Di Bawah Tangan

Well, ini cuma sekedar share apa yang ada di kepala (dan juga hati).

Tadi pagi, pas bangun, langsung nyalain TV lecek di kamar. Masih separuh nyawa untuk bangun, sayup-sayup saya dengar berita aksi yang menentang peraturan yang menyatakan bahwa orang yang melakukan nikah sirri akan dipidana. Mereka beranggapan  jika pernikahan sirri dipidana maka akan semakin banyak zina dan semakin meluasnya prostitusi, apalagi katanya agama menghalalkan.

Menurut salah satu media yang saya baca, nikah sirri artinya nikah secara rahasia. Apa yang menjadi rahasia di sini lah mungkin yang masih menjadi perdebatan. Orang sering salah paham tentang apa yang yang dimaksud dengan menikah secara rahasia ini.

Mungkin sebaiknya kita samakan presepsi dulu.

Dari UU Perkawinan yang saya ketahui, sebenarnya hukum pernikahan di Indonesia mengikuti aturan yang berlaku bagi agama dan kepercayaan masing-masing. Dalam kaidah fikih dikatakan ‘hukum itu kepada yang diberi nama bukan namanya’  haram dan halalnya suatu pernikahan bukan karena namanya (sirri atau tidak) tetapi kepada tatacara dan praktek dari perkawinannya itu sendiri. Inilah yang kemudian menjadi salah  menurut pemahaman kita.

Pernikahan sirri kemudian dilakukan benar-benar secara sembunyi.  Menurut agama islam, syarat sah menikah setidaknya ada dua calon pengantin baik bertatap muka atau jarak jauh, ada wali nikah dari pihak perempuan, ada saksi, ada mas kawin, dan terlaksananya ijab-qabul perkawinan. Tapi pada kenyataanya, banyak misalnya yang melakukan pernikahan sirri hanya disahkan oleh penghulu, dan mereka menganggap pernikahan itu sudah sah. Banyak pula, pernikahan sirri lainnya yang dilakukan dengan alasan yang lebih tidak beradab. Lalu, apa bedanya dengan zina?

Alasan menentang aturan tentang dipidana nya menikah sirri, bagi saya,  menjadi samar. Semakin merebaknya zina dan prostitusi? Toh zina dan prostitusi memang sudah banyak. Perselingkuhan pun sudah menjadi lazim. Berbuat dosa tidak lagi menjadi hal yang ditakuti karena hukumannya ga berasa di dunia. Lalu ketika menikah sirri dipidana? Semuanya menjadi panik. Takut dipenjara atau kena denda, hukuman yang jelas-jelas berasa langsung di dunia, apalagi diketahui khalayak ramai.

Kalau bisa mengikuti aturan yang disyaratkan agama untuk menikah, kenapa begitu sulit untuk mencatatkannya secara sipil. Toh syarat dari hukum negara mengikuti apa yang diatur agama. Negara hanya butuh pencatatan sipilnya. Hukum yang dibuat pun, bermaksud untuk melindungi pelaku. Pihak pria, pihak wanita, keluarga, dan anak yang lahir akibat dari pernikahan itu. Kenapa harus menentang usaha negara untuk melakukan perlindungan kepada warga negaranya. Untuk melindungi kita.

Di sisi lain, kita mengaku sebagai  masyarakat yang beragama dan bernegara. Di sisi lainnya, begitu sulit untuk mengikuti aturannya. Sebagian di antara kita, mengemukakan alasan masing-masing, kenapa ‘terpaksa’ memilih untuk menikah sirri. Alasan dikemukakan dengan berkoar-koar seolah lupa kalau kita hidup dengan perasaan dan hati nurani.

Menurut  saya, jika memang pernikahan itu untuk tujuan yang baik, kenapa harus sembunyi-sembunyi. Bukan kah pernikahan sebaiknya adalah untuk kebahagiaan yang menikah, juga kebahagiaan orang-orang di sekitarnya.

Dalam sebuah artikel yang saya baca, ada beberapa pria yang melakukan pernikahan sirri karena mereka tidak mau melakukan zina, tapi ingin mendapatkan kesenangan dari wanita lain yang bukan istrinya. Bukan kah itu menyakitkan? Ada lagi yang melakukan pernikahan sirri karena alasan pekerjaan, biaya, dan lain-lain.

Yang saya tahu, pernikahan adalah suatu hal yang baik. Berita bahagia yang selayaknya mendapatkan berkah dari Allah swt dan doa dari keluarga, karib, dan kerabat. Jika memang untuk niat yang baik, kenapa harus dirahasiakan?

Postingan ini tentunya tidak bermaksud untuk menggurui siapa pun. Yang setuju dengan nikah sirri, ya silahkan saja. Dengan senang hati mendengarkan jika ada yang berpendapat berbeda.

Mudah-mudahan saya bukan salah satu orang yang ‘terpaksa’ harus melakukan pernikahan secara sirri. Dan plis, bagi yang sedang berencana ngelamar saya, jangan ngelamar untuk menikahi saya secara sirri. Kalo yang lain bisa menikah sah secara agama dan negara, mengapa kita tidak? Saya yakin, hukum bisa jadi sahabat.

Advertisements
Posted in Oh

Bukan Lagi

Postingan tentara, ternyata menarik bagi sebagian kalangan. Tentu kalangan yang dalam kehidupannya berkaitan erat dengan ketentaraan, entah kalangan apa itu namanya.

Beberapa postingan ku di Incredible Dinna ini, menulis tentang kehidupan tentara. Lebih tepatnya kisah ku dengan seorang tentara. hehe. Walaupun postingan yang kutulis ga banyak, tanggapan yang masuk relatif lebih banyak dibanding postingan ku yang lain.

Terus terang saja, selain memang belakangan blog ini jarang ter update, comment yang masuk pun jadi jarang ditanggapi. Walaupun hampir pasti setiap comment yang masuk, kubaca dan kupahami dengan baik. Hanya saja, belum kutanggapi secara online.

Padahal sebenarnya, aku seneng banget kalo ada yang mampir dan meninggalkan comment di setiap postingan ku. Thanks for sharing, all.

Comment yang masuk dalam postingan ku di kategori ‘army’s spouse’ lebih berupa sharing, dan sebagian supporting. What am i supposed to say. Saat ini aku bukan lagi bagian dari mereka. Pacar Tentara. Lebih dari setahun, aku tidak lagi bersamanya. Komunikasi tentu masi ada, tapi tak lebih dari sekedar teman biasa. Rasa cinta pun sudah melebur untuk menghargai sebuah silaturahmi.

Dia pun, menurut informasi terbaru yang aku tau, sedang menjalin hubungan yang serius dengan seseorang. So, am not in the gank for more, all.

Sekarang, aku bisa jadi sedang jatuh cinta. Bisa jadi juga sedang patahati. Bisa jadi sedang tidak peduli. Tapi tidak dengan tentara. Am just very welcome to be your friend, for everyone.