3 Air terjun – Bali

Sudah puas bermain di pantai-pantai yang ada di Bali, kali ini aku penasaran dengan air terjun nya.
 
Katanya, air terjun di Bali gak kalah indah dengan yang ada di pulau Jawa. Ngobrol-ngobrol dengan penduduk setempat, lokasi air terjun ini cukup jauh. Seberapa jauh? Aku belum menemukan jawabannya sampai aku benar-benar sampai di lokasi air terjun tersebut.

Ternyata, air terjun yang terletak di Kabupaten Gitgit ini hanya sekitar 45 menit dari kawasan wisata Danau Bedugul. Untuk warga Jakarta tentu waktu 45 menit bukanlah waktu yang lama. Di Jakarta, dalam peak time nya, 45 menit adalah waktu tempuh dari rumahku ke Jalan Panjang, padahal itu kurang dari 10 km.

Aku bisa menikmati keindahan 3 air terjun sekaligus dalam satu hari. Terang saja, lokasinya berdekatan. Tidak sampai sepuluh menit dari air terjun yang satu ke air terjun yang lainnya.

Aku sampai di air terjun yang pertama. Namanya air terjun campuhan. Namun, untuk sampai ke air terjun ini, aku harus berjalan kaki sekitar 1 km. Bukan jarak yang jauh buatku, karena ini untuk membayar rasa penasaran ku.

Suara gemericik air sudah mulai terdengar. Aku mempercepat langkahku. Dan sampailah aku di air terjun Campuhan. Dalam bahasa Bali Campuhan artinya ‘campur’. Seperti namanya, air terjun ini memang merupakan percampuran 2 anak sungai. Kalau sedang musim hujan, air yang mengalir bisa menjadi sangat deras.

Subhanallah, penat dan tetes peluhku seketika terganti dengan suasana indah anugrah illahi. Udara nya sejuk. Percikan air nya pun benar-benar segar. Kusempatkan untuk main-main air sebentar. Membasuh mukaku, baru kemudian melanjutkan perjalanan menuju air terjun yang kedua.

Namanya air terjun bertingkat. Lokasi sangat dekat dari air terjun Campuhan. Namanya saja bertingkat ternyata memang air terjun nya terdiri dari dua tingkat. Unik, yah.

Dan yang paling terkenal adalah air terjun Gitgit. Air terjun ini memang paling besar di antara ketiganya. Tingginya mencapai 40 meter. Kalau ku lihat, air terjun sudah dikelola dengan baik. Sudah tersedia tangga-tangga yang dibangun untuk memudahkan perjalanan menuju air terjun Gitgit ini. Dari ketiganya, aku melihat air terjun ini paling ramai dikunjungi, terutama oleh wisatawan asing. Aku bertemu dengan wisatawan dari Spanyol, Ukraina, dan I

Aku sujud di bawah air terjun Gigit-Bali

Aku sujud di bawah air terjun Gitgit-Bali

nggris di sana. Mereka terlihat sangat excited dengan air terjun Gitgit ini.

Sayang, saat itu aku tidak bawa persiapan. Kalau bawa, pasti aku sudah nyebur ke sana. Tiupan anginnya benar-benar menggoda. Airnya bening. Ning. Ning. Ning. Di pulau Jawa, belum aku temukan air terjun seperti ini. Mandi di bawah derasnya air terjun kelihatannya seru banget.

I’m very touched, enjoy the atmosphere there. Rasanya gak pengen cepat-cepat pualng. Suatu saat aku ingin ke sana lagi. Bersama orang-orang yang kusayangi. Pastinya dengan membawa perlengkapan untuk bermain-main air di sana.

Mudah-mudahan air terjun ini akan tetap alami sampai kapan pun. Udara nya akan tetap segar seperti saat ini. Sungguh Allah swt adalah sumber segala keindahan.

Advertisements

Kritik

Saya tersentak seketika ketika sedang ngobrol dengan seorang teman dan dia bilang “Dikritik aja, kok, nangis.” Apakah itu karena mental saya yang mental kerupuk? Bahkan dalam keseharian saya, saya beberapa kali lebih memilih sengaja tidak mengangkat telp dari seorang sahabat, karena setiap ngobrol dengannya akan penuh kritikan atau lebih tepatnya celaan. Saya memilih untuk menghindar daripada mental saya menjadi tambah down.

Saya sering merasa tidak dewasa dalam menghadapi kritikan. Tapi, seringkali pula saya merasa bersyukur dengan sikap saya itu. Saya pernah ngobrol dengan seorang manajer perusahaan minyak terkenal. Caranya bicara dan tutur katanya, saya bisa tahu kalo dia seorang yang pintar. Dan bermartabat. Tanpa saya sadari, dia telah memotivasi saya dalam banyak hal. Saya suka dengan caranya memberi kritik.

