Matre?

Pertama kali denger kata matre sebenarnya udah cukup lama. Waktu itu, sebuah kelompok musik mempopulerkan lagu berjudul Cewek Matre. Dan yang saya tangkap adalah setiap cewek yang matre di buang ke laut aja. Ada yang inget juga lagu itu? Makin ke sini, saya merubah sedikit pandangan saya tentang matre. Matre, berasal dari materealistis, atau ke-harta-an. Ya, mereka yang memandang segala sesuatu dari segi harta. Atau, kalau cewek matre adalah cewek yang tergila-gila dengan harta, kemudian saking gilanya, memilih pasangan pun liat dulu hartanya.

Kalau lagu itu bener-bener dilakuin dalam kehidupan nyata, mungkin udah banyak banget cewek yang dibuang ke laut. Matre, kian lazim dalam keseharian. Apalagi di kota-kota besar seperti Jakarta ini. Kalau kita bergeser sedikit ke pelosok pun, sikap matre juga sudah kita temukan di berbagai perkampungan di penjuru negeri. Itulah mengapa matre saya katakan lazim. Sekarang pun, matre ga lagi lekat dengan cewek aja. Cowok pun, banyak yang begitu. Alasannya? Buktinya? Kalau disebutin satu-satu kayanya gak bakal abis.

Seliweran sana sini, sebagian masih menganggap matre adalah sikap yang negatif. Seperti sesekali saya mendengar kumpulan laki-laki bilang “ih dia kan cewe matre” Saya melirik atas sampai bawah cewek yang dikatakan matre itu. Ya, melihat kerasnya hidup, matre kadang menjadi terpaksa atau sudah keharusan. Bahkan laki-laki pun melakukannya. Sebagian laki-laki berpikiran, hidupnya akan lebih ringan, kalau dapat perempuan kaya. Ya, liat aja berita berita televisi, pernikahan artis dengan perempuan-perempuan kaya. Lalu, ada yang salah dengan matre?

Sekarang, posisi perempuan dan laki-laki sudah setara dalam banyak hal. Mungkin juga dalam karir. Gak menutup kemungkinan, bahwa perempuan bisa jadi atasan bahkan menduduki posisi posisi penting, menjadi direksi misalnya. Gender, tidak lagi menjadi halangan. Banyak sekali wanita-wanita hebat dengan reputasi dan prestasi cemerlang. Yang bikin sebagian laki-laki melirik. Atau yang alami, ya minder.

Adalagi, tipikal laki-laki yang ketakutan setengah mati di-matre-in. Padahal seberapa ada si lelaki ketakutan itu? Denger temen laki yang curhat karena cewenya matre, saya cuma bisa bilang, ga usah ke geer an. Kalau ga mampu ya, mundur. Karena emang begitulah adanya.

Sekadar beropini aja, mau matre mau enggak, ya bebas. Laki, perempuan, ya semua itu adanya #sikap. Saya pribadi ga begitu peduli dengan cewe matre atau laki-laki matre. Kalau ketemu cowo yang matre-in saya? Saya sendiri gak keberatan. Selain gak ada yang bisa dimatrein, ya, bebas-bebas aja. Karena, walau saya perempuan berdarah Padang, yang identik dengan itung-itungan soal materi, kenyataannya saya keras betul bahwa materi itu cuma singgah sementara. Agak klise memang. Tapi, soal ini pikiran saya masih sangat konvensional. Gak melulu materi itu membawa kebahagiaan. Gitu aja sih.

About these ads

2 thoughts on “Matre?

  1. Kayaknya ada yg matre karena terpaksa, ada jg yg matre karena kebiasaan dan kesenengan belaka, deh. :|
    Btw, dulu ada temenku yg bilang, “Cewe hari gini kalo nggak matre mah nggak hidup.” Wew… :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s