Monday

Satu dia antara seribu kah yang semangat menyambut Senin? Ya itu manusiawi sekali. Abis istirahat atau liburan saat weekend, kembali beraktivitas mungkin untuk sebagian kita tidak begitu mudah. Aku pun beberapa kali merasakan demikian. Bukan secara ekstrim pembenci hari Senin, tapi juga bukan yang begitu sumringah menyambut Senin.

Tergantung kondisinya. hehe. Tapi kita simpulkan saja, sebagian besar, tidak senang menyambut Senin. Padahal mood satu minggu ke depan biasanya dipengaruhi hari Senin. kalo Senin males-malesan, Selasa, Rabu, dan seterusnya rasanya makin ga mood. Begitu juga dengan pagi. Kalo pagi-pagi udah ga enak, seharian bisa rusak. Mungkin ini yang kita sebut dengan pengaruh sebuah awal.

Tidak ada alasan penting yang bisa merusak Senin ku kali ini. Weekend ku berjalan dengan baik-baik saja, meskipun tidak bertemu pacar 😉 Hanya tugas-tugas kuliah bertumpuk yang membuat kening ku sedikit berkerut, karena sampai sekarang aku belum membuat kemajuan yang berarti padahal deadline sudah di depan mata. Tapi sudahlah, itu tidak berperan penting untuk merusak mood Senin pagi ku.

Pekerjaan hari ini berjalan dengan lancar, menurut pemahamanku. Ya anggap saja lancar 😉 Dan malam ini ditutup dengan menyaksikan Kahitna secara Unplugged di Hard Rock Cafe Jakarta dalam event I Like Monday. Quite fun! Meskipun ramai dan agak ga teratur, tapi keren lah. Grup Musik yang udah eksis sejak aku SD itu, tetap dengan nuansa dinamis dan romantis. Meski sekarang, well, sorry, terkesan agak kewanitaan.

Lagu-lagu yang mayoritas diciptakan oleh Yovie Widyanto itu, sangat menghibur, sesekali bikin mellow juga. hehe. Great Monday. Thank’s for bring me here 🙂 Sleep well everyone, good nite.

*) anyway, sorry ga banyak bahkan bisa dibilang ga ada gambar yang bisa kupublish, cuma curi-curi foto Hedi Yunus dan Mario dari blocking-an tempat aku berdiri. Itu pun penerangan seadanya, dari camera mobile 😉

Advertisements

(Tidak Ada) yang Terlalu Sulit

Tidak ada yang terlalu sulit. Begitulah yang saya yakini dalam menjalani beberapa perkara dalam keseharian. Semua pasti ada jalan keluarnya. Pikirku dengan yakin. Well, honestly, tidak begitu yakin. Tidak baik sebenarnya nge judge diri tidak cemerlang. Tapi begitulah yang sedang terjadi sekarang.

Saat ini saya sedang dalam perjalanan untuk memperoleh gelar magister komunikasi. Dan perjalanan ini baru mulai di semester pertama. Untuk menyelesaikan semester ini, saya harus menyelesaikan 3 assignment, dan deadline nya sudah amat dekat. Saking dekatnya, saya gak berani untuk menyebutkan kapan. Intinya, saya sudah diburu deadline. Dan saya harus berperang dengan rasa malas, dan waktu yang sedikitpun tidak mau diajak kompromi untuk menunggu. Inspirasi pun bahkan belum menghampiri saya. Dan saya merasa, inspirasi adalah makhluk yang paling kejam malam ini.

Berkali-kali saya memandangi layar laptop ini. Hanya berhasil menulis beberapa kalimat saja. Dan waktu pun terasa semakin cepat berlalu. Tidak bisa kah dia menunggu sebentaaarrr saja. Karena saya sedang menunggu inspirasi itu datang.

Layar laptop ini masi blank. Seolah bersekongkol dengan inspirasi yang sombong nya bukan main. Tidak mau mampir sebentar saja untuk berbagi. Berbagai posisi, duduk dan tiduran, mondar mandir keluar kamar, liat-liat update an status twitter, sudah. Tapi inspirasi itu belum datang juga, mungkin dia terlalu sibuk.

Terlalu banyak yang harus diselesaikan, tapi  tidak menyelesaikan apa-apa. Bingung harus mulai darimana.

Bolehkah saya tidur saja? Bermimpi ketika bangun, 2011 sudah tiba dengan semangat yang lebih bersahabat.

