Segara Anakan

Dari Prigen.

Duh, kok ga nyampe-nyampe ya. Sekitar 4 jam perjalanan akhirnya sampai juga di tempat tujuan kami. Ini lokasi terakhir untuk syuting. Ngantuk yang tadi menyelimuti perjalananku belum juga hilang. Tapi kami tetap harus dengan semangat menyelesaikan materi syuting hari ini.

Dari Pantai Sindang Biru, sekitar 10 menit menuju pulau Sempu dengan perahu motor. Segara Anakan nama danau itu. Perjalanan dahsyat ini dimulai bersama Mba Fista dan Mas Imet ketika kita harus menerobos hutan sekitar 1 jam (atau bisa sampe 2 jam kalo nyantai banget) jalan kaki. Kebetulan waktu aku ke sana, abis hujan. Melewati jalan setapak dengan tanahnya yang masih lembab.  Kaki ku sesekali terperosok jauh (sekalian bikin gimmick syuting si) menyusup lumpur yang masih basah. Kemudian aku memutuskan melangkah tanpa alas kaki, karena ternyata memang lebih nyaman dan ga licin. Bertelanjang kaki membuat ku semakin akrab dengan alam. Nuansa rindang hutan alami tak menghalangi kucuran peluh di sekujur tubuh.

Tak terdengar gemericik air mengalir seperti kebanyakan hutan-hutan di Indonesia. Kecewa ku nyaris terbersit.

1 jam telah lewat. Mata mulai segar melihat aliran air. Itu kah danau yang mereka maksud. Selintas tampak biasa. Kami pun masih terus melangkah dan

traratttaraaa,,,

Segara Anakan

Segara Anakan

Pandanganku disuguhkan nuansa indah yang ga bisa diganggu gugat. Mataku berkaca saking haru. Bulu kudukku merinding, apakah keindahan ini nyata. Perpaduan pantai, danau, dan air terjun. Nah, bingung kan. Iya, ini sungguh nyata. Letih, dahaga, peluh seolah tak ada artinya. Lukisan tangan Tuhan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Pantai-pantai indah, danau-danau memukau, air terjun nan dahsyat bersinergi di sini. Haru menyelimuti sanubariku. Seolah tak percaya aku menjejakkan langkah ku di sini.

Segara anakan ini mirip telaga kecil yang dikelilingi karang, terpisah dari laut. Mirip film the beach yang bercerita tentang laguna tersembunyi di pedalaman Thailand. Ternyata Indonesia juga punya dan ga kalah keren!:D

Di sisi lain, kita bisa memanjat karang kemudian memandang debur birunya Samudera Hindia. Menikmati ombak meluluh lantakkan karang yang kokoh memagari pantai.

Samudera Hindia

Samudera Hindia

Kalau saja aku punya waktu lebih lama, mungkin akan sangat menyenangkan kalau camping di sini. Mancing ikan, mendirikan tenda, bakar-bakar ikan, bikin benteng dari putihnya butiran pasir pantai, berenang di pantai, tidur2an di pantai, dan foto-foto yang ga ada matinya.

Sayang, Sagara Anakan harus kutinggalkan setelah 2 jam ‘main-main’ di sana. Kusempatkan mengukir nama ku di putihnya pasir Danau Sagara Anakan. Amat sangat disayangkan pas ke sana, aku hanya bermodalkan camera HP😦 Gambar yang bisa kuoleh-olehi pun sangat sederhana.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Pulang.

One thought on “Segara Anakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s