Tana TOA, Budaya Tua yang Unik

Tana Toa yang terletak sekitar 250 km dari selatan Makassar, Sulawesi Selatan. Sebelum ke sana, aku sudah memakai pakaian hitam menyesuaikan dengan budaya masyarakat Tanatoa yang selalu mengenakan pakaian berwarna hitam-hitam atau putih-putih. Adalah pantangan bagi mereka menggunakan pakaian dengan warna-warna nge-jreng. Ini untuk menunjukkan kesederhanaan kehidupan masyarakat di sana, menurut informasi yang aku dapat.

Sebelum menelusuri kampung adat lebih jauh lagi, sambil menunggu hujan reda, aku bertemu dengan pengunjung lain. Tanya punya tanya, ternyata kunjungan beliau punya tujuan berbeda dengan ku. Ada orang penting yang mereka temui di sana, tak lain adalah pemimpin adat kampung Tana Toa, yang disebut-sebut dengan Ammatoa. Beliau adalah salah seorang rombongan  caleg sebuah partai. Mmmh,, begitulah salah satu cermin calon pemimpin di Indonesia. Sedih ga sih 😦 Mereka menemui Ammatoa karena Ammatoa dianggap suci dan memiliki ilmu tinggi. Lah, mau jadi caleg harus ke dukun segala? 😦

Setelah itu, aku juga bertemu dengan seorang ibu yang menemui Ammatoa untuk kepentingan pengobatan. Beliau sudah lama mengidap penyakit yang tidak dapat dideteksi secara medis. Dan katanya, setelah beberapa kali menemui Ammatoa, penyakit beliau perlahan pulih. Bukan promosi. Bukan, hanya info yang mungkin dapat menguji keyakinan kita pada illahi. Mau percaya atau tidak, itu pilihan masing-masing.

Memasuki kampung adat, terlihat ibu-ibu, anak kecil, juga bapak-bapak yang melangkah tanpa beralas kaki, berlalu lalang membawa kayu bakar untuk memasak.

Suasana magis menyelimuti langkah ketika aku memasuki kampung ini. Kampung adat  ini masih asri, dikelilingi hutan alami yang menambah rimbun suasana. Amat sederhana, jauh dari teknologi modern seperti yang biasa kita lihat di kota-kota besar.  Tidak ada aliran listrik. Rumah-rumah nya serupa rumah panggung yang terbuat dari kayu. Kesemuanya menghadap ke Barat. Aktivitas masyarakat tidak terlihat terlalu sibuk di sini. Yang laki-laki biasanya bercocok tanam pada pagi hari, yang perempuan diam di rumah. Memasak. Sesekali aku melihat aktivitas ibu-ibu sedang menenun. Mereka menenun sendiri pakaian yang mereka kenakan. Pada malam hari, mereka berkumpul di rumah. Dan mereka melewati malam dalam gelap, hanya ditemani secercah sinar bulan dan taburan cahaya bintang.

Sayang, objek-objek menarik tidak bisa diambil gambarnya, terutama gambar aktivitas masyarakat di sana seperti aktivitas mandi (iyalah!) dan kegiatan kongkow-kongkow lainnya.Balai Pertemuan di Tana Toa

Aku melihat lokasi pemandian umum berikut aktivitasnya 😉 Mereka mandi berbalutkan kain panjang tradisional sembari mengaliri tubuh dengan sejuknya pancuran air dari mata air pegunungan. Ketika ditanya, apa boleh gambarnya diambil, mereka dengan tegas menjawab ‘tidak boleh’. Gambar yang ingin diambil sebenarnya jauh dari ponografi, kok. Mereka masih tertutup dan sama sekali tidak telanjang.

Menelusuri kampung lebih dalam, tampak rumah-rumah panggung khas Tana Toa. Aku langsung menuju rumah Amatoa. Gambar Amatoa pun tidak boleh dipublikasikan. Demikian pula rumahnya, hanya boleh dari luar saja. Menuju ke sana, tampak sekumpulan laki-laki sedang duduk di halaman sebuah rumah sambil meminum tuak. Aku tidak tau, memabukkan atau tidak.

