Mengejar Bidadari. Bukit Batu Putih, Halmahera

Catatan Perjalanan 3 Wanita kali ini, aku punya banyak petualangan seru, yang sayang banget kalo cuma aku rasakan sendiri.*yang nonton, yang baca, harus ngerasain. hehe.

Malam-malam, tanpa persiapan syuting yang ok, ternyata aku harus menginap di hutan.

Hari itu yang seharusnya dari Ternate kita nyebrang ke Jailolo dengan menggunakan kapal feri (yang dapat mengangkut mobil yang kita naiki), terpaksa terhambat, karena kuota kapal feri udah kepenuhan. Hanya satu mobil dari 3 mobil rombongan kami yang kebagian naik feri. Ribet punya ribet, intinya, aku tetap harus nyebrang ke Jailolo, karena rangkaian syuting tetap harus jalan. Alhasil aku dan kedua temanku naik speedboat nyebrang ke Jailolo. Barang yang kubawa seadanya saja.

Berita kurang menyenangkan itu akhirnya harus aku jalani, karena ketika malam tiba di Jailolo, aku harus terus melakukan perjalanan ke hutan alami di Sidongali. Dengan menggunakan wardrobe bekas PA ku (a.k.a Dedeh) yang notebene udah dipake dia seharian, aku tetap dengan ikhlas melanjutkan perjalanan ku.

Dari Jailolo, sekitar 2 jam saja menuju pintu masuk Hutan yang terletak di Kabupaten Sidangoli. Kemudian, petualangan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya itu pun, dimulai.

Saat itu sekitar pukul 9 malam (aku ngantuk jadi ga lihat jam berapa persisnya), sedang lelap tidur di mobil, aku harus bangun untuk melanjutkan perjalanan masuk hutan dengan berjalan kaki.

Ok, berjalan kaki sebenarnya bukan masalah bagiku. Di malam hari, baiklah, mungkin bisa tidur sembari berjalan kaki (emang bisa ya, tidur sambil jalan, hihi). Ah, di tas ku, aku mengulangi kesalahan yang sama ketika aku mendaki Gunung Salak. Aku bawa laptop. Tak akan terasa terlalu berat sebenarnya jika perjalanan ku tak begitu jauh. Tapi, saat itu, dengan sisa energi yang ada, aku tetap harus sampai di tempat tujuan, dengan bawaan ku yang terasa semakin berat, dan aku tidak punya pilihan lain. Langkah ku kian tertatih, dengan sisa energi setelah seharian syuting dan mata 5 watt. Aku dijanjikan oleh ‘Bang Ajeng’ — guide yang menemani perjalananku — sebuah penginapan dan jarak jalan kaki yang tidak akan terlalu jauh.

Semakin jauh ke dalam hutan, tak kunjung ada tanda-tanda peradaban. Jalan setapak semakin mengecil, semakin tertutup semak, gelap malam pun semakin mencekam. Aku terus memompa semangat, melangkah hati-hati, dengan penerangan seadanya.

Alhamdulillah, akhirnya aku sampai di pos pertama. Saat itu gelap sekali (ya iyalah, udah hampir tengah malam). Aku hanya melihat beberapa cahaya dari lampu petromaks. Tapi sepenglihatanku, rumahnya seperti rumah panggung ditopang kayu-kayu hutan. Sangat sederhana. Di bawah rumah itu, sudah menunggu beberapa pemuda yang akan menemani perjalanan ku.

Sebenarnya kenapa si aku harus repot-repot menembus hutan di tengah malam seperti ini? Hutan ini disebut dengan Bukit Batu Putih yang terletak di kecamatan Sidangoli, Kabupaten Halmahera Tengah. Di sini terdapat jenis burung, Endemik Maluku Utara. Nah, di kesempatan ini semalaman aku akan ngerasain jadi seorang birdwatcher.

Burung BidadariBurung Bidadari, mereka menyebutnya begitu. Kenapa? Burung bidadari ini mempunyai dua pasang sayap yang indah, dan tingkah lakunya yang unik. Untuk burung bidadari jantan memiliki sayap sekunder berwarna hijau metalik. Pada pundak kanan dan kiri terdapat masing-masing 2 antena berwarna putih. Paruh dan kakinya berwarna oranye. Untuk yang betina bentuknya relatif biasa, berwarna hitam polos. Seperti beberapa jenis burung lainnya, burung bidadari betina juga mengandalkan suaranya untuk menarik perhatian Sang Jantan. Betina yang memiliki suara paling indah (tentunya bagi pendengaran sang jantan) akan terpilih untuk berduet (ngerti sendiri kan maksudnya, hehe) dengan sang jantan.

