spontan tutup idung
Ah, kadang memang kita tidak menyadari hal sepele kaya gini. Menganggap remeh hal-hal yang sebenarnya bisa jadi penting. Kadang keukeuh mareukeuh. Merasa diri over confidence. Atau bodo amat. “Beginilah gw dengan kesederhanaan apa adanya,” begitu, yang ada dalam pikiran kita. Dan yang lebih sensitif adalah kita ga punya cukup uang untuk mengurangi bau itu. Ntah parfum, lotion, atau sabun.
Maka jadi lah kita si bau.
Apa adanya bukan berarti tidak menghargai, kan? Kita merasa tidak perlu menjadi wangi karena terkesan gaya hidup berlebihan atau ga mau dianggap sengaja menarik perhatian orang lain. Tapi menurut ku, hal itu bisa dikesampingkan kalau niatnya baik untuk menghargai sekitar. Apakah mneyenangkan bagi kita, ketika berada di dalam kendaraan umum yang penuh sesak, kemudian kita harus dijejali bau tak sedap itu? Dan tentunya jauh lebih tidak menyenangkan jika kita lah sumber bau tak sedap itu.
Seperti tadi, perjalanan ku naek ‘busway’ dari kantor menuju tempat dimana aku biasanya merasa seperti babi gembrott yang ngos-ngosan. Memang saat itu sedang padat-padatnya. Semua orang bejubel keluar dari kantor nya dengan suasana hati segala rupa. Juga bau yang segala rasa. Begitu juga dengan ku. Dan percayalah, hidungku sudah kupersiapkan untuk tahan banting dengan bau-bau itu.
Jika pada saat itu suasana hati kita sedang tak senang, bukan berarti orang lain pun harus ikut merasakannya. Tidak perlu membuat orang lain merasa bête atau gak nyaman (dengan bau yang kita hasilkan), karena masing-masing mereka pasti punya masa sendiri untuk bête atau ga nyaman tanpa harus kita yang menjadi penyebabnya.
Lalu aku mencoba menarik nafas melalui hidungku yang mudah sekali pilek itu, di tengah padatnya manusia di dalam busway. Dan rupanya aku sedang tak beruntung saat itu. Bau tak sedap itu kontan membuat mood ku (makin) berantakan. Langsung update status twitter –yang biasanya menjadi tempat uring-uringan- . Kenapa ada orang yang tega kentut di dalam busway yang sesak?
Ah, sungguh aku bête. Bête. Bête. Aku tak suka bau itu. Wahai manusia, kenapa tega kau lakukan itu padaku? Bukan kah kesabaran ku sudah cukup teruji dengan bau ketek, bau keringet, dan bau kaki (ku sendiri)? Lalu kenapa ada yang tega-teganya menyerang aku (dan kami semua) dengan bau itu? Cepat lah sembuh wahai sahabat. Mungkin kamu sedang masuk angin.
Dear you, yes, this is about my thanks. For ‘nina ricci’ and that laugh heaps
Aku langsung memilih blokingan paling aman di kapal nelayan itu. Tapi ternyata ga ada posisi duduk yang benar-benar aman. Di satu sisi panas, di sisi lain kebasahan, di dalam deck agak pengap. Perjalanan ini awalnya menyenangkan. Masih excited dengan pemandangan laut yang memukau. Mengarungi laut semakin jauh, gelombang nya pun mulai tidak bersahabat. Kapal bergoncang hebat. Membuat perut bergejolak. Beruntung aku adalah ‘si mata busuk’, mengambil istilah teman-teman Perjalanan 3 Wanita. Aku tipikal traveller yang mudah terlelap walau pun beberapa kali sempat terbangun dikagetkan oleh ombak yang menampar kapal.

Jalan tanah menuju kawah Ijen bisa dikategorikan kelas ringan, Jalanannya berupa tanah kering, tak ada lumpur, semak, sungai, batu-batu, yang merintangi perjalanan. Sepanjang perjalanan, disediakan 5 shelter tempat beristirahat. Semakin mendekati bibir kawah, pendakian semakin curam. Langkah pun terasa semakin berat. Tetapi, beratnya langkah dihargai dengan sajian panorama yang luar biasa indah. Serasa berada di negeri dongeng.





Apa status itu penting? Sebagian kita akan mengatakan itu penting banget dan sebagian bebas berpendapat sebaliknya. Menurutku, status itu salah satu komitmen dalam menjalin sebuah hubungan. Kalau emang ga ada yang salah dengan hubungan yang dijalani, lalu apa yang salah dengan berkomitmen untuk memiliki status.
Saat itu kepala ku mulai pusing dengan lika-liku politik dan hukum di Indonesia.