I.M.L.E.K

Di kota tua. Terik juga ramai. Dipadati orang-orang keturunan tionghoa dan tak mau kalah juga orang-orang pribumi. Hari raya imlek ini memang merupakan perayaan yang unik, mengundang perhatian dari banyak pihak sekalipun yang tidak merayakannya. Termasuk aku.

Banyak hal yang sebenarnya menarik di sini, tapi sayang, daya tahan tubuh ku kurang ok terhadap asap dan bau nya, jadi aku tak menghabiskan terlalu lama di dalam satu dari lima klenteng yang terletak di kawasan petak 9, kota tua, ini. Ini merupakan klenteng teramai dikunjungi orang. Bagiku, sekilas tentu tak terbiasa melihat cara beribadah mereka. Dupa (seperti lidi) trus mereka ayun-ayunkan kemudian ditanamkan ke timbunan abu sambil memanjatkan doa. Bau asap di sana, khas banget sangat menusuk hidung. Tapi, begitulah cara mereka beribadah. Tentu mereka juga ngeliatnya ga biasa ya, dengan ibadah sholat lima waktu yang biasa umat muslim kerjakan.

Tionghoa beribadah dengan dupa

Yang membuat ku kaget ketika aku berjalan keluar dari klenteng tersebut, ramai sekali ibu-ibu bapak-bapak tua muda memasang tampang kasian dengan berteduhkan payung yang mereka bawa masing-masing. Ramai, benar-benar ramai. Ketika aku tanya “Lagi apa bu?” salah seorang ibu sedang menggendong bayi menjawab dengan muka iba dan memelas “Lagi cari duit neng. Kasian neng.” Dan kalo saja saat itu aku adalah tokoh dalam komik, tentu sudah muncul lambang tanda tanya di kepalaku.  (tuweweweeww?*&^%$$$)

Sedang cari duit. Ternyata mereka mengharapkan belas kasian dari orang-orang yang beribadah di sana untuk menyumbangkan sebagian hartanya. Begitulah cara mereka mencari duit. Dengan mengemis.

Meminta

Lautan manusia. Padahal, sekilas mata memandang, mereka masih tampak sehat, walaupun sebagian ada juga yang terkujur lemas tak berdaya. Iba, memang, tapi lebih iba dengan pilihan mereka menjadi pengemis. Mungkin memang lebih enak jadi pengemis daripada susah-susah kerja, tapi dapetnya segitu-gitu juga. Itu mungkin yang bikin mereka lebih baik mengemis, ya. Dan kegiatan ngemis mengemis ini akan berlangsung selama 15 hari.

Aku juga berkeliling, ke sekitar pasar di kawasan Petak 9 tersebut. Dijual beraneka ragam pernik pelengkap hari raya imlek dan beranekaragam makanan khas hari raya imlek. Dan tepat di malam tahun baru imlek, akan dirayakan dengan saat meriah lengkap dengan kembang api dan terompet,  gah kalah dengan perayaan tahun baru masehi yang biasa kita rayakan.

*penulis bukan pengamat politik atau budaya. Hanya penikmat apa pun yang dilihatnya

Jadi Petani

 TandurPernah menyadari gak susahnya jadi petani? Sering nasi yang kita makan sehari-hari jadi hal remeh buat kita. Padahal, coba sehari aja ga makan nasi, banyak diantara kita yang merasa kurang. Katanya sih, mau makan banyak kaya apa juga, belum makan namanya kalo belum makan nasi. Trus, gimana rasanya kalo petani-petani udah gak mau lagi nanam padi. Gimana kalo petani-petani udah berubah jadi dokter atau artis sinetron semua. Sulit memang untuk turut berempati terhadap nasib petani. Aku aja yang udah belajar pertanian selama kurang lebih empat tahun, kadang masih suka autis dengan kehidupan para petani.