Malam ketika aku sampai di pondokan, hela nafasku mulai teratur satu per satu. Peluh masih tak henti mengalir di sekujur tubuhku. Sebotol air mineral cukup ampuh menyegarkan dahaga. Tapi, nyamuk seabrek tak henti menggerogoti kulitku yang sudah dilapisi lumpur. Untung aku tak lupa mempersiapkan obat penolak nyamuk. Tak peduli kulit sedang berpeluh dan berlapis tanah lembab, kubaluri saja. Lumayan daripada aku harus uring-uringan karena digigit nyamuk.

Walaupun sudah makan 10 tusuk sate ayam sebelum berangkat masuk ke hutan, tapi sajian daging rusa tak mungkin kutolak. Ini untuk pertama kalinya aku mencicipi daging rusa. Rasanya tak jauh berbeda dari daging sapi. Sedikit lebih alot dan rasanya bercampur seperti rasa hati sapi.

Usai makan di malam larut (ruin my diet), saatnya beristirahat. Karena saat itu aku sebagai yang paling cantik (ya iya lah, episode ini aku bersama Mas Tegil dan Mas Didit) tanpa 2 sahabatku yang lain, aku mendapatkan kamar tidur sendiri. Terang saja saat itu aku tidak berharap ada penginapan mewah yang tersedia di tengah hutan belantara seperti itu. Tapi aku sedikit kaget (dan akhirnya pasrah), karena kamar tidur ku tetap saja terbuka. Letaknya di atas pondokan dan dari situ aku bisa semakin jelas melihat cakrawala dalam gelap. Fine, aku akan tidur beralaskan papan dan disuguhi pemandangan hutan alami di malam yang mencekam. Dingin menusuk kalbu. Hanya bermodalkan pashmina yang memang selalu tersedia dalam backpack ku, aku pun mencoba memejamkan mata. Tak bisa, aku kedinginan dan aku kebelet pengen pipis. Oh, di hutan seperti ini, aku harus kemana? Akhirnya aku memutuskan untuk turun dan jadilah saat itu untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku pipis di balik pohon. Sudahlah, saat itu gelap banget kok, lampu petromaks di pondokan pun sudah padam. Yang berniat mengintip pu tak akan ada. Im sure.

Aku kembali melanjutkan tidurku yang tentunya akan sangat singkat, karena saat itu sudah pukul dua dini hari, dan aku harus bersiap melanjut kan perjalanan mencari burung bidadari pada pukul 4.

Bang Ajeng, salah satu pemandu yang menemani perjalanan kami mengatakan perjalanan tak jauh lagi menuju tempat pengamatan burung bidadari. Ok, kali ini aku mencoba untuk percaya walaupun sebelumnya aku sempat meragukannya, mengingat dia juga mengatakan hal serupa ketika memulai perjalanan memasuki hutan menuju pondokan (pos pertama) tempat kami berisitirahat.

Dalam gelap dan penerangan seadanya, aku melangkah, dengan segenap energi yang sudah kukumpulkan. Rasa penasaranku akan burung bidadari yang konon menjadi selebriti di hutan ini menambah semangat langkahku. Jalannya lembab dan licin, oleh hujan yang membasahi seluruh oenjuru hutan. Aku mendengar aliran sungai, dan percaya atau tidak aku menyebrangi sungai yang cukup luas dalam hitungan langkah ku. Melangkah di batu-batu kali yang besar, dan sesekali terpaksa harus memijakkan langkah di arus sungai yang deras. Perjalanan mendaki dan menurun. Tapi tak kunjung sampai. Padahal jam tanganku sudah menunjukkan angka 6.00 — saat dimana burung bidadari akan mulai mengepakkan sayap indahnya — Bergeser dari angka 6, akhirnya kami tiba di pos kedua (berharap tak kan ada pos ketiga dan seterusnya). Kami meninggalkan barang-barang tak penting yang tak perlu dibawa. Aku meninggalkan backpack ku, hanya membawa HP (meski tak ada sinyal HP ku bisa diandalkan untuk memotret) dan handycam dengan harapan aku bisa membawa oleh-oleh rekaman kepakan sayap burung bidadari untuk dila dan silvi, juga sahabat-sahabat perjalanan 3 wanita.

