Mungkin Baru Kulitnya Saja

Between You and  x

X August 27 at 9:20pm

Subhanallah, sangat beruntung lah pria yang mendapatkan kau menjadi istri nya 😉

Sent via Facebook Mobile

Dinna Sabriani August 27 at 9:23pm

Ahh, kata siapa. Lebay, de :p

Sent via Facebook Mobile

X August 27 at 9:28pm

Sudah cantiq, pinter, klo di mall ga lupa shalat magrib, ga pelit + suka nraktir..subhanallah 😉

Sent via Facebook Mobile

Dinna Sabriani August 27 at 9:29pm

Nyindirrrr.

Sent via Facebook Mobile

X August 27 at 9:32pm

Ko nyindirr siy, orang memuji koq..tuh rendah diri lg orangnya..what could a man ask for dh pokoknya

Sent via Facebook Mobile

Dinna Sabriani August 27 at 9:41pm

Sama sekali enggak lah.

Sent via Facebook Mobile

X August 27 at 9:55pm

Ya Allah dia merendah lg,sungguh trlihat inner beauty nya..sayang sdh ada yg punya..sangat beruntunglah pria itu

Sent via Facebook Mobile

Begitulah thread messages facebook-ku dengan seorang teman. Mungkin bukan hanya aku yang pernah mengalami kejadian seperti ini. Mungkin banyak di antara kita yang pernah mengalami hal serupa.

Di sini, aku bukan membahas masalah ke-GEER-an.  Di usia, segini, kok mati rasa ya, kalau mau ke-GEER-an.  Padahal kan ke-GEER-an bagus buat menghibur diri di saat kesepian. Hehe.

Pertama-tama, sama sekali aku gak pernah berpikir akan ada orang yang mengatakan hal seperti itu. Malah seringkali aku merasa ‘ah, kasian sekali, orang yang menjadi suami ku’  di tengah banyak sekali kurang yang aku rasa di sana sini. Termasuk mungkin kurang bersyukur? 😦  Tapi, kata seorang teman, gak baik berpikiran seperti itu. Rendah diri ga bagus buat kesehatan jiwa. Tapi, memang pada kenyataanya, sering kali aku merasa gak ada yang special dari ku.  Malah banyak kurang nya.

Soal cantik? Masih banyak sekali orang cantik dunia ini. Lagi pula cantik itu milik Allah. Detik ini pun, Allah bisa mengambil itu dari kita. So, why beautiful become so special? Ya, walau pun sampai detik ini aku ga berani mengingkari kalau aku masih sering melakukan pemborosan untuk sebuah krim malam atau ngebersihin kuku di salon. Dan menjadikan cantik itu spesial 😉

Pinter? Apa dasarnya? Ada beberapa hal yang memang harus disyukuri. Tapi tak ada yang bisa membuat ku berbangga. Percayalah. Di sini, di ruangan ini, sering kali aku menyadari, bahwa mungkin benar, aku tidak pintar.

Kalo di mall ga lupa sholat magrib? Sekarang, mall menyediakan tempat yang begitu nyaman untuk sholat. Seharusnya bikin kita makin semangat menjalani sholat lima waktu. Dengan kenyamanan tempat sholat itu, bukan tidak pernah aku lupa dan malas. Pun, seringkali aku menjalani nya karena kewajiban, bukan meresapi maknanya. Yaa Allah,,, aku jauh dari sempurna.

Yang paling lucu ketika di message itu dia bilang ‘ga pelit + suka nraktir’. Haha, mungkin dia hanya belum terlalu mengenal ku. Kalau dia tau, di dimensi yang berbeda, teman-teman ku seringkali mengatakan ku pelit. Entah karena turunan, atau memang pelit karena sebuah alasan. Ya, kadang aku menikmati menjadi orang yang pelit. Tapi tidak separah kedengarannya, kok 🙂 Satu lagi, aku sukaaa bgt ditraktir :p bukan nraktir. No doubt about it.

Mengenai apa pun yang di katakannya di message itu, mungkin dia hanya belum mengenal ku. Aku wanita yang amat biasa, dengan kelemahan yang bertumpuk. Bahkan beberapa kali patahhati karena laki-laki yang merasa tidak beruntung menjadi pasangan ku.

Yang Anda lihat mungkin baru kulitnya saja.

Mmmh, what a life.

