Menelusuri Hutan Alami di Bukit Bangkirai

Aku menyebrangi Canopy Bridge

Aku menyebrangi Canopy Bridge

Pandanganku tak pernah beralih sedikitpun menikmati pemandangan menuju Bukit Bangkirai. Bukit dan lembah di kanan kiri jalan membuatku terkesima karena betapa sebenarnya alam Indonesia itu sangat kaya. Sesekali aku melihat hutan gundul dengan sisa-sisa bekas terbakar. Adakah ini yang orang-orang maksud dengan kelakuan dari para tangan-tangan tak bertanggung jawab? Astagfirullahaladziim.

 

 

Setelah 1 jam perjalanan, kami tiba di Kawasan Bukit Bangkirai. Di sana kami disambut hangat oleh para karyawan Bukit Bangkirai ini. Hutan alami yang sengaja dipertahankan oleh Inhutani I untuk menjaga kelestarian hutan Kalimantan. Banyak sekali jenis pohon yang kami temukan di sini, yang paling menarik perhatian ku adalah pohon Bangkirai, pohon ini tinggi sekali. Kata Pak Thamrin, seorang petugas yang menemani kunjungan kami, pohon ini usianya sudah mencapai ratusan tahun.

 

Perjalanan pertama kami di Bukit Bangkirai ini menuju Canopy Bridge. Canopy Bridge ini berupa jembatan yang tingginya mencapai 30 meter dan merupakan perantara antara pohon yang satu dengan yang lain. Untuk naik ke atas, kita harus menaiki tangga kayu. Dari atas, kita bisa melihat pemandangan hutan alami di Bukit Bangkirai. Selain itu, secara ilmiah jembatan ini memudahkan kita untuk mendeteksi jenis pohon yang dilihat dari jenis daunnya. Aku dan sahabat-sahabatku semakin penasaran untuk naik ke atas. Rasa penasaran kami untuk sampai ke atas membuat kami tidak merasa lelah untuk menaiki tangga, tapi, ketika sampai di atas terasa kayu yang kami injak bergoyang-goyang. Dari ketinggian ini, kami menikmati pemandangan hutan alami dan sejuknya udara di Bukit Bangkirai. Tak sabar ingin melihat pemandangan dari sisi yang lain, aku segera menyebrangi jembatan untuk pindah ke pohon lainnya. Wew, hati-hati menyebrangi jembatannya, karena ketika dilewati, jembatan berayun lebih kencang.

 

Satu hal yang tidak boleh terlupa adalah memakai obat penolak nyamuk untuk kulit sebelum melakukan perjalanan di hutan alami ini karena nyamuk di sini sangat banyak dan baik untuk mencegah penyakit demam berdarah atau malaria.

 

Senja segera berganti malam. Kami pun harus segera keluar dari hutan sebelum langit benar-benar menjadi gelap. Dan jadilah malam itu kami menginap di penginapan yang disediakan oleh Kawasan Wisata Bukit Bangkirai karena esok hari, kami berencana untuk melakukan outbond dan melihat-lihat hutan alami ini dari sisi yang berbeda.

 

Penginapan yang disediakan berupa rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu ulin, sehingga benar-benar terasa suasana Kalimantan nya. Syukurlah penginapan di sini juga menyediakan makan malam, jadi kami tak perlu repot-repot ke Kota Balikpapan untuk makan. Sepiring nasi goreng dan telor dadar dilengkapi dengan teh manis hangat terasa cukup mengembalikan energi yang terkuras karena perjalanan hari ini.

 

­­­­           

Pagi hari setelah sarapan, kami langsung bersiap-siap ke lokasi outbond. Kami benar-benar tak sabar untuk menghadapi tantangan ini. Adrenalin ku langsung terpacu ketika melihat  rangkaian tali-tali yang menjadi rintangan yang harus kami lalui. Sebelum melalui itu semua, kita harus memakai pengaman terlebih dahulu.

 

Ada tiga jenis rintangan. Yang pertama, rintangan tiga tali. Dua tali diikatkan dari pohon ke pohon ke arah yang lebih tinggi. Di antara kedua tali tersebut dipasang kayu-kayu sehingga bentuknya seperti tangga tali yang landai Kayu-kayu tersebut lah yang akan kami lewati. Di atasnya, di pasang tali sebagai pegangan. Sekilas, terlihat sepele. Kupikir kendala yang akan dihadapi hanyalah tangga tersebut yang bergoyang-goyang ketika dilewati. Ternyata bukan hanya itu, kendala terberatnya adalah aku harus menahan keseimbangan badanku dengan memegang tali di atas nya. Kalau tali yang aku pegang lepas, sudah dijamin pasti aku akan jatuh. Jujur saja, aku merasa tanganku lemas setengah mati menahan berat badanku. Tapi, alhamdulillah, karena semangat dari teman-teman, aku berhasil melewati tantangan yang pertama.

 

Kedua, rintangan dua tali. Kebayang, kita harus meniti tali tersebut yang diameternya tidak lebih dari 5 cm. Sempat aku meragukan apa tali sekecil ini mampu menahan berat badanku. Aku jadi teringat dengan jembatan Shirataalmustaqiim yang diceritakan Al-qur’an. Untuk menuju surga kita harus mampu melewati jembatan yang besarnya sehelai rambut manusia di bagi tujuh. Astagfirullahaladzim, aku merinding dan merasa  amat kecil di dunia ini, dan besarnya kuasa Allah Swt.

 

Ketiga, flying fox. Safety diikatkan di tali, kemudian kita meluncur dari tali tersebut. Wawww. Aku teriak senang, riang. Sesampainya di bawah. Jantungku berdebar sangat kencang. Cape, hampir tak kurasa saking excited nya.

Tak jauh dari lokasi outbond tersebut, ada greenhouse yang di dalamnya terdapat tanaman-tanaman khas Kalimantan. Salah satunya adalah anggrek hitam. Bentuknya sangat unik. Bunganya seperti lidah barongsai yang berwarna hitam. Dan dari informasi yang saya dapat, di Jakarta, harga tanaman anggrek hitam ini bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Perawatan anggrek hitam. Selain anggrek hitam, yang menarik bagiku adalah anggrek tebu. Sesuai namanya, bentuknya seperti anggrek tebu. Ukurannya cukup besar.

One thought on “Menelusuri Hutan Alami di Bukit Bangkirai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s