WORST Birthday

Huuuaaaa,, aku ingin hari ini segera berakhir! Ya, hari ini hari ulangtahunku yang ke 23. Hari yang sama sekali gak aku nanti2kan sebenarnya. I dont wanna getting older! Dan benar saja, hari ini berlalu dengan, dengan tidak begitu baik.

Terhitung sejak 00:01, 28 November 2008, mata ku sudah mulai sesak (mata kok sesak ya??) menahan air mata. Hari ini begitu ribet. bet. bettttt! Bukan karena aku terlalu sibuk, tapi kondisi nya yang ribet. Menyambut tanggal 28 November itu (menyambut?? huah, aku gak menyambut sebenarnya) udah diawali dengan kondisi yang gak enak. Aku terjebak dalam suatu urusan yang membuat ku ingin sekali tidur. Tapi gak bisa. Then, yang paling parah adalah, orang yang mengaku mencintai dengan sangat, sangat, melupakan ulangtahun ku. Benar-benar sulit dipercaya, padahal, aku sama sekali gak overexpected kok menurutku, gak harus dia memberikan kado apalagi surprise party. Aku hanya berharap dia bisa mengucapkan Happy Birthday berikut wish di dalam nya. Dan hal seperti itu pun aku gak akan memaksa jika dia sedang bersembunyi di dalam hutan atau di medan perang. Dia hanya sedang makan nasi goreng saat itu. Dan dia lupa. Apa keinginanku terlalu sulit dan muluk ya? Ya, mungkin terlalu sulit untuk orang se ‘autis’ dia. Sudahlah ga usah dibahas.copy-of-dsc01411

Dan hari ini berakhir dengan sama menyedihkannya ketika hari ini dimulai. Tapi, untunglah akan segera berakhir. Mudah-mudahan esok lebih baik.

However, gak semuanya hari ini buruk. Aku senang sekali, beberapa teman ku inget ulangtahunku. Termasuk teman-teman yang sudah mengirim SMS sebelum jam 12 tengah malam. Bahkan sebagian diantara nya, merupakan teman-teman lama yang gak aku sangka-sangka sebelumnya. Gak sedikit juga si yang lupa atau gak peduli, bagiku gak masalah, today isn’t even big day! Tapi, seringkali beberapa telp miss dari HP ku. Karena seperti yang aku bilang, hari ini memang hari yang ribet.

Aku juga senang karena facebook dan friendster ku ramai dengan birthday wish!! Makasih yah, love u all 😀

Hari ini berlalu dengan berbagai masalah yang mengiringinya. Dan mudah-mudahan dapat selesai satu per satu. Makasih buat NanaNini, yang menemaniku hari ini, berikut surprise rolltart nya.

Advertisements

Kerajinan Gerabah, Lombok

Bikin Gerabah

Bikin Gerabah

Sekitar setengah jam dari Kota Lombok, aku menuju ke Kecamatan Banyumulek, Lombok Barat. Di sana lah banyak terdapat para pengrajin gerabah khas Lombok. Aku berjalan kaki melewati tumpukan jerami, menuju langsung ke rumah salah satu penduduk yang sedang membuat gerabah. Di sana, aku mengetahui proses pembuatannya dari mulai pencampuran tanah liat dengan pasir dan air, kemudian membentuknya, mengeringkan, membakarnya, dan terakhir menghiasnya. Untuk mempercantiknya, gerabah tersebut dapat dicat warna-warni, dianyam, dilukis, atau ditempel dengan kulit telur. Ternyata, bukan cuma aku yang tertarik dengan kerajinan gerabah ini. Banyak turis-turis mancanegara yang mengunjungi desa ini untuk melihat proses pembuatan gerabah.

Setelah mengamati proses pembuatannya, aku menghampiri salah satu pengrajin yang sedang melakukan finishing touch pada gerabah itu. Mereka sedang menghias gerabah-gerabah sesuai pesanan. 

Pengrajin yang sedang menghias gerabah, dengan baik hati mengajariku. Walaupun jadinya hancur, tapi aku senang karena aku bisa melukis nama ku di gerabah yang berbentuk piringan itu. Hasilnya, boleh aku bawa pulang. Beruntungnya, aku dan yang lain dibungkusin oleh2 gerabah 🙂

 

Ini dia gerabah yang ku hias. Bagus kan *narsis*

 

Aku sempatkan untuk mampir ke sebuah Artshop. Tempat gerabah-gerabah itu dijual. Hasil nya bermacam2. Gerabah2 itu ada yang berupa guci (tempat menyimpan air), lampu hias, peralatan makam, hiasan dinding, tempat lilin, dan lain-lain. Harga nya pun cukup terjangkau. Paling murah ada yang Rp 5000an (tatakan gelas) sampai 80ribu an (lampu hias). Murah yah, bahkan harga nya bisa lebih murah lagi kalau ditawar. Selain di jual di artshop, gerabah-gerabah ini juga bisa dipesan sesuai dengan yang diinginkan. Sebagian ada pula yang di kirim ke Bali atau pulau Jawa. Tapi, sayang, sekarang ini, permintaannya sudah semakin menurun. Maka tak jarang, para penjual, menjual murah gerabah-gerabah cantik itu.

Kebiasaan memerintah

Enak ya, kalau apa-apa tinggal perintah. Tinggal perintah, semuanya beres! Seolah punya kuasa. Bukan tuhan kok. Not even president!

