25

Curhat pagi ku dengan sahabat lama, ditanggapi dengan “Din, googling ‘Quarter Life Crisis’, deh. Bukan hanya kita yang ngalamin ini, tapi hampir kebanyakan mereka yang berada di usia menjelang 25″

Ternyata banyak blog atau artikel yang ngebahas tentang kegundahan di usia dua lima. Gak semuanya kubaca, tapi jadi punya gambaran, kalo usia bingung ini itu saat menjelang 25 seperti yang aku alami sekarang memang umum terjadi. Jadi, mungkin aku ga perlu ngerasa sendirian mengalami krisis seperti ini.

Career, Education, and Marriage. Mungkin itu judulnya.

25. Umumnya, kuliah sudah kelar. Pekerjaan masih meraba-raba. Jodoh apalagi. Sulit dipahami dengan kasat mata (juga kasat hati). Semuanya masi di awang-awang. Kita dituntut untuk siap memilih di antara mewujudkan mimpi atau melangkah di realita.

Pekerjaan seperti apa? Penghasilan berapa? Jodoh seperti apa? Penghasilan berapa? Haha, ga segitu nya, tapi begitulah. Simple thing, but kind of big deal. Apa selanjutnya?

Topik ini pun selalu menjadi topik popular saat ngemil-ngemil sore sama temen-temen. Pembahasan pun ga berujung, yang ada malah makin bingung.

Oke, mungkin perlu memikirkan ini sendiri. Ambil posisi paling enak di tempat tidur, blackberry disimpan, sumpel kuping pake iPod. Dan pikirkan. Hasilnya? Masih sama. Kebingungan itu pun semakin bertumpuk. Blackberry kembali diambil, membuka list BBM, cari-cari temen buat ngebahas beginian. Begitu seterusnya.

Dulu, sekitar usia 10 – 15 tahun, ingin sekali menjadi dewasa. Bilang “Ma, kapan aku bisa ambil keputusan sendiri? Ga dilarang ini itu. Ga diatur-atur lagi. Kita merasa begitu dewasa, pengen semua-mua nya sendiri.

Sekarang, orangtua mulai menyerahkan semuanya ke kita. Keputusan ada di tangan kita. Rasanya pengen banget bilang “Ma, keputusannya gimana nih? Bisa ga mama aja yang ambil keputusannya berikut tanggung jawabnya?” Ingin lepas tangan dari tuntutan menjadi 25.

Pikir. Pikir. Pikir.

Masalah pun semakin beragam. Drama-drama berlebihan yang kita lihat di televisi atau yang kita baca di novel, terasa ada benarnya. Percaya ga percaya. Waktu pun ikutan ga bisa diajak kompromi. Batere waktu ga akan pernah abis. Terus berjalan malah terasa berlari. Gak bisa menunggu. Usia 25 pun (insyAllah) segera datang. Apa selanjutnya? Diam. Bingung.

Dan Mamah – Bapak ikutan diam dan mengandalkan sabar untuk menunggu jawaban.

Posted in Oh

4 thoughts on “25

  1. komen ah…😀
    yup, bener banget din. biasanya usia 24-26 tahun kebanyakan mengalami hal ini. karena pada usia itu dimana kita akan berdiri sendiri dengan lepas dari orang tua. dan dari langkah-langkah itulah sebagai dasar kita akan kedepannya.

    kalau melihat dari 3 faktor yang dinna katakan, itulah yang ingin dipenuhi kita dan permasalahannya adalah yang mana yang ingin didapat terlebih dahulu. bersamaan? tapi dibutuhkan effort yg hebat untuk mencapai ketiganya secara bersamaan.

  2. Ah dinna, bener banget tuh. Aku juga ngerasa di umur2 yang segini saatnya kita yang memberi keputusan dan orang tua menunggu keputusan kita itu. Hiks.
    Ya yg bisa dilakukan cuma dua kali ya, berdoa dan berusaha agar terkabul semoga harapan org tua dan bisa memberikan yg terbaik untuk mereka…
    Keep smile din..🙂

  3. gw juga jadi kepikiran di usia gw yang sudah kepala 2, mau ngapain ya? jadi artis yg bisa nerusin kuliah dgn IP cumlaude bisa gak ya? hahahha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s