Sampai di depan rumah Ammatoa aku mulai deg2an. Lalu, aku masuk ke rumahnya tanpa kamera. Duh, aku makin deg2an. Aku masuk sendirian tidak ditemani Mas Jagad maupun Mas Sugi, yang menemani perjalanan ku saat itu. Di dalam rumah Amatoa, sepertinya sedang ada kumpul-kumpul. Tapi ternyata, itu bukan aktivitas penting, hanya aktivitas yang biasa yang mereka lakukan. Sama seperti kita juga. Ngumpul sore-sore 🙂

Penampilan Amatoa di luar dari dugaan ku sebelumnya. Walaupun usianya udah lebih dari 80 tahun, penampilannya masih seperti 40an. Wuih, awet muda, ya? 🙂 Saat itu dia didampingi oleh para kabinetnya, yang juga memiliki ‘ilmu’.

Kunjungan ku membuatku banyak tau tentang uniknya kehidupan Kampung Tana Toa ini. Yang paling unik adalah bahwa sebenarnya mereka memeluk agama Islam hanya saja mereka tidak menjalankan beberapa syariat Islam seperti sholat dan berwudhu. Seperti kata Ammatoa, mereka menganggap diri mereka suci sepanjang waktu. Wudhu yang tidak pernah batal dan Sholat yang tidak pernah putus.

Di rumah Ammatoa, aku juga sekalian minta izin untuk meliput keliling Kampung Tana Toa ini. HanIni Bu' nahya saja ada batas pagar yang tidak boleh kami lewati.

Menelusuri lebih jauh, semakin terasa suasana hutan yang masih alami. Udara nya benar-benar teduh. Aku juga melihat serombingan kerbau putih khas Sulawesi Selatan. Aku juga sempat bercakap dengan bocah Tanatoa. Mereka terlihat sedang ngemil buah yang mereka sebut dengan bu’  nah. Ketika aku cicip, rasanya asem 😦

Kisah menarik tentang uniknya Tanatoa juga bisa kamu baca di sini. Kalau males baca, berarti harus bangun pagi buat nonton Catatan Perjalanan Wanita Dinna Hari Rabu jam 6 wib di Trans TV ;). Ya, ya, ya…

Tentang Dinna dan Valentino Rossi

Ketika membaca judul postingan ini, mungkin sebagian mengira aku adalah seorang penggemar berat Valentino Rossi. Tapi tunggu dulu, kesimpulan Anda sebaiknya tidak berhenti sampai disitu.

Ini bermula dari ajakan sahabatku untuk menemaninya melihat Valentino Rossi yang sedang datang ke Jakarta. Ketika mendengar namanya aku mencoba mengingat, siapa Valentino Rossi yang tadinya aku pikir ia seorang penyanyi atau bintang film (ketauan begonya). Dengan bantuan seorang teman yang lain, ternyata aku baru ingat kalau dia adalah Pembalap. Entah pembalap jenis apa, tapi ya, sahabatku memang penggemar Valentino Rossi sejak ia masih di bangku SMP.Valentino Rossi, The Doctor

Pertemuan atau jumpa fans dengan pembalap yang belakangan baru aku ketahui telah meraih  juara Moto GP 8X berturut-turut ini, akan berlangsung di Istora Senayan. Jadilah pagi ini, aku dan temanku melaju ke Istora Senayan, dengan mengumpulkan mood baik sebaik-baiknya. Suasana mendung dan becek-becek mulai merusak mood baikku yang mungkin belum kupersiapkan dengan matang. Ramai terlihat orang-orang dengan kaos we love Rossi. Dengan semangat 45 mereka rela ujan-ujanan demi pujaan hati Valentino Rossi. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tau jelas muka Rossi dalam iklan sepeda motor yang merupakan sponsor utama nya.

