Walk Alone

The soul that sees beauty may sometimes walk alone.

yes, you let me walk alone

Advertisements

Si Facebook

Bicara tentang keranjingan facebook, ini memang udah mewabah sekitar 2 tahun yang lalu. Berhubung dulu (ketika pertama kali aku bikin account facebook), aku adalah seorang anak kos dengan uang jajan pas-pas an yang hanya bisa connect ke internet di warnet atau wifi-an di perpus (yang jaringannya lamban abis), itu juga kalau lagi ada tugas, maka aku salah satu orang yang agak lambat tertular ‘keranjingan facebook’ ini. At least, udah punya account nya lah, walau pun ga pernah diurusin. Jadi pas ketemu temen atau kenalan, punya facebook? ‘yes, I have one’. Ga peduli ga ada aplikasi apa pun di facebook dan friends yang ga seberapa. Yang penting, cukup eksis dengan ‘punya’ account facebook. Lagi pula saat itu, friendster juga belum terlalu ditinggalkan.

Kemudian, saat jam kuliah udah mulai digantikan dengan waktu leyeh-leyeh mengerjakan skripsi, facebook ku mulai ramai. Aku mulai sibuk sendiri, kirim-kirim aplikasi ke teman-teman, dan yang aku inget waktu itu, kita bisa menata kamar sendiri sesuai dengan keinginan kita. Mirip The Sims. Tapi, tetap ga menjadikan ku keranjingan, karena waktu itu meng-access facebook di laptop ku lambat banget.

Lulus kuliah, yang sekaligus menjadikan ku pengangguran, waktu ku semakin banyak untuk facebook. Seiring waktu pula, semakin banyak, teman-teman main, teman-teman lama, juga teman-teman baru, yang menjadi friend list ku. Yang seru, teman-teman yang udah lama ngilang, jadi ketemu di sini. Yang biasanya ga akrab, facebook mendekatkan. Juga kenalan-kenalan baru.

Sekarang, facebook udah jadi keseharian buat kita. Gak peduli siapa kita, apa pun profesi kita, yang tua yang muda, yang sibuk yang bengong, kita selalu bisa meluangkan waktu untuk facebook-ing.

Di balik keranjingan itu, aku mengakui sempet pengen cuti dari facebook. Selain ngerasa bahwa facebook mulai bosan dan bikin aku mengabaikan kewajiban-kewajiban ku, facebook juga gak selama nyenengin. Mengetahui kenyataan ini itu, yang semua nya di publish di facebook, bikin kita jadi lebih curigaan. Untuk beberapa orang, terutama yang in relationship, facebook juga seakan memfasilitasi kita untuk selingkuh. Aku pun sempat pengen ga facebook-ing.

Tapi ternyata, sampai saat ini kepopuleran facebook masih tak terbantah. Cuti dari facebook ku ga berlangsung lebih dari 24 jam. *payah. Segaring-garing nya facebook, tetep bikin kangen. Menyapa teman-teman, share our mind, dan cela-celaan di wall temen, update kabar si ini dan si inu atau sesekali ngurusin Itoy, bisa mengatasi ke pusingan dan kejenuhan di tengah kerasnya hidup di Ibukota (beuhhh!).

Jadi, ya udahlah, walau pun kemaren MUI sempat mengeluarkan fatwa haram, sampai sejauh ini, seberapa pun ga pengennya facebook-an, kadang tangan kita menjadi di luar kendali, tak sengaja menghampiri si Facebook itu. Dengan sederet pengaruh negatif facebook, kita juga ga bisa menafikan kalo banyak sisi positif dengan join di facebook. At least, facebook bisa bikin yang patahhati jadi jatuh cinta, dan yang jatuh cinta jadi patahhati. Happy facebook-ing. 🙂

Posted in Oh

Big Guy

… there’s big guy next to me, and his gigantic body has already fell on me.. three times while he was sleeping.. arrgghh

big guy on bus

big guy on bus

Haha, kontan aku tak bisa menahan tawa saat menerima sebuah pesan singkat itu pagi ini. Saat itu si pengirim sedang perjalananan lintas kota yang memakan waktu sekitar 5 jam perjalanan dengan topografi berkelok dan jalanan dengan lapisan aspal yang rusak. Which is, perjalanan akan lebih menyenangkan dengan menenggak 2 butir antimo, dan kemudian terlelap.

