebook Mobile

X August 27 at 9:55pm

Ya Allah dia merendah lg,sungguh trlihat inner beauty nya..sayang sdh ada yg punya..sangat beruntunglah pria itu

Sent via Facebook Mobile

Begitulah thread messages facebook-ku dengan seorang teman. Mungkin bukan hanya aku yang pernah mengalami kejadian seperti ini. Mungkin banyak di antara kita yang pernah mengalami hal serupa.

Di sini, aku bukan membahas masalah ke-GEER-an.  Di usia, segini, kok mati rasa ya, kalau mau ke-GEER-an.  Padahal kan ke-GEER-an bagus buat menghibur diri di saat kesepian. Hehe.

Pertama-tama, sama sekali aku gak pernah berpikir akan ada orang yang mengatakan hal seperti itu. Malah seringkali aku merasa ‘ah, kasian sekali, orang yang menjadi suami ku’  di tengah banyak sekali kurang yang aku rasa di sana sini. Termasuk mungkin kurang bersyukur? :(   Tapi, kata seorang teman, gak baik berpikiran seperti itu. Rendah diri ga bagus buat kesehatan jiwa. Tapi, memang pada kenyataanya, sering kali aku merasa gak ada yang special dari ku.  Malah banyak kurang nya.

Soal cantik? Masih banyak sekali orang cantik dunia ini. Lagi pula cantik itu milik Allah. Detik ini pun, Allah bisa mengambil itu dari kita. So, why beautiful become so special? Ya, walau pun sampai detik ini aku ga berani mengingkari kalau aku masih sering melakukan pemborosan untuk sebuah krim malam atau ngebersihin kuku di salon. Dan menjadikan cantik itu spesial ;)

Pinter? Apa dasarnya? Ada beberapa hal yang memang harus disyukuri. Tapi tak ada yang bisa membuat ku berbangga. Percayalah. Di sini, di ruangan ini, sering kali aku menyadari, bahwa mungkin benar, aku tidak pintar.

Kalo di mall ga lupa sholat magrib? Sekarang, mall menyediakan tempat yang begitu nyaman untuk sholat. Seharusnya bikin kita makin semangat menjalani sholat lima waktu. Dengan kenyamanan tempat sholat itu, bukan tidak pernah aku lupa dan malas. Pun, seringkali aku menjalani nya karena kewajiban, bukan meresapi maknanya. Yaa Allah,,, aku jauh dari sempurna.

Yang paling lucu ketika di message itu dia bilang ‘ga pelit + suka nraktir’. Haha, mungkin dia hanya belum terlalu mengenal ku. Kalau dia tau, di dimensi yang berbeda, teman-teman ku seringkali mengatakan ku pelit. Entah karena turunan, atau memang pelit karena sebuah alasan. Ya, kadang aku menikmati menjadi orang yang pelit. Tapi tidak separah kedengarannya, kok :) Satu lagi, aku sukaaa bgt ditraktir :p bukan nraktir. No doubt about it.

Mengenai apa pun yang di katakannya di message itu, mungkin dia hanya belum mengenal ku. Aku wanita yang amat biasa, dengan kelemahan yang bertumpuk. Bahkan beberapa kali patahhati karena laki-laki yang merasa tidak beruntung menjadi pasangan ku.

Yang Anda lihat mungkin baru kulitnya saja.

Mmmh, what a life.

Posted by: dinnasabriani | August 27, 2009

Tari Kecak Kala Matahari Tenggelam

Sore itu, aku, dila dan silvi berkumpul di Uluwatu. Seperti kebanyakan tempat wisata di Bali, di sana pun ramai wisatawan, terutama dari mancanegara. Banyak monyet yang mengiringi perjalanan menuju Pura Uluwatu tersebut. Untuk kesana, kita harus memakai ‘selendang’ yang merupakan simbol suci. Mereka menyebut nya selendang. Tapi kalo yang aku lihat bentuk nya lebih kaya tali kain. Untuk yang memakai celana pendek, disediakan kain panjang untuk menutupi paha dan tungkai kaki. Karena di sini tempat ibadah, memang diharuskan berpakaian tertutup dan sopan.

