Politik Makan Banyak

bukan IndonesiaSaat itu kepala ku mulai pusing dengan lika-liku politik dan hukum di Indonesia.

Saat itu aku mulai tak habis pikir dengan begitu ribet nya perkara hukum, pemilu, negara, yang ga abis-abis.

Saat itu kekhawatiran mulai muncul, jangan-jangan Indonesia akan jatuh (baca: dipimpin) ke tangan yang salah.

Seolah mengambil jalan pintas, aku meminta seseorang untuk mengajak ku keluar dari Indonesia. Tinggal dan menetap di sana.

‘Ayah, kalo  ke San Ramon, aku diajak, ya.’

‘Iya.’ Jawabnya. ‘Nanti diajak kalo makannya udah ga banyak’

*sigh

Tersihir Keindahan Gunung Bromo

Dinginnnnn,,, buru-buru aku masuk penginapan ketika sampai sekitar pukul 10 di penginapanyang sudah tak jauh dari lokasi wisata Gunung Bromo. Tapi kehangatan tak juga kutemukan. Tempat tidur di penginapan itu sulit dibedakan antara basah, lembab, atau basah. Saking dinginnya.

Ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka pun rasanya malas. Tak mau berlama-lama menapakkan kakiku di lantai. Aku segera menyelimuti tubuhku, agar lebih hangat. Untung ngantukku mengalah kan dingin malam itu.

Jam 3 pagi (ngaret beberapa menit) kami bersiap. Pake baju setebel-setebel nya. dan sepanjang-panjangnya. Sayangnya aku ga persiapan jaket yang agak panjang sampe separo betis atau kalo ga mau lebay di atas lutut dikit. Pokoknya sehangat mungkin. Dont wear jeans! Dingin. But i did 😦 Sarung tangan dan sarung kepala it a must!

Sunrise

Sunrise

Menaiki mobil 4 wheel jeep – hardtop yang disewa dengan harga sekitar 275 ribu inc driver dan BBM untuk one Bromo Trip sampe kembali lagi ke penginapan, kami menuju ke penanjakan untuk menantikan sunrise. Saat itu, ramai sekali turis-turis asing juga lokal. Padahal bukan weekend loh..

Siaga di penanjakan sekitar pukul setengah lima – setengah enam, kita menikmati terbitnya matahari dengan semburat merah yang muncul perlahan. Subhanallah,,

Dari sana kita juga bisa melihat lautan pasir dengan hiasan 3 serangkai (Gunung Bromo, Tengger dan Semeru).P1010137

Ketika matahari sudah mulai meninggi, saatnya melihat dari dekat lautan pasir yang sedari tadi kukagumi. Kami melanjutkan perjalanan dengan kendaraan yang disewa untuk satu trip wisata bromo. Sekitar 30 menit perjalanan dengan melewati jalanan berkelok dan menurun terjal. Pantas saja, tidak sembarang mobil boleh dan mampu melewati jalan ini.

Kami sampai di lautan pasir itu. Segerombolan kuda-kuda dengan joki nya mendekati mobil kami. Menuju puncak bromo, kita bisa menyewa kuda atau kalo pengen olahraga dikit, bisa jalan kaki. Kami memilih menunggang kuda. Sewa kuda nya sekitar 80-100 ribu dan setiap kuda punya nama-nama yang unik.

Mengendarai kuda, sebenarnya tidak perlu keahlian khusus. Cuma kita harus sedikit lebih bersahabat dengan kuda tersebut. Bersahabat di sini bukan berarti harus mengemong atau sejenisnya. Justru harus di pecut biar jalan.

menuju kawah Condrodimuko

menuju kawah Condrodimuko

Dari kejauhan sudah tampak pemandangan indah menuju kawah condro dimuko. Untuk sampai ke kawah nya, kita harus menaiki sekitar 400 anak tangga.

Aku benar-benar kagum dengan keindahan Gunung Bromo. Jauh-jauh ke pelosok Indonesia, ternyata, di pulau Jawa pun ada panorama surgawi yang membuat ku tersihir.