Kebayang gimana rasanya, pasti pengen ngamuk-ngamuk, treak-treak sampe keluar air mata, sambil menghentak-hentakkan kaki. Kejadian seperti itu mungkin bukan hanya dialami si pengirim pesan singkat itu. Beberapa di antara kita tentu pernah mengalaminya. Entah sebagai si pengirim pesan singkat atau pun sebagai big guy nya.

Mau menyalahkan siapa? Yang bikin bus karena bikin bangku  ga compatible dengan ukuran tubuh, menyalahkan orang kok punya badan gede banget, atau menyalahkan diri sendiri karena salah memilih tempat duduk? Bukan bermaksud menggurui (karena jika itu terjadi pada ku mungkin, kekesalanku tak akan jauh berbeda sama seperti yang pernah merasakannya), tapi yang lebih penting adalah ber tepo seliro. Ikut merasakan apa yang orang lain rasakan.

Jika kita orang yang duduk di sebelah big guy itu, maklumilah. Mungkin bukan mau nya dia punya badan gede kaya gitu. Percaya atau tidak, hampir semua orang gede, tidak nyaman dengan ukuran tubuhnya dan berusaha keras untuk diet (bahkan aku pun sedang berusaha keras). Kalo udah ga tahan, berani lah untuk menegurnya dengan kalimat yang udah sangat diperhalus (kalo bisa). Ga ampuh, ya udah silahkan nangis-nangis, uring-uringan, hentak-hentakkan kaki, kemudian tarik napas dalam-dalam dan berdoa agar segera sampai tujuan dengan selamat.

Jika kita sebagai big guy itu, all u have to do is diet, no cheeseburger and cokes, dont ever fall a sleep or take ur own transportation. hihi 😉

Posted in Oh

Aku masuk berita!!

Senangnya fotoku ada di salah satu media terkemuka di Indonesia. Walaupun cuma foto, nyempil pula, tapi aku senang. Selama ini, aku cuma bisa narsis-narsis an di blog pribadi atau facebook. Fenomenal bukan? Mampirlah di sini jika ingin melihat bagaimana aku berhasil nyempil di media itu.KHN

That’s me on a red circle. Berada di antara orang-orang yang aku gak tau siapa (kecuali di sebelahku, Mas Amrie), tapi yang pasti mereka semua adalah orang-orang yang awam soal hukum.

Bagaimana aku bisa sampai di situ? Bersyukurlah karena saat itu aku jadi joki 3 in 1 dengan iming-iming makan gratis di hotel millenium, kebon sirih, Jakarta.

HTS

LoveApa status itu penting? Sebagian kita akan mengatakan itu penting banget dan sebagian bebas berpendapat sebaliknya. Menurutku, status itu  salah satu komitmen dalam menjalin sebuah hubungan. Kalau emang ga ada yang salah dengan hubungan yang dijalani, lalu apa yang salah dengan berkomitmen untuk memiliki  status.

Sebagian diantara kita, keukeuh dengan tidak pentingnya status. Asal tau sama tau perasaan masing-masing itu udah cukup. Untuk apa gembar gembor soal status tapi hubungan yang terjadi di dalam nya bobrok. Mending ga pake status, tapi hubungan dan perasaan sayang di antara nya kuat dan tulus. Begitu pendapat seorang teman. Lalu, bagaimana dengan pilihan ku tentang penting nya status didukung  oleh hubungan dan perasaan sayang yang kuat dan tulus itu. Adakah yang salah dengan kondisi itu? Dan apakah itu begitu sulit?

