I’m Dying to Got a New Laptop

31 Desember 2008,
Tinggal beberapa jam lagi kita semua akan menyambut tahun 2009.

Kita semua tentu punya wish, yang mungkin belum tercapai di tahun 2008, dan aku punya one wish yang gak akan pernah basi sampai detik-detik menjelang tahun 2009 ini. Dan ini akan tetap menjadi wishlist ku menyambut tahun baru.
Seperti saat ini, sampai detik ini, aku belum bisa meluluhkan keinginan ku untuk memiliki laptop baru. A million quote’s war in my head now!!

Gak biasanya aku begitu ngotot dengan sebuah keinginan. Terutama yang berhubungan dengan materi, biasanya aku lebih nerimo. Seperti HP misalnya, disaat orang berlomba-lomba untuk punya blackberry, aku enggak, kok. Buatku gak masalah dengan HP ku yang sekarang. Yang penting masih lancar digunakan untuk berbagai jenis komunikasi. Dompet, tas, baju, parfum, dan pernak-pernik wanita lainnya, aku masih bisa menahannya untuk ga beli yang baru. Tapi, kenapa untuk keinginan yang satu ini aku gak bisa membendungnya?

Aku dinasehati untuk menerima yang sudah ada. Toh, yang lama masi bisa dipake, apalagi dibeli juga pake duit tabungan sendiri (walaupun patungan sama orangtua).

Aku berpikir keras kenapa aku harus punya hasrat yang begitu besar untuk memiliki laptop baru. Apa yang salah dengan laptop ku yang lama. Seakan lupa dengan jasa-jasa nya, yang sudah setia menemaniku selama 4 tahun, i still dying to have new one!

Tidak perlu mahal, tidak. Asalkan spesifikasi nya layak (kalo layak pasti mahal, ya?), ga lemot, genuine windows, dan satu hal yang tidak dimiliki oleh laptop yang kupakai sekarang, ukurannya yang kecil dan ringan.

Sampai sekarang, aku belum berani browsing, laptop jenis apa yang memenuhi syarat yang aku pengen (takutnya kalo udah browsing, malah makin pengen).

Advertisements

Kampung Huta Bolon

Horas.. Horas.. Horas.. yang artinya selamat datang, selamat jalan, dan selamat tinggal, begitulah sambutan dari penduduk setempat ketika aku memasuki kampung Huta Bolon Simanindo yang terdapat di Pulau Samosir, Sumatra Utara.

HUTA adalah kampung tradisional orang batak yang dikelilingi oleh benteng dan tanaman pohon bambu untuk menghalangi musuh masuk ke dalam kampung tersebut. Untuk memasuki kampung tersebut aku melewati sebuah pintu kecil. Rumah di dalam kampung tersebut berbaris disamping kiri dan kanan dari rumah raja. Nah, rumah raja ini lah yang disebut dengan rumah Bolon. Di depan rumah raja didirikan lumbung padi yang diberi nama Sopo. Halaman tengah antara rumah Bolon dan Sopo, dahulu dipergunakan sebagai tempat Mangalahat Horbo, yaitu, untuk acara adat memotong kerbau dan memukul gondang. Di tengah halaman didirikan sebuah tonggak yang dihiasi dengan daun-daun yang melambangkan pohon suci (pohon beringin). Tonggak tersebut dinamakan Borotan. Kerbau yang digiring akan disembelih di Borotan tersebut.

Ketika aku memasuki kampung tersebut, sedang berlangsung pertunjukan tarian batak tradisional, yang disebut Pesta Adat Mangalahat Horbo.

Mungkin tak banyak yang mengerti makna dari tarian tersebut, dari informasi yang kudapat, ini tahap-tahap dari tarian tersebut,