Perjalanan pun harus berakhir karena kami harus melanjutkan perjalanan ke lokasi selanjutnya tak jauh dari kawasan wisata Gunung Bromo.

BROMO

BROMO

Langkah Demi Langkah di Gunung Gede

Check, check, check.

Syuting kali ini berbeda dari biasanya. Kita akan membuat satu epiode Ulang Tahun Perjalanan 3 Wanita yang kedua.

Semua perlengkapan mendaki udah dipersiapkan. Terutama perbekalan (indomie, pop mie, roti, dan cemilan lainnya), obat-obatan dan perlengkapan pribadi. Ini untuk pertama kali nya aku menyandang carrier, yang kuperkirakan beratnya lebih dari 10 kg (saking beratnya). Isi nya adalah barang ku dan barang Silvie. Maklum saja, silvie harus membawa tenda.

Kami berangkat dari Cibodas. Medan pendakian yang sebenarnya udah dibikin jalan batuan sehingga memudahkan kita mendaki. Memang Gunung Gede ini termasuk dalam Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang telah dikelola dengan baik oleh pemerintah. Melalui jalur Cibodas ini, ada banyak objek menarik yang bisa kita lihat.

Pertama adalah Telaga Biru. Telaga dengan luas 5 hektar ini selalu tampak biru diterpa sinar matahari karena dilapisi oleh ganggang biru.

Setelah menikmati telaga biru itu sejenak, perjalanan dilanjutkan dengan melewati batuan, jalan tanah, dan jembatan kayu yang agak rapuh sepanjang 500 meter.

Ini baru sepersejuta perjalanan, tapi nafas udah  ngos-ngos an. Aku sebenarnya agak pesimis, apa aku bisa melanjutkan pendakian dengan kemampuan fisikku yang amat terbatas ini. Tapi, toh yang lain tetap terlihat semangat. Aku pun gak boleh patah semangat (panas ceritanya).

DSC00622Kalo mau mampir melihat keindahan air terjun Cibeureum, kita bisa belok dikit sebelum melanjutkan pendakian. Lumayan kalau mau istirahat, cuci-cuci muka, sambil menikmati keindahan air terjun, biar seger lagi. Sebelumnya, kami makan dulu. Nasi putih, telor, dan kering tempe, mantepp banget.

Entah karena saking santai nya, gelap begitu cepat tiba (emang berangkatnya udah kesiangan juga, si). Masing-masing kita telah berbekal senter untuk menerangi langkah kami. Beberapa kali kami harus beristirahat untuk mengumpulkan energi yang begitu cepat hilang.

Sebenarnya, menurut pengalaman ku kemaren, semakin sering kita beristirahat, semakin berat rasanya untuk mulai melangkah kembali. Tipsnya, kalau memang masih sanggup melangkah, teruskan saja. Sebaiknya jangan terlalu sering berhenti. Tapi kalau emang udah ga sanggup, beristirahatlah, jangan dipaksakan. Sampai terkumpul lagi energi dan semangat untuk melanjutkan perjalanan. Kalau bisa jangan sampai tubuh kembali dingin karena suhu gunung yang dingin biasanya sangat cepat menyerap keringat.

Tubuhku mulai menggigil karena selain istirahat yang kelamaan, saat itu hujan mengguyur penelusuran kami. Tapi kemudian, subhanallah, betapa kagetnya aku setelah lebih dari 5 km perjalanan, aku melintasi sebuah sumber air panas. Subhanallah, airnya bukan lagi hangat, tapi benar-benar panas mencapai 70 derajat celcius. Allah menciptakan alam begitu sempurna. Udara dingin yang menusuk kalbu, dilengkapiNya dengan kehangatan aliran air panas yang membasuh langkahku.

Setelah melintasi air panas, kami beristirahat di sebuah pos peristirahatan sambil menunggu hujan lebat mereda jadi rintik-rintik. Lumayan, sambil minum dan ngemil perbekalan yang sudah kami bawa. Setelah dirasa cukup, raut kuyu dan letih yang ada di aku dan teman-teman lainnya berubah menjadi semangat agar segera sampai ke Kandang Badak, tempat kami akan mendirikan tenda.