Di sana, aku bertemu dengan seorang penggemar Valentino Rossi yang lain. Dia menawarkan diri untuk bergabung denganku dan sahabatku karena dia datang sendiri. Walaupun baru kenal, dia ngomong panjang lebar tentang Valentino Rossi, yang jujur saja membuatku mual. Semakin terlihat jelas bahwa aku tidak tahu apa-apa tentang Rossi, dan memang sebenarnya aku tidak ingin tau. Cukup tau kalo dia seorang pembalap Moto GP rasanya tidak terlau buruk. Aku berusaha mengatasi jenuhnya obrolanku dengan sms an . Biarlah sahabatku yang ngobrol sebagai sesama pecinta Valentino Rossi. Obrol punya obrol, sekilas aku dengar kalo Rossi baru dateng jam 2. Itu pun hanya 15 menit an. Tak ada yang namanya foto bareng. Padahal tadinya aku berharap bisa memberikan frame sahabatku dan Rossi yang paling ok untuk menyenangkan hatinya. Yang kebagian foto bareng hanyalah 10 orang yang beruntung memenangkan kuis. Mendadak aku terkaget dan ingin berlinang air mata. Sekarang baru pukul 10, dan aku harus menunggu seorang Valentino Rossi hingga jam 2, dan mungkin dia cuma selewatan doang, gak ada foto-fotoan, dan menunggu di saat aku tidak membawa satu pun buku maupun laptop untuk mengatasi kejenuhanku. Juga gak ada cemilan. Oh, rasanya kalau nanti dia datang, di saat orang-orang menghujaninya dengan sorotan blitz kamera, aku ingin menghujaninya dengan air becek saja. Tapi tentu saja niat itu hanya dalam hati, karena sbenernya aku orang yang pengertian dan aseek abeeess. Bagaimana kalau suatu saat nanti aku jadi orang terkenal, tentu aku ingin semua orang menyambut hangat keberadaanku bukannya malah menghujaniku dengan sesuatu yang tak berprikemanusiaan. *ngimpi jadi orang terkenal. Layaknya kata pepatah, berbuat baiklah maka orang lain akan berbuat baik pada kita. Hukum alam, kalo ndak salah. Jangan berbuat jahat kalo kita gak mau dapet balesannya.

Ok, aku memang tidak bisa menutupi raut muka ku yang berlipat tujuh itu. Lalu, si penggemar Rossi tersebut dengan segala kemuliaan hatinya mencoba menghiburku “Jangan sedih, walaupun gak bisa foto bareng Rossi, setidak nya seneng bisa liat langsung mukanya.” Mmmh, bahkan aku gak peduli bagaimana mukanya, aku hanya ingin menemani sahabatku dan bisa mengambilkan sebuah frame foto cantik untuknya (actually, i am a reliable bestfriend 😉 ). Sembari menunggu, berusaha untuk sabar, akhirnya sahabatku tersadar akan usaha yang bisa dibilang gak worth ini. Tanpa paksaan dariku, dia mengajakku pulang karena sudah mulai bosan. Basa basi sedikit dengan bilang “apa gak sayang kita udah nunggu selama ini, tapi gak ketemu Rossi?” Sahabatku dengan mantap menjawaab “enggak din, aku juga males kalo kaya gini”

Yes, akhirnya kami memutuskan untuk menyerah sebelum berperang. Bukan masalah buatku soal menyerah yang satu ini. Dengan rasa haru campur bahagia, aku dengan semangat melaju meninggalkan kawasan Istora Senayan.

Dalam perjalanan, aku bersyukur dengan sosokku yang tidak pernah terlalu fanatik terhadap idola. Aku memang suka kerispatih atau ST12 (ketauannya seleranya 😉 ), tapi aku tidak pernah berpikiran untuk bela-belain nungguin dia liwat hanya untuk bisa bertemu langsung dengan mereka. Aku sudah puas hati melihat video klipnya di TV atau mendengar lagunya di iPod. Dan mudah-mudahan aku gak akan mengalami kefanatikan bodoh semacam itu.