Saya jujur pada sahabat saya dan mengirim sms kalau saya sedang cape untuk dicela makanya saya memilih untuk tidak mengangkat telp darinya. Saya bilang, dalam waktu dekat saya banyak menerima kritik yang membuat saya merasa cukup. Lalu dia membalas dan mengatakan bahwa mereka gitu karena mereka pengen seperti saya. Sebuah kalimat positif yang berbeda. Walaupun sebenarnya saya meragukan ke sahih an kalimat itu, karena orang-orang yang mengkritik saya adalah mereka yang lebih hebat dari saya, lalu kenapa ingin seperti saya. Meragukan tapi saya menganggap itu sebuah kalimat yang positif. Kalimat positif lain yang saya dengar adalah bahwa kritik yang diberikan seseorang itu karena dia ingin Anda jadi lebih baik dan tau kalau Anda mampu.

Lika-liku sebuah kritikan. Saya menyadari kritikan itu penting untuk kemajuan diri. Tapi, cara untuk menyampaikan kritik saya rasa juga penting karena kalau salah, bisa-bisa kritik yang dimaksud tidak menjadi sebuah kritik tapi lebih seperti celaan. Kritik juga bisa membuat seseorang menjadi kuat. Jadi, tidak perlu lagi menangis untuk menghadapi kritik. Kritik merupakan hal yang positif kalau kita dapat menyikapinya dengan pikiran yang positif.

Ini hanya sebuah pesan untuk diri sendiri. 🙂

Cari muka

Cari muka sebenarnya udah naluri sejak lahir. Tapi apa sebenarnya cari muka itu perlu, segitu pentingnya kah. Cari muka bagi saya adalah istilah lain dari cari perhatian. Tapi apakah cari muka itu penting? Mungkin jawabannya ‘tergantung’.

Saya melihat sebuah tipikal cari muka yang menyiksa. Seperti yang dialami teman saya. Dia merasa malas harus cari muka di depan atasannya. Karenanya dia jarang mendapat perlakuan khusus. Cari muka sebenarnya tak akan begitu menyiksa apabila kita sudah mahir dan enjoy melakukannya. Kemampuan dan cara nya pun tentu berbeda bagi tiap orang.

Kita tentu tidak mau, dianggap suka cari muka atau kasarnya ‘penjilat’. Tapi jangan salah, banyak di antara kita yang tidak peduli dengan anggapan itu. Yang terpenting hanyalah untuk kesenangannya sendiri. Kalau sudah mendapat perhatian atasan, anggapan orang tentang dirinya bukanlah hal penting. Gak bakal makan ‘omongan orang’ juga, kan.

Ada orang yang begitu ahli untuk cari muka, sehingga apa yang dilakukannya tidak perlu menimbulkan isu miring tentang dirinya. Tapi ada juga, dengan sikap cari muka nya itu, banyak orang yang merasa risih, mencibir, bahkan sakit hati.

Cari muka sebenarnya tidak harus bermakna negatif. Ada orang yang tanpa tidak sengaja sudah mendapat perhatian khusus dari orang lain tanpa harus cari muka. Misalnya dengan sikap nya yang santun, bersahaja, menghargai, dan prestasi baik, itu sudah menarik. Tidak ada yang tersakiti, tidak ada yang harus mencibir, atau terpaksa ngomongin di belakang.

Tapi, cari muka bisa jadi bukan hanya kesalahan si pelaku. Pandangan itu bisa jadi timbul karena pikiran negatif orang-orang sekitar.

Ya, wallahualam. Semua tergantung.

Mungkin ada yang idealis dengan sikap ‘males’ seperti teman saya itu. Ada juga yang dengan tidak peduli harus menyakiti siapa dengan sikap cari muka nya itu. Ada yang dengan sempurna bersikap cari muka tanpa harus ada yang tersakiti.

Mudah-mudahan kita bisa saling mengingatkan ya.

Seawalker-Bali

Tidak harus punya keahlian khusus seperti Scuba Diving, untuk menikmati indahnya alam bawah laut. Bahkan keahlian berenang pun tidak diperlukan.

Aku menuju Santrian Beach, tepatnya di Hotel Puri Santrian, Sanur. Sebelum melakukan perjalanan bawah air, kita di brief agar aman dalam melakukan wisata tersebut.