Sekitar 4 jam perjalanan (normalnya 3,5 jam) kami sampai di Kandang Badak. Dingin semakin menusuk di ketinggian 2.220 m diatas permukaan laut, saat itu hujan pun sedang turun. Awalnya aku pikir, di sini ada badaknya. Tapi, ternyata dari seorang teman, aku tau kalau disebut Kandang Badak karena ukurannya yang besar kaya badak.

Mencari Kehangatan

Mencari Kehangatan

Kami pun mendirikan tenda dan menyiapkan makan malam. Lumayan, segelas pop mie dengan kuah berbumbu nya yang hangat mengisi perut ku yang kriuk kriuk. Emang karena suhunya yang dingin, aku, khususnya, jadi lebih mudah lapar. Bisa jadi targetku untuk turun 5 kg setelah turun Gunung Gede gagal (dan emang udah dipastikan gagal).

Setelah take untuk sebuah gimmick syuting, kami pun beristirahat di tenda masing-masing. Tapi ternyata, mataku ga bisa terpejam sedetik pun. Aku kedinginan kala itu. Terbersit rasa kawatir saat itu. Sampai kuucapkan takbir dan istigfar dalam hati. Kuteteskan pula air mata karena dingin semakin menusuk sekujur tubuh ku. Entah kemana aku harus menghangatkan diri, karena setiap sudut Kandang Badak itu diliputi dingin. Dingin yang sampai sekarang masih membuat ku ‘trauma’ .

Kapan ya matahari akan menyinari Kandang Badak untuk membagikan kehangatannya. Aku benar-benar berharap matahari segera terbit. Sangat berlawanan dalam kehidupan sehari-sehari ku di mana aku berharap agar pagi jangan segera tiba karena aku masih pengen tidur (baca: keblug).

Aku masih membeku, di kala teman-teman yang lain sudah mulai bergerak menyiapkan sarapan. Saatnya bangun dan sarapan, tapi napsu makan udah ga sedahsyat sebelumnya. Perutku mulai ga enak mungkin karena sudah mulai dipenuhi angin.

Setelah sarapan, kami pun bersiap-siap melanjutkan perjalananan menuju Puncak Gunung Gede. Medan yang kami hadapi semakin berat. Akar-akar pohon dan kemiringannya semakin terjal. Tak begitu lama, kami menghadapi tanjakan setan, begitu mereka menyebutnya. Tanjakannya benar-benar curam, untuk itu kita harus menggunakan bantuan tali untuk mendakinya. Tips dari ku, jangan liat ke bawah. serem ih, kaya pengen jatuh.gambar diambil dari atas tanjakan setan

Energi semakin terkuras, kaki semakin berat melangkah. Seakan pendakian ini gak ada ujungnya. Ini mah udah ga pengen nangis lagi, tapi pengen treak.

Dan setelah sekitar 2 jam dari tanjakan setan itu, aku sampai di Kawah Gunung Gede. Pemandangan yang kami tunggu-tunggu dari perjalanan panjang ini. Saat itu kabut tebal, hanya detik-detik tertentu ketika kabut menepi, kami bisa menikmati pemandangan kawahnya.

Rasa syukur dan haru menyelimuti tubuh letih ku saat itu. Akhirnya aku berhasil sampai di puncak Gunung Gede. Sambil menunggu yang lain, sejenak aku tertidur sambil menikmati sejuknya hawa kawah Gunung Gede. Ternyata yang lain pun melakukan hal yang sama dengan ku, terlelap di Kawah Gunung Gede.Tepar di Puncak 1 Gunung Gede

Euphoria telah berhasil sampai di  puncak Gunung Gede ternyata tak  berlangsung lama. Karena menuruni Gunung Gede melalui jalur Gunung Putri, kita akan disuguhkan permadani jutaan edelweis (sayang kala itu sedang kuncup). Tapi,  tidak mengurangi keterpesonaan ku pada keindahannya. Anginnya semilir walau matahari pasti diam-diam membakar kulit wajahku. Kami menghabiskan perbekalan yang masi tersisa. Botol-botol diisi dari aliran sungai yang mengalir di Alun-Alun Surya Kencana untuk bekal perjalanan pulang.