Bdw, aku bukan menghujat bagi teman-teman yang memang punya gaya sendiri dalam mengidolai sosok yang disukai nya. Silakan, monggo. Hanya ingin berbagi pengalaman dan perasaan ku hari ini. We have our own way to love 🙂

Keindahan yang Tersembunyi di Pantai Sawarna

Perjalanan dengan kondisi jalan yang memprihatinkan ini akan mengantarkan ku  ke Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Sebelumnya aku meragukan, apa benar ada keindahan dan misteri sejarah yang tersimpan di sana.

Setelah aku melewati kanan kiri jalan yang diselimuti hutan belantara, kemudian aku dikagetkan dengan panorama surgawi yang tidak aku bayangkan sebelumnya. Terlihat garis pantai dengan barisan nyiur sepanjang jalan Kecamatan Bayah. Buih gelombang yang seolah menghantam batu karang bersisian dengan permadani pasir putih dan hamparan sawah hijau, layaknya sinergi keindahan yang membangunkan desir zikir di hatiku.

Sebelum menikmati hembusan angin di pinggir pantai, aku penasaran dengan sebuah goa yang disebut-sebut oleh masyarakat setempat dengan goa harta karun. Sesuai namanya, konon katanya di sini terdapat timbunan emas, giok cina, dan senjata perbekalan perang Asia Timur Rayamilik orang Jepang. Beberapa penjelajah goa mencoba menemukan harta karun tersebut, tapi tentu saja tidak mudah. Selain itu pencarian harta karun tersebut juga menimbulkan pro kontra dari masyarakat setempat. Aku pun mencoba menelusuri goa tersebut, dan layaknya mimpi di siang bolong, aku berharap berhasil menemukan harta karun di sana 😉

Lelah mencari harta karun yang tak kunjung ketemu, aku benar-benar tak sabar ingin refreshing, jalan-jalan di pinggir pantai. Tapi sebelumnya, ada item menarik yang gak boleh aku lewatkan. Terdapat batu nisan Jean Louis Van Gogh, yang merupakan keponakan Vincent Van Gogh seorang pelukis terkenal dari Eropa. Jean Louis Van Gogh dulunya adalah pengusaha perkebunan kelapa yang terdapat di sepanjang Pantai Sarwana. Namun kini, perkebunan kelapa ini sudah dikelola oleh PTPN. Jean Louis Van Gogh wafat karena sakit, dan ingin dimakamkan di bumi Indonesia. Makam ini ternyata baru ditemukan pada tahun 2000 silam. Bapak Erwin selaku camat setempat yang juga menemani perjalanan kami, melakukan korespondensi dengan keluarga Van Gogh dan pemerintah negri Belanda, untuk memastikan kebenaran sejarah Jean Louis Van Gogh tersebut. Keluarga Van Gogh juga mengucapkan terima kasih karena telah merawat makam milik keluarga mereka.

Saatnya aku menyisir bibir pantai Sawarna. Selain keindahannya, Pantai Sawarna ternyata juga menyimpan cerita unik. aku berdiri di Tapak Kabayan Satu titik di pantai Sawarna terdapat prasasti unik yang disebut Tapak Kabayan. Katanya, tapak ini merupakan tapak Nabi Adam ketika berkunjung kesini. Entah benar atau tidak, wallahualam. Untuk menuju ke sana, ternyata harus dicapai dengan menggunakan ojek melalui medan yang sulit. Pintu gerbang ke sana merupakan Jembatan gantung dari kayu yang kelihatan rapuh dan goyang-goyang ketika dilalui. Aku sampe merinding sendiri kalo jembatannya ambrug, pastilah aku akan kecebur sungai di bawahnya. Tapi kupercayakan saja sama tukang ojeknya. Melewati jembatan, aku melewati perkampungan dan sawah-sawah hijau yang terbentang luas. Tapi jalan setapak yang dilalui ojek merupakan medan yang cukup sulit karena berbatu, berlumpur dan licin. Harus hati-hati.