Yang penting, kita bisa menyeimbangkan tekanan tubuh dengan bawah laut agar telinga tidak sakit. Caranya sama seperti ketika telinga terasa sakit pas naik pesawat. Menelan ludah, menggerak-gerakkan rahang atas dan bawah, atau menutup hidung lalu meniupnya. Dan disarankan untuk melakukannya sesering mungkin.

Selain itu, ketika dibawah air sebaiknya berjalan dengan melangkah. Jangan menyeret kaki. Karena pasir-pasir dapat naik dan menghalangi pandangan.

Kita diajarkan pula kode-kode dengan tangan seperti “ok, turun, naik, berlutut, trouble” dan lain-lain, karena ketika di bawah air ketika tidak bisa mendengarkan suara.

Setelah briefing dirasa cukup, aku dan teman-temanku pun bersiap-siap berganti baju. Di sediakan tempat khusus yang memadai juga handuk.

Dan perjalanan pun di mulai.

Untuk menuju ke tengah laut, aku menaiki perahu motor dan sekitar 5 menit saja, sampailah aku di sebuah kapal tempat nantinya aku akan turun ke bawah laut.

Untuk turun, aku dilengkapi sebuah helm (kaya astronot) yang beratnya mencapai 38 kg. Tapi, tenang saja, ketika di dalam air beratnya hanya mencapai 6 kg. Jadi, ketika helm sudah dipsang ke kepala, kita harus langsung masuk ke dalam air. Soal udara, para kru nya akan terus mengirimkan melalui selang yang dihubungkan ke helm, jadi, helm tidak akan penuh terisi air. Karena tekanan udara yang masuk akan menekan air yang masuk ke dalam helm.

Dan, hohohoohoh, jadi lah aku menikmati keindahan alam bawah laut.

Sebelum benar-benar sampai ke dasar laut, aku sempat mengalami trouble di kuping ku. Tapi alhamdulillah, aku bisa menyeimbangkan, dengan menutup hidungku.

Subhanallah, ikan-ikan yang ada di bawah laut sangat beragam. Warna-warni. Dan indah. Juga terumbu karangnya.

Aku berinteraksi langsung dengan ikan-ikan itu, memberi makanan dan sesekali jari ku digigit. Aku berusaha menangkap ikan-ikan itu. Tapi, ikan itu begitu lincah. Sulit kutangkap.

Di bawah laut, aku tak henti mengucap kagum dalam hati.

Waktu udah habis, kurang lebih sejam dibawah laut, terasa begitu singkat.

Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan. Membuatku semakin kagum akan kebesaran Allah swt yang maha indah.

Aku harus melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah, terima kasih Club Aqua. Terima kasih Trans TV.

Dulu, aku jatuh cinta dengan seorang taruna

Septian Hermawan Saputra

Si Ganteng 😉

Apa artinya taruna? Karang Taruna? Sejenis hewan laut? atau makanan?

Pernah, aku menemui seorang teman, aku dan teman-temanku menyebutnya dengan “pecinta taruna”. Dan bukan cuma seorang teman, tapi banyak sekali wanita di seluruh pelosok ini, (akui saja), juga mencintai taruna.

Bahkan ada di antara kalian, mungkin, punya prinsip “pacarku harus seorang taruna”.

Liat-liat di friendster, aku juga menemukan komunitas pecinta taruna. Dan sejenisnya.

Taruna, merupakan lulusan SMA yang melalui seleksi ketat (entah pake duit atau tidak), diterima di AKADEMI POLISI, AKADEMI MILITER, AKADEMI ANGKATAN LAUT, dan AKADEMI ANGKATAN UDARA dan dibentuk agar memiliki mental militer, dididik dengan cara-cara khusus, agar nantinya bisa mengabdi untuk negara jadi polisi atau tentara. (gitu kurang lebih dengan definisi yang aku bikin sendiri)

Apa yang menarik dari seorang taruna? Seragamnya kah? Saat itu aku berpikir, kenapa mau jalan-jalan aja harus pake seragam. Apa gak punya baju lain, atau gak punya sense of fashion yang ok? Terus apa?

Their tanned skin? boleh lah. Tapi, itu bukan satu-satunya ukuran kan, untuk kita jadi jatuh cinta dengan seorang taruna.

Aku pernah ngobrol dengan seorang teman “Punya kebanggaan tersendiri menjadi seorang taruna”

Lalu apa kebanggaan itu?

Yang jelas, (harus ku akui), dulu, aku pernah sangat jatuh cinta dengan seorang taruna. Karena dia pintar, baik (smua cowo pasti baik kalo ada maunya), wise, ganteng, dan membuatku (mau ga mau) selalu kepikiran dia.

Tapi, sayang, dia seorang taruna.