Pendakian Gunung Gede memberikan pengalaman berbeda dari perjalanan-perjalanan kami yang lain. Di sini sangat terasa kebersamaan di antara tim perjalanan tiga wanita  selain karena memang episode ini dibuat khusus untuk episode ulang tahun.

Saksikan ekspedisi perjalanan 3 wanita di Gunung Gede, Kamis 21 Mei 2009 jam 6 pagi, ditrans TV.

Basa Basi Patah Hati

Siapa yang mau patah hati. Gak satu pun.

Waktu patah hati dulu, aku berjanji gak mau mengulangi nya lagi. Tapi ternyata, itu tetap terjadi. Saat itu aku berpikir, ah, mungkin aku belum cukup dewasa untuk mengendalikan perasaan ku. Mungkin aku masi kebawa emosi.

Lalu, saat usia ku (kurasa) sudah mulai beranjak dewasa, ternyata aku masih merasakan patah hati itu lagi. Aku merasa, apa aku seperti keledai. Mengulangi kesalahan yang sama dua kali. Bukan kah orang pintar tak akan mengulangi kesalahan yang sama apa lagi sampai berkali-kali.

Tapi patah hati, layak nya cerita basi yang selalu mengisi hari-hari ku. Ketika semakin dewasa, patah hati itu terasa kian sakit. Lalu, aku kembali berjanji, ini tak akan terjadi lagi dalam fase hidup ku. Tidak akan. Berusaha keras aku mempertahankan hubungan ku yang luluh lantak itu. Aku ga mau patahhati lagi. Itu tekad ku, alasan ku, mengapa aku begitu keukeuh (mareukeuh) mempertahankannya. Mengapa aku berusaha keras merubah kepribadian ku menjadi seseorang yang diinginkannya. Orang-orang bilang, tak perlu segitunya kalau memang ga bisa. Kamu berhak bahagia, dan harus punya jati diri. Ternyata o ternyata, cinta itu bukan hanya buta, tapi juga tuli. Cinta membuatku tak mau mendengar, toh tak ada salahnya, berubah demi kebahagiaan orang yang kita cintai.

Pada akhirnya, tak ada yang bisa dipaksakan. Begitu pula cinta. Walau pun menyakitkan, keputusan itu harus diambil. Palu pun harus diketok. Meski berat.

Anyway, broken heart is not the end of the world. Hari-hari ku akan terus berjalan. Berjalan senormal yang ia bisa.

Diselimuti orkes patah hati itu, ternyata kita masih boleh percaya kalau cinta ada di mana-mana. Being single is privilege (pembelaan kaum single). Termasuk karena bisa merasakan jatuh cinta lagi. Bahkan, bisa jadi akan lebih hebat dari cinta pertama yang kita rasakan waktu SD dulu.

Lalu aku bimbang. Apa dengan jatuh cinta, aku juga harus mempersiapkan diriku untuk patah hati lagi? Apakah kisah ‘happily ever after’ itu cuma dalam dongeng? *sigh

Aku ga mau patah hati lagi. Im begging.

Lagu Sendu

Kalau memang aku ga pantas untuk diperjuangkan, memang lebih baik pergi saja. Toh, aku ga akan memaksa. Ini lebih baik daripada terlambat. Aku berjanji pada diri ku ga akan mengulangi kesalahan yang sama itu sampai beribu-ribu kali.

Aku gak mau jadi yang ngerepotin. Gak bisakah keberadaan ku justru menjadi hal yang menyenangkan bagi nya. Sama seperti  apa yang aku rasakan, senang dan bahagia saat bersama nya. Peduli dan menyayanginya.

Tapi mungkin dia ga punya perasaan yang sama dengan ku. Dan ada baiknya aku ga memaksa. Aku berjanji pada diriku ga akan jadi orang yang egois (lagi). Toh, ketika dia tau aku tak sehebat itu, cepat atau lambat dia akan meninggalkanku. Bukankah semuanya sama? Habis manis sepah dibuang. Lalu, salah kah aku kalau masih mengharapkan cinta itu? Cinta yang tulus itu.