Alhamdulillah, sampailah aku di tepian pamelangkah di antara bintang lautntai Sawarna. Pemandangan indahnya membayar gojlakan-gojlakan dalam perjalanan ku kesini. Untuk menuju Tapak Kabayan aku harus berjalan menyisir tepian pantai dan melangkah dari karang ke karang. Aku juga mengamati polah beberapa hewan laut seperti bintang laut dan buluh babi.

Huahh, aku sampai di Tapak Kabayan. Widih, tapaknya ternyata gede banget. Bandingkan dengan tapakku yang imut ini 😉 Kalo tapaknya aja segede ini, gimana orangnya, yah?? Dari sini terlihat beberapa situs lain seperti Tanjung Layar, Karang Sepang dan Karang Bokor. Konon ceritanya itu adalah bekas seperangkat sirih.

Setelah puas lari-larian di pantai, mainan ombak, melihat-melihat, mengamati, meneliti (beuh!) dan mengabadikan gambar, aku melanjutkan perjalanan mengikuti konsep Ibu Dedeh, bos perjalananku. Ke Pulau Manuk. Selain pantai dan karang2nya indahnya yang unik, kalau dilihat dari atas, pulau ini berbentuk burung, aku sendiri tentu ga bisa ngelihat, kecuali pake helikopter, 😉

ini aku sama Bos Dedeh, the conceptor

Kawah Ratu, Nafasnya Gunung Salak

Jam 8 pagi, aku dan tim perjalanan 3 wanita yang lain mulai meninggalkan kota Jakarta, menuju Kabupaten Bogor dan tentunya melewati kosan dan kampus ku yang bikin kangen. Hari ini, kami akan mendaki Gunung Salak menuju Kawah Ratu. Perjalanan yang ditempuh lebih kurang 4 km. Yah, lumayan. Jalan berbatu, berlumpur, berlumut, menyusur aliran sungai dan tentunya dengan kemiringan yang bikin betis pegel, seolah menawarkan semangat petualang yang ada di dalam diri.

Udara yang sejuk dan hutannya masih sangat rindang ditemani gemericik aliran sungai, membuat surga alam serasa benar-benar menyusup kalbuku.

Di sisian jalan setapak yang penuh batu-batu yang licin, kami menemukan berbagai macam tanam-tanaman khas gunung salak, yang sekian diantaranya berguna untuk men daun pulus bikin gatelyembuhkan berbagai penyakit. Salah satunya adalah tepus. Rasanya emang sedikit pahit kaya kayu putih, tapi konon katanya cukup ampuh untuk mengatasi masuk angin. Hati-hati dengan tanaman pulus karena tanaman ini bisa bikin gatel-gatel sampai semalaman kalo ga sengaja disentuh. Tapi, kalo kita sengaja menyentuhnya ga masalah. Aneh ya? Dan saat itu aku dengan sengaja menyentuhnya untuk membuktikan kalo daunnya emang ga bikin gatel saat sengaja disentuh.

Semakin jauh menyusur ke dalam hutan, hentakan langkah demi langkah ku semakin tertatih. Parahnya, aku semakin menyadari kalo aku punya masalah dalam keseimbangan. Hehe.. Sering kali aku secara tak sengaja terpeleset bahkan terceblos ke dalam lumpur. Bahkan, sempat aku hampir menyerah meninggalkan sandal gunung ku, karena sudah tertanam jauh ke dalam lumpur. Semangat atau petuah apa pun tak sanggup menaklukkan ketakberdayaan ku saat itu. Badanku benar-benar ga bisa diajak kerja sama untuk ga manja. Rasanya ingin sekali aku bisa tutup mata dan tutup kuping dengan keadaan sekitar. Aku gak ingin dengar dan lihat apapun dan berharap cuma mimpi berada di tengah hutan belantara ini. Terutama saat aku sendirian. Terpisah dari yang lain.diselimuti lumpur

Menuju Kawah Ratu, kita melewati 2 buah kawah, yang pertama adalah Kawah mati I dan Kawah mati II. Selentingan kabar yang kudengar dari guide yang menemani perjalanan kami, selain kawahnya yang emang sudah tidak mengeluarkan gas sulfida lagi, kawah tersebut juga pernah menelan korban, kemudian dikuburkan di sana.

