My first adventure: GOA KREO (Semarang)

Perjalanan pertama ku. Semarang, Purwodadi dan sekitarnya. Sudah sampe di Soekarno-Hatta, pesawat jam setengah lapan, Sriwijaya Air menuju Semarang.

Wew. Semarang terik banget. Bikin haus. Tapi gak bikin laper. Emang ini bukan kali pertama aku menginjakkan kaki di Semarang. Cuma, perjalanan kali ini beda. Perjalanan kali ini dalam rangka mengemban tugas menjadi presenter dalam acara Perjalanan 3 Wanita yang tayang di Trans TV setiap Selasa dan Rabu pukul 7.30 Wib menggantikan 3 presenter sebelumnya: Rimma, Salmah, dan Vidya.

Aku bersama kru, dan 2 sahabat perjalananku Dila dan Silvie langsung mulai syuting di lokasi pertama. GOA KREO namanya. Ada dua hal yang menarik di sini. Pertama, di tempat wisata ini, banyak sekali di temukan kera-kera yang hidup bebas. Tenang saja, kera-kera ini tidak mengganggu para pengunjung, asalkan kita juga tidak mengganggu mereka. Mereka senang sekali mengikuti kita berjalan dari belakang. Kedua, tidak jauh dari goa ini kita dapat menikmati air terjun yang masih alami. Bisa main-main air juga di sekitar air terjun ini. Kapan lagi kita menikmati suasana alami seperti ini. Di Jakarta khususnya, tentu jarang sekali kita temui aliran air yang masih jernih. Tapi untuk mencapai air terjun ini, kita perlu melewati jalan setapak dan tangga-tangga yang bikin pegel-pegel juga. Untuk menuju air terjunnya si kita hanya perlu menuruni tangga-tangga dan jalan-jalan tersebut, dan letih tersebut terbayar ketika kita menikmati sejuk dan segar suasana ketika kita sampai di air terjun. Yang gak enaknya, ketika kita harus pulang meninggalkan suasana indah itu dan harus menanjakkianak-anak tangga dan jalan setapak. Tentu, pegalnya bukan main. Apalagi buat yang belum biasa. Dahaga ada lagi. Untung tersedia es degan di pondokan-pondokan ketika kita sudah tiba di pintu masuk.

Sayang, tempat wisata ini, kurang perhatian dari pemerintah. Perawatan dan pemeliharaannya masih sangat kurang. Tapi kalo sekedar untuk jalan-jalan sama temen-temen, tempat wisata ini bisa jadi tempat wisata yang seru dan irit tentunya. Karena tiket masuknya yang relatif masih murah (kalo gak salah 3500, deh).

Jatuh Cinta Berjuta Rasanyaaaaaaa. Hhhaaahahhh!

Kangen

Kangen

Jatuh cinta berjuta rasa nya. Haha. Tenang saja. Aku bukan sedang punya pacar baru. Tapi yah, rasa yang berjuta itu, alhamdulillah, masih aku rasakan sampai sekarang. Sudah lebih dari setahun aku kenal dia, tepat tanggal 29 September 2007, aku memutuskan untuk menerima dia jadi pacarku. Siapa yang sangka, dia seorang taruna angkatan darat saat itu (sebutan untuk calon perwira angkatan darat). Tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa aku akan mengenal bahkan dekat dengan seorang aparat di Republik Indonesia ini. Setelah mengalami patah hati (yang juga berjuta rasa nya) dengan pacarku yang sebelumnya, akhirnya aku memutuskan untuk jatuh cinta lagi. Dan punya pacar lagi. Jujur saja awalnya tidak tertarik untuk mengenal orang dari kalangan seperti itu. Maklum, aku juga bukan orang yang lahir dari kalangan militer seperti itu. Bagiku, (maaf) mereka cuma pasukan-pasukan yang suka tembak-tembakan di hutan dengan helm kacang ijo, daun-daun di ransel, dan muka dicoreng-coreng pake arang. Padahal Indonesia kan udah merdeka dan udah gak ada perang lagi. Itu yang ada dipikiranku saat itu. Tapi kehidupan memang rupa-rupa saja jalannya. Akhirnya aku punya pacar seorang tentara dan lebih parahnya, i’m so in love with armyman. With him.