  1. Gondang Lae-lae, merupakan doa kepada dewata agar kerbau yang akan diikatkan tidak bertingkah yang jelek sewaktu digiring ke borotan. Kepercayaan orang batak jaman dulu, setiap tingkah laku dari kerbau merupakan pertanda sesuatu yang baik atau yang buruk terhadap yang berpesta.
  2. Gondang Mula-mula, doa kepada mula jadi, dewa pencipta bumi, langit, dan segala isinya agar dia menganugrahkan putra-putri, membawa kekayaan, menjauhkan bala dan menyembuhkan segala penyakit kepada yang mengadakan pesta.
  3. Gondang Mula jadi, Doa untuk mengatakan bahwa doa telah dikabulkan oleh Dewata atau Tuhan
  4. Gondang Shata Mangaliat, Orang yang berpesta menari dengan mengelilingi tonggak atau Borotan penyembelihan kerbau, dimana diikatkan seekor kerbau pada pesta adat. Kerbau tersebut disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan kepada yang berpesta dan kepada mereka yang berhak menerima sesuai adat yang ditentukan.
  5. Gondang Marsiolop-olopan, Kemudian orang yang berpesta, saling memberi selamat sesamanya.
  6. Gondang Siboru, Tari untuk para pemuda, sambil menari datanglah putri yang masing-masing dengan pengharapan datang untuk melamarnya.
  7. Gondang Sidoli, tari untuk pemudi, sambil menari datanglah seorang pemuda untuk mendekati seorang putri yang dicintainya dan yang didambakannya menjadi istrinya dan sebagai pertanda ia mencinta putri, dia akan memebri sejumlah uang.
  8. Gondang Pangurason, Roh nenek moyang berpesta datang dan menyusup pada tubuh salah seorang penari dan memberi berkat pada mereka.
  9. Gondang Habonaran, Dua anak laki-laki melakukan tari perang dan pemenangnya dianggap melambangkan kebenaran dan yang kalah melambangkan sebaliknya.
  10. Tari Bersama, Semua tamu yang diundang diajak menari bersama dengan tuan rumah yang mengadakan pesta tersebut.
  11. Tortor Tunggal Panaluan, tari ini diperankan oleh seorang dukun untuk berkomunikasi dengan Dewata Natolu meminta sesuatu seperti meminta hujan, keturunan, atau kesuksesan dalam kehidupan
  12. Gondang Sigale-gale, Tari boneka yang terbuat dari kayu mirip dengan manusia dimana pada zaman dahulu kala ada seorang raja yang hanya mempunyai seorang anak tunggal. Pada suatu saat anak tersebut jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Raja sangat sedih menerima musibah tersebut sebab anak yang diharapkannya untuk meneruskan cita-citanya (kerajaannya) sudah tiada. Jadi, untuk meringankan penderitaan raja sekaligus untuk mengenang anaknya, maka raja memerintahkan rakyatnya untuk mengukir sebuah patung yang sangat mirip dengan anaknya, dimana kala raja ingin melihat anaknya maka raja akan mengundang rakyatnya untuk membuat pesta Tarian Sigale-gale. Saudara perempuan Sigale-gale akan melepaskan kerinduannya dengan menari bersama Sigale-gale.Semakin mahir

Ketika tari bersama, aku diajak menari bersama pengunjung lainnya. Lucu juga yah. Awalnya sedikit canggung, tapi lama kelamaan aku semakin mahir loh. Hehe 😉 Nah, saat  boneka kayu yang disebut Gondang Sigale-gale tampil, ternyata boneka tersebut disawer. Jadinya kita menyumbang sejumlah uang. Kalo aku cukup menyumbang sedikit rupiah saja (itu juga duitnya Mas Jagat a.k.a PA) apalagi tarif masuk ke acara budaya ini kurang lebih Rp 30.000, tapi bule-bule itu wah bisa nyumbang sampe seratus ribu bahkan lebih, loh. Entah karena tersihir dengan atraksi yang disajikan atau karena mereka gak ngerti kalo seratus ribu itu jumlah yang besar banget untuk sebuah saweran seperti ini. Kalo yang dikasih si, udah pasti gak bakal nolak.img_42191

12 Desember, Setahun lalu

Entah kangen dengan siapa. Mungkin aku hanya merindukan bahagia. Bahagia yang sudah lama tidak mengunjungi hari-hari ku.

Ingat dulu betapa lepas, bebas, berbahagia nya aku, lahir dari keluarga yang beruntung. Begitu yang orang-orang bilang pada ku. Sekarang aku merindukan itu. Benarkah aku sedang merindukan sesuatu yang tidak mungkin..

Aku kangen andung ku. Yang sejak kecil menemani ku. Menemaniku menunggu bus sekolah. Mengajarkan kalau king itu artinya raja. Membuatkan ku segelas susu setelah pulang sekolah. Yang selalu titip coklat kalau aku pergi. Selalu mijitin tanganku ketika aku merasa ga enak badan. Memberiku uang seribu untuk tiap nilai 9 di raporku. Jumlah yang kecil dibandingkan dengan hadiah yang teman-temanku peroleh, tapi sungguh, aku benar-benar bangga dengannya. Yang selalu menemani ku tidur setiap malam. Yang tak pernah marah seberapa nakal pun aku. Beliau begitu kuat hingga penghujung usia nya. Beliau warna dalam hidupku. Dalam keluargaku. Dalam hidup ayahku.

