Apa status itu penting? Sebagian kita akan mengatakan itu penting banget dan sebagian bebas berpendapat sebaliknya. Menurutku, status itu salah satu komitmen dalam menjalin sebuah hubungan. Kalau emang ga ada yang salah dengan hubungan yang dijalani, lalu apa yang salah dengan berkomitmen untuk memiliki status.
Sebagian diantara kita, keukeuh dengan tidak pentingnya status. Asal tau sama tau perasaan masing-masing itu udah cukup. Untuk apa gembar gembor soal status tapi hubungan yang terjadi di dalam nya bobrok. Mending ga pake status, tapi hubungan dan perasaan sayang di antara nya kuat dan tulus. Begitu pendapat seorang teman. Lalu, bagaimana dengan pilihan ku tentang penting nya status didukung oleh hubungan dan perasaan sayang yang kuat dan tulus itu. Adakah yang salah dengan kondisi itu? Dan apakah itu begitu sulit?
Bagaimana pun sebagian di antara kita bersikeras ga mau memiliki status. Karena
- ada selain dia dalam hati or keseharian kita. selain menjalani sama cewe or cowo yang ini, kita juga sedang melakukan penjajakan atau mengepakkan sayap dengan cewe or cowo lain. Ga rela ninggalin dan nyakitin salah satunya, lebih baik ga usah pake status. Memiliki status bikin kita ga bisa lagi deket sama dua-duanya, tiga-tiganya, bahkan lebih. Cowo ini ganteng, lumayan buat keren-kerenan diajak jalan ke mall. Yang satu lagi, kaya, boleh juga, kalo lagi pengen beli baju branded tapi ga punya duit. Yang ini, sabar, bisa buat temen uring2an dan manja2an. Yang lainnya, pinter, bisa buat nanya apa aja kalo lagi kepusingan pelajaran or ngadepin soal-soal apa pun yang susah. Ada yang alim, penyejuk hati dikala tersadar sudah berlimpah dosa dan butuh bimbingan . Begitulah yang terjadi, mengapa sulit sekali untuk sebuah status, karena kita ga mau kehilangan salah satunya. Sebut saja dengan maruk.
- ga mau pasaran turun. Status bisa jadi bikin pasaran kita turun. Yang biasanya kalo lagi liwat tengah lapangan, smua mata tertuju pada kita, setelah punya pacar, seakan ga ada yang peduli dengan pesona yang kita pancarkan. Kalo biasanya tiap hari, orang-orang berebut mencari perhatian kita, hal itu ga akan terjadi lagi setelah semua orang tau kalau kita sudah menjatuhkan pilihan kita pada seseorang. Lagi ngumpul sama temen-temen, kita sering jadi center of excellence. Kita bisa mendapatkan perlakuan special dari siapa saja, karena kita still being single. Dan ga siap meninggalkan semua itu.
- masih tetep pengen ngerasain enaknya being single. There’are much privillege of being single. Kita bebas mau ngapain aja. Melakukan hal-hal menyenangkan sesukanya. Ga ada pacar yang bisa ngomel2in karena ga ada kabar seharian. Ga ada yang protes kalau mau flirting sama cowo or cewe lain. Bisa punya lebih banyak waktu sama teman-teman. Bisa nge-date dengan beberapa cewe (or cowo). Pasangan tanpa status (baca: HTS-an) kita toh ga bisa menuntut apa-apa karena pada kenyataannya dia bukan siapa-siapa kita.
- malu punya pacar yang muka atau duit nya pas-pasan. Agak kejam, tapi begitulah kenyataannya. Pacar kita tak punya paras yang rupawan, tapi cinta nya begitu tulus sehingga gak mungkin kita menyia-nyiakan cinta suci nya itu. Meski ga punya mata teduh dan body yahuud, tapi dia yang paling sabar dan mengerti apa yang kita mau. Lantas, memilih untuk tidak bestatus dengannya karena malu dengan lingkungan pergaulan kita yang dipenuhi orang-orang dengan gaya jetset dan raut muka yang tertata apik. Soal ga punya duit, biasanya terjadi pada cewe. Pasangan kita ga punya duit banyak. Kalo jalan, selalu bayar sendiri-sendiri, bahkan ga jarang kita (kalo cewe) yang bayarin. Ga pernah jemput ke rumah dengan mobil kerenan dikit. Tapi jaman sekarang, ga dikit juga cowo yang mengharapkan cewe nya juga punya duit banyak (baca: tajir).
- ga dibolehin orang tua. Takut diomelin enyak babe, mending HTS an aja. Ga perlu boong atau backstreet, toh pada kenyataannya, memang tidak punya pacar. atau bisa jadi orang tua ga suka dengan pasangan kita, untuk step to the next level jadi agak susah.