Broadcast Messages, Kesempatan, Pilihan

Bertemu adalah kesempatan

Mencintai adalah pilihan

Ketika bertemu seseorang yang membuat kita tertarik, itu bukan pilihan. Itu kesempatan.

Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, bahkan dengan segala kekurangannya. Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.

Ketika kita memilih bersama seseorang walau apapun yang terjadi, justru di saat kita menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih menarik, lebih pandai, dan lebih kaya daripada pasangan kita, dan tetap mencintainya. Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.

Perasaan cinta, simpatik, tertarik, dating sebagai kesempatan dalam hidup kita.

Tetapi cinta yang dewasa, mencintai dengan komitmen di hadapan Tuhan dan manusia adalah pilihan.

Mungkin adalah kesempatan mempertemukan pasangan jiwa dengan kita.

Tetapi mencintai dan tetap bersama pasngan jiwa kita adalah pilihan yang harus kita pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan dan manusia.

Kita berada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang Sempurna untuk dicintai, tetapi untuk BELAJAR mencintai orang yang belum sempurna, dengan cara yang sempurna.

Mari BELAJAR mencintai dan menyayangi pasangan kita yang belum sempurna dengan cara yang sempurna.

Biasanya, aku selalu ngeliwatin Broadcast Message (BM) yang masuk, bukannya sombong, tapi kadang BM BM yang masuk terasa cuma info iseng yang, mmm, maaf, cukup menganggu. Terutama kalo diterima saat jam-jam hectic. Tadinya, ga mau juga jadi orang yang ‘blagu’ merasa terganggu. Toh memang BM itu bisa aja kita cuekin. Seperti yang biasa aku lakukan, BM BM itu hanya numpang parkir di Blackberry ku.

Sesekali, menyadari, BM itu ada pentingnya. Pernah dapat “Broadcast pesan ini lalu Anda akan mendapatkan bla bla”? BM BM itulah yang rasanya ganggu. Petuah-petuah kehidupan pun, mestinya ga di publish di BBM. Akan lebih baik jika di publish di media lain, mungkin semcam blog atau twitter.

Satu hari, di hari yang rasanya random, aku bersihin BBM ku. Satu per satu yang ga penting, aku ‘end chat’. Lalu aku menemukan rangkaian kalimat di atas. Dan semakin random, rasanya. Biasanya, BM BM lain boro2 ku BM balik, selalu dicuekin. Sesekali BM penting aku copy, kemudian paste kepada orang yang menurut ku memang pantas ditujukan. Termasuk rangkaian kalimat itu. Aku paste ke seseorang, dan dia.

Di postingan sebelumnya, aku pernah bahas soal perselingkuhan. Dan teori-teori yang menyebabkan perselingkuhan itu ada, kemudian terasa mulai gak berlaku, ketika aku menemukan kejadian ini.

Begini.

Dia laki-laki, yang menurutku, baik dan pintar. Punya pacar cantik, tidak LDR, baik, dan pasti menyenangkan. Aku yakin, hubungan mereka hubungan yang nyaman. Dan pantas dipertahankan. Secara kasat mata, dia terlibat dengan seseorang lain, yang tidak LEBIH dalam banyak hal dibanding pacarnya. Lalu penemuan ku ini membuat analisa ku tentang perselingkuhan menjadi random. Kenapa harus selingkuh? Untuk senang-senangkah? Aku percaya dia baik. Pernyataan ‘brengs*k’ yang kuutarakan padanya, benar-benar tidak sungguh-sungguh.

Jenuh kah, dia mengaku bukan itu jawabannya. Kebiasaan? Lalu dia mengaku ini belum pernah terjadi selama hubungannya dengan pacarnya yang bisa dibilang CUKUP itu. Mungkin memang sulit mengakui, karena dia pun masi bingung kenapa bisa terjadi. Dia hanya sulit meninggalkan seseorang yang membuatnya tertarik itu, well, selingkuhannya itu padahal saat ini hubungannya dengan pacarnya sedang baik-baik saja. Dan aku hanya bisa menyimpulkan, dia perlu waktu yang tidak akan lama untuk meninggalkan selingkuhannya itu. Then, kenapa ya? Again, alasan basi, seperti “mungkin ini cobaan dalam hubungan yang berusia tahunan” menjadi kesimpulanku. Walaupun aku sendiri tidak yakin dengan alasan basi itu.