Dari kawah mati tersebut tersebut sudah mulai tercium aroma belerang yang berasal dari Kawah Ratu. Beningnya air mengalir pada pola yang berwarna kekuningan. Menunjukkan di kawah tersebut masi mengandung unsur belerang. Tapi saat itu airnya tak lagi hangat. Namanya saja kawah mati, ditambah suhu di pegunungan yang sejuk bisa mencapai 10’c turut menyejukkan aliran air di kawah mati itu.

Setelah 3,5 jam perjalanan (yang seharusnya bisa ditempuh dalam dua jam, tapi kami menyusur hutan dengan santai, tunggu2an, maen2 di aliran sungai, serta take syuting beberapa kali), sore sudah menjelang ketika kami sampai di kawah ratu. Matahari sudah mulai kembali bersembunyi (tapi hari itu memang mendung). Tapi keindahan Kawah Ratu, membayar rasa lelah dan hasratku yang sudah penasaran dari tadi. Sejauh mata memandang, putih, dengan kepulan asap yang muncul dari mulut kawah tersebut. Guide perjalanan kami, mengingatkan kami untuk tidak terlalu lama berada di sana. Lebih dari 20 menit, bisa bikin nafas sesak bahkan keracunan gas belerang. Indah memang, tapi baunya menyengatnya gak tahan 😉

Setelah mengabadikan beberapa foto dan gambar untuk keperluan syuting, kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Sebagian diantara kita dengan semangat 45 melangkahkan kaki untuk segera keluar dari Gunung Salak ini. Mungkin untuk menghindari gelap yang akan segera datang. Ditambah lagi, karena baik tim perjalanan 3 wanita maupun guide nya kelupaan membabersama bapak2 dari Taman Nasional Gunung Salak Endahwa senter atau alat penerangan lainnya.

Aku yang tadinya melangkah paling depan, kemudian satu-satu disusul oleh rekan-rekan ku yang lain. Ketertinggalanku disebabkan langkah-langkah ku yang teramat hati-hati namun tetap aja sering kepeleset 😦

Karena lambat, aku dan beberapa tim yang lain akhirnya merasakan perjalanan dalam gelap. Suasana sunyi yang penuh misteri mulai terasa pada masing-masing diri kami. Kami melangkah dalam diam. Tak satu pun dari kami yang sanggup bercanda tawa, hanya sesekali kalimat penyemangat yang keluar dari mulut teman-teman ku pun hanya berupa ‘hati-hati licin’. Aku terus membaca al-fatihah dan ayat kursi dalam hati. Semoga perjalanan pulang kami lancar selamat sampai titik finish.

Alhamdulillah, kami sampai dengan selamat ke posko akhir perjalanan kami. Rasa lapar dan dahaga menghampiriku. Tapi, yang lebih mendominasi adalah rasu haru, aku ingin nangis saat itu. Bolehkah aku manja sebentaarrrr saja. Tapi tidak, keprofesionalan perjalanan tiga wanita saat itu tetap kuandalkan. Dan aku menikmati harmoni rasa haruku dengan menyantap lahap satu paket Hoka-hoka Bento.

di Goa Buniayu

Brrrr,,, udara di sini cukup dingin. Tak heran karena letaknya sekitar 700 m di atas permukaan laut dan berada  dalam kawasan wana wisata Perhutani unit III Jawa Barat dan Banten. Kanan kiri jalan, pinus-pinus tua berbaris rapi mengiringi perjalananku, menambah rindang suasana.

Di sini terdapat 3 pintu masuk goa. Jalur umum, semi profesional, dan profesional.

Jalur umum (horizontal) itu jalur yang jalannya udah bagus, udah disediakan tangga-tangga untuk menuju goa tersebut.

Semi profesional (horizontal-vertikal) itu gak ada tangga-tangganya, jadi harus menyusuri batu-batu.