  1. Mau kirim SMS dan telpon temen nya tinggal perintah.
  2. Mau pergi-pergi tinggal minta anter supir.
  3. Gak ada yang anter tinggal perintah yang laen.
  4. Mau ngomelin supir, minta orang lain yang ngomelin *lah, yang ngomel siapa??*
  5. Kurang duit tinggal minta.
  6. Keinginan gak kesampaian tinggal ngomel.
  7. Mau jalan-jalan gak ada temen, tinggal perintah buat nemenin.
  8. Mau beresin lemari (pakaian sendiri) tinggal perintah
  9. Kalo kerjaan orang yang diperintah gak beres, tinggal ngomel. *kenapa ga kerjain aja ndiri*
  10. Mau ngelap kaca kamar sendiri tinggal perintah
  11. Buat ngasih perintah ke pembantu, tinggal perintah
  12. Gak diturutin keinginannya tinggal ngomel
  13. Kesel, tinggal maki-maki
  14. Ngambil HP yang ditinggal di lantai bawah mau di bawa ke atas, tinggal treak
  15. Mau kasi masukan, malah diusir dari rumah

Tapi, emang iya, kebiasaan memerintah itu segalanya? Katanya si, duit itu segalanya. Kalau duit aja tinggal minta, *gak perlu peras keringat, banting tulang* Bah, senang kali hidupnya!

Tapi, bagaimana dengan ini? KEBIASAAN untuk MANDIRI

  1. Kalo mau SMS atau telpon, mending sendiri. Lah HP, HP sendiri. Kalo ngetik SMS sendiri, yah, lebih enak lah. Kita bisa menata sendiri kalimatnya, dan pesan yang ingin disampaikan bisa sesuai dengan maksud dan tujuan. Mau nelpon? Ya, mending nelpon sendiri, masa mau nelpon pacar minta orang lain yang nelponin.
  2. Mau pergi kemana2 mending sendiri. Kalau sama supir, kudu gaji supir, bayarin makan supir, harus ngerasa kasian sama supir kalo kecapean. Kalo sendiri, kan, yah, cape sendiri. Yang susah, cukup diri sendiri.
  3. Gak ada yang anter, ya nyetir sendiri. Atau naek angkot sekalian. Naek Busway. Naek sepeda *dalam rangka mengurangi Global Warming*, atau yah, ga usah pergi!
  4. Mau ngomel, ya, ngomel aja. Atau diem aja, gak usah ngomel, sing sabar, daripada harus ngorbanin orang lain yang gak salah apa-apa.
  5. Kurang duit, ya, cari duit. Kalo ga bisa cari duit, ya syukuri aja yang ada *tetep ikhtiar dan berdoa*. Manage yang ada dengan bijak. Gak ada yang mau jadi ‘sapi perah’, dan duit itu gak tinggal metik dari pohon, kan?
  6. Kalo keinginan gak kesampaian, introspeksi diri. Sabar, dan tetep usaha sebaik yang kita bisa. *Pasrah 😛 *
  7. Mau jalan-jalan gak ada temen, ya, jalan ndiri. Kalau males, ya, ndak usah jalan, toh.
  8. Mau beresin lemari, wah, mending sendiri. Kalau belum mood, tunggu mood ajah! Tar malah ribet, baju ini dimana, celana yang ini di mana, kalo orang lain yang beresin. Sekalian, biar tau juga, isi lemari udah banyak yang gak penting jadi bisa dipisah2in, buat disumbangin atau dibuang (ups!), atau justru udah kebanyakan baju, sampe-sampe ada baju yang belum pernah dipake, jadi bisa ngerem juga kalau mau blanja macem2.
  9. Karena, selagi bisa, semua nya dikerjain sendiri, gak perlu ngomel2 sama orang lain. Kalau ada yang gak sesuai, yah risiko tanggung sendiri. Silakan ngomel sama diri sendiri! 😛
  10. Ngelap kaca? Pekerjaan yang amat sangat sederhana. Why dont you do it yourself.
  11. Kebiasaan memerintah? yah, perintah lah pembantu Anda sendiri. Kenapa mau kasi perintah aja harus perintah orang lain.
  12. Gak semua yang kita inginkan itu, harus kesampean. Allah pasti punya maksud lain dibalik itu semua. Belajar lebih ikhlas 🙂
  13. Kesel, menangislah. Then u better smile 🙂
  14. Ngambil HP dari lantai bawah ke atas? Pocket ur own HP. *Irit suara, bikin haus*
  15. Di kritik, kalo gak suka, masuk kuping kanan, kluar kuping kiri. Gak selamanya kritik itu menjatuhkan. Think positive! Bersabarlah,,

Sederhana, kan. Tapi emang gak mudah. Keep fightin’.. *frustated*

Coklatnya meleleh

Alammak, mantaaap!
Alammak, mantaaap!

Hah? Rp 62.000 (agak norak, untung dibayarin :surprise: )  Haagendazs, disudut Plaza Senayan, sambil menunggu ayah ku pangkas rambut, sekedar menebak pesanan apa yang akan kupesan, akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah nama ‘brownie chocolate explosion’

Gak lama, datanglah 2 scoop ice cream (belgium chocolate and strawberry cheesecake) dilengkapi dadu-dadu brownies di siram sirup coklat.. Rasanya benar-benar mantap. Coklatnya juara! Sampe kebawa mimpi. Brownies dan siraman sirup coklatnya masih terasa hangat dipadukan dengan rasa eskrim sungguhan (aku pernah ngerasain eskrim-eskriman soalnya 😉 ) It taste was so perfect. Rich and smooth!
Biar ga eneg, penyajian dilengkapi free flow mineral water.
Emang harga juga gak boong kali ya. Coklat nya pasti kualitas super. No wonder, di situ rame yang beli. Take home atau sambil santai di sana.
Tapi, dengan harga segitu, worth ga ya, buat makan eskrim doang. Walah, harus punya penghasilan berapa untuk bayar lifestyle semacam itu?
*kambuh ngiritnya*
Akhirnya, Dinna kembali ke alam nyata :mrgreen:

Duren Medan

Makan Pulut Duren

Makan Pulut Duren

Katanya, kalo ke Medan kudu banget makan duren. Waha! Itu kesukaanku. Jadi, karena kebetulan ada waktu luang ditambah ada guide baik hati, Wina dan Yudi, yang nemenin jalan-jalan keliling Medan, jadilah aku dan silvi menyantap duren pada kesempatan itu. Jualannya berupa kaki lima. Tapi, yang beli, rame bukan main. Untung abang dan kakak penjual nya cekatan melayani pembeli. Letaknya di depan Kampus USU (Universitas Sumatra Utara), gak susah kan mencarinya.