Posted in Oh

Tari Kecak Kala Matahari Tenggelam

Sore itu, aku, dila dan silvi berkumpul di Uluwatu. Seperti kebanyakan tempat wisata di Bali, di sana pun ramai wisatawan, terutama dari mancanegara. Banyak monyet yang mengiringi perjalanan menuju Pura Uluwatu tersebut. Untuk kesana, kita harus memakai ‘selendang’ yang merupakan simbol suci. Mereka menyebut nya selendang. Tapi kalo yang aku lihat bentuk nya lebih kaya tali kain. Untuk yang memakai celana pendek, disediakan kain panjang untuk menutupi paha dan tungkai kaki. Karena di sini tempat ibadah, memang diharuskan berpakaian tertutup dan sopan.

Kami menuju tribun. Semakin sore semakin ramai. Harus buru-buru duduk Ramaiagar kebagian tempat yang nyaman. Di sini lah atraksi tari kecak akan berlangsung. Keeelokan budaya Indonesia dibuktikan di sini. Keunikan tari kecak dipadukan dengan indahnya matahari terbenam. Tarian ini tanpa diiringi alat musik. Suara-suara dari para penarinyalah yang menambah semarak atraksi ini. Luar Biasa. Gelak tawa dan ketakjuban berpadu di segala sudut pandang.

Apalagi saat lingkaran api dinyalakan. Sempet kaget juga, tapi ternyata kobaran api itu menambah keunikan atraksi tersebut. Keren. Keren.

Aku kutip cerita cerita tarian ini, ya.

Atraksi Api

Karena akal jahat Dewi Kakayi (ibu tiri) Sri Rama, putra mahkota yang sah dari kerajaan Ayodya diasingkan dari istana ayahandanya Sang Prabu Dasarata, dengan ditemani adik laki-lakinya ( Laksmana) serta Istrinya (Dewi Sita) yang setia. Sri Rama pergi kehutan Dandaka, pada saat mereka berada di hutan, mereka di ketahui oleh Prabu Dasamuka (Rahwana) seorang raja yang lalim, dan Rahwana pun terpikat oleh kecantikan Dewi Sita, Ia lalu membuat upaya untuk menculik Dewi Sita dan ia di bantu oleh Patihnya Marica. Dengan kesaktiannya, raksasa Marica menjelma menjadi kijang emas yang cantik dan lincah. Dengan demikian mereka berhasil memisahkan Dewi Sita dari Rama dan Laksmana. Rahwana lalu menggunakan kesempatan ini untuk menculik Dewi Sita dan membawanya kabur ke Alengkapura. Sri raman raja yang Rama dan Laksmana berusaha menolong Dewi Sita dari cengkkejam itu, atas bantuan bala tentara kera di bawah pimpinan Hanoman maka mereka berhasil mengalahkan bala raksasa Rahwana yang dipimpin oleh Megananda, putranya sendiri. Akhirnya Sri Rama berhasil merebut kembali istrinya dengan selamat.

Marhaban Yaa Ramadhan

Marhaban yaa Ramadhan, mohon maaf lahir dan bathin. Selamat menjalankan ibadah puasa.

Begitulah kira-kira berbagai status yang muncul, baik facebook, twitter, atau yahoo messenger (setidaknya itulah, komunitas yang saya ikuti).  Tahun ini sedikit SMS serupa yang masuk, namun mendadak banjir balasan ketika saya mengirim sms ‘ramadhan’ tersebut.

Semua kita, mungkin tak ada yang terkecuali begitu semangat menyambut Ramadhan. Bulan yang dimaknai seribu bulan ini. Penuh syukur pula karena kita masih diberi kesempatan bertemu dengan Ramadhan tahun ini.

Intinya, melalui blog ini pun, saya juga mohonkan maaf lahir dan bathin. Mudah-mudahan segala dendam dan sakit hati yang sempat ada, terhapus. Dan mudah-mudahan Allah swt meringankan jalan kita untuk mencapai fitrah-Nya.

Posted in Oh

Perjalanan Segerombol Sahabat

Setiap awal pasti ada akhir. Setiap pertemuan akan ada perpisahan. Tapi ini bukan masalah awal dan akhir dengan pertemuan yang berujung perpisahan. Ini perjalanan segerombol sahabat.

Malam itu, untuk pertama kali nya aku melihat Bapak (Produser Perjalanan 3 Wanita) dan Mas Jagat (P.A) bergelinang air mata. Entah kata apa yang bisa menggambarkan perasaan kita semua malam itu. Malam yang seharusnya romantis di sebuah restoran di Jimbaran, Bali berubah mengharukan ketika Bapak memulai kata-kematanya.