Nah, di Bumi Mandiri Center, Sukabumi, ada suatu lokasi dimana kita bisa ngerasain jadi petani. Belajar banyak hal tentang pertanian dari proses awal ngebajak sawahnya sampai panennya. Bahkan di sini kita bisa menikmati hasil panen nya juga 🙂 Hmmuuppph, itu yang paling aku suka 😀

Sampai di sana kita akan merasakan suasana alam yang sejuk karena lokasinya yang terletak di kaki Gunung Gede – Pangrango. Gak perlu kawatir akan menginap di mana, kalo kemalaman sampai di sana karena tersedia penginapan yang sangat nyaman untuk beristirahat. Penginapannya berupa cottages yang di beri nama-nama gunung untuk setiap cottage nya. Yang paling penting, tersedia air panas biar gak kedinginan  kalo mau mandi mengingat suhu udara  di sana bisa mencapai di bawah 15′ celcius di malam hari.

Sebelum memulai aktifitas di sawah, kita mau nyobain dulu gimana cara memerah susu sapi. Yang paling penting dalam memerah susu sapi, sapi yang diperah haruslah sapi betina. 😀 ya, iyalah. Ada cara khusus untuk memerah nya, jangan asal perah, kalo gak, sapi nya bisa-bisa ngamuk. Sebelumnya tangan kita diolesin mentega dulu biar licin dan mempermudah pemerahan. Satu ekor sapi bisa menghasilkan rata-rata 10-15 liter susu sapi per hari nya. Susu sapi yang dihasilkan masih belum mengalami proses sterilisasi sehingga bagi yang belum biasa sebaiknya tidak langsung meminumnya karena bisa-bisa sakit perut. Lagipula kayanya si rasanya juga gak selezat susu sapi yang diolah apalagi yang udah di kasi rasa strawberry atau coklat 😉Bersiap memerah sapi

Nah, setelah mengerti memerah susu sapi, kemudian saatnya untuk melakukan berbagai rangkaian kegiatan yang biasa dilakukan oleh petani setiap hari dalam mengolah sawah.

Membajak sawah dengan kerbau, kemudian setelah di irigasi sawah siap di tanam. Kebayang kita harus nyebur ke  sawah berlumpur itu dimana sedang berlalu lalang kerbau dan aku menyaksikan sendiri bagaimana kerbau itu dengan santainya mengeluarkan kotoran yang berwarna item keabuan lembek-lembek dalam jumlah banyak yang warnanya tak ada beda dengan warna lahan yang kuselami (selami? jelajahi?) saat itu.

Setelah itu, kita menanam padinya. Aku, dila, dan Silvi, menanamnya dengan cara tandur alias tanam mundur. hehe.. Wah, ternyata cape juga ya, harus nanam satu satu gitu, aku aja yang baru ngerjain sebentar udah bosen, sampai-sampai sawahnya jadi berantakan.

Di episode kali ini, kita benar-benar ngerasain susahnya jadi petani. Semua proses dari mulai ngebajak sawah, nanam padi, pemupukan, semprot pestisida, dan terakhir proses panennya yang gak gampang. Padi harus di kepyak-kepyak dulu untuk memisahkan bulir padi dengan gabahnya..

Wadooouuuh, berat sekali perjuangan petani untuk menghasilkan beras ya, padahal rupiah yang dihasilkan gak seberapa (tetep ujung-ujungnya duit). Jarang banget ketemu buruh tani dengan kehidupan ekonomi yang diatas rata-rata. Tentunya sulit bagi petani untuk memiliki posisi tawar yang aman mengingat ciri-ciri komoditas pertanian yang bulky dan perishable itu.