Sekedar ingin berbagi (curhat lebih tepatnya), punya pacar tentara, kita hanya nomor dua setelah aturan-aturan dari ketentaraannya itu. Lebih baik jangan bermimpi jadi ‘the princess’ kalau punya pacar tentara (jadi, kalo suatu saat pacar treat us like a princess, haha, it’s damn romantic!). Jangan pernah bermimpi untuk dijemput pulang kuliah, karena mereka gak punya waktu untuk itu. Bermimpi untuk date setiap malam minggu, mereka bisa jadi bertugas di malam itu. Bagaimana dengan kejutan jam 12 malam di hari ulang tahun kita? Boro-boro untuk face his face malam itu, bisa jadi mereka sedang latihan di hutan antah barantah, yang untuk menelepon kita pun mereka gak bisa. Pernah ngamuk-ngamuk karena pacar gak ada kabar dalam waktu yang menurut kita udah gak bisa ditolerir lagi? Rasanya udah gak perlu sekarang, karena keadaan ga akan berubah. Mereka tetap akan dengan keadaan seperti itu. Kita akan selalu jadi nomor dua setelah kewajiban-kewajiban militer itu. Bagaimana rasanya melihat teman-teman kita mengajak pacar-pacar mereka di malam reunian sementara kita tidak mengajak siapa-siapa, bukan berarti kita sedang jomblo tapi hanya karena, ya, “pacarku tentara dan sedang bertugas”. Parah lagi, pernah ngalamin masalah dengan putri Komandan? Itu menyakitkan dan lebih baik ga usah dibahas.

Perbedaan prinsip juga sering kali dialami. Aku sering ngerasain kenapa si mereka suka ngeribetin ini-itu dengan aturan-aturan yang cuma bikin repot aja. Ternyata, mereka bukan cuma latihan perang di hutan aja, tapi mereka kayanya juga diajarin perang sama pacar masing-masing. Makin sering sms an, telponan, ketemuan, makin sering perang..

Masih banyak lagi duka nya. Mungkin aku harus bikin part 2, part 3, part 4, dst untuk blogging soal dukanya menjadi pacar tentara. Tapi, apa pun harus disyukuri. Have a little faith. Mereka juga gak menginginkan ini semua. I always in faith that he dying to do the best for me, for the princess that he loves most. Punya pacar tentara bikin aku belajar banyak hal. Banyak sekali. Dari mulai istilah-istilah tentara sampai bagaimana menjadi cewek tough. Kita tidak pernah tau jalan yang ditentukan Allah swt buat kita. Perasaan jatuh cinta pun tidak bisa memilih. Dibalik itu semua, tentara juga manusia biasa. Mereka bisa nangis. Mereka bisa romantis juga. So, dont need to worry.

2 Hours Lecture

Wooffhhh.

Udah lama rasanya gak dengerin kuliah. Rasanya otak jadi agak-agak ngiung-ngiung dicekokin kuliah lagi. Seberapa lama sih aku gak ngerasain kuliah? Itung aja. Awal Februari 2008, aku, officially menyelesaikan semua kewajiban mata kuliah untuk mendapatkan sebuah gelar Sarjana Pertanian. After that, aku disibukkan dengan menyusun skripsi tentunya. Sejak itu pula otak ku kayanya ud gak sanggup untuk diajak kerja keras. Bikin skripsi, tentu saja, pengalaman luar biasa sepanjang hidup aku. Dan stelah sekian lama, akhirnya aku mendapatkan lagi kuliah dari orang yang katanya ‘paling pinter’. Hehe. Mungkin aku gak perlu ngejelasin siapa yah. Anda bisa cari yah, siapa si yang ‘paling pinter’ (versi dirinya sendiri, mungkin).

Well, pengalaman kuliah selama 2 jam, suatu kesempatan langka, dan alhamdulillah dapet banget. Apa yang disampaikan oleh ‘dosen’ tersebut sering kali bertentangan. Tapi pikir-pikir, ada benarnya. Apa si yang didapat?

It’s open my mind!

Semua perlu perencanaan yang matang. Well-plannned.

Wedding Planner

Pernah gak berpikir untuk segera menikah? Bener ga si kalo menikah itu mudah. Sederhana aja. Gak usah ambil pusing. Atau justru sebaliknya. Sulit and totally complicated. Melihat rona muka para pengantin yang berseri-seri karena bahagia sekaligus lega, siapa yang gak pengen menikah. Apalagi mereka yang sudah dianugrahi buah hati titipan Allah, what a perfect life! Tapi pernah gak berpikir dari apa yang terjadi setelah itu? Tanggung jawab. Ya, beban tanggung jawab tentu nya gak sesederhana itu. Gak sesederhana menggenggam tangan pasangan kita dan hal-hal lain yang halal kita lakukan bersama suami atau istri tercinta. Semua butuh tanggung jawab.

