Berenang Bareng Hiu – Karimun Jawa

Berenang, memang olahraga yang menyenangkan. Bagi kita yang suka mengeluhkan treadmill yang bikin napas ngos-ngosan, berenang bisa jadi pilihan yang tepat untuk sekedar meregangkan otot yang letih bekerja atau bahkan membakar kalori. Dan lebih seru lagi, kalau sambil seru-seruan bareng sahabat. Tapi, gimana kalau berenang sama hiu? Perjalanan ku kali ini menuju Pulau Karimun Jawa. Kami sampai sekitar pukul 1 dini hari di Jepara dan harus berangkat pagi-pagi menuju pelabuhan Kartini. Kantuk yang tersisa di pagi harinya, membuat ku harus bergegas dan ga sempat mandi. Tapi percaya de, aku udah sikat gigi kok. Mudah-mudahan bau nya ga sampai ke layar kaca pemirsa, ya :p Kami menaiki kapal nelayan, karena pada hari itu ga ada satu pun kapal motor yang beroperasi. KMC Kartini I hanya beroperasi pada hari Senin, pukul 10.00. Kapal yang lain , yaitu Kapal Motor Muria berangkat setiap Sabtu dan Rabu, pukul 9.00. Hari itu, hari Jumat, entah jam berapa, yang pasti matahari sudah cukup terik. avoid 'mabok laut'Aku langsung memilih blokingan paling aman di kapal nelayan itu. Tapi ternyata ga ada posisi duduk yang benar-benar aman.  Di satu sisi panas, di sisi lain kebasahan, di dalam deck agak pengap. Perjalanan ini awalnya menyenangkan. Masih excited dengan pemandangan laut yang memukau. Mengarungi laut semakin jauh, gelombang nya pun mulai tidak bersahabat. Kapal bergoncang hebat. Membuat perut bergejolak. Beruntung aku adalah ‘si mata busuk’, mengambil istilah teman-teman Perjalanan 3 Wanita. Aku tipikal traveller yang mudah terlelap walau pun beberapa kali sempat terbangun dikagetkan oleh ombak yang menampar kapal. Rasanya ga percaya bahwa kita akan menempuh guncangan ini selama 7 jam. Belum lagi suara mesin kapal yang memekakkan telinga. Sumpelan earphone pun ga mampu mengalahkan suaranya. Andai ada mesin waktu yang bisa nge-skip waktu sampe 7 jam ke depan. Sampai lah kami di pelabuhan Karimun Jawa. Salah satu teman perjalanan ku bahkan ada yang sujud syukur saking haru dan lega nya. Banjir peluh, muka kusut, dan kulit berminyak.

Kami menginap di sebuah penginapan khas pinggir laut. Pagi ini, aku kebagian berenang sama hiu. Dila diving dan Silvi melepas tukik (anak penyu). Sempatada rasa takut, apakah hiu itu akan menggigit ku. Ah deg-deg an rasanya.lihat bagaimana hiu mencintaiku ;)

Sebelum masuk kolam hiu yang terletak di pinggir laut itu, aku mendengarkan berbagai tips ini itu agar selamat dari serangan hiu-hiu tersebut. Jangan mengayun-ayunkan kaki di dalam kolam seolah memancing untuk digigit. Dan betapa kagetnya aku ketika memasukkan kaki ku, hiu-hiu itu seolah ingin menyerangku. Syukurlah, hiu-hiu itu hanya menggertak saja. Bermain-main bersama hiu seru juga.Walau pun giginya yang tajam membuat ku tak berani bercengkerama dengan mereka. Ternyata diantara puluhan hiu-hiu itu, ada penyu tua yang panjangnya mencapai 1 meter. Beratnya mencapai 1 kwintal. Ah Pantas saja aku gak sanggup mengangkatnya. Aku unggah foto-fotonya ya.

Advertisements

Jakarta Mencekam

MasyaAllah,,

Aku merinding dengar berita yang berseliweran di media TV, media on line, bahkan up date an status di Facebook, Yahoo Messenger dan Twitter. Pagi-pagi udah denger berita yang ga nge enakin. Berawal dari telepon adek ku, yang memastikan aku ‘yang saat itu sedang perjalanan ke kantor yang notabene masi terbilang di kawasan kuningan’ baik-baik saja. Langsung saja aku melihat up date-an berita on line, untuk memastikan kebenaran berita tersebut. Saat itu baru http://tempointeraktif.com yang mengeluarkan berita nya. Salah satu media TV sempat ada yang anteng dengan acara musik yang ditayangkan, ada yang live interaktif dengan aparat tapi tidak memberitakan berita peledakan bom tersebut, dan syukurlah masih ada beberapa media yang terus meng-update perkembangan beritanya peledakan bom tersebut.

Ledakan Bom, Ritz Carlton - J.W. Marriot, Mega Kuningan, Jakarta

Ah, tentu postingan ku kali ini bukannya sedang ikutan meng update berita nya. Update an berita yang berseliweran di media tentu nya sudah mencukupi bagi kita. Tapi, kejadian ini seharusnya menjadi cambukan buat kita agar lebih waspada.

Seringkali kita sudah merencanakan tatanan kehidupan yang amat apik, tapi di satu sisi ada hal-hal yang terjadi di luar dari daya kita. Keseharian ini akan terus didatangi masalah, masalah, dan masalah, yang bisa jadi bukannya makin sedikit tapi malahan makin banyak. Memang begitulah realiti yang tidak bisa kita nafikkan.