Bagaimana pun sebagian di antara kita bersikeras ga mau memiliki status. Karena

  1. ada selain dia dalam hati or keseharian kita. selain menjalani sama cewe or cowo yang ini, kita juga sedang melakukan penjajakan atau mengepakkan sayap dengan cewe or cowo lain. Ga rela ninggalin dan nyakitin salah satunya, lebih baik ga usah pake status. Memiliki status bikin kita ga bisa lagi deket sama dua-duanya, tiga-tiganya, bahkan lebih. Cowo ini ganteng, lumayan buat keren-kerenan diajak jalan ke mall. Yang satu lagi, kaya, boleh juga,  kalo lagi pengen beli baju branded tapi ga punya duit. Yang ini, sabar, bisa buat temen uring2an dan manja2an. Yang lainnya, pinter, bisa buat nanya apa aja kalo lagi kepusingan pelajaran or ngadepin soal-soal apa pun yang susah. Ada yang alim, penyejuk hati dikala tersadar sudah berlimpah dosa dan butuh bimbingan . Begitulah yang terjadi, mengapa sulit sekali untuk sebuah status, karena kita ga mau kehilangan salah satunya. Sebut saja dengan maruk.
  2. ga mau pasaran turun. Status bisa jadi bikin pasaran kita turun. Yang biasanya kalo lagi liwat tengah lapangan, smua mata tertuju pada kita, setelah punya pacar,  seakan ga ada yang peduli dengan pesona yang kita pancarkan. Kalo biasanya tiap hari, orang-orang berebut mencari perhatian kita, hal itu ga akan terjadi lagi setelah semua orang tau kalau kita sudah menjatuhkan pilihan kita pada seseorang. Lagi ngumpul sama temen-temen, kita sering jadi center of excellence. Kita bisa mendapatkan perlakuan special dari siapa saja, karena kita still being single. Dan ga siap meninggalkan semua itu.
  3. masih tetep pengen ngerasain enaknya being single. There’are much privillege of being single. Kita bebas mau ngapain aja. Melakukan hal-hal menyenangkan sesukanya. Ga ada pacar yang bisa ngomel2in karena ga ada kabar seharian. Ga ada yang protes kalau mau flirting sama cowo or cewe lain. Bisa punya lebih banyak waktu sama teman-teman. Bisa nge-date dengan beberapa cewe (or cowo). Pasangan tanpa status (baca: HTS-an) kita toh ga bisa menuntut apa-apa karena pada kenyataannya dia bukan siapa-siapa kita.
  4. malu punya pacar yang muka atau duit nya pas-pasan. Agak kejam, tapi begitulah kenyataannya. Pacar kita tak punya paras yang rupawan, tapi cinta nya begitu tulus sehingga gak mungkin kita menyia-nyiakan cinta suci nya itu. Meski ga punya mata teduh dan body yahuud, tapi dia yang paling sabar dan mengerti apa yang kita mau. Lantas, memilih untuk tidak bestatus dengannya karena malu dengan lingkungan pergaulan kita yang dipenuhi orang-orang dengan gaya jetset dan raut muka yang tertata apik. Soal ga punya duit, biasanya terjadi pada cewe. Pasangan kita ga punya duit banyak. Kalo jalan, selalu bayar sendiri-sendiri, bahkan ga jarang kita (kalo cewe) yang bayarin. Ga pernah jemput ke rumah dengan mobil kerenan dikit. Tapi jaman sekarang, ga dikit juga cowo yang mengharapkan cewe nya juga punya duit banyak (baca: tajir).
  5. ga dibolehin orang tua. Takut diomelin enyak babe, mending HTS an aja. Ga perlu boong atau backstreet, toh pada kenyataannya, memang tidak punya pacar. atau bisa jadi orang tua ga suka dengan pasangan kita, untuk step to the next level jadi agak susah.
  6. belum yakin sama pasangan. Ini bikin kita memilih untuk tidak berstatus dulu. Sayang sih sayang, tapi belum tentu nanti dia bisa jadi pacar yang sesuai dengan yang kita harapkan. Intinya kita memang masih perlu waktu untuk memutuskan ini orang ok buat dijadiin pacar atau memang cuma asik dijadiin flirting-an. Atau mungkin pasangan kita ga cukup worth menyandang status ‘in relationship with __________*’