Begitulah, bulan-bulan awal aku punya pacar taruna, aku merasakan amat sangat banyak kendala yang aku hadapi. Terutama dengan kesibukannya. Ketika dia masih menjalani pendidikan di Akademi Militer, Magelang.

Aku semakin tak habis pikir “lalu apa yang mereka suka dari seorang taruna?”

*Sekarang, aku masih jatuh cinta dengan taruna itu, yang sekarang sedang mengabdi untuk negara sebagai seorang perwira. Semangat ya, sayang.

Menelusuri Hutan Alami di Bukit Bangkirai

Aku menyebrangi Canopy Bridge

Aku menyebrangi Canopy Bridge

Pandanganku tak pernah beralih sedikitpun menikmati pemandangan menuju Bukit Bangkirai. Bukit dan lembah di kanan kiri jalan membuatku terkesima karena betapa sebenarnya alam Indonesia itu sangat kaya. Sesekali aku melihat hutan gundul dengan sisa-sisa bekas terbakar. Adakah ini yang orang-orang maksud dengan kelakuan dari para tangan-tangan tak bertanggung jawab? Astagfirullahaladziim.

 

 

Setelah 1 jam perjalanan, kami tiba di Kawasan Bukit Bangkirai. Di sana kami disambut hangat oleh para karyawan Bukit Bangkirai ini. Hutan alami yang sengaja dipertahankan oleh Inhutani I untuk menjaga kelestarian hutan Kalimantan. Banyak sekali jenis pohon yang kami temukan di sini, yang paling menarik perhatian ku adalah pohon Bangkirai, pohon ini tinggi sekali. Kata Pak Thamrin, seorang petugas yang menemani kunjungan kami, pohon ini usianya sudah mencapai ratusan tahun.

 

Perjalanan pertama kami di Bukit Bangkirai ini menuju Canopy Bridge. Canopy Bridge ini berupa jembatan yang tingginya mencapai 30 meter dan merupakan perantara antara pohon yang satu dengan yang lain. Untuk naik ke atas, kita harus menaiki tangga kayu. Dari atas, kita bisa melihat pemandangan hutan alami di Bukit Bangkirai. Selain itu, secara ilmiah jembatan ini memudahkan kita untuk mendeteksi jenis pohon yang dilihat dari jenis daunnya. Aku dan sahabat-sahabatku semakin penasaran untuk naik ke atas. Rasa penasaran kami untuk sampai ke atas membuat kami tidak merasa lelah untuk menaiki tangga, tapi, ketika sampai di atas terasa kayu yang kami injak bergoyang-goyang. Dari ketinggian ini, kami menikmati pemandangan hutan alami dan sejuknya udara di Bukit Bangkirai. Tak sabar ingin melihat pemandangan dari sisi yang lain, aku segera menyebrangi jembatan untuk pindah ke pohon lainnya. Wew, hati-hati menyebrangi jembatannya, karena ketika dilewati, jembatan berayun lebih kencang.

 

Satu hal yang tidak boleh terlupa adalah memakai obat penolak nyamuk untuk kulit sebelum melakukan perjalanan di hutan alami ini karena nyamuk di sini sangat banyak dan baik untuk mencegah penyakit demam berdarah atau malaria.

 

Senja segera berganti malam. Kami pun harus segera keluar dari hutan sebelum langit benar-benar menjadi gelap. Dan jadilah malam itu kami menginap di penginapan yang disediakan oleh Kawasan Wisata Bukit Bangkirai karena esok hari, kami berencana untuk melakukan outbond dan melihat-lihat hutan alami ini dari sisi yang berbeda.

 

Penginapan yang disediakan berupa rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu ulin, sehingga benar-benar terasa suasana Kalimantan nya. Syukurlah penginapan di sini juga menyediakan makan malam, jadi kami tak perlu repot-repot ke Kota Balikpapan untuk makan. Sepiring nasi goreng dan telor dadar dilengkapi dengan teh manis hangat terasa cukup mengembalikan energi yang terkuras karena perjalanan hari ini.

 

­­­­           

Pagi hari setelah sarapan, kami langsung bersiap-siap ke lokasi outbond. Kami benar-benar tak sabar untuk menghadapi tantangan ini. Adrenalin ku langsung terpacu ketika melihat  rangkaian tali-tali yang menjadi rintangan yang harus kami lalui. Sebelum melalui itu semua, kita harus memakai pengaman terlebih dahulu.