Adakah beliau bahagia, jika tau aku sedang menangis sekarang..  Bukan karena tidak mengikhlas kannya. Bukan.

Tapi, kesepian ini. Kebisuan ini. Setelah kepergiannya. Aku ingin peluk andung, dan mengembalikan segala canda tawa, kebahagiaan, kebersamaan seperti sediakala.

Last Idul Fitri bersama Andung-1 Syawal 1428 h

Last Idul Fitri bersama Andung-1 Syawal 1428 h

12 Desember 2007, setelah 89 tahun andung hembuskan nafas di dunia. Selama hidup nya, andung meninggalkan seorang putra yang hebat,  juga cucu-cucu nya yang luar biasa. Andung menyisakan begitu banyak kenangan. Mewariskan kasih sayang, nilai-nilai islam, dan sikap bersahaja. Ya Allah yang maha kasih, beri andung tempat paling mulia di sisi-Mu.

Date at Brussel Spring

13122008005Bandung, Dec 13

Finally, long time i’ve waited for, i feel just like another normal couple in town! 

Gak ada gangguan harus siaga terhadap tugas, malam itu dia meluangkan waktu nya (walopun bentar, 7.30 pm – 10.00 pm) untukku. Malam mingguan bersama pacar, kaya nya kisah lama, ya. Tapi ini menjadi sangat spesial kalo punya pacar seorang aparat negara. Sejak dia masuk satuan, ini untuk pertama kali nya, malam minggu aku lewati bersama nya. Malam minggu yang lainnya, kulewati baca novel di rumah, blogging, writing, or for better, i do hang out wit siblings. Not cheating for sure. Ini akan lebih menyedihkan kalau mengetahui orang-orang di luar sana tentu menghabiskan malam minggunya bersama pacar. *ngiri dengan nasib orang lain itu gak baik

Kita memilih Brussel Spring (sebuah cafe dengan menu khas Brussel, just like the name seperti waffles, pancakes, any kind pasta, etc) untuk makan malam yang merupakan rekomendasi seorang teman. Walau pun perut udah kenyang karena seharian aku udah makan banyak sekali potongan bagelen, tapi malam itu tentu saja sangat beda. Waffle witt strawberry icecream scoop dan sampler fries yang ku pesen terasa lebih lezat. Jadi mungkin sebaiknya aku gak kasi info tentang bagaimana taste makanan di situ karena komentar ku pasti akan menjadi sangat subjektif. *jatuh cinta berjuta rasanya :mrgreen:

Hal normal lainnya adalah malam itu, aku dijemput, dianter (maklum biasanya kita lebih sering ketemuan untuk efisien waktu), dan yang paling penting dibayarin 😉

Then, lets the photograph tell,, 🙂 we’re look so in to each other, rite?*envious forbid, THAT’s the thing you did to me when YOU hang out with your boy/girlfriend every saturday night!

Gunongan – Banda Aceh

Saya bertanya-tanya apa itu gunongan? Gunung? Genangan? Gulungan? Kok namanya gunongan ya?

Tiga Wanita di Gunongan, bersama Mas Irfan

3 wanita bersama Mas Irfan, Gunongan, Banda Aceh

Kunjunganku disambut hangat oleh Pak Irfan. Bang Irfan. Atau Mas Irfan ya? Apa sekalian Om 😉 Sampai sekarang, aku tidak lupa, perkenalan aku dengan arkeolog yang menemani kunjungan aku, Dila, dan Silvi saat itu. Ia menolak dipanggil ‘pak’, karena mengaku masih muda. Apalagi mengingat percakapan kami akan muncul di TV. Lucunya, ia menawarkan diri untuk dipanggil ‘bang’ saja. Tapi sayang, panggilan ‘bang’ gak diperbolehkan, jadi kami tetap harus memanggil dengan sebutan ‘pak’ 😉