Mmmm,, lezattt. Penyajiannya agak beda dari biasanya. Menu yang tersedia bermacam-macam. Ada kolak duren, es duren, dan lain-lain aku gak hafal. Karena saat itu aku memesan pulut duren, jadi, menu yang disajikan adalah semangkok pulut duren yang isinya 2 butir duren Medan (sayang, cuma dua ;P), segenggam pulut (pulut tau kan, terbuat dari ketan), es, kemudian disiram dengan sirup caramel. Mmm,,, Gimana,  mupeng yaaa.. 😀

Sebagian orang, sukaaaaa banget sama duren. Ada yang sanggup ngabisin satu bahkan dua buah duren dalam waktu singkat (a.k.a Gerry). Ada juga yang bisa sakit hati kalo gak kebagian duren. Tapi, dibalik sejubel peminatnya, gak sedikit juga loh, orang yang anti banget sama duren. Sebagai penggemar duren, aku sampe gak habis pikir, kok bisa gak suka sama duren. Itu kan salah satu kenikmatan dunia. Hehehhh,, Tapi, begitulah kenyataannya. Ada yang bisa sampe pusing, muntah, mual, keringetan, hanya dengan mencium bau duren. Ada juga yang sampe marah-marah (a.k.a Acil).

Itulah unik nya duren. Ada yang tergila-gila, tapi disisi lain ada yang membenci nya mati-matian. Hal serupa juga terjadi dengan Dewi Persik. Banyak yang benci, nyela dia, tapi sebenarnya gak sedikit yang nge fans banget sama si Goyang Gergaji itu (lah, kok ngomongin Dewi Persik?). Mungkin juga hal yang serupa terjadi dengan diri kita, yah 🙂

Duren Medan mantep lah! Kunjungan ku ke Kota Medan jadi tambah lengkap rasanya. Tapi, menurut ku, Duren Montong masih juara. Dagingnya tebel, bijinya kecil pula.

Tapi, mau montong, Medan, Bangkok, atau apalah namanya, durian apa aja i love ’em all. Tapi kalo permen duren, gak ah!

Well, ini kuliner yang menyenangkan. Makasih buat Wina dan Yudi!

Semoga sukses, sayang!

letda-czi-septian-hermawan-saputraSurat Perintah untuknya sudah turun. Sekarang resmi menjadi Danton III, Kompi B Batalyon Zeni Tempur 3/Yudha Wyogrha, Kodam III Siliwangi.

Di sini lah awal karir nya dimulai. Mudah-mudahan menjadi awal yang baik untuk nya. Sukses ya sayang.. Jangan lupa untuk terus memegang teguh integritas tinggi, ok.

Aku doain kamu terus di sini. Yang terbaik buat kamu. Raih cita-cita sebaik yang kamu mampu.

Bismillahirrohmannirrohiiimm,,,

We meet again!

(left)Ori.Mya.Zia.Dilla.Yaya.Dinna.Prisil.Aldo(right)

(left)Ori.Mya.Zia.Dilla.Yaya.Dinna.Prisil.Aldo(right)

Setelah sekian lama, lama banget malah, akhirnya ketemu lagi dengan teman-teman SMP (SMP Cendana Rumbai) ku. Ngumpul lagi. Banyak cerita baru, sayang, kurang puas, karena itu lagi di wedding kakakku. Aku juga harus ikutan ribet ngurusin ini itu, jadi kangen-kangenannya terbatas, deh. Tapi seneng mereka nyempetin dateng, mudah2an gak lupa doa nya.. then, who’s next?? :mrgreen:

Rafting, Telaga Waja-Bali

Great Rapids!!

Great Rapids!!

Waaaawh, adrenalin ku langsung terpacu waktu mendengar bahwa jadwal hari ini adalah rafting. Apalagi pas sampai di lokasi, gemericik aliran arus sungai Telaga Waja semakin jelas terdengar. Aku semakin tertantang untuk menaklukkan arus sungai yang mengalir dari Gunung Agung ke arah selatan Bali sepanjang 16 km itu.

Masing-masing kita dilengkapi baju pelampung, helm, dan dayung. Sebelumnya, kita di briefing dulu supaya perjalanan berjalan lancar. Dari mulai cara memegang dayung, sampai teknik untuk menghadapi rintangan. Sebaiknya kita tidak membawa barang-barang yang tidak tahan air, seperti HP, dompet, atau camera. Wah, sayang, camera ku gak tahan air, jadi gak banyak foto-foto yang bisa diabadikan. Tapi, kalau penasaran gimana petualangan, saksikan aja “Perjalanan 3 Wanita” di Trans TV setiap Selasa, Rabu, jam 6.30 wib. Loh, kok jadi promosi 😀

Bali International Rafting memiliki rute dan rintangan yang sangat menantang. 16 km normalnya akan ditempuh dalam waktu 3 jam. Tapi, ketika itu, petualangan kami lebih dari 3 jam karena untuk kepentingan pengambilan gambar.

Kami menghadapi arus yang begitu menantang, untuk itu, satu tim dalam satu perahu harus menjadi tim yang kompak. Kami ditemani rafter yang sudah sangat berpengalaman yang ramah dan kocak sehingga menambah semarak petualangan kami. Tak jarang kami bernyanyi bersama untuk menambah semangat petualangan ini.

Ini benar-benar petualangan yang amazing dan gak bakal terlupakan!!

Kami menghadapi berbagai rintangan yang menarik. Percikan air seolah-seolah melewati hujan, it’s damn astonish! Bahkan kami lewat di bawah terpaan air terjun. Ada jembatan-jembatan yang dibuat oleh penduduk setempat, sehingga ketika melewatinya kami harus merunduk. Menengadah menghadap ke atas. Jangan membungkuk untuk menghindari tabrakan dengan jembatan. Dan hati-hati terhadap benturan, kami harus berpegangan agar perahu tidak terbalik. Beberapa kali, tanpa sengaja perahu terbalik dan kami sempat terseret arus. Bukannya panik, kami malah kegirangan karena ada sensasi yang berbeda ketika terseret arus sungai. Perjalanan terasa aman karena ditemani rafter handal apalagi masing-masing peserta dilengkapi dengan jaminan asuransi.