Lalu apa yang dia maksud selama ini? Buat apa bersikap seperti itu selama ini, kalau hanya untuk meninggalkan ku? Aku ga mau dikasihani, disayangi, itu lebih dari cukup..

Mestinya aku bersiap dari awal, karena dia pasti akan meninggalkan ku. Saat kesendirian itu memenuhi hari-hari ku, kesedihan pun tak mau menjauh. Percayalah, hidupku ga sesempurna yang kamu tau.  Setiap langkah ku, aku merasa sendiri.

Makasi, yah. Aku gak marah pada siapa pun, hanya kembali murung dan bersedih. Dan memang akan selalu begitu. Makasi karena memang udah saat nya berhenti mengasihaniku. Sampai saat nya aku akan terbiasa dengan keadaan ini.

The end.

*penulis sebenarnya merindukan paket selamat malam itu

Ingin Makan Enak

“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl: 69)

Saat ini, bukannya aku sedang diet. Bukan. Aku ingin makan yang enak-enak. Makan Sate Padang pake kripik pedes, cheeseburger Raffles, nasi goreng gila, ayam KFC, chocolate melted, froyo sour sally dengan topping mango and longan, or at least gado-gado. Perutku sudah berteriak minta diisi. Tapi apa daya, mulut ku blum berhasil kuajak kompromi. Masih menyorotkan aura pahit, panas dan pedih. Minum air putih, yang dalam keadaan normal mampu kuhabiskan dalam jumlah abnormal, kali ini aku ga sanggup.

Lalu, aku teringat akan madu yang kubeli beberapa waktu lalu di sebuah peternakan lebah, di Kota Malang. Katanya madu punya khasiat tinggi menyembuhkan berbagai macam penyakit. Nanti, sepulang dari sini, aku akan mencobanya. Mudah-mudahan ada manfaatnya.

Aku ingin segera sembuh, meninggalkan kepala yang berat, hidung yang bisa mampet dan berair sesukanya, tenggorakan yang perih, lidah yang panas, dan tarikan nafas yang berderitt. Huh,, Tape deh!

Aku ingin bisa menikmati hari-hari ku dengan normal.  Bisa karaokean sendirian di MIMPO. Bisa ngobrol2 dengan semarak. Yang paling penting, aku ingin bisa makan dan minum dengan nikmat lagi..

*hiks, penulis sedang tersiksa dengan kondisi kesehatannya, dan ingin dimanja

Perjalanan 3 Wanita di Kamis Pagi

Perjalanan 3 Wanita setiap hari kamis jam 6 pagi.

Mulai minggu ini, perjalanan 3 wanita hanya akan menemani penonton setia nya seminggu sekali saja. Ya, acara Teropong Iman menggantikan perjalanan 3 wanita untuk hari Selasa.

Pagi ini, aku menyaksikan acara baru itu. Lucu (apalagi ada Mas Jagad in frame di tayangan itu). Konsepnya menarik mengingatkan kita pada hal-hal penting yang sering kali kita anggap sepele dalam kehidupan sehari-hari. Tapi tentunya, acara religi pagi Trans TV ga akan lengkap tanpa acara jalan-jalannya 😉

Mengenai sukses atau tidaknya sebuah acara, yang berbicara adalah share dan rating. Ketika share dan rating turun, tim produksi akan disalahkan (juga hostnya). Begitu pula yang terjadi pada acara perjalanan 3 wanita.

Setiap minggu selalu ada rasa kawatir terhadap share dan rating. Kadang aku merasa Perjalanan 3 Wanita telah dikemas sedemikian rupa menjadi sangat menarik. Di balik layar sebenarnya Perjalanan 3 Wanita kaya akan tokoh-tokoh kreatif yang selalu berusaha menyajikan yang terbaik untuk pemirsanya. Tapi mengapa rating tayangan ini ga selalu bagus? Memang si, share dan rating itu hanya berasal dari satu-satu nya lembaga survey AC Nielsen yang mampu menentukan rasio penonton yang menyaksikan sebuah tayangan. Lalu ada apa dengan penonton-penonton AC Nielsen? Apakah semuanya akan lebih memilih sponge bob daripada menyaksikan keindahan alam, sejarah islam, dan budaya nusantara yang kesemuanya telah disediakan Allah untuk kita agar kita bersyukur?

