118

Lalu dia menggenggam tangan ku. Di setiap langkah kebersamaan kita.

Dia mengenalkanku dengan bangga pada keluarga besarnya, juga teman-temannya.

Dia ingin aku menemaninya dalam setiap hari-hari nya. Kemana saja. Tak sedetik pun ingin aku meninggalkan nya.

Lalu aku bangun dari mimpiku, karena (ternyata) aku hanya wanita ke seratus delapan belas.

*malang bener nasib wanita ke 118 itu 😦

Segara Anakan

Dari Prigen.

Duh, kok ga nyampe-nyampe ya. Sekitar 4 jam perjalanan akhirnya sampai juga di tempat tujuan kami. Ini lokasi terakhir untuk syuting. Ngantuk yang tadi menyelimuti perjalananku belum juga hilang. Tapi kami tetap harus dengan semangat menyelesaikan materi syuting hari ini.

Dari Pantai Sindang Biru, sekitar 10 menit menuju pulau Sempu dengan perahu motor. Segara Anakan nama danau itu. Perjalanan dahsyat ini dimulai bersama Mba Fista dan Mas Imet ketika kita harus menerobos hutan sekitar 1 jam (atau bisa sampe 2 jam kalo nyantai banget) jalan kaki. Kebetulan waktu aku ke sana, abis hujan. Melewati jalan setapak dengan tanahnya yang masih lembab.  Kaki ku sesekali terperosok jauh (sekalian bikin gimmick syuting si) menyusup lumpur yang masih basah. Kemudian aku memutuskan melangkah tanpa alas kaki, karena ternyata memang lebih nyaman dan ga licin. Bertelanjang kaki membuat ku semakin akrab dengan alam. Nuansa rindang hutan alami tak menghalangi kucuran peluh di sekujur tubuh.

Tak terdengar gemericik air mengalir seperti kebanyakan hutan-hutan di Indonesia. Kecewa ku nyaris terbersit.

1 jam telah lewat. Mata mulai segar melihat aliran air. Itu kah danau yang mereka maksud. Selintas tampak biasa. Kami pun masih terus melangkah dan

traratttaraaa,,,

Segara Anakan

Segara Anakan

Pandanganku disuguhkan nuansa indah yang ga bisa diganggu gugat. Mataku berkaca saking haru. Bulu kudukku merinding, apakah keindahan ini nyata. Perpaduan pantai, danau, dan air terjun. Nah, bingung kan. Iya, ini sungguh nyata. Letih, dahaga, peluh seolah tak ada artinya. Lukisan tangan Tuhan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Pantai-pantai indah, danau-danau memukau, air terjun nan dahsyat bersinergi di sini. Haru menyelimuti sanubariku. Seolah tak percaya aku menjejakkan langkah ku di sini.

Segara anakan ini mirip telaga kecil yang dikelilingi karang, terpisah dari laut. Mirip film the beach yang bercerita tentang laguna tersembunyi di pedalaman Thailand. Ternyata Indonesia juga punya dan ga kalah keren!:D

Di sisi lain, kita bisa memanjat karang kemudian memandang debur birunya Samudera Hindia. Menikmati ombak meluluh lantakkan karang yang kokoh memagari pantai.

Samudera Hindia

Samudera Hindia

Kalau saja aku punya waktu lebih lama, mungkin akan sangat menyenangkan kalau camping di sini. Mancing ikan, mendirikan tenda, bakar-bakar ikan, bikin benteng dari putihnya butiran pasir pantai, berenang di pantai, tidur2an di pantai, dan foto-foto yang ga ada matinya.

Sayang, Sagara Anakan harus kutinggalkan setelah 2 jam ‘main-main’ di sana. Kusempatkan mengukir nama ku di putihnya pasir Danau Sagara Anakan. Amat sangat disayangkan pas ke sana, aku hanya bermodalkan camera HP 😦 Gambar yang bisa kuoleh-olehi pun sangat sederhana.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Pulang.