Perjalanan kami disuguhi dengan pemandangan yang benar-benar indah. Kami seolah-olah tersihir dengan keindahan alam bali. Hutan tropis yang masih asli, sawah-sawah yang menguning subur, dan bukit-bukit yang kokoh, hamparan langit luas menemani penelusuran kami. Suasana desa tradisional pun sangat kental terasa di sini. Sesekali terlihat ibu-ibu dan anak-anak mandi di tepian sungai. Dan gak perlu kaget kalau mereka tidak memakai sehelai kain pun. Bahkan mereka bisa dengan ramah menyapa para rafter yang liwat, tanpa perlu merasa malu.

Di satu titik, kami harus bersiap-siap mengambil posisi aman karena akan melewati jeram yang cukup tinggi. Untuk itu, kami tidak bisa lagi duduk di pinggiran perahu melainkan harus masuk ke dalam perahu dan mengambil posisi terlentang. Dan, wuauuuu, kami meluncur dengan hebatnya. Untung saja perahu tidak terbalik. Melihat jeramnya yang begitu tinggi dan deras, aku seolah tak percaya karena baru saja melewati ini.

Stelah hampir 4 jam perjalanan, kami sampai di titik finish petualangan ini. Bali International Rafting, menyediakan fasilitas handuk dan shower untuk mandi. Selesai bersih-bersih, perut semakin tak bisa diajak kompromi, kelaparan! Dan syukurlah, tersedia buffet dengan panganan yang menggugah selera.

It’s challenging, memorable experience, and fantastic adventure ever!! Must try!

To bring,

  • T-shirt, short, or swimsuit
  • Changed clothes
  • Sunscreen
  • Money

Teknologi Internet

Hehe. Akhirnya ketemu juga internet, setelah hampir genap 8 hari menelusuri pelosok daerah Aceh dan Sumatra Utara. Maklum, sampai saat ini aku belum menggunakan apa itu yang mereka sebut dengan GPRS, 3G, atau apalah buat browsing or blogging dari hape. Ntah karena hape ku tidak memadai untuk itu, entah karena aku merasa ngenet via hape kok rasanya gak puas. Tampilannya pasti tidak sebagus layar PC atau laptop.

Teknologi internet sekarang udah jadi kebutuhan wajib hampir semua kalangan masyarakat. Mungkin beberapa era ke depan tukang sayur depan rumah juga bakal butuh teknologi tersebut. Internet emang udah jadi menu wajib,  walaupun buat beberapa orang hanya sekedar buat friendster atau facebook. Seperti saat ini, aku lagi blogging di free-internet Garuda Plaza Hotel – Medan, tepat di sebelah ku seorang anak perempuan, mungkin usianya belum lagi 7 tahun sedang asik chatting. Dulu, waktu aku umur segitu, aku hanya menggunakan komputer untuk main kartu atau belajar berhitung yang diajarkan ayahku. Aku gak ngerti apa-apa selain itu. Apalagi sekarang jam tanganku sudah menunjukkan pukul 11:04 pm. Pada usia seperti anak itu, aku tentu sudah tidur 3 jam yang lalu. Memang teknologi sudah berkembang pesat. Begitu pun dunia. Berubah. Terus.

Sekarang, menggunakan internet udah jadi addict bagi sebagian besar orang. Gak memandang usia, jenis kelamin, kayamiskin. Seperti saat ini, aku baru menyadari kalau aku pun adalah bagian dari orang-orang itu. Orang-orang yang ketagihan internet. Memang, kebutuhan akan internet sangat tinggi saat ini. Karena internet memberikan banyak kemudahan bagi banyak pihak. Mulai dari sekedar googling, sampai jualan pun bisa dilakukan dengan teknologi internet.

Aku mulai merasa kangen dengan laptop kesayangan ku itu (walaupun kesayangan, aku tetap berharap suatu saat bisa menggantinya dengan yang baru, dengan yang lebih canggih, yang lebih keren, lebih ringan, dan lebih yang lainnya 🙂 ) dengan segala kegiatan yang aku lakukan terhadap nya. Menikmati lagu-lagu di playlist nya, nonton film, nulis2, liat-liat foto, atau sekedar main bounce out (gamehouse yang udah tua banget, tapi lumayan banget kalo lagi bosen) dan apalagi dipake on line.

Laptop ku

 Well, postingan ini sebenarnya hanya ingin menyampaikan kalau aku kangen dengan semuanya. Ya, semuanya. Kangen Septian, kangen Chika, kangen Imim, Nun, Denya, dan Belel, kangen masa-masa kuliah, masa-masa nge kos. dan kangen dengan blog ini. Hehe. Udah mulai ngawur nih. Maaf yah 🙂

Posted in Uncategorized

Kemenangan Obama

Semua orang sibuk ngomongin kemenangan Barrack Obama jadi Presiden AS, 4 November 2008. Ini dia pidato kemenangan nya.

If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible; who still wonders if the dream of our founders is alive in our time; who still questions the power of our democracy, tonight is your answer.
 
It’s the answer told by lines that stretched around schools and churches in numbers this nation has never seen; by people who waited three hours and four hours, many for the very first time in their lives, because they believed that this time must be different; that their voice could be that difference. 
It’s the answer spoken by young and old, rich and poor, Democrat and Republican, black, white, Latino, Asian, Native American, gay, straight, disabled and not disabled – Americans who sent a message to the world that we have never been a collection of Red States and Blue States: we are, and always will be, the United States of America.
 
It’s the answer that led those who have been told for so long by so many to be cynical, and fearful, and doubtful of what we can achieve to put their hands on the arc of history and bend it once more toward the hope of a better day.
 
It’s been a long time coming, but tonight, because of what we did on this day, in this election, at this defining moment, change has come to America.
 