Nah, sebagian lagi keukeuh seumeukeuh dengan pentingnya status. Karena

  1. Im not available or gw laku. Yes, they both need status. Being single is choice, also being couple. Ada yang sengaja memilih single karena memang masi ingin menikmati kesendirian, belum ada yang cocok atau memang gak melihat apa pentingnya memiliki pasangan. Tapi gak  sedikit, orang-orang menunggu waktu lama untuk punya pacar karena alasan tertentu. Intinya, mereka yang keukeuh perlu status dengan pasangannya bisa jadi karena pengen punya brand ‘sudah laku’. Gak ada lagi HP tanpa dering telp dan SMS. Ga ada lagi malam minggu sendirian. Juga ga perlu datang ke resepsi pernikahan teman atau reunian SMA sendirian. Ya, intinya, ‘gw laku’
  2. Sebagai barrier buat diri sendiri or pasangan untuk ga selingkuh. Emang penting banget sebenarnya suatu hubungan ditopang oleh pilar yang kokoh. Perasaan sayang, saling percaya, saling menghargai, jujur, perhatian, setia, dan lain-lain adalah sebagian kecil dari pilar itu. Tapi tentunya, cerita tentang ‘dunia cuma milik berdua, yang lain ngontrak’ itu cuma boleh jadi bahan ledekan doang. Itu gak bisa dijadikan sesuatu yang serius, karena pada hakikat nya kita hidup bersama orang lain juga. Membutuhkan mereka. Mempertahankan suatu hubungan, gak cukup cuma dari pilar-pilar yang kokoh itu. Cobaan juga akan datang dari luar. Untuk itu, status menjadi hal yang penting walaupun bukan yang utama. Sebagian orang akan mundur untuk mendekati atau didekati seseorang jika tau si pelaku udah in relationship with other. Walaupun sebagian bisa jadi akan tetap maju terus pantang mundur dengan bodo amat nya.
  3. Bangga sama pacar. Bangga sama pacar ga cuma berlaku untuk orang-orang yang memiliki pasangan dengan kualitas tinggi. Toh setiap orang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Berbanggalah dengan pasangan kita. That’s was a particle of romance.
  4. Pengen didoain orang banyak. Kenapa si, penting semua orang tau kalo kita pacaran. Kalo gitu bagaimana dengan menikah? Penting kah kalo orang tau kita sudah menikah. Ya begitulah arti sebuah status. Dengan niat yang tulus kita ingin didoain orang banyak untuk kebaikan hubungan kita. Sakinah, mawaddah, dan warohmah.
  5. Open minded. Toh kita memang sedang menjalin hubungan dengan seseorang. We life in realty at the present, not in a dream nor beyond imagination.
  6. Ingin diakui or dianggep. Semurah-murahnya orang, masing-masing tetap punya harga diri. Binatang aja punya, apalagi manusia. Ga sedikit malah diantara kita yang meng agung-agungkan harga diri. Diakui or dianggep adalah bagian dari sebuah penghargaan. Bayangkan gimana perasaan kita kalo ga diakui atau ga dianggep? Sedih, sakit, tersinggung, kah? Jika jawabannya ya, hal yang sama juga berlaku pada pasangan kita. Belajar lah untuk mengerti mengapa mereka menginginkan status itu. Mereka membutuhkan lebih dari sekedar perhatian, kasih sayang, dan paket-paket manis dari kamu. Kind of appreciation.

Anw, ini semua murni pendapat ku aja. Feel free to tell if you are disagree with me.

*diisi dengan nama kita.

Posted in Oh