Kampung Huta Bolon

Horas.. Horas.. Horas.. yang artinya selamat datang, selamat jalan, dan selamat tinggal, begitulah sambutan dari penduduk setempat ketika aku memasuki kampung Huta Bolon Simanindo yang terdapat di Pulau Samosir, Sumatra Utara.

HUTA adalah kampung tradisional orang batak yang dikelilingi oleh benteng dan tanaman pohon bambu untuk menghalangi musuh masuk ke dalam kampung tersebut. Untuk memasuki kampung tersebut aku melewati sebuah pintu kecil. Rumah di dalam kampung tersebut berbaris disamping kiri dan kanan dari rumah raja. Nah, rumah raja ini lah yang disebut dengan rumah Bolon. Di depan rumah raja didirikan lumbung padi yang diberi nama Sopo. Halaman tengah antara rumah Bolon dan Sopo, dahulu dipergunakan sebagai tempat Mangalahat Horbo, yaitu, untuk acara adat memotong kerbau dan memukul gondang. Di tengah halaman didirikan sebuah tonggak yang dihiasi dengan daun-daun yang melambangkan pohon suci (pohon beringin). Tonggak tersebut dinamakan Borotan. Kerbau yang digiring akan disembelih di Borotan tersebut.

Ketika aku memasuki kampung tersebut, sedang berlangsung pertunjukan tarian batak tradisional, yang disebut Pesta Adat Mangalahat Horbo.

Mungkin tak banyak yang mengerti makna dari tarian tersebut, dari informasi yang kudapat, ini tahap-tahap dari tarian tersebut,

  1. Gondang Lae-lae, merupakan doa kepada dewata agar kerbau yang akan diikatkan tidak bertingkah yang jelek sewaktu digiring ke borotan. Kepercayaan orang batak jaman dulu, setiap tingkah laku dari kerbau merupakan pertanda sesuatu yang baik atau yang buruk terhadap yang berpesta.
  2. Gondang Mula-mula, doa kepada mula jadi, dewa pencipta bumi, langit, dan segala isinya agar dia menganugrahkan putra-putri, membawa kekayaan, menjauhkan bala dan menyembuhkan segala penyakit kepada yang mengadakan pesta.
  3. Gondang Mula jadi, Doa untuk mengatakan bahwa doa telah dikabulkan oleh Dewata atau Tuhan
  4. Gondang Shata Mangaliat, Orang yang berpesta menari dengan mengelilingi tonggak atau Borotan penyembelihan kerbau, dimana diikatkan seekor kerbau pada pesta adat. Kerbau tersebut disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan kepada yang berpesta dan kepada mereka yang berhak menerima sesuai adat yang ditentukan.
  5. Gondang Marsiolop-olopan, Kemudian orang yang berpesta, saling memberi selamat sesamanya.
  6. Gondang Siboru, Tari untuk para pemuda, sambil menari datanglah putri yang masing-masing dengan pengharapan datang untuk melamarnya.
  7. Gondang Sidoli, tari untuk pemudi, sambil menari datanglah seorang pemuda untuk mendekati seorang putri yang dicintainya dan yang didambakannya menjadi istrinya dan sebagai pertanda ia mencinta putri, dia akan memebri sejumlah uang.
  8. Gondang Pangurason, Roh nenek moyang berpesta datang dan menyusup pada tubuh salah seorang penari dan memberi berkat pada mereka.
  9. Gondang Habonaran, Dua anak laki-laki melakukan tari perang dan pemenangnya dianggap melambangkan kebenaran dan yang kalah melambangkan sebaliknya.
  10. Tari Bersama, Semua tamu yang diundang diajak menari bersama dengan tuan rumah yang mengadakan pesta tersebut.
  11. Tortor Tunggal Panaluan, tari ini diperankan oleh seorang dukun untuk berkomunikasi dengan Dewata Natolu meminta sesuatu seperti meminta hujan, keturunan, atau kesuksesan dalam kehidupan
  12. Gondang Sigale-gale, Tari boneka yang terbuat dari kayu mirip dengan manusia dimana pada zaman dahulu kala ada seorang raja yang hanya mempunyai seorang anak tunggal. Pada suatu saat anak tersebut jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Raja sangat sedih menerima musibah tersebut sebab anak yang diharapkannya untuk meneruskan cita-citanya (kerajaannya) sudah tiada. Jadi, untuk meringankan penderitaan raja sekaligus untuk mengenang anaknya, maka raja memerintahkan rakyatnya untuk mengukir sebuah patung yang sangat mirip dengan anaknya, dimana kala raja ingin melihat anaknya maka raja akan mengundang rakyatnya untuk membuat pesta Tarian Sigale-gale. Saudara perempuan Sigale-gale akan melepaskan kerinduannya dengan menari bersama Sigale-gale.Semakin mahir

Ketika tari bersama, aku diajak menari bersama pengunjung lainnya. Lucu juga yah. Awalnya sedikit canggung, tapi lama kelamaan aku semakin mahir loh. Hehe😉 Nah, saat  boneka kayu yang disebut Gondang Sigale-gale tampil, ternyata boneka tersebut disawer. Jadinya kita menyumbang sejumlah uang. Kalo aku cukup menyumbang sedikit rupiah saja (itu juga duitnya Mas Jagat a.k.a PA) apalagi tarif masuk ke acara budaya ini kurang lebih Rp 30.000, tapi bule-bule itu wah bisa nyumbang sampe seratus ribu bahkan lebih, loh. Entah karena tersihir dengan atraksi yang disajikan atau karena mereka gak ngerti kalo seratus ribu itu jumlah yang besar banget untuk sebuah saweran seperti ini. Kalo yang dikasih si, udah pasti gak bakal nolak.img_42191

6 thoughts on “Kampung Huta Bolon

  1. disawer ratusan ribu? woooo…
    itu bule2nya ga pake guide kali din. jd ga tau.
    hehehe..😛

    btw, tdnya aku sempet terkecoh.
    kirain kamu lg di luar negri. soalnya banyak bulenya gitu.
    taunya malah di sumut. hahaha…

    Ada guide nya kok, tapi, sekilas aku ngelirik ke dompetnya, emang ga ada duit kecil. Warnanya merah semua. hehe..
    Pas aku ke sana, kebanyakan bulenya. Dikit banget orang indonesia nya. Mungkin justru bule2 itu yang tertarik dengan budaya Indonesia. Sama seperti halnya kita yang tanpa disadari suka ke ekspatriat2 an.🙂

  2. Wah, seru2 banget cerita around Indonesianya, mau ikut donk!!! hehehe… btw, keep learning n praying ya… biar blognya ga muat lagi dengan cerita2 around Indonesianya…

  3. Halo Dinnasabriani,
    Trimakasih banyak atas artikel Kampung Huta Bolon. Kerinduan saya akan kampung halaman saya itu sangat terobati. Saya lahir kira-kira 300M dari Huta Bolon. Saya mengenal keluarga Huta Bolon.

    Sekarang saya di Bali dan sudah agak lama tidak mudik, belum ada uang😦 hahahaha…..

  4. hi,dian….
    mgkn km g knl ma ak, tp aku knl koq ma kam,rumahQ pas diatas huta bolon itu.
    tahun br ne kamu g plg ya,,,syg kali ga plg,pd hal ud mkin mantap loh….
    sekalian ntar kita bs knlan lbh dalam,,,
    HORASSSS……..!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s