 

Ada tiga jenis rintangan. Yang pertama, rintangan tiga tali. Dua tali diikatkan dari pohon ke pohon ke arah yang lebih tinggi. Di antara kedua tali tersebut dipasang kayu-kayu sehingga bentuknya seperti tangga tali yang landai Kayu-kayu tersebut lah yang akan kami lewati. Di atasnya, di pasang tali sebagai pegangan. Sekilas, terlihat sepele. Kupikir kendala yang akan dihadapi hanyalah tangga tersebut yang bergoyang-goyang ketika dilewati. Ternyata bukan hanya itu, kendala terberatnya adalah aku harus menahan keseimbangan badanku dengan memegang tali di atas nya. Kalau tali yang aku pegang lepas, sudah dijamin pasti aku akan jatuh. Jujur saja, aku merasa tanganku lemas setengah mati menahan berat badanku. Tapi, alhamdulillah, karena semangat dari teman-teman, aku berhasil melewati tantangan yang pertama.

 

Kedua, rintangan dua tali. Kebayang, kita harus meniti tali tersebut yang diameternya tidak lebih dari 5 cm. Sempat aku meragukan apa tali sekecil ini mampu menahan berat badanku. Aku jadi teringat dengan jembatan Shirataalmustaqiim yang diceritakan Al-qur’an. Untuk menuju surga kita harus mampu melewati jembatan yang besarnya sehelai rambut manusia di bagi tujuh. Astagfirullahaladzim, aku merinding dan merasa  amat kecil di dunia ini, dan besarnya kuasa Allah Swt.

 

Ketiga, flying fox. Safety diikatkan di tali, kemudian kita meluncur dari tali tersebut. Wawww. Aku teriak senang, riang. Sesampainya di bawah. Jantungku berdebar sangat kencang. Cape, hampir tak kurasa saking excited nya.

Tak jauh dari lokasi outbond tersebut, ada greenhouse yang di dalamnya terdapat tanaman-tanaman khas Kalimantan. Salah satunya adalah anggrek hitam. Bentuknya sangat unik. Bunganya seperti lidah barongsai yang berwarna hitam. Dan dari informasi yang saya dapat, di Jakarta, harga tanaman anggrek hitam ini bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Perawatan anggrek hitam. Selain anggrek hitam, yang menarik bagiku adalah anggrek tebu. Sesuai namanya, bentuknya seperti anggrek tebu. Ukurannya cukup besar.

Curhatt, buuuuu.

Dia tidak lagi mengucapkan “mimpi indah, ya, sayang” sekarang. Dia tidak mengatakan kangen lagi kecuali ditanya. Gak pernah cerita apa-apa. Gak pernah mendengar ceritaku lagi. Ketika aku bilang “aku pengen cerita, ini deh, gak sabar pengen sharing ke kamu” dia cuma bilang “nanti ya, aku lagi sibuk” sesekali dengan nada ketus. Kadang aku menunggu, mungkin nanti malam dia akan menelponku, berharap dia ingat janjinya untuk mendengar ceritaku. Tapi, tentu saja dengan alasan sibuk, cape dan ngantuk, dia tidak menghubungiku.

Huh, aku hanya bisa menelan ludah, karena jujur saja, aku malas memperdebatkan janjinya. Saking seringnya. Baginya itu tentu saja tidak penting. Dia hanya akan menganggapku tidak bisa memahami dirinya, kondisinya, kerjaannya, kalau aku menuntut hal-hal yang dia anggap sepele itu.

Aku berpikir positif mungkin ini risiko menjadi pacar tentara. Yang dia bilang, bahkan aku gak mungkin untuk menjadi nomor dua setelah ketentaraannya itu. Aku mungkin bisa jadi nomor ke seratus sekian.

Apa ada ya wanita yang seperti itu? Selalu jadi nomor sekian dalam kehidupan pasangannya. Bagi ku, wanita itu pasti wanita hebat dan luar biasa. Two thumbs up for all army’s spouse in this entire world.

Megahnya! Masjid Agung Jawa Tengah

Subhanallah, ketika aku sampai di Masjid Agung Semarang, aku benar-benar merasakan suasana modern dan megah di rumah Allah ini. Masjid ini dibangun dengan nuansa Jawa, Arab, dan Yunani, perpaduan yang benar-benar sempurna. Fasilitas yang ada di sini cukup lengkap. Di sayap kanan bangunan utama terdapat Convention Hall dan di sayap kiri terdapat Perpustakaan yang nantinya akan dipersiapkan untuk digital library. Masjid ini dilengkapi dengan Al-Husna Tower yang tingginya mencapai 99 meter. Pada lantai dasar menara ini terdapat Studio Radio Dals yang merupakan radio dakwah islam. Di lantai 2 dan 3 digunakan sebagai museum kebudayaan dan lebih spektakuler lagi di lantai 18 terdapat restoran yang dapat berputar 360 derajat. Wah, keren banget ya. Aku jadi penasaran, gimana ya rasanya makan di restoran yang berputar. Kalau ada kesempatan, aku pasti akan datang ke sana lagi. Sholat magrib dan makan malam di sana bersama sahabat-sahabatku sambil menikmati citylight di Kota Semarang.