Mas Jagat, Mba Fista, Mas Angga, Dila, Silvi, Mas Sakti, A ii, Ceu Epa dan aku pun berkeras membiarkan air mata tetap berada di pelupuk. Jangan lah jatuh, tapi mungkin di antara kita memang sudah tak sanggup menahan nya ketika mendengarkan apa yang disampai kan oleh Bapak.

Ini akan menjadi malam terakhir untuk Perjalanan 3 Wanita.

Satu per satu dari kita mulai menyampaikan kesan perjalanan ini. Perjalanan ini begitu dicintai bagi siapa-siapa yang terlibat di dalamnya. Mungkin juga bagi para pemirsa setia nya. Tapi memang kenyataannya, Perjalanan 3 Wanita tetaplah bagian dari sistem yang sudah mengaturnya.

Pengalaman yang tak bisa dinilai dengan uang. Berapa banyak pun jumlahnya (atau seberapa sedikit pun jumlahnya). Bukan sekedar petualangan, jalan-jalan, senang-senang, tapi kita semua mendapatkan sebuah keluarga baru dalam perjalanan ini. Masing-masing kita memberikan warna dalam kebersamaan ini. Mereka semua orang yang hebat dan luar biasa.

Bapak, dibalik kalimat-kalimat nya yang kadang nyelekit, beliau menyimpan banyak sekali ruang bijaksana dalam kepala juga hati nya. Begitu hebatnya karena selalu seru di tengah tekanan hebat yang datang.  Begitu tabahnya menerima setumpuk kekurangan yang ada di host nya. Terutama host gendut ini. Apa ada produser lain yang kaya gini? *thinking

Mas Jagat, P.A luar biasa yang mengaku dirinya baik. Merasa ga bisa bikin script, but he has unlimited fabulous words! Selalu menanggung beban berat baik fisik mau pun mental, baik pra, pas, dan pasca syuting. Kata-kata yang keluar dari mulutnya, selalui menjadi trendsetter. Ah, tapi dilarang keras untuk membuat nya besar kepala. He’s my gank mate (or maid? :p ). For Always.

Mba Fista, dengan keceriaan dan perhatiannya (kaya pacar ya). Teman nyela, mencela, hampa-hampaan. Selalu punya struktur kalimat baik hati untuk membuat orang lain merasa lebih nyaman. ‘Kreatif’ yang benar-benar kreatif. Dia punya segudang ‘support’ dan ‘encourage’ untuk sahabat-sahabatnya. Cerita yang ga akan abis-abis, bisa sampe besok pagi nya lagi. Take VO sejam bisa jadi 4 jam. O, gonna miss that time.

Mas Angga, gak jauh-jauh dari ‘sek’. Bikin sakit perut kalau ada dan ga ada dia. Bikin sakit perut karena suting dan perjalanan jadi ketawa mulu. Kalau ga ada, kita juga sakit perut karena makan-makan dan camil-camil kuranggggg.

Mas Sakti, cameraman kesayangan perjalanan 3 wanita. Tabah menghadapi ribuan retake, syuting perdana dan syuting pamungkas Perjalanan 3 wanita. Mas Sakti pasti ngerti banget perubahan (atau ga adanya perubahan) dari kita –Dinna, Dila, Silvi-  Hiks jadi sedih. Apalagi tio dan aria. Jagoannya yang ganteng-ganteng itu.

A ii. Hoho. Iya, a ii, ga bakal lupa. U are so helpful and soooo swittt. Pasti lucu inget becanda-becandaan kita itu, a.

Dila dan Silvi. Sangat pengertian dengan aku yang egois dan manja. Berangkat dari awal sama-sama culun (ups, silvi cantik dan dila pemberani, deh), dengan ribuan retake. Sekarang? Udah jadi presenter professional (dengan jutaan retake, kah? Hehe) Mana ada lagi host yang begini, ya. Dila yang ga bisa nahan sendawa dan nyanyi-nyanyi tanpa melodi di bandara. Silvi yang ga bisa matiin TV kalau tidur dan selalu ‘dikecengin’ pacar-ku. Keep this incredible friendship, girls.

framed at Jimbaran-Bali, dengan muka sembab

framed at Jimbaran-Bali, dengan muka sembab

Begitulah malam itu berakhir, malam yang begitu indah dengan deburan ombak, aroma pasir pantai, dan kilauan fireworks. Memang masing-masing kita sudah ditentukan jalannya. Kita lah yang melangkah di garis-Nya.

Dengan pelupuk mata yang basah, nadi leher yang tercekat, perut ‘begag’ karena seafood, dan senyum beruntai kasih. Kita meninggalkan malam itu, Jimbaran – Bali, 16 Agustus 2009.