- belum yakin sama pasangan. Ini bikin kita memilih untuk tidak berstatus dulu. Sayang sih sayang, tapi belum tentu nanti dia bisa jadi pacar yang sesuai dengan yang kita harapkan. Intinya kita memang masih perlu waktu untuk memutuskan ini orang ok buat dijadiin pacar atau memang cuma asik dijadiin flirting-an. Atau mungkin pasangan kita ga cukup worth menyandang status ‘in relationship with __________*’
Nah, sebagian lagi keukeuh seumeukeuh dengan pentingnya status. Karena
- Im not available or gw laku. Yes, they both need status. Being single is choice, also being couple. Ada yang sengaja memilih single karena memang masi ingin menikmati kesendirian, belum ada yang cocok atau memang gak melihat apa pentingnya memiliki pasangan. Tapi gak sedikit, orang-orang menunggu waktu lama untuk punya pacar karena alasan tertentu. Intinya, mereka yang keukeuh perlu status dengan pasangannya bisa jadi karena pengen punya brand ‘sudah laku’. Gak ada lagi HP tanpa dering telp dan SMS. Ga ada lagi malam minggu sendirian. Juga ga perlu datang ke resepsi pernikahan teman atau reunian SMA sendirian. Ya, intinya, ‘gw laku’
- Sebagai barrier buat diri sendiri or pasangan untuk ga selingkuh. Emang penting banget sebenarnya suatu hubungan ditopang oleh pilar yang kokoh. Perasaan sayang, saling percaya, saling menghargai, jujur, perhatian, setia, dan lain-lain adalah sebagian kecil dari pilar itu. Tapi tentunya, cerita tentang ‘dunia cuma milik berdua, yang lain ngontrak’ itu cuma boleh jadi bahan ledekan doang. Itu gak bisa dijadikan sesuatu yang serius, karena pada hakikat nya kita hidup bersama orang lain juga. Membutuhkan mereka. Mempertahankan suatu hubungan, gak cukup cuma dari pilar-pilar yang kokoh itu. Cobaan juga akan datang dari luar. Untuk itu, status menjadi hal yang penting walaupun bukan yang utama. Sebagian orang akan mundur untuk mendekati atau didekati seseorang jika tau si pelaku udah in relationship with other. Walaupun sebagian bisa jadi akan tetap maju terus pantang mundur dengan bodo amat nya.
- Bangga sama pacar. Bangga sama pacar ga cuma berlaku untuk orang-orang yang memiliki pasangan dengan kualitas tinggi. Toh setiap orang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Berbanggalah dengan pasangan kita. That’s was a particle of romance.
- Pengen didoain orang banyak. Kenapa si, penting semua orang tau kalo kita pacaran. Kalo gitu bagaimana dengan menikah? Penting kah kalo orang tau kita sudah menikah. Ya begitulah arti sebuah status. Dengan niat yang tulus kita ingin didoain orang banyak untuk kebaikan hubungan kita. Sakinah, mawaddah, dan warohmah.
- Open minded. Toh kita memang sedang menjalin hubungan dengan seseorang. We life in realty at the present, not in a dream nor beyond imagination.
- Ingin diakui or dianggep. Semurah-murahnya orang, masing-masing tetap punya harga diri. Binatang aja punya, apalagi manusia. Ga sedikit malah diantara kita yang meng agung-agungkan harga diri. Diakui or dianggep adalah bagian dari sebuah penghargaan. Bayangkan gimana perasaan kita kalo ga diakui atau ga dianggep? Sedih, sakit, tersinggung, kah? Jika jawabannya ya, hal yang sama juga berlaku pada pasangan kita. Belajar lah untuk mengerti mengapa mereka menginginkan status itu. Mereka membutuhkan lebih dari sekedar perhatian, kasih sayang, dan paket-paket manis dari kamu. Kind of appreciation.
Anw, ini semua murni pendapat ku aja. Feel free to tell if you are disagree with me.
*diisi dengan nama kita.

hey sexy melani. thanks for sparing ur time to read this post.
emang menentukan sebuah pilihan harus banyak pertimbangan. sebisa mungkin nantinya kita ga salah pilih. wish Allah will grant u and ur parents wish!
By: melani on June 3, 2009
at 10:36 am
teringat siapa lo wan?? *curcol. ya iyalah status tu penting banget apalagi kalau udah nikah. makanya nikah sirri tu sbenarnya menyedihkan menurut gw.
menurut gw lagi nih wan, emang penting banget komitmen terhadap pasangan. kalau udah sayang juga pasti kita ga bakal larak-lirik kok, dan ga bakal kita mengkhianati perasaan kita sendiri. tapi soal status itu juga ga kalah penting, karena dengan status itu kita akan merasa lebih dihargai, dianggap dan dibanggakan. Kalo sebagian diantara kita merasa penghargaan, penganggapan dan pembanggaan itu ga penting, yah silakan saja menjalani hubungan tanpa status.
Hubungan tanpa status mungkin ga akan jadi masalah besar kalo dua-duanya sepakat dengan hubungan seperti itu. Yang sangat menyedihkan jika salah satu nya ga sepakat soal HTS itu. Akan ada yang tersakiti. Dan, walaupun orang bilang cinta itu buta,, tapi harga diri tu ga bakal kebeli, wan. Semurah apa pun, dan sekaya apa pun yang beli.
untuk kalimat lo yang terakhir *gw ga mau jadi pembantu lo, wan :p
anw, HTS (hubungan tanpa status) or HDS (hubungan dengan status), it’s all our choice.
By: Wawan on June 3, 2009
at 10:51 am
telimakacih
By: ario on June 3, 2009
at 3:13 pm
menurutku, ya perasaan tu bisa berubah kapan aja. sedetik kita sayang, sedetik kemudian bisa jadi perasaan itu menguap gitu aja. like u said, kita ga bisa milih, insyAllah, Allah yang akan menggerakkan hati kita.
and im talking about ’status’ on this post. ya, mungkin sesederhana status facebook, atau semacamnya,, hehe..
By: Tukang Ojeg on June 3, 2009
at 4:08 pm
Ranti, makasi ya,,
iya ran, aku setuju, inti nya, mah iya. iya. enggak. enggak. jangan iya iya yang engga-enggak,, hehe.
By: Ranty on June 5, 2009
at 1:57 pm