Weekend

I just wanna make a very shorty post.

It is about last weekend, that was very perfect weekend ever.

People could say there’s nothing perfect in this world. But i feel that day was simply perfect.

Hanging out in Bandung and around with friends, meet my old best friend, enjoying so delicious chocomelted on romantics cafe, c0incidence meets with ex-lover ‘caught with his newest girlfriend, and unlimited debate and laugh. And the most important is all covered with love.

Well, maybe i’m fallin’ love. Fallin’ in blind love, could be.

Berputar

Hampir semua diantara kita pasti pernah merasa bahwa hidup ini memang ada naik ada turunnya. Seperti roda yang berputar, suatu saat kita pernah berada di atas, pernah di bawah. Saat terpuruk, sering kali kita merasa bahwa kita sedang berada dalam lapisan paling bawah nasib. Kesedihan menjadi berkepanjangan. Merasa paling na as. Mungkin agak berlebihan, tapi itu kenyataan yang saya lihat di antara sebagian teman-teman saya, atau mungkin saya sendiri. Padahal, bisa jadi masih ada yang lebih terpuruk dari itu. Kita gak pernah tau seberapa bawah kita mungkin jatuh. Kita lalu menjadi tidak bersyukur. Tidak melihat bahwa masih ada yang bernasib jauh lebih ‘tidak baik’ dari kita. Padahal kalo dipikir-pikir dan disadari, sebenarnya kita ini makhluk kecil, yang ga berdaya apa-apa. Mestinya kita sudah menyadari ini sejak awal. Sekuat-kuat kita berusaha, jika bukan kehendak-Nya, mau bilang apa. Kalo Tuhan ingin kita jatuh, ya jatuhlah. Bersyukur. Ya, itu kata ampuh *ga ampuh-ampuh banget si*, yang sering aku pakai, terutama untuk diriku sendiri, untuk meng ‘encourage’ teman-teman ku.

Saat kehidupan sudah mulai membaik, roda mulai berputar, dan kita mulai berada di permukaan, lalu kita pun merasa diawang-awang. Makin lama merasa makin di atas. Tapi itu tidak pula membuat kita lantas merasa cukup. Pengen lebih, dan lebih lagi. Kita menjadi lupa, pernah mengalami yang namanya hidup dalam lapisan paling bawah ‘nasib’. Bersyukur tidak, yang ada jadi maruk. Tidak pernah puas. Ingin lebih baik dalam segala hal itu wajar, tapi jika untuk mencapai nya menghalalkan segala cara, itu bukan lagi hal wajar. Seiring berjalannya waktu, berubahnya zaman dan bergesernya etika, hal yang dulunya tidak wajar sekarang menjadi wajar. Dan lagi, berputar. Wajar. Tidak wajar. Wajar. Tidak wajar.

Berputar. Saat berada di atas, mudah bagi kita untuk menjadi sombong. Bukankah sangat mungkin bagi kita untuk jatuh kembali. Jadi, kenapa harus sombong?

Posted in Oh

Dear Hukumonline

side of my desk on the last day in Hukumonline

January 8, 2010

Friday.

This is not a resignation letter, for sure.  My appreciate wordings for them.

Dear All,

As many of you are aware that today is my last day working at Hukumonline.

Before leaving, i just want to say that i have enjoyed my time in Hukumonline and will miss you all. I really appreciate all the support, insights, good relationship, jokes while working, snacks after lunch and help you have provided me with, for almost a year, and want to thank you for it.

It’s been a great time for me representing in Hukumonline.com, as one of the most precious experience in my career. I have learnt a lot and gained considerable knowledge and thus I shall always cherish this.

I will always be feeling very lucky that i have had a great pleasure of time working with you, very close and warm relationship with all the people that i encountered in Hukumonline.com

I personally believe that Hukumonline.com will consistently group up so great. Thanks again for everything and very best wishes for you and the company.

All the best and keep in touch.

Love,

Dinna