Profesional (vertikal), untuk menuju goa kita melalui jalur yang tegak lurus, kalo berani silakan terjun dari lobang  vertikal yang ada. Tapi itu tidak saya sarankan, karena tersedia perlengkapan raftling yang cukup aman untuk turun :)Persiapan Menelusuri Goa Vertikal

Di sini, aku kebagian menyusuri goa vertikal. Itu berarti aku harus turun dengan alat pengaman yang udah disediakan. Kita juga dilengkapi pakaian pelindung, helm, juga boot. Ketika aku sudah bergantung memasuki lobang goa, hawa dingin semakin menyengat menusuk tubuh. Sebelum masuk goa aku juga mengucapkan salam seperti yang selalu diingatkan oleh mas Tegil (produser) pada kita semua. Then, bismillahirrohmannirohiim,,

Aku meluncur menuruni goa. Gelap. Dan luas. Seperti botol, detik-detik pertama aku menuruni goa lobangnya kecil tapi kemudian meluas. Perlahan aku menuruni goa sambil melihat dengan seksama detil-detil goa yang ada. Alhamdulillah, akhirnya aku menginjakkan kaki di dasar goa. Namun, dasar yang kupijak dilapisi lumpur tebal. Aku pun harus berjalan berhati-hati karena langkahku menjadi semakin berat. Goa Buniayu terlihat sangat mempesona walaupun dengan penerangan seadanya. Stalaktit dan butir-butir kristal membuatku semakin terpukau dengan kemegahan yang disediakan Illahi untuk kita. Kita juga harus menyusuri aliran sungai untuk sampai ke ujung Goa.

Di dalam goa juga terdapat hewan-hewan yang hanya bisa hidup di dalam goa. Ketika di bawa keluar hewan tersebut akan langsung mati. Kaya kita kali ya, mungkin kita juga gak bakal sanggup kalo harus tinggal di dalam goa gelap apalagi ga ada makanan.

Ujung dari goa jalur vertikal ini akan membawa kita ke air terjun yang indah. Jadi, penelusuran yang akan dilakukan gak sia-sia. Letih dan penat tentu akan terbayar dengan main siram-siraman air dan menikmati keindahan air terjun di Buniayu ini.

Tapi, untuk keperluan syuting aku harus keluar melalui jalur yang sama ketika aku masuk ke mulut goa. Itu berarti aku harus menaiki tali kembali. Dengan tertatih aku berusaha menaiki tali untuk mencapai mulut goa. Maklum saja, tenaga ku tersisa amat dikit setelah menyusuri goa semakin dalam. Nafasku satu satu ketika berusaha mendorong tubuhku naik ke atas. Wah, alhamdulillah, aku tak percaya karena akhirnya berhasil naik ke luar dari Goa. Tak bisa aku bayang kan, Mas Jagat (salah satu rekan penelusuran goa Vertikal) juga harus menaiki  tali tersebut dengan membawa beban akilait sebesar 14kg. Oh, padahal saat aku memanjat tali aku merasa tubuhku sangat berat dan berharap ada keajaiban yang membuat tubuhku menjadi seringan kapas. Apakah Mas Jagat juga merasakan hal yang sama, pengen nangis, saat menaiki tali itu. Bagaimana dengan 14kg yang ia bawa. Aku tidak sanggup berkata apa-apa saat melihat ia berhasil keluar dari goa tersebut. Hanya berdecak kagum (dalam hati), kalo ngomong langsung bisa-bisa peres lagi. Hehe.

Alhamdulillah, penelusuran goa ini sudah terselesaikan, mudah-mudahan rating (tetep loh rating) episode ini sesuai dengan jerih payah yang dilakukan. Teman-teman, luangkan waktu yah  untuk nonton episode Perjalanan 3 Wanita setiap Selasa dan Rabu jam 6.00 (bisa nonton sambil sarapan, atau sambil pake sepatu) di Trans TV.

