N.I.K.A.H

Pernikahan.

Weekend kemaren berlalu dengan nuansa pernikahan. Dari mulai hunting kado pernikahan, bantuin persiapan seserahan sahabat yang mau nikah, datang ke AKAD nikah sahabat, dengerin khayalan temen yang pengen banget punya Wedding Organizer, beliin kado buat pasangan yang baru lahiran, sampai diajak nikah. Hehe.

Ngomongin pernikahan bisa jadi permasalahan yang sentimentil sebenarnya. Bisa jadi ribet, atau bisa jadi sangat sederhana. Bisa jadi case yang sensitif tapi bisa jadi fenomena yang ditunggu-tunggu. Apalagi untuk wanita sepantaranku.

Aku dan geng manyunku sempat ngebahas ini weekend kemaren. Dan pembahasan mengenai pernikahan itu tetap tidak menemukan ujungnya sampai jam 1 malam. Karena pernikahan itu sendiri, sebenarnya sesuatu yang tak perlu berujung. Setidaknya begitulah yang kita idam-idamkan. Menikah hanya untuk sekali seumur hidup. Tanpa ujung.

Karena kesempatan itu seharusnya hanya datang sekali, tentunya kita tak mau salah langkah. Tak bisa hanya dengan mengharapkan sekali jentikan jari, lalu kita bisa mengatakan siap menikah dengannya atau siapa. Tidak semudah itu. Ada BANYAK SEKALI hal yang harus kita pikirkan sebelumnya, walaupun katanya menikah adalah salah satu hal yang harus disegerakan.

Sebenarnya apa yang ingin aku tulis tentang pernikahan? Mungkin aku pun akan sulit mencari ujungnya. Saking sulitnya, mencari awalnya pun begitu sulit. Entah mulai dari mana. Kalo teman-teman ku berbicara tentang bab I, aku sendiri ga tau bab I itu apa? Apakah lantas teori-teori itu berlaku dalam kehidupan nyata? Tak ada yang mutlak seperti teori-teori itu.

Orang bilang harus ini harus itu, tapi ternyata setelah menjalani keharusan ini itu, tak mutlak semuanya akan berhasil.

Di infotainment kudengar, pacaran sebulan tidak cukup untuk kemudian memutuskan menikah.  Lalu bagaimana dengan pacaran 3 tahun bahkan 8 tahun? Tak sedikit yang kandas. Term pacaran sebelum menikah pun membuat ku ragu untuk menjadi ukuran kapan pasangan siap untuk menikah. Teori apa lagi.

Menikah lah dengan pria dari suku ‘x’, misalnya. Atau jangan menikah dengan pria dari suku ‘y’. Atau ada lagi, yang bilang suku ‘x’ dan suku ‘y’ ga cocok. O, seriously, aku tak bisa melihat relevansi kesukuan tersebut terhadap keberhasilan sebuah pernikahan.

Ada yang bilang, sebaiknya isteri tak terlalu sibuk mengejar karir. PNS atau ibu rumah tangga adalah profesi ideal jika ingin rumah tangga utuh. Aku banyak melihat contoh yang pada kenyataannya berseberangan. Teori yang ini lagi-lagi tak mutlak berlaku bagiku.

Lalu apa, kita harus pintar-pintar memilih pasangan yang pintar, baik agamanya, ganteng, dari keluarga baik-baik, dan mapan. Lihat bibit, bebet, dan bobotnya. Lagi-lagi pria seperti itu pun tak menjadi harga mati sebuah hubungan pernikahan akan berhasil. Semua bernilai relatif.  Apakah hubungan akan menyenangkan jika punya suami pintar yang tau semua-muanya. Ngerti geografi, hukum, kedokteran, dan apa pun, dia tau. Baik agamanya pun tak melulu membuat kita semua lantas dengan penuh keyakinan mengatakan ‘yes, I do’ ketika dilamar. Ganteng seperti Choky Sitohang? Apa gunanya jika dia hanya menjadi patung di rumah. Tidak mau, karena keluarganya berantakan. Bapaknya koruptor, ibunya penipu. Lalu apakah menikah dengan pria dari latar belakang keluarga baik-baik pun menjadi patokan sebuah pernikahan akan berhasil? Lalu bagaimana dengan mapan. Money can’t buy love. Punya kerjaan bagus dan uang melimpah pun bukan jaminan  keberhasilan sebuah pernikahan. kenyataannya, pejabat yang duit nya ga abis tujuh turunan pun, bisa punya selingkuhan dimana-mana.

Kita sama sekali gak bisa bikin patokan. Pejabat, selebritis, PNS, orang biasa, dokter, pengemis, bahkan kyai sekali pun. Itu bukan patokan.

Lalu apa. Apa. Apa. Apakah kita semua harus berhenti berteori tentang itu? Diam, dan menunggu jodoh itu datang. Mungkin kita semua terlalu sibuk memikirkan teori bibit, bebet, dan bobot, lalu lupa bahwa anugrah cinta itu hanya akan datang jika waktunya tiba. Dan bisa kapan saja pergi jika memang sudah selesai. Dan seharusnya kita bertahan dengan percikan kasih sayang yang senantiasa membasuh hati kita. Siapa pun pasangan kita nanti.

Now, I’m praying. Let’s praying.

Advertisements
Posted in Oh