 

Pernah lihat suami istri yang begitu mudah nya kawin cerai? Pernah berpikir bagaimana perasaan putra-putri mereka. Memang jodoh itu Allah yang menentukan. Tapi adakah mereka yang kawin cerai itu sudah bersikap bijak, dan cerai kah jalan satu-satunya. Pernah dengar “Perceraian memang halal, tapi perbuatan yang paling dibenci Allah”? Sudah kah mereka pikir matang-matang bahwa yang dikorbankan bukan cuma dua pihak yang bercerai, tapi pihak yang hadir karena buah perilaku mereka. Putra-putri mereka.

 

Sebelumnya, maaf saya memang belum pernah menikah apalagi bercerai. Tapi saya sering menemui permasalahan-permasalahan dalam lingkungan saya. That’s why kayanya menarik juga untuk blogging tentang perceraian. Mudah-mudahan bisa jadi pembelajaran bagi saya sendiri, atau siapa saja. Siapa yang pernah mengimpikan untuk bercerai? Saya rasa tidak satu pun. There’s wedding plan but i think there’s no divorce plan. Tapi lagi-lagi, tidak semua yang kita harapkan bisa jadi kenyataan. Sering kali impian, harapan, rencana, malah jadi sebaliknya di dunia nyata.

 

Bagaimana dengan putra-putri bagi pasangan yang bercerai? Mereka bingung harus membela siapa. Harus memilih siapa. Mama, papa, mestinya satu paket. Kenapa harus pisah? Tentu itu yang tidak ada habisnya dalam pikiran mereka. Perasaan malu, kecewa, hancur, sedih, jadi satu dalam diri mereka. Bagaimana pun mereka tentu tidak ingin perpisahan itu terjadi. Mereka sayang orangtuanya tapi tak bisa menyangkal mereka pasti benci keputusan yang diambil orangtuanya. Malu rasanya, untuk mengakui kalau mereka berasal dari broken home family (sebutan untuk keluarga yang orangtuanya bercerai). Kecewa, karena orangtua yang seharusnya jadi panutan, malah mementingkan keegoisan masing-masing untuk berpisah. Hancur, siapa yang tidak hancur? It’s very nightmare but real. Damn real!  Sedih, dan kesedihan itu tak akan ada ujungnya. Bagaimana melihat orangtua temannya yang bisa tetap harmonis mesti pernikahan mereka udah hampir separuh abad. Melihat mereka spend weekend bareng, nonton DVD bareng, sharing pengalaman, semuanya dilakukan bareng keluarga. Melihat mereka yang really loves and proud with their family, while, mereka yang broken home tentunya gak ngerasain itu semua. Simple saja, dalam kehidupan sehari-hari misalnya. Berkenalan dengan orang baru, kadang orangtua bisa jadi topik untuk berkenalan. Misal, saat temen main ke rumah “hei papa mama kamu mana? kok ga keliatan?” ow no, its really hard to tell that “ya, papa mama ku tinggal terpisah. Dan pertanyaan-pertanyaan lain sejenis.

 

Apa orangtua pernah berpikir tentang itu? Simple but hard.

So, wedding plan it’s not only about arrange The wedding but also what’s next after The wedding.

To be continue..

Still feelin fresh? Fresh Graduate?

Udah berapa bulan ya? Terhitung sejak tanggal 15 mei 2008, aku dinyatakan lulus ujian sidang. Tepatnya, masih bisa dinyatakan lulus ujian sidang. Gak tau apa maksud dari kata-kata pak dosen tersebut, tapi alhamdulillah akhirnya toh aku lulus. Walaupun terseok-seok ini itu, yang penting lulus (sangat memuaskan juga penting si. hehe).  Dan hari ini, tanggal 11 Agustus 2008 (masih inget banget nih, it’s Sania Birthday, well, Happy Birthday!) almost three month i am being a charmed unemployment. Hehe. Menghibur diri ceritanya.

Hey, 3 months? Do not underestimate me. Bukannya aku gak ngapa-ngapain loh. Jangan pikir aku cuma hura-hura ini itu, ga jelas gimana. At that time, aku bener-bener ngerasa when my life began. Pusing ini itu ngadepin ujian-ujian pas sekolah (what we known as UTS, UAS) kayanya gak ada apa-apa nya. Hoho, ini ujian sebenarnya. Ujian dimana capability kita dipertanyakan. Ngerasa ‘lemot’ karena gak ngerti pelajaran-pelajaran pas kuliah, wah, manusiawi banget. This time, pelajaran yang sebenarnya. Mau gak mau, suka gak suka, rela gak rela, harus bisa, harus mampu, dan harus ngerti.

Mengikuti tips-tips dari para fresh graduates yang lain, just enjoy your time. It’s complicated , so dont make it harder. 3 bulan, 8 bulan, sampe seabad pun life needs struggle. It never ended struggle!

Posted in Oh