I just received a very gracious call from Senator McCain.  He fought long and hard in this campaign, and he’s fought even longer and harder for the country he loves.  He has endured sacrifices for America that most of us cannot begin to imagine, and we are better off for the service rendered by this brave and selfless leader.  I congratulate him and Governor Palin for all they have achieved, and I look forward to working with them to renew this nation’s promise in the months ahead.
 
I want to thank my partner in this journey, a man who campaigned from his heart and spoke for the men and women he grew up with on the streets of Scranton and rode with on that train home to Delaware, the Vice President-elect of the United States, Joe Biden.
 
I would not be standing here tonight without the unyielding support of my best friend for the last sixteen years, the rock of our family and the love of my life, our nation’s next First Lady, Michelle Obama.  Sasha and Malia, I love you both so much, and you have earned the new puppy that’s coming with us to the White House.  And while she’s no longer with us, I know my grandmother is watching, along with the family that made me who I am.  I miss them tonight, and know that my debt to them is beyond measure.
 
To my campaign manager David Plouffe, my chief strategist David Axelrod, and the best campaign team ever assembled in the history of politics – you made this happen, and I am forever grateful for what you’ve sacrificed to get it done.
 
But above all, I will never forget who this victory truly belongs to – it belongs to you.
 
I was never the likeliest candidate for this office. We didn’t start with much money or many endorsements.  Our campaign was not hatched in the halls of Washington – it began in the backyards of Des Moines and the living rooms of Concord and the front porches of Charleston.
 
It was built by working men and women who dug into what little savings they had to give five dollars and ten dollars and twenty dollars to this cause.  It grew strength from the young people who rejected the myth of their generation’s apathy; who left their homes and their families for jobs that offered little pay and less sleep; from the not-so-young people who braved the bitter cold and scorching heat to knock on the doors of perfect strangers; from the millions of Americans who volunteered, and organized, and proved that more than two centuries later, a government of the people, by the people and for the people has not perished from this Earth.  This is your victory. 
 
I know you didn’t do this just to win an election and I know you didn’t do it for me.  You did it because you understand the enormity of the task that lies ahead.  For even as we celebrate tonight, we know the challenges that tomorrow will bring are the greatest of our lifetime – two wars, a planet in peril, the worst financial crisis in a century.  Even as we stand here tonight, we know there are brave Americans waking up in the deserts of Iraq and the mountains of Afghanistan to risk their lives for us.  There are mothers and fathers who will lie awake after their children fall asleep and wonder how they’ll make the mortgage, or pay their doctor’s bills, or save enough for college. There is new energy to harness and new jobs to be created; new schools to build and threats to meet and alliances to repair.
 
The road ahead will be long.  Our climb will be steep.  We may not get there in one year or even one term, but America – I have never been more hopeful than I am tonight that we will get there.  I promise you – we as a people will get there.
 
There will be setbacks and false starts.  There are many who won’t agree with every decision or policy I make as President, and we know that government can’t solve every problem.  But I will always be honest with you about the challenges we face.  I will listen to you, especially when we disagree.  And above all, I will ask you join in the work of remaking this nation the only way it’s been done in America for two-hundred and twenty-one years – block by block, brick by brick, calloused hand by calloused hand.
 
What began twenty-one months ago in the depths of winter must not end on this autumn night. This victory alone is not the change we seek – it is only the chance for us to make that change.  And that cannot happen if we go back to the way things were.  It cannot happen without you.
 
So let us summon a new spirit of patriotism; of service and responsibility where each of us resolves to pitch in and work harder and look after not only ourselves, but each other.  Let us remember that if this financial crisis taught us anything, it’s that we cannot have a thriving Wall Street while Main Street suffers – in this country, we rise or fall as one nation; as one people.
 
Let us resist the temptation to fall back on the same partisanship and pettiness and immaturity that has poisoned our politics for so long.  Let us remember that it was a man from this state who first carried the banner of the Republican Party to the White House – a party founded on the values of self-reliance, individual liberty, and national unity. Those are values we all share, and while the Democratic Party has won a great victory tonight, we do so with a measure of humility and determination to heal the divides that have held back our progress.  As Lincoln said to a nation far more divided than ours, “We are not enemies, but friends…though passion may have strained it must not break our bonds of affection.” And to those Americans whose support I have yet to earn – I may not have won your vote, but I hear your voices, I need your help, and I will be your President too.
 
And to all those watching tonight from beyond our shores, from parliaments and palaces to those who are huddled around radios in the forgotten corners of our world – our stories are singular, but our destiny is shared, and a new dawn of American leadership is at hand.  To those who would tear this world down – we will defeat you.  To those who seek peace and security – we support you.  And to all those who have wondered if America’s beacon still burns as bright – tonight we proved once more that the true strength of our nation comes not from our the might of our arms or the scale of our wealth, but from the enduring power of our ideals: democracy, liberty, opportunity, and unyielding hope. 
 
For that is the true genius of America – that America can change.  Our union can be perfected.  And what we have already achieved gives us hope for what we can and must achieve tomorrow.
 
This election had many firsts and many stories that will be told for generations.  But one that’s on my mind tonight is about a woman who cast her ballot in Atlanta.  She’s a lot like the millions of others who stood in line to make their voice heard in this election except for one thing – Ann Nixon Cooper is 106 years old.
 
She was born just a generation past slavery; a time when there were no cars on the road or planes in the sky; when someone like her couldn’t vote for two reasons – because she was a woman and because of the color of her skin.
 
And tonight, I think about all that she’s seen throughout her century in America – the heartache and the hope; the struggle and the progress; the times we were told that we can’t, and the people who pressed on with that American creed:  Yes we can.
 
At a time when women’s voices were silenced and their hopes dismissed, she lived to see them stand up and speak out and reach for the ballot.  Yes we can.
 
When there was despair in the dust bowl and depression across the land, she saw a nation conquer fear itself with a New Deal, new jobs and a new sense of common purpose.  Yes we can.
 
When the bombs fell on our harbor and tyranny threatened the world, she was there to witness a generation rise to greatness and a democracy was saved.  Yes we can.
 
