Berputar

Hampir semua diantara kita pasti pernah merasa bahwa hidup ini memang ada naik ada turunnya. Seperti roda yang berputar, suatu saat kita pernah berada di atas, pernah di bawah. Saat terpuruk, sering kali kita merasa bahwa kita sedang berada dalam lapisan paling bawah nasib. Kesedihan menjadi berkepanjangan. Merasa paling na as. Mungkin agak berlebihan, tapi itu kenyataan yang saya lihat di antara sebagian teman-teman saya, atau mungkin saya sendiri. Padahal, bisa jadi masih ada yang lebih terpuruk dari itu. Kita gak pernah tau seberapa bawah kita mungkin jatuh. Kita lalu menjadi tidak bersyukur. Tidak melihat bahwa masih ada yang bernasib jauh lebih ‘tidak baik’ dari kita. Padahal kalo dipikir-pikir dan disadari, sebenarnya kita ini makhluk kecil, yang ga berdaya apa-apa. Mestinya kita sudah menyadari ini sejak awal. Sekuat-kuat kita berusaha, jika bukan kehendak-Nya, mau bilang apa. Kalo Tuhan ingin kita jatuh, ya jatuhlah. Bersyukur. Ya, itu kata ampuh *ga ampuh-ampuh banget si*, yang sering aku pakai, terutama untuk diriku sendiri, untuk meng ‘encourage’ teman-teman ku.

Saat kehidupan sudah mulai membaik, roda mulai berputar, dan kita mulai berada di permukaan, lalu kita pun merasa diawang-awang. Makin lama merasa makin di atas. Tapi itu tidak pula membuat kita lantas merasa cukup. Pengen lebih, dan lebih lagi. Kita menjadi lupa, pernah mengalami yang namanya hidup dalam lapisan paling bawah ‘nasib’. Bersyukur tidak, yang ada jadi maruk. Tidak pernah puas. Ingin lebih baik dalam segala hal itu wajar, tapi jika untuk mencapai nya menghalalkan segala cara, itu bukan lagi hal wajar. Seiring berjalannya waktu, berubahnya zaman dan bergesernya etika, hal yang dulunya tidak wajar sekarang menjadi wajar. Dan lagi, berputar. Wajar. Tidak wajar. Wajar. Tidak wajar.

Berputar. Saat berada di atas, mudah bagi kita untuk menjadi sombong. Bukankah sangat mungkin bagi kita untuk jatuh kembali. Jadi, kenapa harus sombong?

Posted in Oh

4 thoughts on “Berputar

  1. Wah bijak sekali ibu satu ini.. Gw setuju ama pernyataannya.. Kalo kita ini sebaiknya bisa bersyukur untuk setiap keadaan, termasuk d saat kita lagi terpuruk. Karena semakin kita bersyukur justru kebahagiaan akan datang menghampiri.. Dan sombong itu bukan milik manusia, kerena kita tidak punya apa2 u/ bisa disombongkan.. Bahkan raga kita pun mrpkan pinjaman yg suatu saat akan diambil oleh-Nya..

  2. akhirnya ada posting terbaru juga..🙂
    thanks for the reminder

    *setelah membaca dengan mengerutkan dahi, memaksa si oatak bekerja lebih keras lagi

    -salam dari rumbai-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s