Gunongan yang dibangun pada Abad ke-17 ini, ternyata merupakan simbol kekuatan cinta Sultan Iskandar Muda kepada permaisuri nya yang cantik bernama Putri Phang yang berasal dari Negri Pahang, Malaysia. Alkisah, Putri Phang merasa kesepian karena Sultan sibuk mengurusi pemerintahan. Ia sering teringat akan kampungnya di Pahang. Karena memahami kegundahan istrinya, maka ia membuatkan sebuah gunongan, seperti gunung kecil *oooo, maksudnya Gunongan itu toh. Gunung kecil itu seperti miniatur perbukitan yang mengelilingi istana Putri Phang di Pahang. Putri Phang menjadi sangat senang. Waktunya sering ia habiskan di sana, bermain-main bersama dayang-dayangnya, sambil memanjatinya. Wah, bisa kubayangkan betapa romantis nya Sultan Iskandar Muda. *jadi mupeng. Pastinya, Putri Phang serasa terbang ke langit tujuh :mrgreen:

Bangunan ini terlihat berwarna putih, jika langit cerah, akan menambah cerah maksudnya silau suasana di sana. Ukurannya tidak terlalu besar, berbentuk segi enam, seperti bunga, dan bertingkat tiga dengan tingkat utamanya sebuah mahkota tiang yang berdiri tegak.

Dari atas, kita bisa menikmati pemandangan di sekitar Istana. Lokasi Gunongan ini terletak di Jalan Teuku Umar berhadapan dengan Pemakaman Belanda (Kerkoff).

Kalau ke sini, wajib banget tau cerita sejarah nya yang menarik dan yang paling penting foto-foto nya 🙂 Atur shutterspeed nya, biar ga backlight. Then, click!  

Silvi

Kiri: Dila, Kanan: Dinna, Atas: Silvi

 *wardrobe by Qirani

Qurban – Kurban – Korban

Selamat Hari Raya Idul Adha 1429 h ! Semoga kegigihan Nabi Ibrahim AS, ketabahan Siti Hajar, ketawakalan Nabi Ismail AS, menginspirasi kita dalam mendahsyatkan jalan hidup kita! *Mengutip SMS seorang teman a.k.a Aliy

Ngomong-ngomong soal Idul Adha, erat kaitannya di mana umat muslim melaksanakan rukun Islam yang kelima yaitu menunaikan ibadah haji di tanah suci mekkah. Seiring itu pula umat muslim di seluruh dunia melaksanakan qurban, yaitu mengurbankan satu atau beberapa ekor sapi atau kambing tentunya bagi yang mampu untuk kemudian dibagikan kepada yang berhak mendapatkannya.

Baiklah, di sini saya sebenarnya bukan sedang ingin berceramah tentang qurban. Karena rasanya kok ada yang lebih berhak untuk ceramah tentang itu mengingat ilmu saya masih amat sangat sedikit tentang qurban 🙂

Tapi, ngomong-ngomong soal qurban pasti erat kaitannya dengan pengorbanan. Kalau di hari raya ini, hewan ternak seperti sapi, kambing dan lembu menjadi korbannya, dalam kehidupan sehari-hari pun sebenarnya kita sangat dekat dengan pengorbanan. Tak jarang, kita harus menerima dengan ikhlas kalau kita harus berkorban bahkan sebagai korbannya.

Sejak SD kita sudah diajarkan dengan sikap rela berkorban. Hal itu mungkin belum benar-benar kita sadari, sampai kita benar-benar terjun ke dunia nyata. Saat kita sudah terbangun dari mimpi indah 🙂 Saat rela berkorban itu menjadi tidak mudah, tapi harus. Dunia nyata memang memberikan kita warna-warni hidup, yang membuat kita mau tidak mau, suka tidak suka, harus mengorbankan banyak hal. Untuk hal yang prinsip sekali pun.

Saya melihat seorang istri, sedang berada di puncak karir menjadi photofunia_8de622pimpinan di sebuah Bank swasta besar di Indonesia, kemudian mengundurkan diri, karena suami nya harus pindah kerja keluar negri untuk jangka waktu yang lama. Sedikit salut dengan niat baik yang dilakukan sang istri, untuk terus mendampingi suaminya. Dia melakukan itu demi keutuhan rumah tangga nya (suami meminta nya untuk mengundurkan diri). Mengorbankan karir yang gemilang bukan hal gampang tentunya. Termasuk rupiah yang biasa diterima setiap bulannya. Tapi, berjiwa besar untuk menerima kodrat nya sebagai istri, tentu itu merupakan hal yang luar biasa yang gak banyak istri yang mampu melakukannya. Saya menganggap itu sebagai kenyataan yang hebat.