Kotorannya udah. Kemudian, untuk pertama kali nya, aku ngerasain mandi bareng kerbau di kali. Hahahh,, Ternyata kerbau perlu mandi juga biar gak sakit. Saat itu hujan gerimis, dan kebayang gimana dinginnya air kali di sana. Dan aku, agak heran juga ngeliat dila dan silvie tampak sangat menikmati mandi di pancuran air (apa karena kebutuhan syuting?). Kalo aku, jujur aja, udah kedinginan banget, udah menggigil kedinginan. Mending mandi di kamar, ada air panas nya lagi.. 😉

Bagian yang sangat ditunggu-tunggu, adalah menikmati hasil panen. Beras yang di panen dibikin nasi liwet, trus bakar-bakar ikan juga. Mmmhhh, bener2 mantep banget, berteduh di pendopo yang dikelilingi sawah dan diiringi gemericik aliran sungai. Walaupun dingin yang menusuk kulit, ikan bakar pun tentu terasa lebih nikmat,, 🙂

Fitness Baru

fitness_center

Aku menyambut hangat pembukaan fitness baru di dekat rumah ku. Grand openingnya gila-gilaan! Menghadirkan Bang Tigor (suami-suami takut istri). Gimana satu kampung gak heboh. Badannya mana tahhhaaannn!

Aku semakin penasaran dengan fitness baru ini seperti anak kecil punya mainan baru. Jadilah, belakangan ini, sore hari, kuhabiskan di fitness. Bahkan kemaren, aku di sana sampai jam 8 malam. Aku lagi semangat-semangatnya dengan aerobik dan body language, gak mau rugi dengan kartu member yang udah kubuat. Semua fasilitas harus dijabanin. Apalagi instruktur aerobiknya yang ‘tickle’ 🙂 bikin tambah semangat.

Satu alasan kenapa aku bertekat untuk giat exercise ini, karena aku ingin bisa tetap makan bebas semaunya, tanpa harus takut menimbun lemak di tubuh ku. Ahha!! *PT langsung pasang muka mesem-mesem

Perjalanan ke Kampung Dukuh, Pameungpeuk, Jawa Barat

Sesampainya di Garut, untuk episode Catatan Perjalanan 3 Wanita, aku kebagian mengunjungi Kampung Dukuh, di Pameungpeuk, Jawa Barat. Dila kebagian ke  Grin Canyon dan Silvi kebagian ke kawah Gunung Papandayan dan sekitarnya.

Dengan tim yang sama, benar-benar sama dengan tim Danau Toba, perjalanan ku menuju Kampung Dukuh dimulai. Karena sampe di Garutnya pun udah siang ditambah makan siang dan persiapan ini itu, aku, Mas Hendra, Mas Jagat, dan Kang Ceceng baru berangkat sekitar jam tiga kurang dari titik keberangkatan (sebuah restoran sunda, di Kota Garut). Sampai di Pameungpeuk kota pukul setengah enam, sudah menjelang magrib. Kayanya hampir gak mungkin kalo kita tetap melanjutkan perjalanan. Mengingat perjalanan ke desa tersebut harus melewati jalan yang amat rusak dan hutan yang masih banyak berkeliaran binatang buas. Too risky.

Sebelum gelap tiba, kami sempat mampir ke pantai Sayang Heulang, Pameungpeuk. Wah, aku gak nyangka ada pantai seindah ini di sini. Pantai nya masih asli dan gak terlalu banyak campur tangan manusia. Terbentang hamparan pasir putih dan gulungan ombak yang saling berkejaran. Airnya pun jernih banget sampai-sampai karang-karang dan algae di dasarnya bisa jelas terlihat. Apalagi saat itu pas banget sunset. Walaupun begitu, matahari tidak bisa menunggu. Ia akan tetap tenggelam pada saat yang seharusnya. Tidak peduli saat itu kita ingin mengabadikan gambarnya baik di camera milik Trans TV maupun kamera milik mas Hendra 😉 However, detik-detik itu benar-benar kesempurnaan yang sedang bersinergi. Bagiku.

Hunting makan malam dan penginapan pun dengan ikhlas kami lakukan malam itu. Terdapat cukup banyak penginapan sederhana di sana 😉 Penginapan yang layak buat ngelurusin badan, dan menghimpun sejumlah tenaga buat aktivitas keesokan harinya, itu sudah teramat cukup. Tak kurang 8 kali kami melewati jalur yang sama untuk mencari penginapan yang pas. Juga makan malam yang menggugah selera.

