Kawah Ratu, Nafasnya Gunung Salak

Jam 8 pagi, aku dan tim perjalanan 3 wanita yang lain mulai meninggalkan kota Jakarta, menuju Kabupaten Bogor dan tentunya melewati kosan dan kampus ku yang bikin kangen. Hari ini, kami akan mendaki Gunung Salak menuju Kawah Ratu. Perjalanan yang ditempuh lebih kurang 4 km. Yah, lumayan. Jalan berbatu, berlumpur, berlumut, menyusur aliran sungai dan tentunya dengan kemiringan yang bikin betis pegel, seolah menawarkan semangat petualang yang ada di dalam diri.

Udara yang sejuk dan hutannya masih sangat rindang ditemani gemericik aliran sungai, membuat surga alam serasa benar-benar menyusup kalbuku.

Di sisian jalan setapak yang penuh batu-batu yang licin, kami menemukan berbagai macam tanam-tanaman khas gunung salak, yang sekian diantaranya berguna untuk men daun pulus bikin gatelyembuhkan berbagai penyakit. Salah satunya adalah tepus. Rasanya emang sedikit pahit kaya kayu putih, tapi konon katanya cukup ampuh untuk mengatasi masuk angin. Hati-hati dengan tanaman pulus karena tanaman ini bisa bikin gatel-gatel sampai semalaman kalo ga sengaja disentuh. Tapi, kalo kita sengaja menyentuhnya ga masalah. Aneh ya? Dan saat itu aku dengan sengaja menyentuhnya untuk membuktikan kalo daunnya emang ga bikin gatel saat sengaja disentuh.

Semakin jauh menyusur ke dalam hutan, hentakan langkah demi langkah ku semakin tertatih. Parahnya, aku semakin menyadari kalo aku punya masalah dalam keseimbangan. Hehe.. Sering kali aku secara tak sengaja terpeleset bahkan terceblos ke dalam lumpur. Bahkan, sempat aku hampir menyerah meninggalkan sandal gunung ku, karena sudah tertanam jauh ke dalam lumpur. Semangat atau petuah apa pun tak sanggup menaklukkan ketakberdayaan ku saat itu. Badanku benar-benar ga bisa diajak kerja sama untuk ga manja. Rasanya ingin sekali aku bisa tutup mata dan tutup kuping dengan keadaan sekitar. Aku gak ingin dengar dan lihat apapun dan berharap cuma mimpi berada di tengah hutan belantara ini. Terutama saat aku sendirian. Terpisah dari yang lain.diselimuti lumpur

Menuju Kawah Ratu, kita melewati 2 buah kawah, yang pertama adalah Kawah mati I dan Kawah mati II. Selentingan kabar yang kudengar dari guide yang menemani perjalanan kami, selain kawahnya yang emang sudah tidak mengeluarkan gas sulfida lagi, kawah tersebut juga pernah menelan korban, kemudian dikuburkan di sana.

Dari kawah mati tersebut tersebut sudah mulai tercium aroma belerang yang berasal dari Kawah Ratu. Beningnya air mengalir pada pola yang berwarna kekuningan. Menunjukkan di kawah tersebut masi mengandung unsur belerang. Tapi saat itu airnya tak lagi hangat. Namanya saja kawah mati, ditambah suhu di pegunungan yang sejuk bisa mencapai 10’c turut menyejukkan aliran air di kawah mati itu.

Setelah 3,5 jam perjalanan (yang seharusnya bisa ditempuh dalam dua jam, tapi kami menyusur hutan dengan santai, tunggu2an, maen2 di aliran sungai, serta take syuting beberapa kali), sore sudah menjelang ketika kami sampai di kawah ratu. Matahari sudah mulai kembali bersembunyi (tapi hari itu memang mendung). Tapi keindahan Kawah Ratu, membayar rasa lelah dan hasratku yang sudah penasaran dari tadi. Sejauh mata memandang, putih, dengan kepulan asap yang muncul dari mulut kawah tersebut. Guide perjalanan kami, mengingatkan kami untuk tidak terlalu lama berada di sana. Lebih dari 20 menit, bisa bikin nafas sesak bahkan keracunan gas belerang. Indah memang, tapi baunya menyengatnya gak tahan😉

Setelah mengabadikan beberapa foto dan gambar untuk keperluan syuting, kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Sebagian diantara kita dengan semangat 45 melangkahkan kaki untuk segera keluar dari Gunung Salak ini. Mungkin untuk menghindari gelap yang akan segera datang. Ditambah lagi, karena baik tim perjalanan 3 wanita maupun guide nya kelupaan membabersama bapak2 dari Taman Nasional Gunung Salak Endahwa senter atau alat penerangan lainnya.

Aku yang tadinya melangkah paling depan, kemudian satu-satu disusul oleh rekan-rekan ku yang lain. Ketertinggalanku disebabkan langkah-langkah ku yang teramat hati-hati namun tetap aja sering kepeleset😦

Karena lambat, aku dan beberapa tim yang lain akhirnya merasakan perjalanan dalam gelap. Suasana sunyi yang penuh misteri mulai terasa pada masing-masing diri kami. Kami melangkah dalam diam. Tak satu pun dari kami yang sanggup bercanda tawa, hanya sesekali kalimat penyemangat yang keluar dari mulut teman-teman ku pun hanya berupa ‘hati-hati licin’. Aku terus membaca al-fatihah dan ayat kursi dalam hati. Semoga perjalanan pulang kami lancar selamat sampai titik finish.

