Tentang Salah dan Orang Baik

Assalamualaikum wr wb.
Sebelumnya, aku mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 h. Dengan segala kerendahan hati, mohon maaf segala salah dan khilaf. MUdah-mudahan di hari yang fitrah ini kita bisa saling memaafkan dan kembali fitrah pula. aminn.

Hidup berdampingan maka setiap orang pasti pernah bikin kesalahan. Salah besar maupun hal yang sepele. Begitulah kita semua harus berjiwa besar untuk memaafkan. Dan merendahkan hati untuk meminta maaf.

Salah. Kesalahan. Karena kita hidup tidak sendirian maka sering kali kesalahan itu menyangkut orang lain. Tidak jarang kita menyalahkan orang lain. Pernah dimarahin atasan di kantor? Sadari atau enggak, sering kali kita ngedumel dalam hati untuk membela diri. Merasa apa yang dilakukan sudah benar. Padahal pernahkah kita sadari bahwa kesalahan itu sebenarnya belum tentu salah atasan. Bisa jadi kita yang kerja nya asal-asalan atau tidak melakukan sesuai perintah. Begitu juga sebaliknya. Ketika seorang atasan memarahi pegawainya, pernahkah para atasan itu menyadari bahwa kesalahan itu belum tentu sepenuhnya salah pegawai tapi bisa jadi atasannya yang tidak memberikan perintah tugas dengan jelas, sehingga pegawai tidak cukup mengeti untuk mengerjakannya.

Aku pernah melihat di angkot, seorang ibu baru saja menjemput anaknya pulang sekolah. Di angkot, si ibu memarahi anaknya sampai-sampai, mau tidak mau, aku dan (tentu saja) seisi angkot mendengar si ibu marah. Bahkan si ibu sempat berbicara dengan logat betawinya, ke arah ku dan mengatakan “Ini anak, bego banget. Nilainya gak jauh-jauh dari angka 3, 4, 5. Di suruh belajar kagak mau.” Aku hanya setengah tersenyum pahit, tidak tau mau merespon apa. Dalam hati, aku miris. Anak sendiri dikatain bego. Apalagi kata-kata bego nya dengan penekanan dan seakan sepenuh hati (walaupun rasanya sulit dipercaya kalau ia mengatakannya dengan sepenuh hati). Aku belum pernah merasakan gimana susahnya nanti mendidik anak. Tapi, mendengarnya saja aku udah gak tega. Ini tentu tidak lepas dari sebuah kesalahan. Menyalahkan. Si ibu menyalahkan anaknya yang ‘bego’, padahal pernahkah ibunya menyadari, mungkin ada yang salah dengan cara si ibu mendidik anak? Atau ada yang salah dengan hal-hal lainnya, seperti sistem pendidikan di sekolahnya. Entahlah, tapi melihat kejadian itu, aku menyadari bahwa kesalahan itu bisa jadi bukan karena satu pihak. Bisa dua atau bahkan lebih dari dua pihak. Aku percaya pada dasarnya semua orang itu baik dan bisa jadi benar.

Hal yang sederhana saja. Ketika menyetir mobil dalam jalanan yang padat, dan pintu samping mobil kebaret motor. Kita maki-maki pengendara motor itu setengah mati. Tidak peduli apa kita sedang berada pada jalur yang salah. Dalam hati, pengendara motor juga ngedumel “Ni mobil, blagu bener gak mau minggir.” Begitulah yang terjadi. KIta sering kali, tanpa kita sadari menyalahkan orang lain. Tanpa melihat siapa sebenarnya yang benar-benar salah.

Banyak lagi kejadian yang gak kita sadari sebelumnya. Mungkin tidak ada habisnya kesalahan yang dibuat oleh orang lain. Tapi, ada baiknya kita meredamkan emosi, menghapus dendam, dan berhenti menyalahkan orang lain. Banyak mengingat kesalahan yang sebenarnya kitalah penyebabnya. Renungi saja. Berapa sebenarnya salah, khilaf dan dosa yang sudah kita buat. Kalau kita sudah sibuk menghitung2nya, maka kita tidak ada waktu lagi mngurusi kesalahan, kekhilafan, dan aib orang lain. Bukan kah itu hal yang baik? Setuju atau tidak, aku percaya, kita semua orang BAIK.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s