EMOSI !!!

Inhale. Exhale. Inhale. Exhale.

Tenang, judul boleh heboh, pake tanda seru tiga biji. Tapi bukan berarti postingan ku di sini mau marah-marah meluapkan emosi. Kalo nanti diujung tulisan ku nuansanya jadi marah-marah, aku minta maaf dari awal ya. Mungkin aku keceplosan, dan lagi-lagi gagal mengendalikan emosi🙂

Mengendalikan emosi memang tidak mudah, seberapa sudah sering nya kita dituntut untuk itu. Coba kita ingat-ingat sudah berapa umur kita, selama itu pula kita dilatih untuk mengendalikan emosi. Bahkan sejak kita lahir di dunia, emosi itu pun sudah ada. Dan diluapkan dengan menangis.

Namanya emosi, bisa datang seenaknya. Entah dalam kondisi apa pun. Entah di usia berapa pun. Saat kita masi anak-anak, remaja, dewasa, dan usia lanjut. Emosi akan selalu ada. Jarang dan hampir tidak ada orang yang hidupnya biasa-biasa aja. Datar, dan bisa diam ketika ditempa masalah. Jika ada diantara teman-teman yang menemukan orang yang begitu pandai mngendalikan emosi, plis, kenalkan padaku. Atau mungkin diri Anda sendiri? Kenalan yuuuk. Sekalian kita sharing bagaimana caranya mengendalikan emosi dengan cerdas.

Emosi diluapkan dengan banyak cara, positif atau negatif keluarnya. Yang paling standar, emosi dikeluarkan dengan marah-marah dan pasang muka belipet 7 lapis. Ada juga yang sekedar nangis berkaca-kaca, atau kejer dan histeris. Meraung-raung dan menjejak-jejakkan kaki seperti anak kecil. Kalau tidak tahan, bisa banting atau lempar barang-barang sekitar. Di sinetron (atau film drama) kita melihat seseorang menarik-narik rambutnya sendiri atau terduduk menangis di kamar mandi. Mungkin itu juga bisa terjadi dalam kehidupan nyata dari sebagian di antara kita. Pembunuhan, pemerkosaan dan kejadian tidak manusiawi lainnya juga terjadi karena kebodohan kita mengendalikan emosi.

Hal yang menarik jika emosi itu menghasilkan karya positif. Coba kita liat para pekerja seni. Karya seni yang kita nikmati sekarang ini, bisa jadi merupakan luapan emosi para penciptanya. Mereka meluapkan emosi dengan merangkai kata menjadi sebuah pusi, menyenandungkan melodi menjadi lagu, atau menumpahkan cat menjadi sebuah lukisan. Bahkan, tidak sedikit yang kemudian karya-karya tersebut dihargai dengan materi (uang maksudnya). Kemudian menjadi pemasukan untuk menopang kebutuhan hidup. Berawal dari emosi tapi berujung uang. Dan kebahagiaan. Seperti katanya, ada uang abang sayang😉 Ketika ada uang, kebahagiaan bermunculan.

Itu yang positif nya.

Yang negatifnya, emosi malah bisa membuat kita kehilangan uang. Juga kebahagiaan. Tak ada uang abang melayang, menyambung pepatah di atas. Lihat saja, hanya karena seorang kepala staff memukul bawahannya. Ia dipecat dan mendadak kehilangan pekerjaan(dan uang pastinya). Ada lagi kejadian seorang pembantu rumah tangga yang selalu dimarahi majikannya. Entah dia salah atau tidak, kesalahannya besar atau tidak. Dimarahi, setiap saat. Tidak tahan, pembantu rumah tangga tersebut kemudian kabur dengan membawa beberapa perhiasan berharga milik majikannya. Ketika ditanya, itu juga karena dia emosi sama majikannya. Majikan kehilangan harta berharganya (yang tentu bernilai sejumlah uang yang tidak sedikit), si pembantu dapet harta gratisan. Entah bagian mana yang positif, luapan emosi kedua nya menurutku, sama-sama negatif.

Seharusnya, semakin kita dewasa, semakin terlatih pula kita mengendalikan emosi. Pada kenyataannya, sama sekali tidak. Malah banyak sekali orang-orang yang sudah berumur semakin payah mengendalikan emosinya. Umur tidak berbanding lurus dengan kepandaiannya mengendalikan emosi. Begitu pula dengan pengalaman hidup. Sebagian dari mereka bilang, “gue ni lebih tua, cuy, pengalaman hidup gw lebih banyak” aku hanya diam dan menanggapi (dalam hati) “terus? kenapah.”

Hidup lebih lama, pengalaman lebih banyak, bahkan pengalaman lebih banyak dalam menghadapi masalah, tidak lantas membuat kita menjadi lebih cerdas mengendalikan emosi. Tapi apakah dalam setiap pengalaman itu kita belajar dan mempelajari?

Untuk yang tua yang punya muka belipet 7 lapis, dan mondar-mondir tanpa tedeng aling-aling tiap pagi, mungkin kita belum terlambat untuk belajar mengendalikan emosi.

Posted in Oh

4 thoughts on “EMOSI !!!

  1. jihad terbaik bukan jihad fisik. Tapi jihad melawan teror nafsu dari dalam diri sendiri.

    jiwa pemenang nya akan berbahagia, yang kalah akan terbakar dalam kesengsaraan, di dunia maupun di alam sesudahnya.

    demikian kata literatur agama kita. penafsirannya tentu dikembalikan ke masing-masing pembacanya.

  2. Share aja, kbanyakan orang yang sedang emosi mengatakan : “aku berhak marah, aku juga manusia”. Setelah itu justru semakin meluap emosi tersebut.

    jadi, buat mengontrol emosi kita bisa coba katakan pada diri sendiri : “aku ga berhak marah, aku hanyalah hamba tuhanku, dan aku bukanlah manusia biasa”.
    Anggaplah mengontrol emosi itu sesuatu yang hebat. Yang tidak bisa dilakukan orang lain.🙂

    cuman pengen share aja yang kulakuin tiap lagi emosi lhoh ini.
    maap ya kalo agk menggurui boz. Apalagi q cuman anak SMA. Hehhe.😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s