Kami menikmati 3 ekor ikan laut goreng dan bakar dengan deruan ombak yang menyapu pesisir pantai Pamenungpeuk. Total berat ikan lebih dari 2 kg. Padahal itu semua hanya akan disantap oleh 4 orang. Beruntung Mas Jagat punya porsi makan lebih dari manusia normal lainnya 😉  jadi, ikan yang dimakan tidak tersisa terlalu banyak.

Keesokan paginya. Perjalanan dimulai lagi.

Mendadak Mas Jagat menceritakan items syuting buat episode ini. Huaahhh! Aku diharuskan untuk take mengendarai motor. Mungkin bukan hal yang sulit buat yang udah biasa. Tapi buatku, ini benar2 baru (dulu pernah si belajar, tapi tidak pernah benar-benar berhasil). Dan sekarang aku harus mengendarai motor hanya dengan latihan beberapa menit saja. Sim salabimmmm, i did it!! Beberapa menit latihan, kita pun memulai syuting hari itu dengan bismillahirrohmannirrohiiim,,

Sulit mencapai kampung dukuh dengan kendaraan roda 4, maka ojek merupakan pilihan yang tepat untuk mencapainya. Jalan kaki tentu bukan pilihan yang tepat kalo masih bermimpi punya kaki berukuran normal yang gak bengkak 😉 Aku melewati bukit yang curam. Kanan kiri merupakan jurang dan hutan yang masih alami. Yang memperparah perjalanan ku adalah jalanannya yang berupa batu-batu seperti kali kering gak ada airnya (kalimat majas yang dipilih mba Fista). Sesekali aku terpaksa melewati kubangan karena gak ada pilihan lain. Grudukan batu atau lumpur, hanya itu pilihannya.

Bayangkan, saya, dalam jalanan lurus mulus saja, masih amat canggung mengendarai motor, apalagi di jalanan dengan medan sulit seperti ini dan di syuting kamera pula. Kurasa, gak semua tukang ojek mampu melakukannya. Dan yang terbersit dalam pikiranku terjadilah. Dari musibah ini aku mengorbankan seorang PA andalan para cameraman yang sedang membawa akilait seberat 15 kg juga memutuskan kabel headphone milik trans TV. Korban lain adalah motor yang kukendarai, dan cipratan lumpur untuk Mas Hendra. Satu-satunya yang selamat dalam kejadian ini tanpa kekurangan apa pun adalah camera. Menurut info yang kudapat, camera adalah hal nomor satu yang ada di benak kru untuk diselamatkan. Oh, beruntungnya menjadi kamera itu. Keselamatan host mungkin jadi prioritas ke berapa belas saat itu 😉

Fiuuhh,, alhamdulillah, dari kejauhan aku sudah melihat atap-atap rumah kampung tersebut, dan akhirnya aku sampai di Pintu masuk Kampung dukuh. Dan huoh, ternyata aku harus masih harus berjalan sekitar satu kilometer untuk benar-benar sampai di kampung itu.

Trarattaattata,,,

Aku sampai di rumah bapak kepala suku. Sambil mengamati suasana di Kampung ini, aku pun beristirahat di rumah asli masyarakat kampung Dukuh, menikmati udara sejuk di sini yang menggoda untuk tidur pules.

Sebelum kebablasan tidur, aku pun menyegerakan diri untuk bersih-bersih. Susah-susah menuju kampung Dukuh ini, sebenarnya ada apa aja ya di sini? Nah, biar gak penasaran, nonton yah, Catatan Perjalanan 3 Wanita, setiap rabu, Jam setengah tujuh pagi. *promosi

_mg_4829

Saling Menghargai

Serambi Masjid Baiturrahman, NAD

Serambi Masjid Baiturrahman, NAD

Menghargai yang berasal dari kata harga dan dalam bahasa Inggris kita menyebutnya appreciate adalah hal penting dalam keseharian kita. Kadang kita menganggap ini sepele, tapi sebenarnya amat penting. Kita sering tidak menyadari seberapa penting menghargai sampai suatu saat kita mengalami, merasakan atau tau rasa, gak enaknya tidak dihargai.

