Perjalanan Segerombol Sahabat

Setiap awal pasti ada akhir. Setiap pertemuan akan ada perpisahan. Tapi ini bukan masalah awal dan akhir dengan pertemuan yang berujung perpisahan. Ini perjalanan segerombol sahabat.

Malam itu, untuk pertama kali nya aku melihat Bapak (Produser Perjalanan 3 Wanita) dan Mas Jagat (P.A) bergelinang air mata. Entah kata apa yang bisa menggambarkan perasaan kita semua malam itu. Malam yang seharusnya romantis di sebuah restoran di Jimbaran, Bali berubah mengharukan ketika Bapak memulai kata-kematanya.

Mas Jagat, Mba Fista, Mas Angga, Dila, Silvi, Mas Sakti, A ii, Ceu Epa dan aku pun berkeras membiarkan air mata tetap berada di pelupuk. Jangan lah jatuh, tapi mungkin di antara kita memang sudah tak sanggup menahan nya ketika mendengarkan apa yang disampai kan oleh Bapak.

Ini akan menjadi malam terakhir untuk Perjalanan 3 Wanita.

Satu per satu dari kita mulai menyampaikan kesan perjalanan ini. Perjalanan ini begitu dicintai bagi siapa-siapa yang terlibat di dalamnya. Mungkin juga bagi para pemirsa setia nya. Tapi memang kenyataannya, Perjalanan 3 Wanita tetaplah bagian dari sistem yang sudah mengaturnya.

Pengalaman yang tak bisa dinilai dengan uang. Berapa banyak pun jumlahnya (atau seberapa sedikit pun jumlahnya). Bukan sekedar petualangan, jalan-jalan, senang-senang, tapi kita semua mendapatkan sebuah keluarga baru dalam perjalanan ini. Masing-masing kita memberikan warna dalam kebersamaan ini. Mereka semua orang yang hebat dan luar biasa.

Bapak, dibalik kalimat-kalimat nya yang kadang nyelekit, beliau menyimpan banyak sekali ruang bijaksana dalam kepala juga hati nya. Begitu hebatnya karena selalu seru di tengah tekanan hebat yang datang.  Begitu tabahnya menerima setumpuk kekurangan yang ada di host nya. Terutama host gendut ini. Apa ada produser lain yang kaya gini? *thinking

Mas Jagat, P.A luar biasa yang mengaku dirinya baik. Merasa ga bisa bikin script, but he has unlimited fabulous words! Selalu menanggung beban berat baik fisik mau pun mental, baik pra, pas, dan pasca syuting. Kata-kata yang keluar dari mulutnya, selalui menjadi trendsetter. Ah, tapi dilarang keras untuk membuat nya besar kepala. He’s my gank mate (or maid? :p ). For Always.

Mba Fista, dengan keceriaan dan perhatiannya (kaya pacar ya). Teman nyela, mencela, hampa-hampaan. Selalu punya struktur kalimat baik hati untuk membuat orang lain merasa lebih nyaman. ‘Kreatif’ yang benar-benar kreatif. Dia punya segudang ‘support’ dan ‘encourage’ untuk sahabat-sahabatnya. Cerita yang ga akan abis-abis, bisa sampe besok pagi nya lagi. Take VO sejam bisa jadi 4 jam. O, gonna miss that time.

Mas Angga, gak jauh-jauh dari ‘sek’. Bikin sakit perut kalau ada dan ga ada dia. Bikin sakit perut karena suting dan perjalanan jadi ketawa mulu. Kalau ga ada, kita juga sakit perut karena makan-makan dan camil-camil kuranggggg.

Mas Sakti, cameraman kesayangan perjalanan 3 wanita. Tabah menghadapi ribuan retake, syuting perdana dan syuting pamungkas Perjalanan 3 wanita. Mas Sakti pasti ngerti banget perubahan (atau ga adanya perubahan) dari kita –Dinna, Dila, Silvi-  Hiks jadi sedih. Apalagi tio dan aria. Jagoannya yang ganteng-ganteng itu.

A ii. Hoho. Iya, a ii, ga bakal lupa. U are so helpful and soooo swittt. Pasti lucu inget becanda-becandaan kita itu, a.

Dila dan Silvi. Sangat pengertian dengan aku yang egois dan manja. Berangkat dari awal sama-sama culun (ups, silvi cantik dan dila pemberani, deh), dengan ribuan retake. Sekarang? Udah jadi presenter professional (dengan jutaan retake, kah? Hehe) Mana ada lagi host yang begini, ya. Dila yang ga bisa nahan sendawa dan nyanyi-nyanyi tanpa melodi di bandara. Silvi yang ga bisa matiin TV kalau tidur dan selalu ‘dikecengin’ pacar-ku. Keep this incredible friendship, girls.

framed at Jimbaran-Bali, dengan muka sembab

framed at Jimbaran-Bali, dengan muka sembab

Begitulah malam itu berakhir, malam yang begitu indah dengan deburan ombak, aroma pasir pantai, dan kilauan fireworks. Memang masing-masing kita sudah ditentukan jalannya. Kita lah yang melangkah di garis-Nya.

Dengan pelupuk mata yang basah, nadi leher yang tercekat, perut ‘begag’ karena seafood, dan senyum beruntai kasih. Kita meninggalkan malam itu, Jimbaran – Bali, 16 Agustus 2009.

8 thoughts on “Perjalanan Segerombol Sahabat

  1. Hmmm… (speechless, dengan kerongkongan tercekat, air mata yang tertahan di pelupuk) i love u guys, so deep, very deep down inside all over my heart…

  2. Hmmm… (speechless, dengan kerongkongan tercekat, air mata yang tertahan di pelupuk) i love u guys, so deep, very deep down inside all over my heart…

  3. Hmmm… (speechless, dengan kerongkongan tercekat, air mata yang tertahan di pelupuk) i love u guys, so deep, very deep down inside all over my heart…

  4. To be honest, gw ga pernah ntn acara lo din, cuma sekali doang krn bangun kepagian (itupun ga full krn harus buru2 brangkat)..
    Tapi ko gw ikutan sedih ya? Mungkin karena mendalami setiap deskriptif tulisan persahabatan dina n crew..terasa sekali kehangatan persahabatan kalian..hehe

    Well,kalo lo ada acara tv lain,yg jam tayangnya bersahabat,gw pasti nonton din!hehehe

  5. dari paparan tulisan ini, gw bisa ikut ngerasa betapa dekatnya hubungan antar crew. dan gw juga ngerasa sedih ama bubarnya acara p2w ini. huhu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s