Kami menuju tribun. Semakin sore semakin ramai. Harus buru-buru duduk Ramaiagar kebagian tempat yang nyaman. Di sini lah atraksi tari kecak akan berlangsung. Keeelokan budaya Indonesia dibuktikan di sini. Keunikan tari kecak dipadukan dengan indahnya matahari terbenam. Tarian ini tanpa diiringi alat musik. Suara-suara dari para penarinyalah yang menambah semarak atraksi ini. Luar Biasa. Gelak tawa dan ketakjuban berpadu di segala sudut pandang.

Apalagi saat lingkaran api dinyalakan. Sempet kaget juga, tapi ternyata kobaran api itu menambah keunikan atraksi tersebut. Keren. Keren.

Aku kutip cerita cerita tarian ini, ya.

Atraksi Api

Karena akal jahat Dewi Kakayi (ibu tiri) Sri Rama, putra mahkota yang sah dari kerajaan Ayodya diasingkan dari istana ayahandanya Sang Prabu Dasarata, dengan ditemani adik laki-lakinya ( Laksmana) serta Istrinya (Dewi Sita) yang setia. Sri Rama pergi kehutan Dandaka, pada saat mereka berada di hutan, mereka di ketahui oleh Prabu Dasamuka (Rahwana) seorang raja yang lalim, dan Rahwana pun terpikat oleh kecantikan Dewi Sita, Ia lalu membuat upaya untuk menculik Dewi Sita dan ia di bantu oleh Patihnya Marica. Dengan kesaktiannya, raksasa Marica menjelma menjadi kijang emas yang cantik dan lincah. Dengan demikian mereka berhasil memisahkan Dewi Sita dari Rama dan Laksmana. Rahwana lalu menggunakan kesempatan ini untuk menculik Dewi Sita dan membawanya kabur ke Alengkapura. Sri raman raja yang Rama dan Laksmana berusaha menolong Dewi Sita dari cengkkejam itu, atas bantuan bala tentara kera di bawah pimpinan Hanoman maka mereka berhasil mengalahkan bala raksasa Rahwana yang dipimpin oleh Megananda, putranya sendiri. Akhirnya Sri Rama berhasil merebut kembali istrinya dengan selamat.

Posted by: dinnasabriani | August 24, 2009

Marhaban Yaa Ramadhan

Marhaban yaa Ramadhan, mohon maaf lahir dan bathin. Selamat menjalankan ibadah puasa.

Begitulah kira-kira berbagai status yang muncul, baik facebook, twitter, atau yahoo messenger (setidaknya itulah, komunitas yang saya ikuti).  Tahun ini sedikit SMS serupa yang masuk, namun mendadak banjir balasan ketika saya mengirim sms ‘ramadhan’ tersebut.

Semua kita, mungkin tak ada yang terkecuali begitu semangat menyambut Ramadhan. Bulan yang dimaknai seribu bulan ini. Penuh syukur pula karena kita masih diberi kesempatan bertemu dengan Ramadhan tahun ini.

Intinya, melalui blog ini pun, saya juga mohonkan maaf lahir dan bathin. Mudah-mudahan segala dendam dan sakit hati yang sempat ada, terhapus. Dan mudah-mudahan Allah swt meringankan jalan kita untuk mencapai fitrah-Nya.

Posted by: dinnasabriani | August 20, 2009

Perjalanan Segerombol Sahabat

Setiap awal pasti ada akhir. Setiap pertemuan akan ada perpisahan. Tapi ini bukan masalah awal dan akhir dengan pertemuan yang berujung perpisahan. Ini perjalanan segerombol sahabat.

Malam itu, untuk pertama kali nya aku melihat Bapak (Produser Perjalanan 3 Wanita) dan Mas Jagat (P.A) bergelinang air mata. Entah kata apa yang bisa menggambarkan perasaan kita semua malam itu. Malam yang seharusnya romantis di sebuah restoran di Jimbaran, Bali berubah mengharukan ketika Bapak memulai kata-kematanya.

Mas Jagat, Mba Fista, Mas Angga, Dila, Silvi, Mas Sakti, A ii, Ceu Epa dan aku pun berkeras membiarkan air mata tetap berada di pelupuk. Jangan lah jatuh, tapi mungkin di antara kita memang sudah tak sanggup menahan nya ketika mendengarkan apa yang disampai kan oleh Bapak.

Ini akan menjadi malam terakhir untuk Perjalanan 3 Wanita.

