Ibarat masakan, rasanya tentu hambar tanpa garam. Begitu juga perjalanan ku.
Ini berawal ketika tim perjalanan tiga wanita akan di bagi menjadi tiga tim. Aku kebagian ke Jember, Dila dan Silvi kebagian ke Banyuwangi. Tiga kendaraan sewa sudah disiapkan, dan kebagian lah aku yang warnanya hitam. Bapak saiko (as driver) mengatakan bahwa dia sengaja memilih mobil ini karena ac nya double blower dan keluaran 2007 (lebih baru dibandingkan 2 mobil lainnya). Actually, bagiku tak terlalu penting double blower atau keluaran berapakah mobil itu.
Dari awal aku sudah mencium bau-bau tak sedap. Bukan bau aku yang kentut melulu karena masuk angin, bukan bau badan kami yang udah ga mandi dua hari, bukan pula bau tai kuda sisa petualangan di Bromo. Bau ini adalah bau kopling.
Mobil berjalan pelan sekali. Di jalan yang mulus lurus dan sepi gak bisa ngebut. Kalo kata mba Fista ‘kaya sepeda, pelan bener jalannya’. Kalo begini caranya bisa-bisa nyampe Jember (yang seharusnya bisa ditempuh sekitar 2-3 jam dari Probolinggo) dua hari lagi. Akhirnya dari pada perasaan semakin ga enak, kita semua memutuskan untuk ke bengkel aja. Benerin tu kopling.
Di bengkel.
Dua jam udah ditungguin. Ga ada tanda-tanda kopling itu bisa bener. Sementara aku, Mba Fista,dan Mas Imet udah mati gaya di bengkel. Apalagi Pak Saiko, udah sibuk salah tingkah mondar-mandir kaya setrikaan. Entah terinspirasi dari mana, kayanya boleh juga kalo kita nungguin mobil kelar di tempat yang lebih nyaman. Sambil minum segelas ice blended caramel frappucino di starbucks kayanya boleh juga, tuh. Tapi, tentu hal itu tidak terjadi.

Kita di Angkot Probolinggo
Malam itu, kami menjelma jadi ‘ANGGO’ (baca: Anak Gaul Probolinggo). Begaul di mall Probolinggo malam-malam. Ini untuk pertama kalinya aku naik angkot di Probolinggo. Walaupun tentu rasanya gak ada bedanya dengan naik angkot di Jakarta (bedanya; ga macet dan tarif angkot yang lebih mahal), tapi tetap aja bagi ku, ini merupakan pengalaman yang pertama..
Tak mendapatkan starbucks di Probolinggo, tidak menyurutkan semangat kami untuk tetap menjadi ANGGO. Kami nongkrong di sebuah ‘café’ bernama MM juice. Walaupun perut masih kenyang, ngemil-ngemil somay dan minum jus kiwi, lumayan juga (bikin berat badan makin naik pun), sambil mengisi waktu menunggu si kopling diberesin.
Sampai mall hampir tutup, tak ada tanda kalo masalah kopling sudah teratasi. Akhirnya kami memutuskan untuk balik ke bengkel. Badan udah bau tujuh rupa, muka apek udah kaya ladang minyak.

Naik becak menuju hotel
Akhirnya kami menyerah untuk maksa nerusin perjalanan ke Jember malam itu juga. Harus tinggal semalam di Probolinggo. Pilih hotel, aku punya satu cerita menarik (bagiku) lagi. Aku dengan seabrek barang –karena koperku yang sebaiknya tidak kubawa karena terlalu besar- menaiki becak menuju hotel yang sudah di booking mba Fista, sebelumnya. Hihi, pengalaman seru naik becak malem-malem dengan barang seabrek dan tumpah ruah di tengah Kota Probolinggo. Kasian tukang becaknya.
*Sampai di hotel, kami pun tertidur. Di kamar masing-masing
iya, aku denger cerita nya dari Silvie, mas. serem juga, ya. tapi dari bad moment itu, pasti ada hikmah, dan alangkah baiknya kita tetap berpikiran positif.. bdw, kip spirit, mas. take it as precious experience
By: tegil wae on May 6, 2009
at 1:36 am