            Masjid agung Jawa Tengah ini dibangun sejak tahun 2001 dan diresmikan pada tanggal 16 November 2006 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan menekan tombol sirine dan penandatangan replika prasasti.

            Selain untuk tempat ibadah, Masjid agung ini juga dipersiapkan untuk wisata rohani. Di sini terdapat fasilitas penginapan yang berjumlah 23 kamar dengan berbagai kelas. Sehingga, pengunjung yang ingin bermalam dapat menggunakan kamar-kamar ini.

Inginku.

Aku ingin tetap terus mempunyai mimpi.

Aku ingin tetap menulis. Dan ingin suatu saat tulisanku bermanfaat buat orang lain. Someday, aku ingin punya buku yang dibaca semua kalangan di seluruh pelosok dunia.

Aku ingin jadi istri yang baik. Yang bisa menghapus kesedihan suami dengan senyumanku. Aku akan memasakkan masakan kesukaan suami.

Aku ingin hidup saling menghargai. Dan jadi orang baik. Benar-benar baik.

whatta perfect life.

Posted in Oh

Sarjana-sarjanaku

Menyadari bahwa semakin dewasa hidup akan terasa semakin berat. Apa semua orang merasa kan itu. Mungkin hanya sebagian saja. Ada yang make it easier, tapi ada juga yang make it harder.

Melihat pengalaman yang terjadi, aku ingin berbagi dengan teman-teman ku. Sahabat-sahabatku.

Haru, senang, sedih, 22 Oktober kemaren aku menghadiri wisuda teman-teman seangkatanku. Sayang (entah beruntung atau tidak) aku sudah diwisuda beberapa bulan sebelum mereka. Mungkin sensasi yang kurasakan akan berbeda kalau kami semua wisuda bersamaan. Bersama sahabat-sahabatku. 4 tahun perjuangan yang kami lalui bersama-sama, tentu rasanya gak adil, kalo semuanya selesai begitu saja setelah wisuda.

Tapi itulah kenyataannya. Mau tidak mau, masing-masing kita akan punya jalan yang berbeda.

Medina, sahabatku sejak masih tinggal di Asrama TPB (Tingkat Persiapan Bersama), yang menjadi pembahas seminar skripsiku, memutuskan untuk menikah segera setelah wisuda Bulan Juni. Dan benar saja, kemaren aku bertemu dengannya, Subhanallah, dia sudah hamil 4 minggu. Aku terharu, tersentuh, bahagia, dan sejuta perasaan lain yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Kupegang perutnya sudah mulai terasa keras. Wuih, sungguh saat itu aku tidak mampu berkata-kata. Mudah-mudahan akan menjadi anak sehat yang sholeh atau sholehah. Amin.

Yudhi, Duta, Mega, mereka beruntung punya kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2.

Beberapa temanku yang lain sudah menemukan kantor yang dipilihnya, dan kebanyakan adalah BANK, walaupun jujur saja, aku berharap diantara mereka masih ada yang idealis untuk memajukan Pertanian Indonesia. 4 Tahun kita belajar tentang itu, dan untuk itu kan? Terutama Nunu, yang sekarang sedang meniti karirnya untuk menjadi seorang manajer di Bank Central Asia. Padahal aku melihat dia punya potensi luar biasa, terutama kalau dia mau tetap idealis dengan ilmu pertanian. Dia cerdas. Tapi, dia pasti tau rencana lain yang lebih baik. Baik untuk dirinya, keluarganya, Indonesia, bahkan mungkin dunia. Aku yakin dia punya cita-cita besar.

Rani, sekarang sudah berada di Hongkong, untuk menjadi pramugari. Aku sempat bertemu dengannya di YM, dia bilang, dia gak nyaman karena harus dandan habis-habisan dan kesusahan memakai highheels. Hehe. Tapi, aku yakin dia pasti bisa karena semua wanita pasti bisa se MACHO apa pun dirinya.

Lia, Trio Kendal yang lulus dengan predikat Cum Laude mengubah mimpinya untuk mengadu nasib di Jakarta, karena dia ingin segera menikah dengan Angga, jadi dia akan tinggal di Kendal atau Semarang, kota asalnya. Kalau gitu ditunggu undangannya ya li.