She was there for the buses in Montgomery, the hoses in Birmingham, a bridge in Selma, and a preacher from Atlanta who told a people that “We Shall Overcome.”  Yes we can.
 
A man touched down on the moon, a wall came down in Berlin, a world was connected by our own science and imagination.  And this year, in this election, she touched her finger to a screen, and cast her vote, because after 106 years in America, through the best of times and the darkest of hours, she knows how America can change.  Yes we can.
 
America, we have come so far.  We have seen so much.  But there is so much more to do.  So tonight, let us ask ourselves – if our children should live to see the next century; if my daughters should be so lucky to live as long as Ann Nixon Cooper, what change will they see?  What progress will we have made?
 
This is our chance to answer that call.  This is our moment.  This is our time – to put our people back to work and open doors of opportunity for our kids; to restore prosperity and promote the cause of peace; to reclaim the American Dream and reaffirm that fundamental truth – that out of many, we are one; that while we breathe, we hope, and where we are met with cynicism, and doubt, and those who tell us that we can’t, we will respond with that timeless creed that sums up the spirit of a people:
 
Yes We Can.  Thank you, God bless you, and may God Bless the United States of America.

 barack_obama-779027

Luar biasa, ini untuk pertama kali nya warga kulit hitam jadi presiden di negara adi kuasa itu. Visi misi nya yang ok, membuat warga negara amerika jatuh cinta dan bersorak gembira atas kemenangan Obama yang menang 51,4% mengalahkan John Mccain. Warga Amerika berharap terjadi perubahan yang lebih baik, terutama untuk warga Afro-Amerika yang selama ini menjadi warga kelas dua di sana. Kalo aku pribadi sih, janjinya untuk menghentikan perang itu, mudah-mudahan jadi kenyataan.

Bukan hanya warga Amerika, orang-orang Indonesia pun ikut merasakan euphoria tersebut. Serasa ada kedekatan batin dengan Obama yang pernah tinggal  lebih kurang 3 tahun di Indonesia. Belakangan, SDN 1 Menteng, Jakarta Pusat, menjadi sangat terkenal karena dulu Obama pernah bersekolah di sana. Dalam bukunya “Dreams from My Father”, dia mengungkapkan bahwa sejak dulu sudah terlihat kesenjangan sosial masyarakat kaya dan miskin di Indonesia. Yah, benar saja, sebagai warga Indonesia, kita menyadari kalau Indonesia kaya akan keanekaragamannya. Dari budaya sampai jumlah kekayaannya warganya. Di Indonesia, di satu sisi kita menemukan Istana Megah nan Indah, namun di sisi lain, kita menemukan rumah-rumah kardus di bawah tumpukan sampah. Ironi yang nyata.

Anyway, siapa pun presidennya, amerika tetap lah amerika! Enjoy this world, however it takes 😉

Posted in Uncategorized

Snickers

Seblumnya, aku kenalin dulu. Bukan. Snickers yang aku maksud itu bukan coklat. Snickers itu, geng ku. Geng ku waktu SD. Haha, gaya banget gak seeh, SD aja udah punya geng. Jumlahnya tujuh orang, digawangi (bahasanya…) oleh

  1. Dinna Sabriani (aku), baru saja dilantik menjadi Sarjana Pertanian di Institut Pertanian Bogor periode Juni 2008, selain di kamar sekarang juga mengisi waktu sebagai presenter acara Perjalanan 3 Wanita yang tayang di Trans TV, setiap Slasa Rabu jam 6.30 pagi.
  2. Dilla Sabrina (Dilla), sedang menjalani co-ass untuk menjadi seorang dokter gigi di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia
  3. Azizia Permatasari (Zia), sedang menyelesaikan tugas akhir di Institut Teknologi Bandung jurusan Biologi
  4. Soraya Puspasari (Yaya), kembarannya Zia, sudah dilantik menjadi Sarjana Teknik di Institut Teknologi Bandung periode Juni 2008, dan sekarang sedang memulai karir nya di Schlumberger.
  5. Mutia Asyifa (Mutia Asyifa), sedang menyelesaikan tugas akhir di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia
  6. Lasti Erfinanda (Lasti), kuliah di Fakultas kedokteran, Universitas Padjajaran, Bandung
  7. dan Aditia Amini (Dita), maaf aku sudah lama sekali tidak contact dengannya, dulu terakhir pas kelas 3 SMA, tapi tentunya sekarang udah lulus SMA yah, hehe. Apa kabar ya dita?

Dulu kita suka banget sama coklat dengan merk Snickers, yang sering kita beli di Commisarry (semacam supermarket) di daerah tempat tinggal ku dulu. Kita bertujuh, tinggal dalam satu kawasan, namanya Rumbai Complex. Itu kaya kompleks milik perusahaan tempat orang tua kami bekerja.

Snickers sering banget ngelakuin aktivitas bareng-bareng.

1. Berenang. Anak-anak Snickers semuanya jago renang (hehe, boleh lah narsis dikit). Kita renang hampir tiap hari. Tiap sore. Jadi, ya, maklum kalo anak-anaknya jadi item-item dan bau matahari. Di antara kita yang paling males renang itu ya mutia. Mungkin karena rumahnya paling jauh, di kompleks Randu namanya. Kalo rumahku, wah, enak banget. Mau ke Club (itu sebutan swimming pool di sana) tinggal jalan kaki. Walaupun kadang-kadang masi suka males dan akhirnya naik taksi atau naik sepeda.

2. Ngumpul. Namanya geng, pasti sukanya ngumpul. Jadi kita sering banget ngumpul di salah satu rumah di antara kita. Kalo ngumpul, kita suka tukeran koleksi. Koleksi sticker, perangko, sampe kertas file (kertas binder). Kita juga suka ngayal bareng dan terinspirasi dengan film “The Baby Sitter Club” atau “The Craft”. Haha, lucu banget kalo inget itu.