Ternate, jalan pulang

Narcism Syndrome: on the TOP of TERNATE CITY

Narcism Syndrome: on the TOP of TERNATE CITY

Setelah 8 hari jalan-jalan di Propinsi Maluku Utara, hari ini aku dan tim perjalanan 3 wanita akan meninggalkan Kota Ternate, Ibukota Propinsi Maluku Utara. Tidak seperti ketika berangkat dimana penerbangan yang kami lakukan adalah penerbangan langsung dan tengah malam. Pulang ke Jakarta kali ini, penerbangan yang dipilih adalah penerbangan tengah hari atau tepatnya pukul 13.30 wit. Dan penerbangan ini tidak langsung melainkan transit dulu di Manado, kemudian Makassar, barulah tujuan akhir di Jakarta. Tumben, aku dan teman-teman sampai di bandara lebih awal, biasanya di setiap penerbangan yang kami lakukan seringkali kami sampai di pesawat detik-detik terakhir keberangkatan. Kebiasaan orang Indonesia, memang. Karena masih ada waktu sekitar satu setengah jam sebelum keberangkatan, mending santai-santai dulu di warung (kok warung ya?) minum-minum. Sambil menunggu teman-teman yang lain jumatan.

Minum tentu tidak lengkap rasanya tanpa cemilan, tapi sayang, cemilan yang tersedia secara gratis hanyalah kuaci milik Mba Aci (salah satu campers). Aku memilih tidak mecicipinya bukan karena ga doyan, tapi jujur saja aku punya kesulitan membuka kulitnya. Walaupun kata orang, disitulah nikmat nya makan kuaci.

13.00 WIT, yang jumatan udah kelar. Kita pun harus bersiap untuk boarding. Mas Angga (yang megang duit) menghampiri kami dan berinisiatif ngebayarin. D’ oh, aku shock mendengar harga semangkok indomie 18 ribu. Mahal abis, untung dibayarin (ketauan pelitnya). Lagian kita nya juga pas mesen ga nanya-nanya harganya berapa. Apalagi kalo aku bayar sendiri, aku harus membayar 2 mangkok Indomie dengan total harga 36 ribu. Bukankah itu terlalu mahal untuk dua bungkus Indomie?

Tak sempat duduk di waiting room, bus yang kami tumpangi untuk menuju pesawat sudah tiba. Menuju pesawat, jalan yang dilalui berupa turunan dan berkelok. Wah, unik nih bandara. Di Ternate, bukan perjalanan menuju desa-desanya aja yang belok-belok, turunan, dan tanjakan. Pun bandara nya.

Wah ini, untuk pertama kalinya aku naik pesawat kecil. Pesawat ini berpenumpang sedikit, sekitar 50 orang saja. Karena pesawat ini hanya akan mengudara sampai Manado dengan jarak terbang sekitar 45 menit.

Pesawat kecil

Mendarat di Manado, pukul 13. 30 wita. Hihi, unik yah, tidak bergeser dari waktu keberangkatan. Hanya saja ini adalah Waktu Indonesia Tengah, yang lebih lambat satu jam dari Indonesia timur. Kami akan transit sekitar 30 menit. Kusempatkan untuk sholat dan melihat-lihat souvenir.

Saatnya melanjutkan perjalanan. Kali ini kami ganti pesawat, yang lebih besar.

Sebelum sampai di Jakarta, kami masih harus transit dulu di Makassar. Ini kedua kalinya aku menginjakkan kaki di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar *deuh tau deh yang udah pernah ke Makassar. Di sini, kita makan KFC yang dibliin Mas Angga. Makan mulu ih, no wonder berat badan naik 2 kilo.

Setelah perjalanan panjang Ternate-Jakarta yang memakan waktu sekitar 8 jam, aku dan yang lain, alhamdulillah, mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Akhirnya..

Sepanjang perjalanan di pesawat aku melewatkan waktu ku dengan tidur, ngemil, ngelamun, liat-liat laptop, chucking, dan yang pasti mendengar lagu-lagu anyar di MIMPO –mengambil istilah dari seorang teman- canggih ku.