Apakah dia punya potensi menjadi brengs*k? ya, bukan potensi lagi. He is! Laki-laki macam apa itu? Mmmh, hampir semua laki-laki begitu bukan, yang enggak, ayo ngacung! Wkwkwkk. 😀

Malam itu, matanya berkaca. Ketika dia harus bersikap. Kembali ke ‘jalan yang benar’. Dan perasaan berat itu sudah pasti. Percaya kah kamu anak muda, kalo itu hal mudah. Dia tidak punya alasan, untuk meneruskan hubungannya yang salah itu. Selingkuhannya, bahkan bukan orang yang lebih menarik dari apa yang dia punya sekarang. Apa susahnya? Hayolah, itu amat mudah.

Ketika merasa tidak tega, orang brengs*k (selingkuhannya juga brengs*k kan?) tidak mungkin menangis, dia akan menyelesaikan masalahnya, lalu melanjutkan bahagia nya. Orang yang brengs*k ga akan larut dalam kesedihannya. Mungkin dia akan kehilangan, tapi itu bukan hal penting untuk dikawatirkan. Bukan kah lebih mengkawatirkan apa yang pacarnya rasakan sekarang.  Itu benar-benar menyakitkan. Sakitnya sampe ke kepala. (curcol, hehe)

Detik ini pun dia bisa pergi, menyayangi apa yang dia punya dengan seutuhnya. Semuanya kembali baik-baik saja, bahagia.

Baik-baiklah, jadi saling mengagumi itu sudah lebih dari cukup. Kembali ke wanita beruntung itu 🙂

Tentang perasaan yang sama. Bahasan Sabtu, 10 Juli 2010, dini hari.

Kuning di Piala Dunia 2010

Semuanya, pasti bukan cuma aku yang melihat keajaiban sebuah bola yang ditendang-tendang mampu merubah dunia. Lebay, enggak juga. Pada kenyataannya begitu. Yang perang bisa jadi berhenti gara-gara perhelatan akbar ini. Mendekatkan yang biasanya ketemu garing. Ada yang dibikin kaya atau bisa dibikin bangkrut seketika.

Baiklah, akui saja bahwa aku bukan salah satu penggilanya. Tapi bukan juga salah satu yang apatis terhadapnya. Aku pengamat, yang melihat, betapa satu buah bola kecil yang ditendang-tendang itu punya pengaruh hebat di seluruh dunia. Berbagai lokasi dan produk yang kita lihat di pusat perbelanjaan ikut menyemarakkan piala dunia.  Soundtrack piala dunia yang berlirik waka waka ee, itu pun mulai bersenandung di kepala sepanjang hari. Aku pun, yang tadinya ga ngerti apa-apa sempat sesekali rela tetap terbangun tengah malam untuk nonton piala dunia itu, selain karena memang akhir-akhir ini insomnia sedang betah di tubuhku. Yang menarik, karena maskot piala dunia dengan dominasi warna kuning nya yang lucu. Disebut Zakumi. May i have one?

Waktu ditanya, dukung siapa? Aku mendadak bingung. Aku bahkan ga tau siapa saja tim piala dunia yang punya pemain-pemain ganteng. Begitu bukan, biasanya alasan teman-teman perempuan ku kenapa mereka mendukung sebuah tim, sesimpel karena pemainnya yang ganteng.

Lalu pilihan ku jatuh kepada Brazil, bukan karena pemainnya yang ganteng, tapi hanya karena seragamnya yang berwarna kuning. Lagi-lagi alasan kuning ga penting itu.

Beruntungnya, Kekalahan Brazil melawan Belanda di seperdelapan final lalu, tidak membuat ku bangkrut seketika.  Memang sedikit bete juga, kok jagoanku bisa kalah, dan karena ga jadi dapet iPad (akibat diiming-imingi iPad kalo Brazil menang). Tapi kesedihannya ga berlebihan kok. Ya, lagipula aku tidak mengerti strategi yang sebaiknya kudukung. Dukungan hanya sebatas seragam. Parahnya, di seperdelapan final kemaren, Tim Brazil ga pake seragam kuning, malah biru. Ya sutralah, yang jelas Tim Brazil sudah pulang kampung.