Sebagai manusia, seringkali kita merasa cukup hebat dibanding yang lain. Dan ini terjadi pada banyak orang mau mengakui atau tidak, walaupun gak sedikit orang yang justru sering kali merasa kecil dibanding orang lain sebut lah dengan minder. Merasa berhasil dalam suatu hal, tentu kita gak bisa membendung rasa bangga yang membahana dalam diri kita. Bangga boleh, nyombong dikit udah manusiawi lah. Tapi kalo sampai sikap kita lantas tidak menghargai orang lain yang kemudian akan menyakiti nya, rasanya kok udah gak enak.

Kalau pernah menangis karena merasa gak dihargai, lalu pernah kah kita menyadari kita mungkin juga pernah membuat orang lain menangis karena tidak menghargainya. Begitu lah keseharian. Kadang kita berkoar-koar minta dihargai, padahal sebaliknya kita sering bersikap tidak menghargai orang lain.

Sering kita memandang sebelah mata terhadap hal yang kita anggap remeh. Misalnya terhadap pembantu rumah tangga, ah, dia hanya orang kecil apalagi secara materi dan pendidikan. Rendahnya materi dan pendidikan membuat kita lalu sombong, kemudian tanpa sadar menyakiti hatinya. Ketika dia sudah tidak tahan dengan perilaku kejamnya majikan (kaya sinetron-sinetron gitu) lalu dia ngabur. Dan kemudian, kalang kabut, ribet ngurus rumah karena gak ada pembantu. Ini banyak terjadi. Kejadian tidak menghargai seperti ini, bukan hanya terjadi antara pembantu dan majikan tentunya. Banyak sekali kejadian terutama saat seseorang merasa dirinya lebih baik, lebih hebat, lebih kaya, lebih sukses, lebih keren, lebih pinter, dan lebih-lebih lainnya dibandingkan orang lain. Seperti kerja jantung dalam tubuh kita. Jantung memang bagian kecil dalam tubuh, tapi bisakah manusia hidup, beraktivitas seperti biasa tanpa jantung.

Beberapa waktu lalu aku belanja eh liat-liat di salah satu butik di ITC Mangga Dua. Aku agak kasian ngeliat pegawainya lagi dimarahin sama nci yang punya butik cuma karena pegawainya kelebihan kasih kembalian ke salah satu pembeli. Ok, ok. Duit emang hal yang sensitif apalagi dalam dagang kaya gini. Tapi, harus ya, pegawai nya dimaki-maki di depan orang banyak malah sampe ditoyor-toyor. Aku sendiri sampai gak tega dan pengen cepet-cepet ngabur rasanya dari sana. Ah, bisakah si nci menghargai kekhilafan yang dilakukan pegawainya. Bagaimana nanti kalau akhirnya dia ngerasa kelabakan sendiri kalau gak ada yang mau kerja sama dia lagi. Bos nya kaya monster gitu, siapa yang betahh.

Meninggalkan 2008 ini, aku merenung banyak hal. Menghargai merupakan point penting dalam renunganku saat itu. Kita semua diciptakan sama di muka bumi ini. Sama-sama kecil, sangat kecil dibandingkan Sang Pencipta. Sama-sama lemah tak berdaya. Membuka lembaran tahun 2009, tentu kita semua ingin memulai dengan niat yang baik. Aku juga akan memulainya dengan lebih menghargai sesama. Bukan bermaksud pamrih, tapi aku membayangkan betapa indah jika kita bisa hidup saling menghargai. Sudahlah, hidup ini cuma sebentar, lalu kenapa kita masih disibukkan dengan kesombongan.

This is my hugs for everyone in this entire world. Also thanks for you, for always appreciate me. I will always love you 🙂

Posted in Oh