Well, I have to say good bye to Maluku Utara. Hello Jakarta, welcome back to the real life!! *sigh

Heningnya bening di Boki Moruru

menyusuri sungaiBisa dibilang, this is very longway to WEDA. Kami sudah berangkat pukul 6 WIT (berarti jam 4 WIB) dari sebuah kabupaten bernama Sidangoli, sebuah Kabupaten yang berada di Halmahera Tengah. Jalan menuju desa WEDA ini masih sangat rusak. Hanya mobilyang tangguh yang sanggup melalui perjalanan panjang ini. Sesekali mobil kami berpapasan dengan transportasi umum di Halmahera Tengah ini. Dan sangat berbeda dengan transportasi umum yang ada di Jakarta, kendaraan-kendaraannya berupa mobil-mobil ‘keren’ kaya land cruiser atau ford ranger. Tarifnya pun pastinya beda. Kalo dengan 2000 rupiah kita udah bisa nyampe Blok M-Joglo, di Halmahera Tengah ini, gak bakal nemu angkutan degan tarif semurah itu. Paling murah seratus ribu rupiah! Tapi ya itu smua sebanding dengan trayek dan medan yang dilewatin. Sulit banget menemukan jalanan mulus di sana. Jalanannya yang ancur bikin seisi mobil berguncang, dan pastinya jadi ga bisa tidur (kebiasaan ku tidur di perjalanan kalo nemu jalan yang mulus dikit).

Sepanjang perjalanan, aku melewati beberapa desa dengan kehidupan sederhana. Sepi sekali penduduknya. Hanya sesekali terlihat ibu-ibu (bapak-bapak juga) tua berjalan kaki.

Selama kurang lebih 7 jam perjalanan, akhirnya aku sampai di desa Weda. Lengang. Seperti desa-desa di pelosok Indonesia pada umumnya. Udara Weda terik bikin aku malas untuk keluar dari mobil.

Rangkaian syuting tetap harus berlangsung. Kalo kata seorang teman ‘come on. move your a*s!’

Syukurlah pemerintah kabupaten Halmahera Tengah menyambut kami dengan sumringah. Aku mulai smangat lagi, penasaran dengan cerita bapak-bapak dari pariswisata Halmahera Tengah.

Boki Moruru, atau biasa disebut Goa Batu Lobang. Sekitar 5 km dari Desa Weda, kabupaten Halmera Tengah.

Karena sudah sore, kami tidak bisa langsung ke sana. Ke Goa yang katanya indah banget itu.

Kami menginap semalam di Desa Weda.

Setelah sholat subuh, kami langsung berangkat ke Pelabuhan. Menuju Goa Boki Moruru, terlebih dahulu harus menyebrang ke desa Sagea dengan menggunakan speed boat selama kurang lebih 30 menit. Lalu untuk menuju mulut goa perjalanan dilanjutkan dengan menaiki perahu kayu kecil yang disebut ketinting.

Menyusuri sungai dan goa, kita harus ditemani penduduk setempat. Karena tempat ini memang masih asli dan alami.

Ketinting. Waduh, keseimbanganku diuji di sini. Seringkali ketinting harus oleng ke kanan dan ke kiri. Tapi keresahan ku di atas ketinting menjadi tak terasa, karena sepanjang susuran aliran sungai, aku disuguhi keindahan alam. Kanan kiri kita bisa menikmati pemandangan hijau nya sawah dan berbagai pepohonan yang tumbuh alami. Suara jangkrik pun, mengisi kesunyian sepanjang perjalanan. Menengadahkan kepala,  disajikan hamparan biru nya langit, sesekali rupa burung-burung yang cantik melintas.

Karena arus yang deras dan sungai yang dangkal, sesekali aku dan yang lain harus turun dari ketinting dan berjalan menyusur bantaran sungai (atau daratan di tengah sungai).

5 menit lagi akan sampai di mulut Goa Boki Moruru. Kami berisitirahat sejenak. Terdapat tempat peristirahatan berupa bentangan kerikil-kerikil khas pinggir kali. Di sana kami makan dan minum. Sebungkus nasi, indomie goreng, dan telor mata sapi balado, mmhh, enyakkkk bgt. Kusantap dengan lahap. hap. hap.

Udah kenyang. Kami melanjutkan perjalanan.

5 menit menuju Goa Boki Moruru

5 menit menuju Goa Boki Moruru

Memasuki mulut Goa. Bulu kuduk merinding, darah seolah berdesir ke jantung. Hening. Mata mulai berkaca. Haru menyelimuti kalbu ku.

