Rumah 1430 h

Aku memandang ke rumah itu. Ke setiap sudutnya. Rasanya sudah lama aku tidak berkunjung ke sana. Dan di hari yang fitri ini, tentu wajib bagi ku untuk mampir dan bersilaturahmi. Rumah tampak lengang. Tidak lagi bersahaja seperti lebaran-lebaran sebelumnya. Apa yang salah ini.

Mereka satu per satu diam, tak hangat. Tak sumringah di hari raya yang fitrah ini. Apakah mereka juga merasa tak menang di hari kemenangan ini. Aku memandangi mereka dalam. Tak ada yang salah. Hidup mereka masih sebaik sebelumnya. Mereka semua lelaki gagah yang bijak dan perempuan cantik yang pintar. Andai aku seperti mereka, aku yakin orangtua ku berbangga dan mendulang beribu syukur.

Ah, tawa mereka  masih sama. Canda dan kehangatan yang tercipta tak sedikit pun redup. Karena aku tau mereka bijak dan pintar. Walau pun perih luka masih tersimpan. Mereka begitu kuat dan tangguh. Begitulah yang orang-orang harapkan pada mereka.  Begitu pula dengan ku.

Suasana lebaran kali ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Perbedaan yang seharusnya menuju perubahan yang lebih baik. Sekilas memang terlihat tak baik. Sebagian mungkin akan memandang sebelah mata. Ada yang kasian. Atau menghinakan. Memprihatinkan. Tapi, Allah Swt punya maksud di balik ini semua. Sekeras-kerasnya kita berusaha, tak kan hasil tanpa kehendak-Nya. Kehidupan dunia memang akan jauh dari sempurna. Keikhlasan dan rasa syukur yang membuat nya istimewa.

Kita tak berdaya apa-apa. Rupa, harta dan bahagia, hanya titipan. Akan dikembalikan jika sudah waktunya. Akan diambil jika sudah selesai jodohnya. Dan mereka akan selalu menjadi kebanggaanku. Tak peduli orang bilang apa.

Mohon maaf lahir dan batin. Selamat hari raya Idul Fitri 1430 h.

Need a laugh?

11 REASONS WHY WOMEN FIND IT HARD TO FiND THE MAN OF THEiR DREAM……

(11 alasan kenapa perempuan mendapatkan kesukaran dalam menemukan pangeran impiannya)

1. Nice men are ugly. (Lelaki yang baik ko’ jelek ya..)

2. Handsome men are not nice. (Lelaki yang ganteng ko’ ga baik ya…)

3. Handsome and nice men are gay. (Lelaki yang ganteng dan baik, ko’ gay yaa…)

4. Handsome, nice and heterosexual men are married. (Lelaki yang ganteng, baik dan ga gay, ko’ udah merit yaaa..)

5. Men who are not so handsome, but nice, have no money. (Lelaki yang nggak terlalu ganteng, tapi baik hati, ko’ ga punya uang yaa..)

6. Men who are not so handsome, but nice n with money, think we are only after their money. ( Lelaki yang nggak terlalu ganteng, tapi baik hati dan punya duit, ko mikirnya kita ngejar duitnya….. .)

7. Handsome men without money are after our money. (Lelaki yang ganteng tapi nggak punya uang, ko malah morotin….. )

8. Handsome men, who are not so nice and somewhat heterosexual, don’t think we are beautiful enough. ( Lelaki ganteng, yang nggak terlalu baik dan kayaknya ga gay, berpikir kita nggak cukup cantik buat dia……)

9. Men who think we are beautiful, that are heterosexual, somewhat nice and have money, are cowards. (Lelaki yang berpikir kita itu cantik, dan dia ga gay, sepertinya baik hati dan punya duit, rata-rata pengecut deh)

10. Somewhat handsome man, kinda nice and have some money, and thank God heterosexual, are shy and NEVER MAKE THE FIRST MOVE!!!! (Lelaki yang rada ganteng, kayaknya baik hati dan punya uang, dan ga gay, rata2 pemalu dan ga pernah melakukan pendekatan pertama!!!!! !!)