3. Maen sepeda, atau roller blade. Wah, ini seru banget. Kita bisa maen keliling kompleks yang luass banget itu. Kadang aku main roller blade, trus ditarik pake sepeda. Wah, seru banget. Kapan lagi ya bisa kaya gitu.. Di kawasan tempat tinggalku sekarang, kurang memungkinkan untuk main2 kaya gitu, karena ramai dilewati kendaraan bermotor. Hiks. Hiks. Salah satu rute wajib kami, mampir ke “American School” di sana kita suka kebagian crayola (alat untuk mewarnai) banyakkkkkk banget.

4. Taun baruan, walaupun masi kecil, kita juga ikut ngerayain taun baruan loh. Ini waktu kita kelas satu SMP. Acara nya di rumah ku. Kebetulan sekali orangtua ku sedang berada di Duri (dua jam dari Rumbai). Kita belanja bareng bahan-bahan masakan, menu kita waktu itu sphagetti. Mmmm,,, Sphagetti nya paling enakk sedunia, dan bumbunya pas banget. Trus, pas new years eve nya, kita pasang musik kenceng-kenceng, sok yang party-party, gitu. Hahahha. Padahal itu bulan puasa loh. Selain kita, rumah ku juga mendadak rame didatengin sama temen-temen kakakku, yang lebih aneh, ada juga orang-orang yang gak di kenal. Tapi, semua nya enjoy ajah tuh, kita semua jadi temen, dan acara taun baru itu berlangsung sampe jam 4 dini hari. Oiya, itu bulan puasa dan saking ngantuknya, aku melewatkan sahur dan agak haus pas bangun-bangun udah jam 8 pagi.

5. Manjat Pohon Ceri, Pohon Ceri ini bukan buah Cherry yang biasa ada di kue tart atau cocktails. Aku gak tau, apa nama yang lebih terkenalnya, tapi, kami menyebutnya ceri. Buahnya bulet kecil-kecil (sekecil butiran mutiara, kira-kira) warnanya merah atau hijau kemerahan. Rasanya manis, pokoknya enak deh. Nah, kita sering banget manjat pohon ini dan ngambilin buah nya. Parahnya lagi, pohon ini pohon milik tetangga ku. Untung orangnya gak pernah marah karena kami ngambilin buahnya (apa yang punya rumah gak tau, ya? hehe). Saking semangatnya, kita sampe naik-naik ke atas atap rumah nya. Bahkan kalo cape, kita numpang istirahat di atap rumah itu.

5. Dinner, ini bukan makan malam biasa. Dan kami saat itu kami benar-benar menyebutnya dengan dinner. Kalo dinner itu artinya, ya, makan malam, dan harus di tempat itu. Di sebuah bar. Menu wajibnya krimsup, bistik, dan es krim. Biasanya kami ngadain ini kalo ada moment tertentu seperti ulang tahun, atau lagi pengen ngumpul aja.

Seru banget ya, jadi anak kecil. Hehe. O iya, Snickers dulu juga sempet punya rival (ccieee, rival) namanya The Corners, menurut laporan salah seorang anggota nya, ini adalah buah sakit hati mereka yang ga di ajak gabung di Snickers (konon, geng paling ok, saat itu :shock:). Tapi, sebenarnya kita semuua bersahabat tuh. Snickers dan The Corners sebenarnya punya keterkaitan, karena gak jarang anak-anak Snickers juga sering ngumpul bareng The Corners. Karena, buat kami, makin rame, makin seru..

Miss u all guys.

*maaf ga ada foto, maklum ini kenangan masa lalu. blum digital. nanti aku scan, kalo foto-fotonya ketemu.

Snickers Reunion

Wah, stelah lebih kurang 7 tahun aku ga ketemu mereka, aku ketemu dengan 3 diantara 7 (termasuk aku). Snickers itu nama geng ku waktu SD. Seru kan, sejak SD udah punya geng. hehehehh.

Acara wedding kakak kelas kita di Ballroom Kartika Chandra Hotel, yang mempertemukan kami malam itu. Tak banyak yang berubah dari mereka. Zia Yaya masih tetap kembar (ya iyalah..), dan Muthia masih tetap dengan paras keibuannya. Mungkin hanya berat dan tinggi badan kita yang berubah plus unsur-unsur lain yang juga berubah seiring bertambah nya usia kami.

Meet The Snickers

Meet The Snickers

Katanya gak punya duit

Seringkali aku dengar orang-orang bilang ‘duh, gw lg gak punya duit’ atau ‘lagi kere’. Atau gak mengingkari, aku pun sering ngomong gitu. Seberapa besar pun penghasilan yang dimiliki dirasa gak pernah cukup. Karena emang, kebutuhan makin banyak. Sekarang ini, segala-galanya pake duit. Bahkan mau sholat pun pake duit.

Blum lagi, krisis dimana-mana. Mulai dari krisis ekonomi di amerika, sampai krisis kepercayaan antara suami dan istri (lah, apa hub nya?) Teman ku, fresh graduate yang kerja di sebuah perusahaan minyak swasta terkenal, cerita kalau di tahun ke dua nya bekerja dia belum bisa nabung apa-apa, karena kebutuhan nya banyak. Belum lagi mau ngasih ke orang tua. Dan ini itu. Padahal kalau dibanding-bandingin, gajinya cukup besar untuk ukuran fresh graduate.

“Sekarang ini, semua2nya mahal” kata seorang ibu rumah tangga dekat rumahku ketika sedang belanja di tukang sayur yang lewat-lewat di depan rumah. Sambil dengan raut muka berkerut-kerut dan bentuk bibir khas ibu-ibu. Lah, emang bentuk bibir ibu-ibu gimana?

Emang gak bisa mungkir, kalau sekarang apa-apa mahal. Mungkin itu juga yang bikin kita makin ngerasa gak punya duit. Dan semua itu gak akan pernah cukup. Seorang direktur perusahaan dengan gaji Rp 50 juta mengalami stress tingkat tinggi karena ga punya uang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Pejabat pemerintah yang udah difasilitasi macem-macem dengan gaji gede toh masih tetap korupsi, padahal mereka udah punya sederet mobil mewah, rumah gedongan, dan bisa jalan-jalan keluar negeri tiap bulan.