Seorang suami mengundurkan diri untuk suatu pekerjaan yang susah payah ia dapatkan. Apalagi, mencari kerjaan jaman sekarang tidak gampang. Tetapi, suami memilih mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai seorang cameraman, karena membuat istri dan anak-anak nya merasa kawatir, apalagi lingkungan kerja si cameraman yang terlibat dengan banyak wanita cantik. Singkat kata, si istri cemburu. Entah cemburu buta atau tidak, yang jelas, suami memilih mengundurkan diri dan mencari pekerjaan yang lebih baik, untuk menjaga perasaan si istri. Ini kenyataan yang luar biasa juga menurut saya. Saya banyak melihat pasangan suami istri yang tetap dengan ego masing-masing mempertahankan karir yang mereka miliki.

Ada lagi berkorban perasaan (semacam lagu dangdut ditengah gerimis sore hari 🙂 ) Ini agak curhat colongan kayanya. Jadi, gak jadi ah. Mungkin di lain postingan ajah. Hehe. Atau via SMS atau Telp. Lah?!

Then, lingkup pengorbanan memang sangat luas sekali. Gak ada habisnya jika menggolongkan pengorbanan ke dalam beberapa golongan (lagian kurang kerjaan amat menggolongkan pengorbanan, ya, hehe). Kita, saya rasa gak cuma saya, pasti sering merasa harus berkorban ini, itu demi kepentingan itu. Sering pula kita merasa terpaksa untuk menjadi korban, sebut saja dengan mengalah. Mengalah termasuk sebuah pengorbanan yang kebanyakan orang sulit untuk melakukannya. Tapi, mengalah kadang perlu, dalam kondisi darurat. Mengalah toh bukan berarti kalah.

Jadi, ada baiknya kita dinginkan kepala dan hati, untuk mengalah pada kerasnya kehidupan. Apa pun yang ingin kita capai, semuanya butuh pengorbanan.. 🙂

Happy Qurban! Happy Idul Adha!

Posted in Oh

Cerita dari Istri Tentara

181558180l

Obrolan ku dimulai ketika aku terjebak di rumah seorang tentara. Wuih, kesannya kaya lagi di medan perang aja ya? hehe. Saat itu aku sedang berkunjung sebuah asrama markas tempur angkatan darat. Misi ku kali itu, berkunjung. Ya, berkunjung saja! Pengen tau gimana suasana tempat para militarian itu berkumpul.

Namun, ketika berkunjung, seorang yang seharusnya menemani ku, tiba-tiba dipanggil. Judulnya, kumpul data katanya. Entah apa yang diobrolkan dalam perkumpulan itu, tetapi, inilah hal pertama yang aku simpulkan. Kegiatan militer itu ternyata tidak selalu dengan schedule yang rapih. Bahkan cenderung dadakan semuanya. Jadi harus monitor dan siaga terus kemana-mana. Mungkin itu terkait juga dengan senior atau junior nya tentara tersebut dalam sebuah satuan. Kalau masih junior, yah pasti selalu jadi sasaran tugas-tugas dan perintah ini itu. Tapi, katanya si ini gak berlangsung lama (stahun gak lama, kan?) Setelah memiliki junior lagi, tugas-tugas akan menjadi lebih ringan. *nasib jadi junior*

Well, kurang lebih 4 jam aku menghabiskan waktu ngobrol dengan ibu itu. Lebih tepatnya mendengarkan banyak cerita tentang pengalamannya menjadi istri tentara, layaknya memberikan tips pada calon pengantin yang akan menikah dengan seorang tentara (padahal, berulang kali aku menekankan bahwa rencana itu tidak dalam waktu dekat ini).

Buat para wanita, jangan mengharapkan materi dari tentara. Mereka gak punya itu. Harus terima apa adanya, gaji tentara yang ‘katanya’ pas-pas an itu. Tinggal di rumah sederhana juga. Kalo mau  istri yang berfoya-foya sebaiknya jangan jadi istri tentara, mending jadi istri pengusaha sukses aja. Kata ibu itu, pinter-pinterlah mengatur uang belanja, karena yang ada, ya, cuma segitu. Seberapa dikitnya, aku sendiri juga kurang tau, selain itu juga ga enak ngomongin gaji pacar sendiri 😉 (anyhow itu tergantung dari cara kita mensyukurinya, sedikit, tapi bersyukur, mungkin gak akan jadi masalah). Selain itu, adalah wajib hukumnya, untuk turut peduli dengan kesejahteraan anggota. Maka, tak jarang, kocek pribadi pun turut ambil andil.