11. Men who never make the first move, automatically lose interest in us when we take the initiative. NOW, WHO THE HELL UNDERSTANDS MEN? (Lelaki yang ga pernah melakukan pendekatan pertama, otomatis akan kehilangan ketertarikan kepada kita ketika kita melakukan pendekatan ke dia. Jadinya…, siapa nih yang bener2 ngerti lelaki?)

“Men are like a fine wine.They all start out like grapes, and it’s our job to stomp on them and keep them in the dark until they mature into something you’d like to have dinner with.”

(Lelaki itu seperti minuman anggur yang baik. Mereka mulai dari buah anggur dan adalah pekerjaan kita, para wanita, untuk menginjak-injaknya dan menyimpan mereka di dalam kegelapan sampai mereka matang dan berubah menjadi sesuatu yang menarik sehingga kita ingin makan malam bersamanya)

SEND THIS TO SMART WOMEN WHO NEED A LAUGH AND TO THE GUYS YOU THINK CAN HANDLE IT

Setelah semalaman ngakak  yang masih ga abis-abis sampe besok paginya, tawa itu berlanjut sampai aku mendapat forward-an e-mail ini. Yang (lagi-lagi) kontan membuat ku terbahak saat membaca nya.  Haha,,

Hard to say, but yes it’s true. Then, when will we meet again, girls! Promise me to not over laugh anymore. Pegal-pegal sekujur tubuhhh. hehe. We better stop to laugh at innocents and lets’s grab some fat!

Posted in Oh

Di Atas Sajadah

Kalau taraweh di Masjid, seringkali aku memperhatikan orang-orang terutama jamaah wanita membawa sajadah sendiri. Mungkin karena ga kebiasaan, aku adalah salah satu orang yang paling sering lupa malah hampir ga pernah bawa sajadah ke masjid. Alhamdulillah, sebagian orang, tampak ikhlas berbagi sajadah dengan ku. Tapi tak jarang aku tetap sholat berjamaah tanpa sajadah saat di kanan kiri ku beralaskan sajadah yang di bawa dari rumah masing-masing.

Padahal tadi nya kupikir masjid adalah rumah ibadah yang suci, sehingga tak perlu lagi sajadah. Malah hampir di setiap masjid sudah disediakan karpet cantik untuk kenyamanan kita beribadah. Lalu mengapa diantara kita masih membawa sajadah masing-masing? Saya sendiri belum tau alasan pasti, belum pernah nanya juga ke teman-teman yang tidak pernah absen membawa sajadah kalau mau sholat taraweh di masjid. Lain hal nya jika akan sholat ied di lapangan. Aku, insyAllah, tidah pernah absen membawa Koran dan sajadah. Tapi kalau di masjid?

Aku merasa amat disayangkan jika sajadah jadi kotak kemotak dalam menjalankan ibadah jamaah. Sajadah seolah menjadi kapling bagi masing-masing pemiliknya. Karena sajadah sudah terkembang, ketika shalat dimulai pun, tak berlaku lagi ‘rapat kan saf’ yang biasa disampaikan imam sebelum sholat berjamaah dimulai. Aku bingung, kalau geser ke kanan, kiri nya kosong, begitu juga sebaliknya.

Aku, bukan wanita pengkritis ibadah. Bukan. Bahkan hanya mengerti sedikit sekali tentang ibadah. Hanya saja merasa tidak nyaman jika shalat berjamaah tapi saf nya ga rapat. Di luar dari ayat al-quran atau hadis yang mengaturnya, yang aku ingat kalau jamaah an itu saf nya rapat.

Nah, mungkin diantara kita ada yang lebih tau mengenai saf yang ga rapat itu. Kalau  ternyata shalat jamaah itu, ga perlu saf yang rapat, mungkin memang kekhawatiran ku selama ini ga beralasan.

Posted in Oh