Di Atas Sajadah

Kalau taraweh di Masjid, seringkali aku memperhatikan orang-orang terutama jamaah wanita membawa sajadah sendiri. Mungkin karena ga kebiasaan, aku adalah salah satu orang yang paling sering lupa malah hampir ga pernah bawa sajadah ke masjid. Alhamdulillah, sebagian orang, tampak ikhlas berbagi sajadah dengan ku. Tapi tak jarang aku tetap sholat berjamaah tanpa sajadah saat di kanan kiri ku beralaskan sajadah yang di bawa dari rumah masing-masing.

Padahal tadi nya kupikir masjid adalah rumah ibadah yang suci, sehingga tak perlu lagi sajadah. Malah hampir di setiap masjid sudah disediakan karpet cantik untuk kenyamanan kita beribadah. Lalu mengapa diantara kita masih membawa sajadah masing-masing? Saya sendiri belum tau alasan pasti, belum pernah nanya juga ke teman-teman yang tidak pernah absen membawa sajadah kalau mau sholat taraweh di masjid. Lain hal nya jika akan sholat ied di lapangan. Aku, insyAllah, tidah pernah absen membawa Koran dan sajadah. Tapi kalau di masjid?

Aku merasa amat disayangkan jika sajadah jadi kotak kemotak dalam menjalankan ibadah jamaah. Sajadah seolah menjadi kapling bagi masing-masing pemiliknya. Karena sajadah sudah terkembang, ketika shalat dimulai pun, tak berlaku lagi ‘rapat kan saf’ yang biasa disampaikan imam sebelum sholat berjamaah dimulai. Aku bingung, kalau geser ke kanan, kiri nya kosong, begitu juga sebaliknya.

Aku, bukan wanita pengkritis ibadah. Bukan. Bahkan hanya mengerti sedikit sekali tentang ibadah. Hanya saja merasa tidak nyaman jika shalat berjamaah tapi saf nya ga rapat. Di luar dari ayat al-quran atau hadis yang mengaturnya, yang aku ingat kalau jamaah an itu saf nya rapat.

Nah, mungkin diantara kita ada yang lebih tau mengenai saf yang ga rapat itu. Kalau  ternyata shalat jamaah itu, ga perlu saf yang rapat, mungkin memang kekhawatiran ku selama ini ga beralasan.

Posted in Oh

7 thoughts on “Di Atas Sajadah

  1. perenungan yang menyentak, apalagi pas bagian “Sajadah seolah menjadi kapling bagi masing-masing pemiliknya”,,

    eiya, salam kenal ya dinna,,lagi blog walking nyasar ksini,hehehe..nice blog btw

  2. Nggak sengaja blogwalking ketemu blog ini, tulisan yang hebat. Numpang diskusi juga ya, maaf kalo terkesan sok tau dan menggurui.. Kalo gak salah 2 hari yang lalu baru ngobrol sama dila (insyaAllah kenal sama dila kan..) soal sajadah dimesjid ini, seolah kalau kita punya sajadah kita nggak perlu bergeser meninggalkan sajadah kekuasaan kita. Padahal banyak hadist yang memerintahkan untuk merapatkan dan meluruskan shaf, mulai dari HR Abu Dawud & Ahmad, HR Muslim, sampa HR Bukhari..

    Akan tetapi tetap saja banyak orang yang membawa sajadah enggan bergeser ketengah untuk merapatkan barisan. Sayang banget ya, padahal di rongga yang tidak rapat itu setan berpeluang mengganggu shalat kita..

    Terus selain sajadah, ada hal lain yang cukup menyedihkan menurut gw. Dalam HR Muslim kalo gak salah menyatakan kalau kita harus mengisi shaf yang terdepan dulu baru kemudian kebelakang. Dan kita harus berusaha dishaf yang paling depan karena kalau kita selalu membiasakan diri di shaf yang terbelakang maka Allah SWT akan membelakangkan kita juga..

    Ironisnya, menurut pengamatan gw (mudah-mudahan pengamatan gw salah), selama ini mayoritas shaf (shaf laki-laki ya🙂 terdepan diisi oleh orang yang usianya diatas 3O tahun, dan bahkan sekitar 40-50% diisi yang berusia diatas 40 tahun dan 30-40% diisi usia diatas 50 tahun. Sedangkan orang usia 30 tahun kebawah rata-rata ada di shaf ke 3 sampai kebelakang, bahkan anak abg lebih banyak ada di shaf terbelakang. Sehingga gw sempat mikir, apa ini berarti orang berpikir anak muda belum perlu tobat dan jadi orang baik, tobat dan jadi orang baik hanya urusan orang tua..

    Aneh… Btw, sorry kalo gak nyambung ya, mohon dikoreksi kalo ada pernyataan yang salah…

  3. niat hati menyempurnakan ibadah dengan sedikit “berdandan” untuk menghadap Sang Khaliq…
    tapi kenyataannya jadi malah mengurangi keutamaan lain…….

    susah juga main ukuran2 manusia dalam beribadah…
    yg penting ikhlas aja dech…

  4. Ehmm..Aslm,
    numpang nimbrung ya, din!
    subhanallah..hal yang sama pernah gw rasakan, kebanyakan sich lebih sering dilakukan pada orang tua kita. Sempat terpikir mungkin saja mereka merasa kalau dengan sajadah yang sudah terkotak persegi panjang itu sudah memenuhi yang namanya ” Lurus dan Rapatnya Shaf”, padahal tidak demikian. Dengan shalat di atas sajadah malah membuat diri mereka seolah bilang ” Hei..ini sajadah saya, jangan ganggu saya..” (mudah-mudahan gw salah!!)
    Susah banget bilang ke orang tua itu, dibilang ” Lurus dan rapatkan shafnya, malah menarik sajadah supaya rapat dengan sajadah lain..Padahal kalau kita semua mau memahami, celah diantara mata kaki adalah tempatnya setan mengganggu kita dalam shalat..
    Inilah realita yang terkadang kita cuma bisa menghela nafas beberapa kali dan kesal, hehehehe..🙂

  5. Setuju banget mbak. Seringkali karena sajadah, orang malah malas bergeser. Baik ke depan maupun ke samping. Satu lagi, selain sajadah, sekarang kan banyak masjid yang pakai karpet dengan motif sajadah, jadi deh tiap jamaah punya “kapling”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s