Piala dunia akan segera berakhir, akan dukung siapa untuk di final nanti? Aku belum tau jawabannya. Adalagi tim yang berseragam kuning? Yang punya rekomendasi, dengan senang hati kutampung. Apalagi kalau ada yang mau meng iming imingi iPad. Wkkwkwkwk, apa pentingnya ya? -.- Bangun untuk nonton Final nanti, well, mungkin bukan ide buruk. 🙂

Menabung

Makin tua, makin adaaa aja ajakan untuk berinvestasi dengan macam cara. Beberapa telp berdatangan untuk menawarkan asuransi dengan premi ringan, jaminan hari tua, atau keuntungan berinvestasi lainnya, apa pun itu istilahnya. Saya, sebagai orang yang gampang an, selalu dengan niat baik mendengarkan berbagai promo yang ditawarkan. Sekalian itung-itung merhatiin cara orang berkomunikasi or promosi, yang menarik atau yang ga menarik. Tawaran berinvestasi tersebut masing-masing dengan nilai plus yang hampir sama. Kalau pun beda lalu ada kurang di sisi lainnya. Layaknya memilih pasangan hidup juga sebenarnya (kalau ada pilihan, hehe). Menarik sebenarnya tawaran-tawaran itu, tapi, kalau diikutin, akhirnya jumlah duit terbatas yang diterima setiap bulannya itu, abis buat investasi yang belum tau akan dipakai kapan (dan untuk apa).

Saya, jauh dari apa yang orang-orang bilang irit dan rajin menabung. Seringkali saya mengeluarkan uang (yang jumlahnya tidak seberapa itu) dengan tanpa pikir panjang untuk kebutuhan sehari-hari yang diperlu-perlu in. Menabung, sekali-kali, kalo sempet, kalo inget, dan yang paling penting kalo ada sisa.

Pikir punya pikir, untuk apa kita berinvestasi. belum tentu hidup kita masih ada besok. Wuih, serem amat yaa. hehe. Atau pikiran begini justru berbahaya kalau ternyata hidup kita masih sangat panjang, dan ga abis-abis. Sebagian memilih untuk menunda investasi, sebagian yang lain malah menjadikan investasi sebagai prioritas.

Balik lagi ke promosi investasi yang nawarin keuntungan ini itu ini itu yang banyak itu, lalu saya pun jadi bingung. Investasi macam apa yang harus saya pilih. Apalagi mengingat jumlah yang mau diinvestasiin, kadang ada (alhamdulillah) kadang ga ada. hehe. Mungkin kebingungan saya ini menjadi sasaran empuk bagi beberapa agen asuransi atau media investasi lainnya. Or malah menjadi sasaran yang ga menarik ya? Karena ga punya sisa banyak untuk diinvestasiin.

Karena bawa-bawa hati, kadang berat juga menolak tawaran-tawaran yang datang. Selain membantu kita untuk jaminan masa depan yang lebih baik, mereka juga dapat income (sejenis komisi) dari situ. Tapi, emang akhirnya harus tega juga sii, ketika ga ada spare lagi yang bisa diinvestasikan. Yang parah, kalo ada lembaga-lembaga investasi yang tujuannya nipu. Promosi nya udah oke banget padahal, eh, pas minta jaminan, malah mereka angkat tangan dengan alibi seribu cara. *sigh* Dan untuk orang yang agak careless seperti saya, ini bisa jadi kelamahan, dan saya akan sangat mudah terjebak 😦

Well, okay, sejauh ini, saya masih sangat tertarik dengan menabung cara konvensional. CELENGAN. Rasanya semangaaattt banget masukin duit ke celengan dari receh yang berserakan di tas atau di karpet kamar. Celengan yang umurnya baru dua tahun itu, menurut pengamatan saya, masi ga penuh-penuh sampe sekarang 😦 tapi, udah agak sesak sii. Bahkan saya sudah menyiapkan celengan cadangan yang saya beli dari anak-anak kecil yang jual celengan dari prakarya sendiri. Harganya 10 ribu, waktu itu. Beli aja deh yang baru, ga pake tawar-tawar lagi (kayanya emang ga mau ditawar juga sii). Pikir-pikir, satu aja belum penuh, padahal.

Bdw, pusing-pusing berinvestasi sana sini, ya sutralah nabung di celengan masih jadi prioritas yang menarik buat saya. Mudah-mudahan pas buka, isinya ga overexpected. Ga mau terlalu lebay sebenarnya, tapi celengan itu mmhh, errr, jadi modal saya buat nikah. Buat calon suami saya nantinya, puhliss ooh puhliss, jangan kecewa karena saya hanya bermodalkan gentong kuning kesayangan itu. 😀

Posted in Oh