Langkah Demi Langkah di Gunung Gede

Check, check, check.

Syuting kali ini berbeda dari biasanya. Kita akan membuat satu epiode Ulang Tahun Perjalanan 3 Wanita yang kedua.

Semua perlengkapan mendaki udah dipersiapkan. Terutama perbekalan (indomie, pop mie, roti, dan cemilan lainnya), obat-obatan dan perlengkapan pribadi. Ini untuk pertama kali nya aku menyandang carrier, yang kuperkirakan beratnya lebih dari 10 kg (saking beratnya). Isi nya adalah barang ku dan barang Silvie. Maklum saja, silvie harus membawa tenda.

Kami berangkat dari Cibodas. Medan pendakian yang sebenarnya udah dibikin jalan batuan sehingga memudahkan kita mendaki. Memang Gunung Gede ini termasuk dalam Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang telah dikelola dengan baik oleh pemerintah. Melalui jalur Cibodas ini, ada banyak objek menarik yang bisa kita lihat.

Pertama adalah Telaga Biru. Telaga dengan luas 5 hektar ini selalu tampak biru diterpa sinar matahari karena dilapisi oleh ganggang biru.

Setelah menikmati telaga biru itu sejenak, perjalanan dilanjutkan dengan melewati batuan, jalan tanah, dan jembatan kayu yang agak rapuh sepanjang 500 meter.

Ini baru sepersejuta perjalanan, tapi nafas udah  ngos-ngos an. Aku sebenarnya agak pesimis, apa aku bisa melanjutkan pendakian dengan kemampuan fisikku yang amat terbatas ini. Tapi, toh yang lain tetap terlihat semangat. Aku pun gak boleh patah semangat (panas ceritanya).

DSC00622Kalo mau mampir melihat keindahan air terjun Cibeureum, kita bisa belok dikit sebelum melanjutkan pendakian. Lumayan kalau mau istirahat, cuci-cuci muka, sambil menikmati keindahan air terjun, biar seger lagi. Sebelumnya, kami makan dulu. Nasi putih, telor, dan kering tempe, mantepp banget.

Entah karena saking santai nya, gelap begitu cepat tiba (emang berangkatnya udah kesiangan juga, si). Masing-masing kita telah berbekal senter untuk menerangi langkah kami. Beberapa kali kami harus beristirahat untuk mengumpulkan energi yang begitu cepat hilang.

Sebenarnya, menurut pengalaman ku kemaren, semakin sering kita beristirahat, semakin berat rasanya untuk mulai melangkah kembali. Tipsnya, kalau memang masih sanggup melangkah, teruskan saja. Sebaiknya jangan terlalu sering berhenti. Tapi kalau emang udah ga sanggup, beristirahatlah, jangan dipaksakan. Sampai terkumpul lagi energi dan semangat untuk melanjutkan perjalanan. Kalau bisa jangan sampai tubuh kembali dingin karena suhu gunung yang dingin biasanya sangat cepat menyerap keringat.

Tubuhku mulai menggigil karena selain istirahat yang kelamaan, saat itu hujan mengguyur penelusuran kami. Tapi kemudian, subhanallah, betapa kagetnya aku setelah lebih dari 5 km perjalanan, aku melintasi sebuah sumber air panas. Subhanallah, airnya bukan lagi hangat, tapi benar-benar panas mencapai 70 derajat celcius. Allah menciptakan alam begitu sempurna. Udara dingin yang menusuk kalbu, dilengkapiNya dengan kehangatan aliran air panas yang membasuh langkahku.

Setelah melintasi air panas, kami beristirahat di sebuah pos peristirahatan sambil menunggu hujan lebat mereda jadi rintik-rintik. Lumayan, sambil minum dan ngemil perbekalan yang sudah kami bawa. Setelah dirasa cukup, raut kuyu dan letih yang ada di aku dan teman-teman lainnya berubah menjadi semangat agar segera sampai ke Kandang Badak, tempat kami akan mendirikan tenda.

Sekitar 4 jam perjalanan (normalnya 3,5 jam) kami sampai di Kandang Badak. Dingin semakin menusuk di ketinggian 2.220 m diatas permukaan laut, saat itu hujan pun sedang turun. Awalnya aku pikir, di sini ada badaknya. Tapi, ternyata dari seorang teman, aku tau kalau disebut Kandang Badak karena ukurannya yang besar kaya badak.