Subhanallah, keindahannya tak bisa kuungkapkan lewat kata-kata. Kanan kiri aku dipagari gagahnya tebing-tebing tinggi. Melihat ke aliran air nya, bening. Tampak seperti disinari lampu dari dasar nya. Stalaktit nya unik dan berkilauan..Memasuki Mulut Goa Boki Moruru

Teman-teman harus merasakan sendiri keindahannya. Ini fully reccomended, untuk wisata, berpetualang dan refreshing. Masih sangat alami dan maha indah. Goa paling keren sepanjang perjalanan ku.

Someday, aku pengen ke sana lagi. Menelusur lebih jauh ke dalam Goa. Mengajak orang-orang tercinta (anak dan suami, amin) berpetualang ikut merasakan keindahan, kemisteriusan, dan alamnya yang menantang.

Kita Berhak Memilih

Pemilu legislatif tinggal besok. Di seluruh pelosok negeri sudah mulai sepi dengan muka-muka caleg yang belakangan tumpah ruah menyemarakkan pandangan kita di setiap sudut jalan.

Golput. Melihat status facebook beberapa teman.

Ada yang bilang, ah, satu suara gak bakal berarti apa-apa untuk mengubah nasib bangsa Indonesia.

Ada yang ngerasa toh siapa pun yang terpilih, politik tetap sudah membusuk sampe ke dalam daging. halah.. halah..

Well, bukannya aku membenarkan atau menyalahkan suara-suara apa pun tentang Pemilu. Malahan aku adalah salah satu dari mereka yang tak terlalu ambil pusing dengan tetek bengek Pemilu. Ups, padahal kerjaan sekarang gak jauh-jauh dari urusan Pemilu.

Tapi untuk memilih, rasanya aku cukup bijaksana untuk gak golput. Sekedar mengandalkan hati nurani, bukan kampanye salah satu parpol, InsyAllah aku akan tetap menggunakan hak pilih ku. Walau pun sebenarnya ga ngerti siapa yang paling pantas, at least, aku masih punya mimpi, jangan sampai negara ini  jatuh ke tangan yang salah. Jiaaahh!

Posted in Oh

Satu April Dua Ribu Sembilan

Bukankah sekarang satu April, di mana di beberapa negara terdapat tradisi April Mop atau April Fool’s Day yang dimaksudkan bahwa adalah sah untuk melakukan kebohongan yang akhirnya menjadi sebuah lelucon.

Memang, sejak kecil aku jarang ikut-ikutan tradisi begitu *maklum saya datang dari jauh. Apalagi beberapa tahun belakangan, saat itu aku merasa, ah justru peringatan ini bisa jadi membawa dampak buruk. Fool-ing will never be a good thing.

Saat ini, sekaliiiii aja, Aku berharap akan ada April Mop untukku tahun ini. Besok, saat di mana aku akan menghadapi suatu moment yang kuharap itu hanya akan menjadi lelucon memperingati April Mop. Aku gak akan marah atau ngambek, jika seseorang mengaku pada ku, bahwa itu hanya lah April Mop. Aku janji, tak peduli seberapa parah nya dampak dari lelucon itu. Yes, still wishing it was a joke!

Hal yang PASTI tak satu pun diantara kita berharap akan pernah menghadapi nya. Kesedihan, kegundahan, kekecewaan, mungkin juga, marah, berkecamuk dalam sanubari. Tapi, usaha terakhir yang dapat kulakukan sudah dipatahkan. Keputusan dari ‘sang pengejar kebahagiaan’ itu sudah bulat. Air mata, rengekan, bahkan senyum manis ‘this crying princess’ tak akan ada artinya lagi.

Sang pengejar kebahagiaan tetap akan mengejar mimpi nya. Ntah mimpi seperti apa. Seolah sudah siap dengan langkah pasti akan meninggal kan ku. Juga mereka. Tidak ada arti lagi kah kebersamaan kita. Tidak sanggup lagi kah, hal-hal keren yang pernah kita lalui membuat dia bertahan. Di sini.

Satu April toh akan berlalu juga. Begitu juga dua April. But always wish there’s a miracle.