Perjalanan ke Kampung Dukuh, Pameungpeuk, Jawa Barat

Sesampainya di Garut, untuk episode Catatan Perjalanan 3 Wanita, aku kebagian mengunjungi Kampung Dukuh, di Pameungpeuk, Jawa Barat. Dila kebagian ke  Grin Canyon dan Silvi kebagian ke kawah Gunung Papandayan dan sekitarnya.

Dengan tim yang sama, benar-benar sama dengan tim Danau Toba, perjalanan ku menuju Kampung Dukuh dimulai. Karena sampe di Garutnya pun udah siang ditambah makan siang dan persiapan ini itu, aku, Mas Hendra, Mas Jagat, dan Kang Ceceng baru berangkat sekitar jam tiga kurang dari titik keberangkatan (sebuah restoran sunda, di Kota Garut). Sampai di Pameungpeuk kota pukul setengah enam, sudah menjelang magrib. Kayanya hampir gak mungkin kalo kita tetap melanjutkan perjalanan. Mengingat perjalanan ke desa tersebut harus melewati jalan yang amat rusak dan hutan yang masih banyak berkeliaran binatang buas. Too risky.

Sebelum gelap tiba, kami sempat mampir ke pantai Sayang Heulang, Pameungpeuk. Wah, aku gak nyangka ada pantai seindah ini di sini. Pantai nya masih asli dan gak terlalu banyak campur tangan manusia. Terbentang hamparan pasir putih dan gulungan ombak yang saling berkejaran. Airnya pun jernih banget sampai-sampai karang-karang dan algae di dasarnya bisa jelas terlihat. Apalagi saat itu pas banget sunset. Walaupun begitu, matahari tidak bisa menunggu. Ia akan tetap tenggelam pada saat yang seharusnya. Tidak peduli saat itu kita ingin mengabadikan gambarnya baik di camera milik Trans TV maupun kamera milik mas Hendra😉 However, detik-detik itu benar-benar kesempurnaan yang sedang bersinergi. Bagiku.

Hunting makan malam dan penginapan pun dengan ikhlas kami lakukan malam itu. Terdapat cukup banyak penginapan sederhana di sana😉 Penginapan yang layak buat ngelurusin badan, dan menghimpun sejumlah tenaga buat aktivitas keesokan harinya, itu sudah teramat cukup. Tak kurang 8 kali kami melewati jalur yang sama untuk mencari penginapan yang pas. Juga makan malam yang menggugah selera.

Kami menikmati 3 ekor ikan laut goreng dan bakar dengan deruan ombak yang menyapu pesisir pantai Pamenungpeuk. Total berat ikan lebih dari 2 kg. Padahal itu semua hanya akan disantap oleh 4 orang. Beruntung Mas Jagat punya porsi makan lebih dari manusia normal lainnya ;)  jadi, ikan yang dimakan tidak tersisa terlalu banyak.

Keesokan paginya. Perjalanan dimulai lagi.

Mendadak Mas Jagat menceritakan items syuting buat episode ini. Huaahhh! Aku diharuskan untuk take mengendarai motor. Mungkin bukan hal yang sulit buat yang udah biasa. Tapi buatku, ini benar2 baru (dulu pernah si belajar, tapi tidak pernah benar-benar berhasil). Dan sekarang aku harus mengendarai motor hanya dengan latihan beberapa menit saja. Sim salabimmmm, i did it!! Beberapa menit latihan, kita pun memulai syuting hari itu dengan bismillahirrohmannirrohiiim,,

Sulit mencapai kampung dukuh dengan kendaraan roda 4, maka ojek merupakan pilihan yang tepat untuk mencapainya. Jalan kaki tentu bukan pilihan yang tepat kalo masih bermimpi punya kaki berukuran normal yang gak bengkak😉 Aku melewati bukit yang curam. Kanan kiri merupakan jurang dan hutan yang masih alami. Yang memperparah perjalanan ku adalah jalanannya yang berupa batu-batu seperti kali kering gak ada airnya (kalimat majas yang dipilih mba Fista). Sesekali aku terpaksa melewati kubangan karena gak ada pilihan lain. Grudukan batu atau lumpur, hanya itu pilihannya.