Mencari Kehangatan

Mencari Kehangatan

Kami pun mendirikan tenda dan menyiapkan makan malam. Lumayan, segelas pop mie dengan kuah berbumbu nya yang hangat mengisi perut ku yang kriuk kriuk. Emang karena suhunya yang dingin, aku, khususnya, jadi lebih mudah lapar. Bisa jadi targetku untuk turun 5 kg setelah turun Gunung Gede gagal (dan emang udah dipastikan gagal).

Setelah take untuk sebuah gimmick syuting, kami pun beristirahat di tenda masing-masing. Tapi ternyata, mataku ga bisa terpejam sedetik pun. Aku kedinginan kala itu. Terbersit rasa kawatir saat itu. Sampai kuucapkan takbir dan istigfar dalam hati. Kuteteskan pula air mata karena dingin semakin menusuk sekujur tubuh ku. Entah kemana aku harus menghangatkan diri, karena setiap sudut Kandang Badak itu diliputi dingin. Dingin yang sampai sekarang masih membuat ku ‘trauma’ .

Kapan ya matahari akan menyinari Kandang Badak untuk membagikan kehangatannya. Aku benar-benar berharap matahari segera terbit. Sangat berlawanan dalam kehidupan sehari-sehari ku di mana aku berharap agar pagi jangan segera tiba karena aku masih pengen tidur (baca: keblug).

Aku masih membeku, di kala teman-teman yang lain sudah mulai bergerak menyiapkan sarapan. Saatnya bangun dan sarapan, tapi napsu makan udah ga sedahsyat sebelumnya. Perutku mulai ga enak mungkin karena sudah mulai dipenuhi angin.

Setelah sarapan, kami pun bersiap-siap melanjutkan perjalananan menuju Puncak Gunung Gede. Medan yang kami hadapi semakin berat. Akar-akar pohon dan kemiringannya semakin terjal. Tak begitu lama, kami menghadapi tanjakan setan, begitu mereka menyebutnya. Tanjakannya benar-benar curam, untuk itu kita harus menggunakan bantuan tali untuk mendakinya. Tips dari ku, jangan liat ke bawah. serem ih, kaya pengen jatuh.gambar diambil dari atas tanjakan setan

Energi semakin terkuras, kaki semakin berat melangkah. Seakan pendakian ini gak ada ujungnya. Ini mah udah ga pengen nangis lagi, tapi pengen treak.

Dan setelah sekitar 2 jam dari tanjakan setan itu, aku sampai di Kawah Gunung Gede. Pemandangan yang kami tunggu-tunggu dari perjalanan panjang ini. Saat itu kabut tebal, hanya detik-detik tertentu ketika kabut menepi, kami bisa menikmati pemandangan kawahnya.

Rasa syukur dan haru menyelimuti tubuh letih ku saat itu. Akhirnya aku berhasil sampai di puncak Gunung Gede. Sambil menunggu yang lain, sejenak aku tertidur sambil menikmati sejuknya hawa kawah Gunung Gede. Ternyata yang lain pun melakukan hal yang sama dengan ku, terlelap di Kawah Gunung Gede.Tepar di Puncak 1 Gunung Gede

Euphoria telah berhasil sampai di  puncak Gunung Gede ternyata tak  berlangsung lama. Karena menuruni Gunung Gede melalui jalur Gunung Putri, kita akan disuguhkan permadani jutaan edelweis (sayang kala itu sedang kuncup). Tapi,  tidak mengurangi keterpesonaan ku pada keindahannya. Anginnya semilir walau matahari pasti diam-diam membakar kulit wajahku. Kami menghabiskan perbekalan yang masi tersisa. Botol-botol diisi dari aliran sungai yang mengalir di Alun-Alun Surya Kencana untuk bekal perjalanan pulang.

Pendakian Gunung Gede memberikan pengalaman berbeda dari perjalanan-perjalanan kami yang lain. Di sini sangat terasa kebersamaan di antara tim perjalanan tiga wanita  selain karena memang episode ini dibuat khusus untuk episode ulang tahun.

Saksikan ekspedisi perjalanan 3 wanita di Gunung Gede, Kamis 21 Mei 2009 jam 6 pagi, ditrans TV.

3 thoughts on “Langkah Demi Langkah di Gunung Gede

  1. wempi dulu pernah naik gunung merapi dan singgalang, serta naik dan mengitari gunung talang yang ada di sumbar.

    sekarang gak lagi, dengkulnya dah payah diajak kompromi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s