Ali, lagi persiapan untuk S2 ke turki, katanya.

Pretty, Krishna, teman-teman seperjuanganku, yang sekarang jadi teman sekantor juga di sebuah Bank besar di Indonesia.

Mita, lulusan terbaik Manajemen Agribisnis sekarang bekerja di sebuah perusahaan yang memproduksi produk kecantikan.

Sukses ya, teman-teman. Keep in touch. Dan ditunggu terus ceritanya. Nama lain, akan segera aku update.

Posted in Oh

Melaksanakan Sholat Dzuhur di Masjid Kuno Rambitan, Suku Sasak

Namanya Masjid Kuno Rambitan. Kuno. Benar-benar Kuno. Aku menaiki beberapa anak tangga menuju Masjid Kuno yang terletak di Desa Rambitan, Suku Sasak. Melihat kondisi Desa nya pun, terasa sekali terik matahari yang menyengat. Terasa kering dan gersang sekali. Ternyata benar, hujan sudah lama tidak membasahi desa itu.

Hal pertama yang aku lihat adalah sebuah lobang besar yang mirip sumur, dan terdapat 5 anak tangga untuk turun ke dalamnya. Ternyata benar, lobang tersebut dulunya merupakan tempat wudhu para jamaah yang ingin sholat di Masjid tersebut. 5 anak tangga itu maknanya seperti rukun islam, begitu kata seorang pemuda setempat yang menemani kunjungan ku kala itu.
Melihat bangunan mesjidnya yang tidak terlalu besar itu, mataku langsung tertuju pada pintu masuknya yang dibuat rendah, sama hal nya seperti gerbang pagar yang membuat ku harus merunduk untuk masuk ke dalam nya. Artinya, agar para jamaah yang akan sholat saling menghargai jamaah lain yang telah sampai terlebih dahulu di dalam Masjid dan telah duduk di dalam masjid. Selain itu, maknanya adalah mengingatkan manusia akan kematian. Manusia akan masuk ke liang lahat. Selain itu, aku mendapat informasi bahwa pintu masuk itu berada di sebelah Selatan. Karena ketika kita nanti di kuburkan, kita akan dimasukkan dari arah selatan. Aku agak merinding mendapatkan informasi itu, dan membuatku teringat bahwa aku belum juga melakukan ibadah sholat zuhur, padahal saat itu sudah hampir jam tiga waktu indonesia tengah.

Sebelum masuk ke Masjid, aku minta izin untuk mengambil air wudhu terlebih dahulu. Aku harus ke rumah salah satu warga untuk mengambil air karena ternyata di Masjid itu tidak lagi tersedia air untuk berwudhu. Sejenak aku merasa tak tega untuk membasuh muka ku karena ternyata, fasilitas air belum masuk. Atau mungkin mereka memang sengaja tidak menerima teknologi saluran air dari pemerintah.

Allahuakbar, aku menggemakan takbir dalam hatiku. Melaksanakan Sholat Zuhur di Sebuah Masjid Kuno, Desa Rambitan.

Di dalam masjid ini, semua strukturnya masi asli. Lantainya masi terbuat dari tanah keras. Tidak ada penerangan berupa listrik. Terdapat pula sebuah mihrab dan bedug yang sangat tua. Terdapat empat Soko Guru yang terbuat dari hati kulit pisang. Masjid tersebut tidak mengumandangkan adzan setiap waktu sholat tiba. Hanya sekali seminggu, hari Kamis sore, untuk mengingatkan warga bahwa keesokan harinya adalah hari jumat, waktunya untuk melaksanakan ibadah jumat.

Selesai mendapatkan sejumlah informasi tentang Masjid Kuno ini, aku diajak ke sebuah rumah Warga. Di sana terdapat sebuah Al-quran tua yang merupakan hasil tulisan tangan. Subhanallah, betapa para leluhur kita begitu gigih memuliakan Al-quran.

Kain sarung, Suku Sasak

Aku tau, yang aku berikan mungkin tak seberapa. Harganya juga tidak mahal. Hanya sehelai kain sarung untuk sholat yang aku beli ketika aku berkunjung pemukiman suku Sasak, Desa Sade, Lombok. Mungkin itu barang yang pertama kali aku berikan untuknya.
Memang aku sebagai anak belum bisa memberikan apa-apa. Aku tau beliau juga tidak mengharapkannya.
Tapi, aku senang bisa memberikannya untuk beliau. Syukur, kalau bisa dimanfaatkan untuknya. Mungkin untuk sholat. Ketika aku memberikan kain itu, beliau langsung terharu dan menitikkan air mata. Ia langsung menciumku, dan mengucapkan terima kasih. Aku merasakan lagi kasih sayang bapak untuk anaknya. Yang dulu sempat hilang.