Sedikit ngomongin tentang enak nya, katanya jarang tentara yang kawin lagi (kawin lagi jarang, tapi selingkuh? Mmmhh meragukan 😉 ), kecuali masalah nya udah parah banget. Jadi, sedikit tenang kalo jadi istri tentara, sedikit sekali yang kawin cerai walaupun ada. Untuk kasus-kasus asusila yang dilakukan tentara, akan sangat mempengaruhi karir si tentara tersebut. So, biasanya tentara (yang waras) lebih memilih untuk tidak bermain api daripada karir militer nya hancur. Tentunya siapa yang mau menghancur kan karir  dengan segala perjuangan yang udah susah payah di dapat (untuk menjadi tentara, banyak banget seleksi nya, hanya yang pantas, yang menang).

Menjadi istri tentara, jangan berharap terlalu banyak untuk dipuji, atau digombal2in (walaupun udah jadi naluri setiap lelaki, untuk jadi penggombal). Karena seringkali mereka buruk untuk itu, sekalinya ngegombal, rasanya kok garing dan ketauan ‘basi’ nya. Hehe, lingkungan pergaulan membuat mereka terlalu asik dengan dunia mereka sendiri *autis*, jadi kadang gak ngerti how to treat his princess well.

Si ibu menekankan bahwa yang penting bisa volley, tennis, dan nyanyi! Aku mengkerutkan dahiku. Ya, ternyata di sebuah batalyon (semacam markas TNI) ada tips khusus agar selamat menjadi istri tentara. Bisa melakukan ketiga aktivitas itu. Hualah, aku sendiri agak bingung apa hubungannya menjadi istri tentara dengan volley, tennis, dan nyanyi. Ternyata bukan straight to the activity, tapi lebih kepada relationship nya. Sangat penting, bisa membawa diri dan menjalin hubungan yang baik dengan sesama istri-istri tentara (Ibu-ibu PERSIT) baik atasan maupun bawahan. Mungkin saat itu, ibu komandan suka dengan 3 aktivitas itu. Anyway, kalau suatu saat aku jadi ibu komandan (aminnn) anggotanya harus bisa berenang dan berkuda. Walahhhh, heboh benerr! 😀 Dan ternyata, bukan hanya para suami (tentara) yang banyak kegiatannya. Ibu-ibu nya pun gak kalah banyak. Kalo suami-suami bisa rapat atau latian sampai tengah malam, ibu-ibu nya gak mau kalah, bisa arisan (ngobrol2, sorry to say ‘gossip’!) sampe tengah malam juga. Itu semua tergantung dari istri komandan nya. Jadi, nasibbb, kalo dapet komandan (dan ibu komandan) yang insomnia (penyakit susah tidur), bisa-bisa kebagian gak boleh tidur juga. Bah!

Hati-hati bercanda dengan ibu komandan, jangan pernah merasa sok akrab. Salah-salah bisa kena tegoran. Wah, serem juga yah, seperti ada barrier dalam bergaul. Padahal sering kali bercanda itu sangat ampuh untuk mencairkan suasana dan menciptakan kehangatan. Dari obrolanku, menjadi istri tentara memang banyak sekali aturannya. Kadang kita harus melakukan yang gak kita suka. Tapi, mungkin, ada baiknya jangan terlalu parno duluan menjadi istri tentara. Sebenarnya menjadi istri siapa pun, atau peran apa pun yang kita miliki di dunia ini, terdapat keadaan memaksa yang sebenarnya gak kita inginkan, tapi harus. Mungkin lebih baik, kita gak boleh berhenti belajar untuk ikhlas.

Yang harus menjadi perhatian juga, karena biasanya keluarga tentara tinggal di asrama militer, jadi, hubungan dengan tetangga akan sangat dekat. Mungkin agak berbeda dengan sebagian lingkungan tempat tinggal di Jakarta atau kota besar lainnya yang tidak memiliki kehidupan bertetangga (sebagian pasti mengalami hal itu, kan?). Karena hubungan ketetanggaan yang cukup erat, maka berhati-hatilah dengan bisik-bisik tetangga (lah kaya lagu dangdut ya 😉 )

Untuk melengkapi, menjadi istri tentara kita harus siap untuk berbagai risiko menyangkut profesi suami. Termasuk menjadi yang kesekian karena harus berbagi cinta dengan negara. Oh, tidakkkkk!!