Aku pun tidak tau jawabannya.

Bagiku Perjalanan 3 Wanita punya konsep menarik. Bukan hanya jalan-jalannya, tapi juga karena ada sentuhan islami di dalamnya. Membuat kita menyadari kebesaran illahi juga bersyukur pada-Nya. Dan pendapat ini bukan subjektif karena aku host nya, loh. Apakah teman-teman akan berpendapat sama seperti aku? Aku, dan teman-temen yang lain, tentunya akan sangat terbuka menerima komentar-komentar mengenai ini.

Secara pribadi, aku pun banyak belajar selama menjadi host nya. Amat banyak, mungkin akan aku bahas pada postingan lainnya, biar ga kepanjangan. Yang jelas, aku merasa perjalanan 3 wanita seperti satu keluarga buat aku. Temen-temen yang mendalangi acara ini bener-bener seru, lucu-lucu, dan hebat-hebat. Selama syuting semua dijalani dengan enjoy (ga berasa kaya kerja) walau pundengan segala keterbatasan yang ada dan amat banyak kendala yang dihadapi.

Bapak Tegil (otak tayangin ini) selalu punya solusi menghadapi permasalahan-permasalahan yang dihadapi selama syuting. Mba Fista selalu membuat rangkaian syuting menjadi lebih ceria. Mba Ade selalu bisa melihat masalah menjadi  santai dan sederhana. Mas Jagat seperti punya lebih dari miliaran kalimat (juga energi) yang membuat syuting menjadi lebih berstamina. Juga Dedeh yang membuat tayangan menjadi lebih sempurna. Dengan adanya Mas Angga, syuting selalu diliputi tawa terbahak-bahak dengan kekonyolannya. Semua itu membuat kegiatan syuting adalah satu hal yang sangat aku rindukan ketika tidak sedang syuting.

Mungkin, bagi teman-teman yang menyaksikan acara ini, hanya akan melihat sisi yang enak-enak dari tayangan ini. Tapi sebenarnya seringkali banyak hal-hal berat yang dihadapi. Badan sakit-sakit dan biru-biru, kulit luka-luka dan terbakar, banjir keringat (yang satu paket dengan bau nya), itu mah ga ada apa-apa nya. Materi syuting tak jarang menyerempet pada hal-hal yang berisiko tinggi (baca: kecelakaan). Tapi ini semua kita lakukan demi mempersembahkan tayangan yang terbaik baik pemirsa setia perjalanan 3 wanita. Alhamdulillah, sampai saat ini tim perjalanan 3 wanita merupakan tim yang tangguh dan ga gampang menyerah, karena sebenarnya kami semua masih ingin terus menemani pemirsa untuk mensyukuri nikmat illahi melalui tayangan ini.

Aku (secara personal) sering merasa terharu dengan teman-teman yang setia menyaksikan acara ini. Berkenalan dengan teman-teman baru di facebook, blog, bahkan di jalan adalah hal yang sangat berharga bagiku. Pernah berdesir  aliran darah di tubuhku ketika seorang ibu-ibu memelukku, dan bilang sangat senang dengan perjalanan 3 wanita.  Mendengar apresiasi dari mereka (pun kritikannya) membuat ku semakin termotivasi untuk selalu mempersembahkan yang terbaik untuk mereka. Mudah-mudahan motivasi dan semangat memberikan yang terbaik ini juga akan selalu ada pada diri Mas Tegil, Mas jagat, Mba Fista, Mba Ade, Dedeh, juga Dila dan Silvi.

Kami, akan terus menjelajahi  pesona nusantara bahkan hingga ke belahan dunia lain (begitulah closing episode ulang tahun yang ke 2 Perjalanan 3 Wanita). InsyAllah. Amin

*saksikan perjalanan 3 wanita, Kamis, jam 6 pagi di TRANS TV.