Sekarang aku mengerti kenapa sebaiknya barang-barang yang tak terlalu penting ditinggalkan saja. Medan yang kami lalui akan semakin berat. Untuk sampai ke tempat pengamatan burung bidadari, kita harus mendaki bukit dengan kemiringan sekitar 75 derajat dan ketinggian sekitar 15 meter. Licin, sudah pasti. Beberapa kali aku terpeleset dan nyaris tergelincir. Untungnya terang sudah mulai menyingsing, walau pun suasana pagi itu masih terasa mendung.

Aku sampai di atas bukit. Duduk tenang menunggu sang bidadari menyapa. Terdengar berbagai suara burung, dari yang merdu seperti suaraku berdendang (hueks) hingga yang menyeramkan seperti suara binatang buas. Mulai bosan, bidadari tak juga menunjukkan tanda-tanda akan mampir. Aku lalu mulai mengisi kesibukan dengan handycam yang kubawa. Merekam kejadian-kejadian yang terjadi selama masa penantian bidadari.

Di sana, aku bertemu seorang turis Perancis sesama birdwatcher (aku, ngaku-ngaku birdwatcher, hehe). Berkenalan, namanya Chris, usianya sudah 61 tahun, menurut ceritanya, dia sedang melewatkan masa tua nya untuk keliling dunia melihat burung-burung di seluruh dunia. Wah, pilihan hidup yang unik, yah.

Merekam tingkah laku Mas Tegil (produser) dan Mas Didit (Campers) yang terlihat lelah, tapi tetap dalam posisi siaga, tak mau melewatkan moment ketika burung bidadari itu menampakkan diri. Kejadian aneh, sempat terjadi pada kaki Mas Tegil. Di dekat telapak kakinya tiba-tiba ada seperti gumpalan darah beku, katanya itu kena kencing ular cincin. Waduh, misteri apa lagi itu.

Sudah lebih dari 2 jam. Kami memutuskan untuk turun, pindah ke tempat lain sembari jalan pulang.

Hasilnya, kami tak berhasil bertemu dengan burung bidadari, mmhh, sombong sekali yah, dia. Apa dia gak tau, gak mudah pengorbanan yang kami lakukan demi menyaksikan keunikannya.

Istirahat dulu di pinggir kali

Istirahat dulu di pinggir kali

Tapi, dengan segenap darah petualang (beuh!) yang mengalir dalam diriku, tak sedikit pun aku menyesal dengan perjalanan ini. Bagi ku ini pengalaman berharga yang akan jadi cerita menarik buat diri ku, juga anak cucu nanti (cieee). Menjadi seorang yang tangguh pun teruji dari petualangan ini. Aku belajar banyak hal tentang menghargai waktu.

Kami melangkah pulang, baju sudah basah kuyub dengan peluh. Aku melihat medan yang tadi aku lewati dalam gelap, tak percaya, aku berhasil melewatinya. Medan yang kulalui ternyata memang licin, penuh semak tinggi, mendaki dan menurun. Terpeleset, tergelincir, dan tergores, sudah tak kuhiraukan. Semangat ’45 aku ingin segera sampai ke pos pertama. Mana perut sudah mulai bunyi-bunyi minta diisi.

Tim Bidadari-Bukit Batu Putih, Halmahera Barat

Tim Bidadari-Bukit Batu Putih, Halmahera Barat

Alhamdulillah, sampai juga di Pos Pertama. Tempat semalam kami menginap. Aku terduduk. Keringat malah mengucur semakin deras. Segelas teh manis hangat, slurrrpppp, melepas dahaga ku.

Makan siang yang tersaji terasa jadi makan siang paling lezat sepanjang hidupku. Aku menghabiskan (hampir) satu buah nanas – bukan satu potong-, nanasnya benar-benar segar karena memang dipetik langsung di kebun.

Akhir perjalanan ini, benar-benar sebuah pengalaman yang berharga bagiku. Ribuan tetes peluh yang mengalir adalah saksi petualangan hebat ini.

Pantai Berpasir Hitam, Sulamadaha

Minggu, 15 Maret 2009

Pantai Sulamadaha

Ah, pengen tidur aja pas denger kita mau ke pantai yang berpasir hitam *kebiasaan gampang banget merem kalau perjalanan. Udah kebayang, kok pasirnya hitam si. Karena aku sebagai penikmat keindahan pantai, punya pendapat gini, semakin putih pasir pantainya, pasti semakin indah pantainya.

