Salahkah jika saya menjadi penggemar kulit?
Belakangan, saya sedang menikmati menjadi penggemar kulit. Lah, istilahnya agak susah ditebak ke mana arahnya ga si? Tapi, sejujurnya ini bisa menjadi apa saja. Kulit apa saja.
Niat nge post tentang ini, berawal karena saya mendadak jadi penggemar berbagai aksesoris fashion kulit, ber tag ‘genuine leather’. Jika kemudian kulit kulit ini melebar kemana-mana jadi kulit lainnya, yaa, boleh lahh. Saya juga penggemar kulit lainnya.
Sebenarnya, ada perang perasaan juga, ketika menyukai fashion serba kulit ini. Rasanya ga tega, jika hewan-hewan itu dikuliti. Tapi berusaha berpikir positif bahwa sebagian memang hewan yang diternakkan. Semacam pembelaan diri yaa. Kemudian, semakin lama, sebagai wanita normal, saya menjadi tergila-gila dengan produk kulit. Asli. bukan yang imitasi tentu saja.
Ya, meski berbandrol harga yang cukup tinggi, saya dengan pikiran pendek, rela merogoh kocek lebih dalam. Oh, tidak. Plisss, maafkan yaa. Tapi, produk produk ini begitu menggoda saya. Ini, bagian dari kesenangan dunia, menurut saya. Mudah-mudahan saja, saya ga sampai harus ber status ‘kalap’ yaa.
Dan, bagaimana dengan pembahasan kulit lainnya? Ini perkara kulit ayam crispy, yang tidak sehat itu. Saya suka. Sekian. hehe. ketika makan, ayam goreng crispy ini, saya mendadak menjadikannya GONG ketika makan. Kulitnya disisakan untuk kenikmatan terakhir saat makan. Mmhhh, rasanya sedihh banget saat kunyahan terakhir tiba. Mau nambah lagi, ya, saya harus ingat berat badan. Dan kesehatan tentu saja. Semua udah tau pastinya, bahwa kulit ayam itu jauh dari gizi dan makanan sehat.
Dan saya jadi menyimpulkan, bahwa memang yang enak, tak selamanya baik. Hehe. Okee, batere nya kian menipis. Ini dipublish dulu, ya.
Your color, You are coloring my day. Thanks, dear!

Yang biru ini tempat apa, din? Lucu banget, ya…
By: juminten on January 17, 2012
at 3:21 pm
Pantes kulit ayam gw kemaren diembat. (¬_¬”)
By: jengtiaracihuy on January 19, 2012
at 1:47 pm