Pilihan

labirin2Sering denger orang-orang bilang hidup adalah pilihan. Ada yang bilang pula lebih baik diantara pilihan-pilihan itu daripada gak ada pilihan sama sekali. Ada yang mengeluhkan pusing dengan pilihan-pilihan yang ada. Intinya, ada pilihan pusing, ga ada pilihan juga pusing.  Jadilah kita yang bikin ribet pilihan-pilihan yang ada maupun tiada itu.

Lalu kita dihadapkan dengan prioritas. Saat kita harus memilih, kita merenung tentang prioritas. Akan ada yang lebih penting. Kalau boleh, kalau mungkin, dan kalau bisa untuk tidak memilih, tentu kita tidak perlu memilih.

Itu lah yang kadang kita angan kan. Andai aku tak perlu memilih. Andai mereka tak perlu memilih. Tapi, kursi di DPR memang sudah ada jatahnya. Presiden terpilih cuma satu. Lowongan kerja impian amat terbatas. Yang bersanding dengan kamu, dia, dan aku, di pelaminan seharusnya memang cuma satu. Badan ini toh Cuma satu. Ga bisa dibagi-bagi.

Dan kita tetap harus memilih. Seberapa ga penting nya kita, dan seberapa ga jelas nya kita. Walau kita bukan selebritis, walau kita bukan pejabat, selalu akan ada yang terpilih.

Posted in Oh

Suka Suku Suka-Suka

Semalam aku menerima bbm (blackberry messenger) dari seorang teman. Dia mengeluhkan orangtuanya yang menginginkannya memiliki istri dari suku yang sama. Usia, materi, dan mental yang dimilikinya, menurutku, sudah cukup (matang) untuk menikah.

Memang, aku ini amat awam kalo berbicara masalah pernikahan. Entah belum cukup dewasa, entah otakku memang terlalu pendek untuk dipake mikir hal seserius itu. Bagiku menikah adalah impian indah yang menjadi nyata ketika aku datang ke setiap resepsi teman, dan mimpi buruk ketika melihat pernikahan-pernikahan yang berakhir dengan perceraian.

Saat ini, teman ku itu belum punya pacar (yang jomblo, yang jomblo, silahkan, diobral, hehe). Bukan karena ga laku, tapi karena jarang sekali dia terlibat hubungan dekat dengan wanita yang bersuku sama. Ketika sudah mulai dekat dengan yang satu, dia ingat lagi bahwa hal itu akan mengecewakan orangtuanya.

Kejadian itu tidak hanya terjadi dengan teman ku.

Ada lagi seorang teman begitu setia memintaku untuk menjadi pasangannya (baca: istri). Bayangkan, hal ini terjadi hampir sepuluh tahun. Awalnya aku berpikir, apa yang istimewa dengan ku sampai dia begitu betahnya. Merasa tidak ada yang istimewa denganku, juga hatiku. Bahkan tidak sedikit pun aku mempertahankan agar dia tetap jatuh cinta pada ku. Selama itu, aku tidak melakukan hal yang orangtua bilang jinak-jinak merpati. Dia tau apa yang aku rasakan, mengapa sejauh ini aku tidak bisa bersama nya yang pasti bukan karena hal se’prinsip’ suku – kecuali takdir menentukan lain.

Sepanjang dekade itu, bukannya dia tidak punya pacar. Aku, menjadi tempat cerita saat dia jatuh cinta atau patahhati dengan si itu dan si iti. Ujung dari ceritanya, lagi-lagi dia menyatakan ragu dengan apa yang ia jalani sekarang, dan kembali, meminta ku untuk bersamanya. Belakangan aku mulai paham, kenapa dia begitu ngotot nya dengan ku. Ternyata dari sekian petualangan cinta yang dialaminya, aku lah yang memiliki suku yang sama dengan (orangtua) nya.

Di satu sisi, kasian dengan pacarnya, dengan dia, dengan orangtua pacarnya, bahkan mungkin dengan orangtua nya sendiri. Ya, karena memang tidak ada yang bisa disalahkan. Orangtuanya sudah menjadikan kesukuan itu sebuah prinsip. Dia dan pacarnya? Siapa yang mampu membendung anugerah jatuh cinta itu. Orangtua pacarnya pun tak bisa disalahkan karena melahirkan pacarnya dengan suku tersebut. Belum jodoh kah? Atau menentang jodoh?