Kisah Kopling di Probolinggo

Ibarat masakan, rasanya tentu hambar tanpa garam. Begitu juga perjalanan ku.

Ini berawal ketika tim perjalanan tiga wanita akan di bagi menjadi tiga tim. Aku kebagian ke Jember, Dila dan Silvi kebagian ke Banyuwangi. Tiga kendaraan sewa sudah disiapkan, dan kebagian lah aku yang warnanya hitam. Bapak saiko (as driver) mengatakan bahwa dia sengaja memilih mobil ini karena ac nya double blower dan keluaran 2007 (lebih baru dibandingkan 2 mobil lainnya).  Actually, bagiku tak terlalu penting double blower atau keluaran berapakah mobil itu.

Dari awal aku sudah mencium bau-bau tak sedap. Bukan bau aku yang kentut melulu karena masuk angin, bukan bau badan kami yang udah ga mandi dua hari, bukan pula bau tai kuda sisa petualangan di Bromo. Bau ini adalah bau kopling.

Mobil berjalan pelan sekali. Di jalan yang mulus lurus dan sepi gak bisa ngebut. Kalo kata mba Fista ‘kaya sepeda, pelan bener jalannya’. Kalo begini caranya bisa-bisa nyampe Jember (yang seharusnya bisa ditempuh sekitar 2-3 jam dari Probolinggo) dua hari lagi. Akhirnya dari pada perasaan semakin ga enak, kita semua memutuskan untuk ke bengkel aja. Benerin tu kopling.

Di bengkel.

Dua jam udah ditungguin. Ga ada tanda-tanda kopling itu bisa bener. Sementara aku, Mba Fista,dan Mas Imet udah mati gaya di bengkel. Apalagi Pak Saiko, udah sibuk salah tingkah mondar-mandir kaya setrikaan. Entah terinspirasi dari mana, kayanya boleh juga kalo kita nungguin mobil kelar di tempat yang lebih nyaman. Sambil minum segelas ice blended caramel frappucino di starbucks kayanya boleh juga, tuh. Tapi, tentu hal itu tidak terjadi.

Kita di Angkot Probolinggo

Kita di Angkot Probolinggo

Malam itu, kami menjelma jadi ‘ANGGO’ (baca: Anak Gaul Probolinggo). Begaul di mall Probolinggo malam-malam. Ini untuk pertama kalinya aku naik angkot di Probolinggo. Walaupun tentu rasanya gak ada bedanya dengan naik angkot di Jakarta (bedanya; ga macet dan tarif angkot yang lebih mahal), tapi tetap aja bagi ku, ini merupakan pengalaman yang pertama..

Tak mendapatkan starbucks di Probolinggo, tidak menyurutkan semangat kami untuk tetap menjadi ANGGO. Kami nongkrong di sebuah ‘café’ bernama MM juice. Walaupun perut masih kenyang, ngemil-ngemil somay dan minum jus kiwi, lumayan juga (bikin berat badan makin naik pun), sambil mengisi waktu menunggu si kopling diberesin.

Sampai mall hampir tutup, tak ada tanda kalo masalah kopling sudah teratasi. Akhirnya kami memutuskan untuk balik ke bengkel. Badan udah bau tujuh rupa, muka apek udah kaya ladang minyak.

Naik becak menuju hotel

Naik becak menuju hotel

Akhirnya kami menyerah untuk maksa nerusin perjalanan ke Jember malam itu juga. Harus tinggal semalam di Probolinggo. Pilih hotel, aku punya satu cerita menarik (bagiku) lagi. Aku dengan seabrek barang –karena koperku yang sebaiknya tidak kubawa karena terlalu besar- menaiki becak menuju hotel yang sudah di booking mba Fista, sebelumnya.  Hihi, pengalaman seru naik becak malem-malem dengan barang seabrek dan tumpah ruah di tengah Kota Probolinggo. Kasian tukang becaknya.

*Sampai di hotel, kami pun tertidur. Di kamar masing-masing