Mungkin benar, orang-orang bilang. Kasih sayang orang tua kepada anaknya gak akan pernah hilang. Se ‘parah’ apa pun keadaannya.

Posted in Oh

Tentang Salah dan Orang Baik

Assalamualaikum wr wb.
Sebelumnya, aku mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 h. Dengan segala kerendahan hati, mohon maaf segala salah dan khilaf. MUdah-mudahan di hari yang fitrah ini kita bisa saling memaafkan dan kembali fitrah pula. aminn.

Hidup berdampingan maka setiap orang pasti pernah bikin kesalahan. Salah besar maupun hal yang sepele. Begitulah kita semua harus berjiwa besar untuk memaafkan. Dan merendahkan hati untuk meminta maaf.

Salah. Kesalahan. Karena kita hidup tidak sendirian maka sering kali kesalahan itu menyangkut orang lain. Tidak jarang kita menyalahkan orang lain. Pernah dimarahin atasan di kantor? Sadari atau enggak, sering kali kita ngedumel dalam hati untuk membela diri. Merasa apa yang dilakukan sudah benar. Padahal pernahkah kita sadari bahwa kesalahan itu sebenarnya belum tentu salah atasan. Bisa jadi kita yang kerja nya asal-asalan atau tidak melakukan sesuai perintah. Begitu juga sebaliknya. Ketika seorang atasan memarahi pegawainya, pernahkah para atasan itu menyadari bahwa kesalahan itu belum tentu sepenuhnya salah pegawai tapi bisa jadi atasannya yang tidak memberikan perintah tugas dengan jelas, sehingga pegawai tidak cukup mengeti untuk mengerjakannya.

Aku pernah melihat di angkot, seorang ibu baru saja menjemput anaknya pulang sekolah. Di angkot, si ibu memarahi anaknya sampai-sampai, mau tidak mau, aku dan (tentu saja) seisi angkot mendengar si ibu marah. Bahkan si ibu sempat berbicara dengan logat betawinya, ke arah ku dan mengatakan “Ini anak, bego banget. Nilainya gak jauh-jauh dari angka 3, 4, 5. Di suruh belajar kagak mau.” Aku hanya setengah tersenyum pahit, tidak tau mau merespon apa. Dalam hati, aku miris. Anak sendiri dikatain bego. Apalagi kata-kata bego nya dengan penekanan dan seakan sepenuh hati (walaupun rasanya sulit dipercaya kalau ia mengatakannya dengan sepenuh hati). Aku belum pernah merasakan gimana susahnya nanti mendidik anak. Tapi, mendengarnya saja aku udah gak tega. Ini tentu tidak lepas dari sebuah kesalahan. Menyalahkan. Si ibu menyalahkan anaknya yang ‘bego’, padahal pernahkah ibunya menyadari, mungkin ada yang salah dengan cara si ibu mendidik anak? Atau ada yang salah dengan hal-hal lainnya, seperti sistem pendidikan di sekolahnya. Entahlah, tapi melihat kejadian itu, aku menyadari bahwa kesalahan itu bisa jadi bukan karena satu pihak. Bisa dua atau bahkan lebih dari dua pihak. Aku percaya pada dasarnya semua orang itu baik dan bisa jadi benar.

Hal yang sederhana saja. Ketika menyetir mobil dalam jalanan yang padat, dan pintu samping mobil kebaret motor. Kita maki-maki pengendara motor itu setengah mati. Tidak peduli apa kita sedang berada pada jalur yang salah. Dalam hati, pengendara motor juga ngedumel “Ni mobil, blagu bener gak mau minggir.” Begitulah yang terjadi. KIta sering kali, tanpa kita sadari menyalahkan orang lain. Tanpa melihat siapa sebenarnya yang benar-benar salah.

Banyak lagi kejadian yang gak kita sadari sebelumnya. Mungkin tidak ada habisnya kesalahan yang dibuat oleh orang lain. Tapi, ada baiknya kita meredamkan emosi, menghapus dendam, dan berhenti menyalahkan orang lain. Banyak mengingat kesalahan yang sebenarnya kitalah penyebabnya. Renungi saja. Berapa sebenarnya salah, khilaf dan dosa yang sudah kita buat. Kalau kita sudah sibuk menghitung2nya, maka kita tidak ada waktu lagi mngurusi kesalahan, kekhilafan, dan aib orang lain. Bukan kah itu hal yang baik? Setuju atau tidak, aku percaya, kita semua orang BAIK.