Selingkuh atau Diselingkuhi

Sepertinya kita harus mulai terbiasa untuk buka mata, kalo problematika selingkuh dalam suatu hubungan (entah itu di pernikahan atau sekedar pacaran) sudah mulai menjadi ‘lazim’ di kalangan masyarakat sekarang ini. Secara pribadi, itu jelas masih menyeramkan buat saya, mungkin juga buat sebagian di antara kita. Ada yang benar-benar sudah mulai terbiasa?

Secara polos, saya mengatakan, kenapa orang-orang (laki-laki dan perempuan) selingkuh dari pasangannya? Lalu alasan yang masuk akal buat saya adalah karena ada yang kurang dari pasangannya, lalu hal yang kurang itu ada di orang lain. Manusiawi sekali, karena naluri manusia emang ga pernah puas. Tapi itu menyakitkan. Mereka lupa kalo mereka cuma manusia, jauh dari sempurna. Apakah mereka pikir mereka terlalu ‘oke’ dibanding pasangannya? Dalam kejadian ini basa-basi komitmen sudah dilupakan. Kalimat ‘menerima pasangan apa adanya’ hanya akan ditanggapi dengan kata ‘ah’ atau ‘cuh!’

‘Terbiasa’ juga salah satu alasan yang masuk akal. Coba kita bandingkan, berapa jam dalam sehari orang bertemu pasangannya, dan berapa jam orang bertemu rekan bisnis nya. Bahkan satu hari mungkin banget untuk tidak bertemu pasangan khususnya untuk yang masih ‘pacaran’ atau hubungan suami istri jarak jauh. Bahkan bisa terjadi bagi mereka yang menjalani hubungan rumah tangga normal dan satu atap. Standarnya, kendala jarak dan waktu. Bersama rekan bisnis, bisa seharian tentunya. Lalu ke’terbiasa’an itu membuat orang lebih mudah selingkuh. Ke’terbiasa’an untuk spend time bersama.

Obrol-obrol dengan seorang teman, ternyata hal yang mengejutkan adalah selingkuh bisa dilakukan karena sudah menjadi kebiasaan, konteksnya beda dengan ‘terbiasa’ yang saya ceritakan di atas. And again, sekedar mengkonfirmasi kepada teman tersebut tentang teori kebiasaan itu. Jawabannya tetaplah yaa, tetap aja kebiasaan. Kebiasaan untuk selingkuh. Ga pernah cukup satu. Lalu aku putar lagi, ini kembali ke kebiasaan manusia yang kita sebut dengan ‘ga pernah puas‘.

Jenuh itu juga hal yang amat wajar dari keseharian kita. Following status twitter orang setiap hari nya, sering kali kita melihat orang-orang jenuh dengan kehidupannya. Entah itu di dunia kerjaan, percintaan atau dunia main-mainnya. Dan selingkuh membuat hari jadi lebih berwarna. Pusing kerjaan, pulang ke rumah jenuh dengan orang rumah (mungkin istri). Mending jalan sama selingkuhan baru. Hiks. Agak sakit ngedengernya, ga si? Tapi kenyataannya itu sudah mulai lazim terjadi. Sebagian mengatakan saya terlalu mellow untuk sakit hati jika mendengar cerita seperti itu. Karena hidup menuntut kita untuk lebih tough dalam me manajemen hati.

Pilihannya adalah, selingkuh atau diselingkuhi? Entah demi apa, saya tidak mau memilih. Plis jangan kasih pilihan itu ke saya. Terlalu mellow? Ya sutralah, saya hanya ingin mereka atau kamu berhenti berselingkuh. Berhenti menyelingkuhi dan menjadi selingkuhan.

Bismillahirrohmannirrohiimm 🙂

Advertisements
Posted in Oh

Imim to Halmahera

Saking jarang foto bedua, foto lama aja deh, yg diupload :)Aku dilahirkan dengan memiliki saudara kembar. Memang, tidak sekembar itu, tapi pada kenyataannya, memang kembar. Di beberapa hobi, minat, dan sikap, tidak semuanya sama. Tapi juga bukan apa yang orang – orang bilang, kalau kembar biasa nya punya ikatan batin lebih kuat atau naluri indra ke enam (???) satu sama lain. Ah, kayanya enggak juga. Mungkin tidak lebih dari apa yang teman-teman (yang tidak kembar) rasakan terhadap kakak atau adik sendiri.

Beberapa menanyakan pada ku (juga kembaranku, dan kembar-kembar lainnya), gimana rasanya menjadi anak kembar. Lalu aku balik bertanya. “Well, gimana rasanya menjadi tidak kembar?” Hehe. Kita sama-sama tidak pernah merasakannya, bukan. Kamu menjadi kembar, dan aku menjadi tidak kembar.

Kita juga bukan saudara kembar yang selalu kemana-kemana bareng. Sejak TK pun kita tidak pernah sekelas. SMA sampai kuliah pun udah beda sekolah.

Tapi hari ini (1 Juni 2010), kembaran ku (entah kenapa agak males menyebut dia kembaran ya?) itu berangkat ke Halmahera, untuk sebuah pengabdian kepada Negara, PTT untuk dokter gigi maksudku. Selama enam bulan. Kalau diingat-ingat mungkin ini adalah waktu paling jauh dan paling lama kita pisah. Lebay ya? Hehehe. Dulu pernah, pas kuliah waktu aku tinggal KKP selama kurang dari 2 bulan. Tapi di hari ke 10 KKP ku, dia mengunjungiku.  Dan itu cukup, lagipula jaraknya ga jauh, Jakarta Tegal. Hahaha.

Well, sebut saja namanya Dilla. Atau kami di rumah memanggil dia Imim, adik-adik cowo ku lebih senang memanggil dia Mimbon. Mungkin di antara teman-teman telah, sedang atau bahkan belum menemukan soulmate masing-masing. Itu yang sebagian orang sebut dengan pasangan hidup. Sesekali, ketika aku cape menemukan pasangan hidup ku yang sebenarnya (baca:hopeless), lalu aku merasa, itu mungkin karena Tuhan sudah menyediakan soulmate untukku sejak lahir. Curcol dikit.

Halmahera selama enam bulan, itu jarak yang paling jauh dan akan menjadi paling lama. Yang lebih parah lagi, sinyal bakal susah banget di sana. Boro-boro blackberry, sinyal GSM aja, udah sukur banget. Begitu isunya. Padahal lihat lah sekarang, seberapa kuat blackberry telah membuat kita ketergantungan. Selama ini, aku memang gak ketemu dia setiap hari. Tapi, BBM dan komunikasi lain jalan terus. Bagi ku, cuma sama dia aku bisa sharing apa aja. Tanpa kawatir dianggap aneh, freak atau abnormal 😉 Memang, sejauh ini, dia adalah tempat uring-uringan paling dapat diandalkan sepanjang hidupku. Hehe.

Lalu bagaimana dengan enam bulan ke depan, baiklah, akui saja aku memang wanita super mellow. Tapi, toh keberangkatan dia adalah untuk kebaikan dia juga. Sekalian berharap, aku punya kesempatan untuk liburan ke sana. Sekarang rasanya, mmh, ya, bagaimana jika teman-teman terpisah ‘jauh’ dan (cukup) lama dengan soulmate sendiri. Ya, begitulah rasanya.

Oke, baik-baik ya, mim. Good luck there. 6 bulan ga lama, InsyAllah. See you, soon 🙂