Satu per satu dari kita mulai menyampaikan kesan perjalanan ini. Perjalanan ini begitu dicintai bagi siapa-siapa yang terlibat di dalamnya. Mungkin juga bagi para pemirsa setia nya. Tapi memang kenyataannya, Perjalanan 3 Wanita tetaplah bagian dari sistem yang sudah mengaturnya.

Pengalaman yang tak bisa dinilai dengan uang. Berapa banyak pun jumlahnya (atau seberapa sedikit pun jumlahnya). Bukan sekedar petualangan, jalan-jalan, senang-senang, tapi kita semua mendapatkan sebuah keluarga baru dalam perjalanan ini. Masing-masing kita memberikan warna dalam kebersamaan ini. Mereka semua orang yang hebat dan luar biasa.

Bapak, dibalik kalimat-kalimat nya yang kadang nyelekit, beliau menyimpan banyak sekali ruang bijaksana dalam kepala juga hati nya. Begitu hebatnya karena selalu seru di tengah tekanan hebat yang datang.  Begitu tabahnya menerima setumpuk kekurangan yang ada di host nya. Terutama host gendut ini. Apa ada produser lain yang kaya gini? *thinking

Mas Jagat, P.A luar biasa yang mengaku dirinya baik. Merasa ga bisa bikin script, but he has unlimited fabulous words! Selalu menanggung beban berat baik fisik mau pun mental, baik pra, pas, dan pasca syuting. Kata-kata yang keluar dari mulutnya, selalui menjadi trendsetter. Ah, tapi dilarang keras untuk membuat nya besar kepala. He’s my gank mate (or maid? :p ). For Always.

Mba Fista, dengan keceriaan dan perhatiannya (kaya pacar ya). Teman nyela, mencela, hampa-hampaan. Selalu punya struktur kalimat baik hati untuk membuat orang lain merasa lebih nyaman. ‘Kreatif’ yang benar-benar kreatif. Dia punya segudang ‘support’ dan ‘encourage’ untuk sahabat-sahabatnya. Cerita yang ga akan abis-abis, bisa sampe besok pagi nya lagi. Take VO sejam bisa jadi 4 jam. O, gonna miss that time.

Mas Angga, gak jauh-jauh dari ‘sek’. Bikin sakit perut kalau ada dan ga ada dia. Bikin sakit perut karena suting dan perjalanan jadi ketawa mulu. Kalau ga ada, kita juga sakit perut karena makan-makan dan camil-camil kuranggggg.

Mas Sakti, cameraman kesayangan perjalanan 3 wanita. Tabah menghadapi ribuan retake, syuting perdana dan syuting pamungkas Perjalanan 3 wanita. Mas Sakti pasti ngerti banget perubahan (atau ga adanya perubahan) dari kita –Dinna, Dila, Silvi-  Hiks jadi sedih. Apalagi tio dan aria. Jagoannya yang ganteng-ganteng itu.

A ii. Hoho. Iya, a ii, ga bakal lupa. U are so helpful and soooo swittt. Pasti lucu inget becanda-becandaan kita itu, a.

Dila dan Silvi. Sangat pengertian dengan aku yang egois dan manja. Berangkat dari awal sama-sama culun (ups, silvi cantik dan dila pemberani, deh), dengan ribuan retake. Sekarang? Udah jadi presenter professional (dengan jutaan retake, kah? Hehe) Mana ada lagi host yang begini, ya. Dila yang ga bisa nahan sendawa dan nyanyi-nyanyi tanpa melodi di bandara. Silvi yang ga bisa matiin TV kalau tidur dan selalu ‘dikecengin’ pacar-ku. Keep this incredible friendship, girls.

framed at Jimbaran-Bali, dengan muka sembab

framed at Jimbaran-Bali, dengan muka sembab

Begitulah malam itu berakhir, malam yang begitu indah dengan deburan ombak, aroma pasir pantai, dan kilauan fireworks. Memang masing-masing kita sudah ditentukan jalannya. Kita lah yang melangkah di garis-Nya.

Dengan pelupuk mata yang basah, nadi leher yang tercekat, perut ‘begag’ karena seafood, dan senyum beruntai kasih. Kita meninggalkan malam itu, Jimbaran – Bali, 16 Agustus 2009.

Older Posts »

Categories