Kurang dari 24 jam di Bali

Semua juga tau, kalo Bali sangat kaya dengan keindahan alamnya. Setiap sudut pulaunya, punya keunikannya masing-masing. Berapa hari yang kita perlu untuk menelusuri barisan keindahannya? Yang pasti sehari, itu kurang.

Bergaya ala orang sibuk, aku memutuskan untuk berlibur ke Bali dalam waktu kurang dari 24 jam. Rasanya sudah lama sekali tidak mencium aroma penerbangan, sejak terakhir kali jalan-jalan bersama tim Perjalanan 3 Wanita. Udah lama banget ga liburan, karena load kewajiban mencari macem-macem (jati diri, mungkin) lagi tinggi. Kalo aroma bandara si, sering, cuma buat nganter jemput keluarga dan pacar di Bandara. hehe. Mulai norak, deh ini.

Cerita ku kali ini benar-benar bukan liburan yang oke buat ditiru. Bukan tips liburan murah, atau tips liburan puas dalam sehari. Liburan dibuat tanpa perencanaan. Pesawat di booking hanya H minus sekian keberangkatan. Alhasil, dapat harga tiket PP Jakarta Denpasar yang agak mahal (menurutku mahal banget bgt sebenarnya).

Jumat malam itu, Jakarta diguyur hujan deras. Setelah sebelumnya, Bandara Soekarno Hatta rusuh karena sempet mati lampu. Jalanan menuju Bandara macet bukan main. Suasana Bandara padat, pengap, dan becek. Penerbangan pun delay. Flight ku yang seharusnya berangkat jam 20.40, baru berangkat pukul 21.30. Lumayan, karena malam itu badan sudah gerah dan mood hampir berantakan karena suasana Bandara yang semrawut bukan main. Tapi, tak apalah, aku beruntung karena partner seperjalanan ku dapat menghadapi ku dengan baik. Mood ku yang payah ini dapat diatasinya.

Di pesawat ekonomi yang tempat duduknya sempit plus suhu udara yang anget, dengan harga yang mahal itu, kita berhasil menghabiskan waktu dengan tidur. Saking capenya. Harapannya, sampe Bali kita tidak perlu tidur, untuk efektif waktu dan biaya, maksutnya. Se excited apa pun dengan Bali, ternyata ga berbanding lurus dengan kebutuhan tubuh. Tubuh kita pun tetap meminta untuk tidur.

Tidak mudah mencari hotel di Bali yang sesuai kantong di akhir pekan seperti ini. Semua hotel serentak mengatakan full booked. Alhasil, lagi-lagi, kita dapat hotel kemahalan (menurut kantongku). Keliling liling, setelah akhirnya memutuskan untuk ngemil ayam goreng di KFC, kemudian pada pukul setengah enam waktu sana kita kembali ke hotel, dan kontan, langsung tepar.

Aku bangun lebih pagi dari yang lainnya. Maklum ga mau rugi. Tapi, yaa, bangun pagi ternyata ga membuatku beranjak dari kamar kemahalan itu. Cukup menikmati langit Bali, pagi itu di teras kamar. Sambil menunggu yang lain bangun.

Syukurlah, jam setengah 10 waktu sana, kita sudah siap untuk breakfast. Oke, cukup roti plus butternya, karena menu disediakan untuk penggemar daging babi. Kebetulan, aku sedang tidak mau makan babi pagi itu (selain memang diharamkan di agama).

Selesai sarapan, kita pun bingung, mau kemana dalam waktu sesingkat itu. Kalau ke Tj Benoa untuk watersport, pasti waktunya bakal abis seharian. Akhirnya, kita duduk-duduk dulu, di pantai di depan Hotel. Pantai apa ya, namanya? Mungkin bukan Kuta, tapi pasti masi segaris dengan Pantai Kuta. karena hotel tempat kita menginap berada di perbatasan Legian dan Seminyak.

Duduk-duduk, udah. Sekarang saatnya jalan-jalan menyisiri pasar tradisional Seminyak. Berkali-kali ke Bali, kerajinan tangan yang dibeli, jaraaangggg dipake lagi setelah kembali ke Jakarta. Akhirnya cuma menuh2in kamar doang. Lalu kedatangan singkat ku ke Bali kali ini, membuat ku lebih bijaksana untuk menghabiskan uang. Tak banyak pernak pernik yang kubeli. Walaupun tetap ada. 😉

Siangnya, kita lunch di Flapjacks. Bukan lunch juga kali, ya. Late breakfast tepatnya. Menunya sejenis pancakes dan kawan-kawan. Kalo di Jakarta seperti Pancious atau Nanny’s Pavilion. Rasanyaaa, well, honestly, lebih enak. Buat yang udah nyobain, setuju ga? Need second opinion 😀

Sambil menunggu sore, mengikuti kebiasaan para turis lainnya, kita ‘nongkrong’ di Pantai Kuta. Berhubung, aku bukan bule yang betah menikmati sunbathing, aku memilih untuk menjadi ratu sesorean. Massage, temporary tattoo dan manicure – pedicure sambil menikmati pemandangan dan hawa pantai. Main air bukan pilihan ku sore itu. Karena males buat bersih-bersihnya mengingat ntar malem kita sudah harus kembali ke Jakarta. Teman-teman ku yang lain, sibuk dengan aktivitasnya masing-masing; surfing, hunting foto, ngambek, dan makan indomie. 😀

Menjelang sore, kita ngebut menuju Rockbar. Dengan niat baik untuk menikmati sunset di sana. Yang dapat, gelap. hehe, tapi tempat itu benar-benar keren. Sampe susah deskripsiin liwat kata-kata.

Well, walaupun kurang dari 24 jam, ke Bali pasti kurang kalo kita ga dinner romantis di Jimbaran.

Dari Rockbar, pas banget perut udah laper. Ikan bakar, kerang bakar, Cumi goreng tepung, udang bakar, dan cah kangkung, siap di santap malam itu, dihiasi ratusan lilin nyala di pinggir pantai malam yang gelap. Bali, masih cantik, sama ketika pertama kali aku ke sana.

Waktu mulai bergegas menunjuk pukul 21.00 wita. Kita semua mulai merasa berat untuk kembali ke Jakarta. Surga dunia itu, begitu berat kita tinggalkan. Rasanya pengen extend, sehariiii, aja. Atau dua hari ya? Seminggu. Ah, pengen ngelunjak rasanya.

Yah, akhirnya Bandara Ngurah Rai juga ujung dari liburan sehari ku di Bali. Lelah tersisa. Pesawat (masih saja) delay. Walaupun kurang dari 24 jam, liburan ini cukup banget buat refresh dari rutinitas sehari-hari. Setelah kemaren-kemaren begadang tiap malam buat mencapai target tepat waktu ngumpulin tugas kuliah yang sudah deadline.

Unforgettable vacation! Thank you for treat me like a one day princess. We’re also have a great time with a newly wed!

Advertisements