Bayangkan, saya, dalam jalanan lurus mulus saja, masih amat canggung mengendarai motor, apalagi di jalanan dengan medan sulit seperti ini dan di syuting kamera pula. Kurasa, gak semua tukang ojek mampu melakukannya. Dan yang terbersit dalam pikiranku terjadilah. Dari musibah ini aku mengorbankan seorang PA andalan para cameraman yang sedang membawa akilait seberat 15 kg juga memutuskan kabel headphone milik trans TV. Korban lain adalah motor yang kukendarai, dan cipratan lumpur untuk Mas Hendra. Satu-satunya yang selamat dalam kejadian ini tanpa kekurangan apa pun adalah camera. Menurut info yang kudapat, camera adalah hal nomor satu yang ada di benak kru untuk diselamatkan. Oh, beruntungnya menjadi kamera itu. Keselamatan host mungkin jadi prioritas ke berapa belas saat itu😉

Fiuuhh,, alhamdulillah, dari kejauhan aku sudah melihat atap-atap rumah kampung tersebut, dan akhirnya aku sampai di Pintu masuk Kampung dukuh. Dan huoh, ternyata aku harus masih harus berjalan sekitar satu kilometer untuk benar-benar sampai di kampung itu.

Trarattaattata,,,

Aku sampai di rumah bapak kepala suku. Sambil mengamati suasana di Kampung ini, aku pun beristirahat di rumah asli masyarakat kampung Dukuh, menikmati udara sejuk di sini yang menggoda untuk tidur pules.

Sebelum kebablasan tidur, aku pun menyegerakan diri untuk bersih-bersih. Susah-susah menuju kampung Dukuh ini, sebenarnya ada apa aja ya di sini? Nah, biar gak penasaran, nonton yah, Catatan Perjalanan 3 Wanita, setiap rabu, Jam setengah tujuh pagi. *promosi

_mg_4829

7 thoughts on “Perjalanan ke Kampung Dukuh, Pameungpeuk, Jawa Barat

  1. Bu.. Pas di pantai narasinya keren.. Kayaknya udaH OKE ni buat bikin script sendiri. Tapi pas bagian jatuh dari sepeda motor n mengorbankan seorang PA, penekanannya kurang bu..😉 harusnya lebih dieksplor lagi mengenai penderitaan PA tersebut😉

    kalo gitu ntar aku bikin postingan khusus penderitaan seorang PA. hehe😉

  2. pamengpeuk emang jauh, tapi pantainya bagoes, sayang heulang, pamengpeuk. pasir putih, halus, pantai panjaaaang..sempet camping juga di….(lupa..). top lah indonesia..

    yup indonesia amat potensial dengan pesona keindahan alam nya🙂

  3. Pantai pameungpeuk sungguh2 indah..
    Terkenang 7 tahun lalu di suatu sore disiram sunset dengan deburan ombak dan alunan lagu2 grup band Padi bersama teman-teman KKN (Kuliah Kerja Nyata Unpad)..
    Pameungpeuk top lah!!

  4. 23 Januari 2009 saya berkunjung ke pameugpeuk khususnya ke kampung dukuh, seneng ya disana, kebetulan sedang ada kegiatan, jadi bisa mengikuti. Kami bermalam disana, dan sangat terkesan dengan sayur bambu muda/iwung, aduh enak sekali sudah sulit dicari di kota. Coba ya orang pameungpeuk dapat melestarikan itu untuk wisata kuliner ke pantai, saya juga sempat mampir di pantai sayang heulang, indah tapi kurang terpelihara mudah2an satu saat saya aka kesana lagi sudah terpelihara dengan baik ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s