Belum usai dengan simpang siurnya hasil perhitungan KPU untuk menentukan sosok pemimpin negeri ini, juga usaha pengkerdilan KPK oleh lembaga-lembaga negara dan para koruptor, Jakarta kembali dikejutkan dengan peristiwa peledakan Bom pagi ini yang terjadi di dua hotel mewah di Jakarta –Ritz Carlton Hotel dan J.W. Marriot Hotel- Masalah seolah tak pernah usai, seakan ada saja pihak-pihak yang membuat onar. Kita, sibuk menyalahkan. Menganalisis dari unsur politik, budaya, ekonomi, dan lain-lain.

Masalah yang datang, tumpang tindih minta diselesaikan. Tapi adakah kita berjiwa besar untuk itu? Atau hanya keluhan yang menggerogoti ucapan pada setiap detik keseharian kita? Selesai masalah yang satu, bukan lantas hari-hari kita menjadi ‘happy ending story’ Masalah akan selalu ada, karena nya kita diminta untuk kuat, ikhlas dan bersabar. Memahami, bahwa masalah-masalah itu bukan hanya kita yang memiliki. Bukan hanya negara ini yang ketiban. Orang lain, pun negara lain, punya masalah. Kita semua punya hak untuk bersedih, berduka, bahkan marah.  Aku, memilih untuk tidak menyalahkan siapa-siapa. Dengan mengedepankan hati, aku berhak untuk bersedih, berduka, dan marah.

Setiap orang berhak bahagia. Kita semua.

Turut berduka cita kepada semua korban peledakan bom di Ritz Carlton dan J.W. Marriot, Mega Kuningan, Jakarta.

*All we have to do is pray. We need to have a little faith. For, siblings: Nun, imim, belel, and denya.

Posted in Oh

Jangan bilang ‘cape’ lagi – Kawah Ijen

Ya, dia bilang “saya akan datang kalau ga cape”. Ah, masi ada ya cape dalam hidup ini. Kalau semua manusia di muka bumi ini ga perlu lagi bersabar, tentu kita semua akan teriak ‘cape’. Tapi, karena kita punya tanggung jawab, at least buat diri kita sendiri, maka cape itu udah ga laku lagi.

Kalau bicara cape, saya, dia, mereka, pun juga cape. Kalo kita pikir kita adalah orang yang paling cape di dunia ini? Lebih baik kita pastikan bahwa kita udah bener-bener ‘melek’ bahwa masih ada yang lebih cape dari kita. Pelajaran ini aku dapat ketika aku melakukan perjalanan ke kawah ijen.

Menyusuri jalanan mendaki menuju kawah ijen, aku melihat bapak-bapak separuh baya dengan langkah tergopoh membawa beban sekitar 80 kg, yang akan kita sebut sebagai penambang belerang. Menuju bibir Kawah Ijen, kita harus berjalan mendaki sekitar 3.2 km. Di kilometer pertama, perjalanan tak terasa terlalu berat, pendakian tidak terlalu curam. Hanya saja terik matahari dan dinginnya hawa pegunungan membangkitkan dahaga kami.

IMG_3111Jalan tanah menuju kawah Ijen bisa dikategorikan kelas ringan, Jalanannya berupa tanah kering, tak ada lumpur, semak, sungai, batu-batu, yang merintangi perjalanan. Sepanjang perjalanan, disediakan 5 shelter tempat beristirahat. Semakin mendekati bibir kawah, pendakian semakin curam. Langkah pun terasa semakin berat. Tetapi, beratnya langkah dihargai dengan sajian panorama yang luar biasa indah. Serasa berada di negeri dongeng.

Tapi ga kebayang gimana cape nya para penambang belerang tersebut. Karena setelah berjalan 3.2 km menuju bibir kawah, mereka masih harus menuruni kawah sekitar 1 km dengan kontur bebatuan yang sangat berisiko. Dan itu bisa mereka lakukan 3 kali bolak-balik dalam sehari. Ahhh, membayangkannya pun aku ga sanggup.

Saat aku ke sana, pada saat yang bersamaan aku mendapat kabar dari para penambang bahwa belerang baru saja terbakar. Bau belerang tak tertahankan lagi saat itu. Nafasku menjadi sangat sesak. Kami pun tidak bisa meneruskan perjalanan menuruni kawah, menyaksikan bagaimana para penambang tersebut bekerja.bengek in frame :D

Ngobrol-ngobrol dengan penambang belerang di sana, baru aku mengetahui bahwa setiap satu kilo belerang yang mereka bawa, dihargai 600 rupiah (ajjja, gituhhh). Ya Allah, benar-benar tak terbayang kan oleh ku, berat nya beban mereka. Tapi, apakah semua itu menjadi beban dalam keseharian mereka? Ternyata tidak juga, sebagian tampak sudah sangat ‘menikmati’ pekerjaan itu. Semua nya dilakukan demi membahagiakan orang-orang yang mereka cintai. Apakah ada pamrih, protes, dan berontak yang bergejolak  di diri mereka?

Lalu bagaimana dengan kita? Seringkali kita protes menjadi orang yang paling cape di muka bumi ini. Merasa seolah semua dibebankan pada kita. Tapi adakah letih itu menjadi begitu penting, jika karena letih itu mereka (yang kita sayang) menjadi bahagia?

*pikir-pikir