Sampai di sana, fine. Pasirnya memang hitam, tapi bukan lantas aku pengen tidur lagi, kok. Adrenalin ku mulai semangat lagi, melihat saat itu pantai sedang ramai dikunjungi penduduk setempat (karena kebanyakan pengunjung yang kulihat memiliki perawakan Melanesia).

Preparation

Preparation

Mereka terlihat antusias dengan debur ombak yang menampar tubuh. Sebenarnya apa yang membuat mereka begitu ‘excited’ dengan pantai berpasir hitam ini. Ternyata, banyak hal yang bisa dilakukan di pantai ini. Bergabung bersama pengunjung lain, aku ikutan menerjang serangan ombak. Setelah merasa cukup, maen-maen dengan ombak sampe keminum air laut, saat nya meluncur dengan jetski.

Dan, ya, aku mencoba mengendarainya. Ternyata gampang kok. Lebih gampang dari mengendari sepeda motor. Hihi. Tinggal menekan tombol start, dan kemudian menarik gas (pedal gas seperti rem tangan pada sepeda) untuk jalan. Boro-boro kopling, rem-rem an juga ga ada. Kalo ingin berhenti, gas tinggal dilepas saja. Simpel banget kan.

Yang paling seru, adalah menjaga keseimbangan ketika berada di atas jetski. Beberapa kali aku dan teman-temanku harus jatuh dari jetski karena kehilangan keseimbangan. Sekedar informasi, satu jetski aku naiki bertiga bahkan sempat berempat. Yang normalnya dinaiki oleh satu atau dua orang saja. Gimana jetskinya ga keberatan beban yah. Apalagi kalau kebagian duduk paling belakang. Sebaiknya berpegangan erat. Karena ketika jetski melaju sangat kencang, kita bisa meluncur ke belakang. Selain jatuh, kecelakaan lain yang terjadi saking euphoria nya, jetski sampai terbalik. Dan itu menyebabkan jetski mogok. Sehingga meluncur di pantai dengan jetski pun berakhir di situ.

Kedatangan kami yang tadinya disambut langit berawan, beranjak tergantikan oleh mentari yang mulai pancarkan teriknya. Asik juga bersantai di pinggir pantai sambil main-main pasir. Aku dan teman-temanku mengubur tubuh dengan pasir. Berat juga badan ketimbun pasir. Aku sempet merinding, kalo inget tentang kubur mengubur dimana kita semua pasti akan bertemu dengan alam kubur itu 😦

Saat nya snorkeling. Untuk itu, aku dan teman-teman ku pindah ke sisi pantai yang arusnya lebih tenang. Wah, di sini, kita tidak menemukan pasir hitam lagi, tapi kita bisa melihat tepian pantai dilapisi karang-karang putih dan batu-batu pinggir pantai. Melangkah di kerang-kerang putih membuatku ingin segera nyebur aja ke laut. Abis kaki jadi sakit, si. Aku mengharapkan karang-karang indah terlihat dengan jelas ketika aku snorkeling. Tapi aku tidak menemukan itu, hanya terlihat dasar laut dangkal dengan jenis karang yang serupa. Lalu aku meletakkan peralatan snorkelingku ke tepian. Karena mulai bosan dengan karang-karang yang relatif biasa (blagu), aku pengen berenang ke laut lepas.

Dan jadilah saat itu, aku berenang ke laut dalam tak bermodalkan life vest. Ternyata asik juga, berenang di tengah laut, menikmati ketenangan di laut lepas. Tapi, sekuat-kuatnya fisikku, aku tidak bisa bertahan terlalu lama. Kekuatan kaki mempertahan kan tubuh ku agar tidak tenggelam, tentu terbatas.

Merasa puas, aku pun memutuskan untuk mendarat saja. Brrr, dingin sekali, karena saat itu matahari pun sudah hampir tenggelam. Sambil menunggu, yang lain selesai main air-airnya, aku mendaki batu-batu tepi pantai untuk naik ke daratan. Di sana, aku menikmati segelas teh manis hangat dengan aroma kayu manis khas ternate plus indomie kuah dengan irisan lombok. Mmmmhh, memang perpaduan yang sempurna.