Alhamdulillah, kami sampai dengan selamat ke posko akhir perjalanan kami. Rasa lapar dan dahaga menghampiriku. Tapi, yang lebih mendominasi adalah rasu haru, aku ingin nangis saat itu. Bolehkah aku manja sebentaarrrr saja. Tapi tidak, keprofesionalan perjalanan tiga wanita saat itu tetap kuandalkan. Dan aku menikmati harmoni rasa haruku dengan menyantap lahap satu paket Hoka-hoka Bento.

11 thoughts on “Kawah Ratu, Nafasnya Gunung Salak

  1. dsana kan bru2 inì ada 7 pendaki yg hilang, untung dh ditemuin..he5
    Gunung salak..he, kapan ya bisa ndaki ksana..hmm..nunggu musin hujan slesai dulu ah..wkwkwk

    Iya, gunung Salak memang menyimpan banyak misteri, yang penting niat kita baik agar selamat dalam berpetualang. Yup, kalo ga musim ujan mungkin lebih asik, karena medannya tidak terlalu licin. Ditunggu ceritanya ya🙂

  2. Wah menarik. Jadi pengen nyobain ke sana.
    Btw..

    dan tentunya melewati kosan dan kampus ku yang bikin kangen

    Kenapa atuh dicoret? Gak kangen lagi ya? Hehe..

    kalo libur, seru juga sempetin ke sana. tips dari aku. jangan lupa bawa perbekalan makanan yang cukup. Perjalanan yang cukup jauh dan udara sejuknya, bikin laperrr. Tapi jangan kebanyakan juga. Berat soalnya. Lebih parah, aku bawa laptop pula. Lupa ngeluarin dari tas. hahaha. Unforgettable journey🙂

  3. Good work Mbak Dina.. aku jg seneng banget kalo hiking’.. memang perjalanan ditengah hutan belantara membuat hati tenang dan sangat tentram.. apa lagi waktu camp di atas kawahnya.. emang serem seh tapi membuat hati tenang dan gak terbebani hidup.. sampai tidur diluar tenda di atas pohon condong yang deket jurang, karena cuaca malam waktu itu cerah yang terlihat cuma bintang dalam kesunyian malam tetapi angin dan dinginnya sangat gak tahan… tiba-tiba ada kejadian aneh yang dateng.. jadi kayak ada cahaya merah yang terbang trus menghampiri pohon deket tenda sampai menimbulkan suara tapi pas dideketi kagak ada apa-apa… ya yang penting niat kita baik dan tidak ngomong sompral alhamdulilah tidak apa-apa.
    Setahun yang lalu seh sering jln ke kawah ratu karena rumah deket dari lokasi tersebut. Sampai pernah muter dari jalur curug seribu sampai pasir reungit gak pake sepatu ama sendal lagi he..he.. anehnya walaupun banyak sekali pohon yang berdaun duri tapi kulit bawah kaki tidak luka sama sekali.. … but semenjak kerja, jd gak ada waktu lagi deych…

    Sukses and salam kenal yach dari Eca… Jkt Brt

  4. sorry kepanjangan… hiii hiii hii… ak mo belajar ngarang bebas… semoga bisa jadi penulis kayak mbak Dinna yang cantik, baik hati, suka jalan-jalan dan tidak sombong…🙂 eh satu lagi .. lumayan banyak pengalamannya…
    ada sedikit ungkapan neh, kayaknya ini kyk Mbak dina Buanget….

    Qt MeNilai diri Dr Pa Yg Bs Qt LaKukan, PdHL Org LaIn MeNilaI Qt dR Pa Yg Sdh Qt lakUka. Untk Itu ApaBila Qt beRpikir BiSa, SegeRalah LaKukaN..!

    thank you..

    wah, makasi ya ‘ungkapannya’. gapapa kok, aku seneng ada respon panjang dari Echa. Sering2 mampir yah. hihi. Nice to know🙂

  5. Bismillahirohmanirrohim. 19-21 Des09 kmrn gw ke puncak salak II.alhmdlh qta smp dan plng dengan slmt.buat yg mw ke pnck slkII, gw saranin msk lwt jlr cunang, g sah pelit tuk byr retribusi camp,cm 13rb perorang.cz gw pkr jlr lbh jelas lwt sana.gw baru turun tgl 21 dan tinggal nambahin retribusi 20 rb tuk 4 org.g sah ngomong ke petugas qta mw ke pnck, ckp blng mw camp aja di cunang.gw saranin jg g sah bw tenda,prioritas air,mknn tali pramuka,golok tuk babat rimbunan, n penanda tali plastik rapiah.terakhir tanda gw wrn kuning.met berjuang!

  6. heem..indahnya pendakian malam jum’at( sunyi sepi bNGEEEET)… sepi sunyi…sapa yang mau lagi ke kawah ratu????..

  7. gunung slak emang keren………..tapi saya n teman2 ke kawah ratu ga lewati 2 kawah yang di sebut kawah mati………cuma kita tersesat 8 jam …….hehehehhehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s