Kalau boleh memilih, aku pun ga mau dipilih atas dasar suku. Atau tidak dipilih karena suku. Bagaimana kalau ternyata aku tidak mewakili ‘orang Padang’ kebanyakan? Biarlah suku menjadi budaya Indonesia yang kita banggakan. Bukan malah jadi kotak-kemotak antara suku yang satu dengan suku yang lain. Tidakkah kita melihat begitu indahnya keanekaragaman suku terbentang dari Sabang- Merauke yang menjadi bukti kekayaan sejarah dan budaya.

Toh, kita semua sudah mendeklarasikan percaya bahwa kita semua berasal dari nenek moyang yang sama, Adam dan Hawa. Why so serious?

Memang, masing-masing suku punya identitas tersendiri. Tapi aku sangat menyadari, hal tersebut sama sekali tidak bisa digeneralisasikan. Pernah lihat  kehidupan rumah tangga ‘Bang Tigor dan Welas di suami-suami takut istri?’ Hal tersebut pun, bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Orang bilang, orang Padang itu suka pedes, tapi kenapa aku suka sekali kecap? Orang jawa itu lemah lembut, tapi semalam aku mendengar teman ku memaki-maki supir truk. Ada lagi yang bilang orang Padang itu pelit, mmhh, emang iya sih, aku agak pelit (dikit). Hehe.  Jadi, apakah ini perkara suku?

Tapi ya, aku yakin kita semua bisa buka mata tentang prinsip kesukuan itu. Apalagi jaman sekarang, terbuka soal suku bukan hal yang  tabu, kurasa. Yang masih kental dengan prinsip kesukuan itu, silahkan saja. Asal jangan jadi perpecahan dan membuat semakin banyak obstacles yang menimbulkan perselisihan, sakit hati, atau bahkan dendam. Naudzubillah.

Posted in Oh

BAU

spontan tutup idung

Ah, kadang memang kita tidak menyadari hal sepele kaya gini. Menganggap remeh hal-hal yang sebenarnya bisa jadi penting.  Kadang keukeuh mareukeuh. Merasa diri over confidence. Atau bodo amat. “Beginilah gw dengan kesederhanaan apa adanya,” begitu, yang ada dalam pikiran kita. Dan yang lebih sensitif adalah kita ga punya cukup uang untuk mengurangi bau itu. Ntah parfum, lotion, atau sabun.

Maka jadi lah kita si bau.

Apa adanya bukan berarti tidak menghargai, kan? Kita merasa tidak perlu menjadi wangi karena terkesan gaya hidup berlebihan atau ga mau dianggap sengaja menarik perhatian orang lain. Tapi menurut ku, hal itu bisa dikesampingkan kalau niatnya baik untuk menghargai sekitar. Apakah mneyenangkan bagi kita, ketika berada di dalam kendaraan umum yang penuh sesak, kemudian kita harus dijejali bau tak sedap itu? Dan tentunya jauh lebih tidak menyenangkan jika kita lah sumber bau tak sedap itu.

Seperti tadi, perjalanan ku naek ‘busway’ dari kantor menuju tempat dimana aku biasanya merasa seperti babi gembrott yang ngos-ngosan. Memang saat itu sedang padat-padatnya. Semua orang bejubel keluar dari kantor nya dengan suasana hati segala rupa. Juga bau yang segala rasa. Begitu juga dengan ku. Dan percayalah, hidungku sudah kupersiapkan untuk tahan banting dengan bau-bau itu.

Jika pada saat itu suasana hati kita sedang tak senang, bukan berarti orang lain pun harus ikut merasakannya. Tidak perlu membuat orang lain merasa bête atau gak nyaman (dengan bau yang kita hasilkan), karena masing-masing mereka pasti punya masa sendiri untuk bête atau ga nyaman tanpa harus kita yang menjadi penyebabnya.

Lalu aku mencoba menarik nafas melalui hidungku yang mudah sekali pilek itu, di tengah padatnya manusia di dalam busway. Dan rupanya aku sedang tak beruntung saat itu. Bau tak sedap itu kontan membuat mood ku (makin) berantakan.  Langsung update status twitter –yang biasanya menjadi tempat uring-uringan- . Kenapa ada orang yang tega kentut di dalam busway yang sesak?

Ah, sungguh aku bête. Bête. Bête. Aku tak suka bau itu. Wahai manusia, kenapa tega kau lakukan itu padaku? Bukan kah kesabaran ku sudah cukup teruji dengan bau ketek, bau keringet, dan bau kaki (ku sendiri)? Lalu kenapa ada yang tega-teganya menyerang aku (dan kami semua) dengan bau itu? Cepat lah sembuh wahai sahabat. Mungkin kamu sedang masuk angin.

Dear you, yes, this is about my thanks. For ‘nina ricci’ and that laugh heaps 🙂

Posted in Oh