Lah, kalau ngerasa gak punya duit ya hiduplah sewajarnya. Punya 2 mobil mewah cukup lah, gak perlu sampai 9 atau 10. hah??? *shock*

Aku punya teman yang orangtua nya pegawai negri di sebuah kota kecil. Dan aku tersentuh, pas gak sengaja liat slip gaji orangtua nya, yang jumlah nya menurut ku, sedikit. Tapi, lebih tersentuh lagi ketika mengenal dia dan keluarga nya, yang gak protes soal uang. Orangtua temanku punya 3 anak, satu telah lulus menjadi seorang sarjana, yang kedua sedang kuliah di Fakultas Kedokteran (yang tentunya gak murah), dan yang ketiga masih SMP. Mereka hidup sederhana, tapi cukup.

Ada lagi. Biasanya wanita. Gampang tergoda dengan barang-barang fashion. Baju yang udah dipake sekali, mau dipake lagi, kok rasanya bosen. Akhirnya ngerasa butuh untuk beli lagi. Semakin tinggi penghasilan kita semakin tinggi pula biaya buat lifestyle. Jadi, kalo gini caranya, ya penghasilan berapa pun gak akan pernah cukup. Waktu gaji masih 2 juta, buat beli parfum aja udah 5 ratus ribu, bwt beli krim malam udah 3 ratus ribu, buat bli baju? Lah trus bwt makan? Buat nabung? Pas gaji jadi 40 juta, seiring gaji naik, gaya hidup pun berubah. Udah ga mau lagi dong beli parfum yang 5 ratus ribu an. Krim malam 3 ratus ribu? ganti jadi SK II atau Lancome. Brand of fashion udah berubah. Gak lagi beli diskonan mango atau zara, mending sekalian Louis Vuitton atau Kate Spade. Kalau begitu, memang, penghasilan berapa pun gak pernah cukup.

Bagaimana dengan gengsi. Bukan, bukan gengsi gak punya duit. Tapi gengsi gak punya barang-barang keren yang semua nya dibeli pake duit. Malah demi gengsi-gengsi itu, ga sedikit yang lebih baik ngutang. Ada yang ngutang ke tetangga, ngutang ke orangtua, koperasi, bank, atau yang kerenan dikit, ngutang pake credit card.

Jangan memojokkan kaum perempuan yang begitu bodoh dengan shopping bags nya itu. Ini berlaku umum, termasuk dengan kaum pria. Pria, menghabiskan uangnya untuk hal-hal yang lebih tidak masuk akal (hehe, tentu saja aku menganggap begitu, karena aku wanita). Ada yang setengah mati beli accessoris mobil atau motor, ada yang setiap saat gonta ganti HP bahkan nambah-nambah HP. Contoh lain yang lebih nyata aku temui pada adekku, ketika sedang punya duit berlebih, dia langsung beli gitar baru. Padahal gitar yang lama masih ada, masih bagus, dan gak kalah mahal. Atau beli soundsystem apa, padahal kamarnya sudah cukup berisik tanpa harus beli tambahan lagi. Kalau duit itu duit ku, mending buat beli baju (ya iya lah).

Ada lagi, ini jajanan khas pria kelas atas. Gak semua, tapi kebanyakan. Atau bukan pria kelas atas juga ya. Mandi DuitAku juga menemukan hal ini di kalangan biasa-biasa saja, bahkan yang sangat biasa. Membeli wanita. Ya, sekarang wanita juga bisa dibeli. Kalau sudah membeli wanita, maka, wajib pula membeli kan apa yang biasa di beli wanita.

Nah, sekarang makin terasa kan, kenapa punya penghasilan berapa pun gak akan pernah cukup.

Intinya, bersyukurlah. Dan hidup sewajarnya.

Abang Adek ketemu gede

Saya setuju dengan pendapat yang mengatakan, gak ada tuh yang namanya abang adek ketemu gede.

Apa pun istilahnya, menurut saya, itu hanya alasan seseorang untuk bisa berhubungan dekat dengan cewek atau cowok lain selain pasangannya. Kalau ingin berteman, bertemanlah sewajarnya. Gak perlu ada perhatian yang terlalu berlebihan atau gombal-gombalan kan?

Kalau memang sayang sama pasangannya, pasti gak perlu lagi yang namanya ‘abang-abangan’ atau ‘adek-adekan’ itu. Pasangan kan juga bisa kita jadikan abang, adek, atau orangtua juga kalau mau.

Cemburu buta. Alasan basi untuk menuduh pasangan kita. Kan cuma sekedar abang adek, perasaan sayang yang beda dengan perasaan kita ke pasangan tentunya. Apa pun teorinya, cobalah menempatkan diri di pasangan kita. Gimana kalau seandainya malah pasangan kita yang punya abang-abang an atau adek-adek an itu? Kalau kamu merasa gak masalah, ya, silakan lanjutkan hubungan abang adek ketemu gede itu. Koreksi diri juga penting si. Kenapa pasangan kita harus punya abang-abang atau adek-adek an itu? Mungkin ada yang salah atau kurang di diri.

Ini gak jauh dengan yang namanya selingkuh. Yang jelas-jelas tak satu pun suka dengan hal ini. Kadang perselingkuhan memang sulit dihindari. Karena manusia emang gak pernah puas. Halaman tetangga selalu tampak lebih hijau. Begitulah yang terjadi kenapa sangat-sangat banyak orang di muka bumi ini yang selingkuh. Dan kesalahan itu mungkin tak sepenuhnya kesalahan laki-laki. Bisa jadi perempuan. Bisa jadi kesalahan selingkuhannya. Mudah-mudahan kita tidak termasuk golongan orang-orang yang berselingkuh 😀

Yang jelas, belajarlah untuk ber tepo seliro. Kalo gak mau digituin jangan nge gitu in. Kalau masih ingin punya hubungan yang happy ever after dengan pasangan, ya, jangan nyerah untuk memperbaiki diri. Jangan nyerah juga untuk saling introspeksi. Belajar juga menerima pasangan apa ada nya.

Posted in Oh