Tana TOA, Budaya Tua yang Unik

Tana Toa yang terletak sekitar 250 km dari selatan Makassar, Sulawesi Selatan. Sebelum ke sana, aku sudah memakai pakaian hitam menyesuaikan dengan budaya masyarakat Tanatoa yang selalu mengenakan pakaian berwarna hitam-hitam atau putih-putih. Adalah pantangan bagi mereka menggunakan pakaian dengan warna-warna nge-jreng. Ini untuk menunjukkan kesederhanaan kehidupan masyarakat di sana, menurut informasi yang aku dapat.

Sebelum menelusuri kampung adat lebih jauh lagi, sambil menunggu hujan reda, aku bertemu dengan pengunjung lain. Tanya punya tanya, ternyata kunjungan beliau punya tujuan berbeda dengan ku. Ada orang penting yang mereka temui di sana, tak lain adalah pemimpin adat kampung Tana Toa, yang disebut-sebut dengan Ammatoa. Beliau adalah salah seorang rombongan  caleg sebuah partai. Mmmh,, begitulah salah satu cermin calon pemimpin di Indonesia. Sedih ga sih😦 Mereka menemui Ammatoa karena Ammatoa dianggap suci dan memiliki ilmu tinggi. Lah, mau jadi caleg harus ke dukun segala?😦

Setelah itu, aku juga bertemu dengan seorang ibu yang menemui Ammatoa untuk kepentingan pengobatan. Beliau sudah lama mengidap penyakit yang tidak dapat dideteksi secara medis. Dan katanya, setelah beberapa kali menemui Ammatoa, penyakit beliau perlahan pulih. Bukan promosi. Bukan, hanya info yang mungkin dapat menguji keyakinan kita pada illahi. Mau percaya atau tidak, itu pilihan masing-masing.

Memasuki kampung adat, terlihat ibu-ibu, anak kecil, juga bapak-bapak yang melangkah tanpa beralas kaki, berlalu lalang membawa kayu bakar untuk memasak.

Suasana magis menyelimuti langkah ketika aku memasuki kampung ini. Kampung adat  ini masih asri, dikelilingi hutan alami yang menambah rimbun suasana. Amat sederhana, jauh dari teknologi modern seperti yang biasa kita lihat di kota-kota besar.  Tidak ada aliran listrik. Rumah-rumah nya serupa rumah panggung yang terbuat dari kayu. Kesemuanya menghadap ke Barat. Aktivitas masyarakat tidak terlihat terlalu sibuk di sini. Yang laki-laki biasanya bercocok tanam pada pagi hari, yang perempuan diam di rumah. Memasak. Sesekali aku melihat aktivitas ibu-ibu sedang menenun. Mereka menenun sendiri pakaian yang mereka kenakan. Pada malam hari, mereka berkumpul di rumah. Dan mereka melewati malam dalam gelap, hanya ditemani secercah sinar bulan dan taburan cahaya bintang.

Sayang, objek-objek menarik tidak bisa diambil gambarnya, terutama gambar aktivitas masyarakat di sana seperti aktivitas mandi (iyalah!) dan kegiatan kongkow-kongkow lainnya.Balai Pertemuan di Tana Toa

Aku melihat lokasi pemandian umum berikut aktivitasnya😉 Mereka mandi berbalutkan kain panjang tradisional sembari mengaliri tubuh dengan sejuknya pancuran air dari mata air pegunungan. Ketika ditanya, apa boleh gambarnya diambil, mereka dengan tegas menjawab ‘tidak boleh’. Gambar yang ingin diambil sebenarnya jauh dari ponografi, kok. Mereka masih tertutup dan sama sekali tidak telanjang.

Menelusuri kampung lebih dalam, tampak rumah-rumah panggung khas Tana Toa. Aku langsung menuju rumah Amatoa. Gambar Amatoa pun tidak boleh dipublikasikan. Demikian pula rumahnya, hanya boleh dari luar saja. Menuju ke sana, tampak sekumpulan laki-laki sedang duduk di halaman sebuah rumah sambil meminum tuak. Aku tidak tau, memabukkan atau tidak.

Sampai di depan rumah Ammatoa aku mulai deg2an. Lalu, aku masuk ke rumahnya tanpa kamera. Duh, aku makin deg2an. Aku masuk sendirian tidak ditemani Mas Jagad maupun Mas Sugi, yang menemani perjalanan ku saat itu. Di dalam rumah Amatoa, sepertinya sedang ada kumpul-kumpul. Tapi ternyata, itu bukan aktivitas penting, hanya aktivitas yang biasa yang mereka lakukan. Sama seperti kita juga. Ngumpul sore-sore🙂

Penampilan Amatoa di luar dari dugaan ku sebelumnya. Walaupun usianya udah lebih dari 80 tahun, penampilannya masih seperti 40an. Wuih, awet muda, ya?🙂 Saat itu dia didampingi oleh para kabinetnya, yang juga memiliki ‘ilmu’.

Kunjungan ku membuatku banyak tau tentang uniknya kehidupan Kampung Tana Toa ini. Yang paling unik adalah bahwa sebenarnya mereka memeluk agama Islam hanya saja mereka tidak menjalankan beberapa syariat Islam seperti sholat dan berwudhu. Seperti kata Ammatoa, mereka menganggap diri mereka suci sepanjang waktu. Wudhu yang tidak pernah batal dan Sholat yang tidak pernah putus.

Di rumah Ammatoa, aku juga sekalian minta izin untuk meliput keliling Kampung Tana Toa ini. HanIni Bu' nahya saja ada batas pagar yang tidak boleh kami lewati.

Menelusuri lebih jauh, semakin terasa suasana hutan yang masih alami. Udara nya benar-benar teduh. Aku juga melihat serombingan kerbau putih khas Sulawesi Selatan. Aku juga sempat bercakap dengan bocah Tanatoa. Mereka terlihat sedang ngemil buah yang mereka sebut dengan bu’  nah. Ketika aku cicip, rasanya asem😦

Kisah menarik tentang uniknya Tanatoa juga bisa kamu baca di sini. Kalau males baca, berarti harus bangun pagi buat nonton Catatan Perjalanan Wanita Dinna Hari Rabu jam 6 wib di Trans TV😉. Ya, ya, ya…

4 thoughts on “Tana TOA, Budaya Tua yang Unik

  1. wah keren ya mbak… aku dah nunggu2 ceritanya ne… kok ga ajak2 sih😀 ….
    sukses ya mbak dinna…

    Halah2, mas. Mas Sakti kan kebagian ke Selatannya Sulawesi Selatan, gak kalah keren kan..

  2. untuk MBA dinna . .pasti nyenengin banget bisa kerja bil jalan”..saya aja yang keturunan bugis belum perna kesana. .pokoknya salut salut baget dah buat kalian semua. .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s