LDR – No, thanks

LDR – No, thanks

Begitu kira-kira singkatnya update-an twitterku pagi ini.

LDR (Long Distance Relationship), hubungan spesial dengan orang tapi jarak jauh, bisa beda kota atau beda negara, yang pasti jarak nya jauh. Curhat dikit, selama masa remaja (sekarang masih terhitung remaja si) ku, beberapa kali aku ngalamin yang namanya LDR-an. Tidak selalu, hanya beberapa kali.

Dengan berbagai teori yang mereka bilang, paling penting komunikasi dan saling percaya, bagiku tetap, no thanks. Dengan teknologi yang canggih saat ini, LDR tidak lagi menghambat keharmonisan, kehangatan dan kemesraan suatu hubungan. Fasilitas chatting, webcam, blackberry, membuat komunikasi semakin mudah. Aku? Tetap, no thanks.

Siapa juga yang mau LDR, beberapa yang menjalaninya bilang begitu. Kita terpaksa menjalaninya karena tuntutan pekerjaan atau pendidikan. Ini risiko, katanya. Untuk bertahan, kita perlu menjaga kepercayaan satu sama lain. Aku? mmhh, rasanya masih ingin bilang no, thanks.

Sejujurnya, aku bukan orang yang sangat prinsip soal LDR. Aku masih menjalani jika ternyata aku jatuh cinta dengan orang yang kebetulan tempat kerjanya atau tempat tinggal nya jauh dengan ku. Biasa, cinta kan kadang bikin buta. LDR masih bisa ditoleransi. Aku kemudian akan menjalani hubungan itu sesuai dengan yang aku mampu. Menjalani teori-teori yang orang-orang bilang. Yang sudah-sudah kujalani jarang yang berhasil. Buktinya, aku sudah tidak bersama mereka lagi saat ini. Hehe. Lalu, aku menyimpulkan bahwa LDR bukan bakatku.😉

Well, aku akan bicara lebih serius soal LDR. LDR dalam pernikahan. Bagaimana jika menikah dan kemudian tinggal terpisah. Mungkin banyak yang saat ini menjalani hubungan pernikahan seperti itu. Biasanya karena tuntutan pekerjaan. Aku tidak mengatakan hubungan pernikahan dengan kondisi LDR tidak akan berhasil. Yang berhasil, feel free to share. Cuma banyak sekali kutemukan yang gagal.

Sekilas kudengar dalam suatu acara TV, Mamah Dedeh mengatakan ‘Sebaik-baiknya rumah tangga adalah yang tinggal satu atap’ yaa, kalo dipikir-pikir masuk akal. LDR memang lebih banyak risiko nya, walaupun yang ga LDR tidak sedikit yang gagal. Nah lo. LDR dan ga LDR sama-sama berisiko. Tapi, bukannya lebih menyenangkan kalo ga LDR?

Menurut pengamatan ku, hubungan yang dijalani jarak jauh lebih banyak risiko nya. Belum godaan yang bisa datang kapan saja dan dimana saja. Kalo pulang ke rumah toh, sendiri-sendiri juga (karena LDR) jadi godaan itu tentu makin mudah masuk. Walaupun tidak menutup kemungkinan untuk terjadi di keluarga yang tinggal satu atap, tapi setidaknya, dengan pulang ke rumah dan menemui suami/istrinya, bisa ingat lagi komitmen, kehangatan dan kasih sayang yang ada di rumah.

LDR juga membuat kita mandiri. Mandiri bagus sebenarnya, tapi menjadi buruk jika porsinya berlebihan. Pada dasarnya, pria dan wanita saling membutuhkan. Ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh wanita sehingga butuh pria untuk melakukannya. Begitu sebaliknya. Apa jadinya, jika masing-masing sudah merasa superior dan tidak lagi membutuhkan pasangan. Mandiri yang terlalu berlebihan, ga baik pada akhirnya.

Kesimpulannya, aku masih tetap say no, thanks, untuk LDR-an. Terutama setelah menikah. Plis, jangan minta pengertian ku soal ini. Plis. Plis. Plis. Mau sampai kapan? Lagi pula, aku sudah memilih untuk menjadi orang yang ga tangguh untuk LDR-an.

Hayyooo, kita pikir-pikir lagi. Bukan kah kita punya mimpi-mimpi indah yang masi bisa kita wujudkan??

h u g s

6 thoughts on “LDR – No, thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s