Selalu Ada yang Pertama

Saat pertama syuting Perjalanan 3 WanitaYa, memang akan selalu ada saat yang pertama. Kalimat yang tiba-tiba muncul di benakku itu, terus menerus kuteriakkan dalam hati. Untuk mengurangi kekhawatiran dan apalah itu. Debar jantung yang ga jelas. Memang saat yang pertama akan mempunyai sensasi yang berbeda setiap yang pertama itu tiba.

Saat pertama kali masuk sekolah, aku merasa asing dengan lingkungan sekolah ku. Memakai pakaian seragam khas taman kanak-kanak.

Begitu juga ketika aku harus menjadi murid baru karena pindah sekolah. Ah, saat itu aku gak terbiasa dengan ruang kelasnya. Dengan sistem guru tunggu. Di sana, murid yang harus pindah kelas saat pergantian pelajaran. Jadilah kelas-kelas di sana disebut dengan kelas Bahasa, kelas Matematik, kelas Biologi, dan sebagainya. Juga teman-teman dan guru-guru, perkenalan pertama ku dengan mereka.

Aku punya saat pertama ketika aku pindah ke Jakarta. Oh, memang akan ada saat yang pertama seperti itu. Waktu itu aku benar2 merasa asing dengan lingkungan sekolahnya, dengan gedung sekolah yang berlantai 4 (maklum sekolah ku dulu hanya satu lantai saja). Aku juga tak terbiasa punya teman sebangku karena dulu, ruang kelas sekolah ku satu meja satu siswa. Aku juga tak terbiasa dengan bahasa nya, logat Riau ku tentu masih amat kental ketika pertama kali pindah ke Jakarta. Rasanya aku tak ingin berbicara karena pasti akan ketauan kalo aku berasal dari luar Jakarta. Minder kah? Mmm, mungkin lebih tepat kalo aku canggung dengan lingkungan ku yang baru. Saat pertama aku harus berbicara dengan menghilangkan logat Riau ku. Mengganti aku-kau dengan lo-gw. hehe. Tapi itu hanyalah saat pertama. Saat kedua, ketiga dan seterusnya, itu sudah menjadi keseharian ku sampai saat ini. Kalau diingat2 jadi lucu karena ngerasa kekhawatiran di saat pertama itu berlebihan.

Tetapi, namanya juga yang pertama. Pasti rasanya ga biasa. Ketika pertama kali punya pacar, pasti rasanya, huaa, aku punya pacar sekarang! Akan ada yang SMS  tiap pagi. Gak ada lagi SMS kecentilan buat gebetan atau selamat tinggal malam minggu yang hampa. Lalu ketika ganti pacar, rasanya, mmhh, pacarku baru. Bukan dia lagi. Yang sekarang lebih perhatian, tiap pulang kuliah selalu ngajak pulang bareng. Yah, saat pertama memang gak pernah biasa.

Saat yang pertama memang gak akan menjadi hal biasa, tapi bisa jadi saat yang kedua, ketiga dan seterusnya akan menjadi kebiasaan Jadi, ini akan menjadi lebih baik jika kita selalu memulai saat pertama dengan hal baik. Karena yang pertama adalah langkah awal untuk masa depan kita. Bayangkan saja kalau saat pertama itu adalah memberanikan diri untuk mengambil milik orang lain (maling, maksudnya). Saat pertama itu tentu gak karuan rasanya. Tapi, saat yang kedua, ketiga dan seterusnya akan menjadi kebiasaan yang amat hina, bukan. Begitu juga saat pertama kita berani berbohong. Mungkin pertama, kita akan merasa bersalah dan kepikiran semalaman karena udah berbohong. Tapi untuk yang kedua, ketiga dan seterusnya, bisa jadi perasaan bersalah itu gak ada lagi (mati rasa) dan menjadi kebiasaaan.

Lalu sebaiknya, seberapa pun gak karuannya saat pertama itu, yang terpenting adalah saat pertama yang kita hadapi adalah hal baik. Itu sudah modal yang cukup. Karena saat pertama akan selalu begitu. Jantung bedegup kencang, keringat mengucur, bahkan kaki gemetaran.

*penulis sedang menghadapi banyak sekali hal pertama 😉

Posted in Oh