Sang Pencerah – Prinsip

Semalam, kami memilih date after work untuk nonton Sang Pencerah. Ow, really, saya tidak bermaksud menambahkan Kategori ‘resensi film’ dalam blog yang update secara ogah-ogahan ini.πŸ˜€

Tapi film ini, sejujurnya membuat saya ingin berkomentar sedikit (saja). Saya tidak akan bercerita tentang sejarah di sini. Walaupun, film ini jelas-jelas tentang sejarah KH Ahmad Dahlan berjuang membangun perkumpulan Muhammadiyah. Sejarah di film ini adalah masa lalu yang dapat dijadikan pelajaran untuk kehidupan saat ini. Pelajaran apa, ya? Well, nonton sendiri deh, mungkin pelajaran yang bisa diambil, akan berbeda di masing-masing kitaπŸ˜€

Film karya Hanung Bramantyo ini memang ga perlu diragukan kualitasnya baik dari segi gambar dan alur cerita nya. Casting Aktor dan Artisnya pun tidak dilakukan sembarang, terbukti dengan pemain-pemainnya yang memang memiliki karakter kuat untuk memerankan masing-masing tokoh dalam film ini.

Kehadiran Mario Irwinsyah, Giring Nidji, dan Dennis Adhiswara di film ini membuat saya (sebagai penonton) lebih serius memeloti film ini. Menyadari, Mario ganteng juga, ya. wkwkwkwk.

Berhubung, saya adalah penikmat film, bukan pengamat film, maka seperti yang saya bilang diawal, tidak banyak yang dapat saya komentari. Karena saya hanya menikmati, setelahnya seringkali saya lupa. Tapi kalimat “Kita boleh punya prinsip, asal jangan fanatik. Karena fanatik itu ciri orang bodoh” yang terlontar di film itu cukup berkesan. Selain, ketika aku update di twitter, banyak juga yang retweet. tanda setuju, bukan?πŸ˜‰

Idealnya, kita memang perlu punya prinsip dalam menjalani keseharian kita. Saya mengenal beberapa teman yang begitu mengagungkan prinsip (11 12 sama keras kepala kah?). Saya, bukannya tidak setuju. Jelas, saya menghargai, karena anggapan saya, mereka yang berprinsip jauh lebih baik daripada kita (atau mereka) yang plin plan, sana oke, situ juga oke.

Prinsip bisa menjadi apa saja. Mungkin, keyakinan (agama) bisa dijadikan prinsip paling dasar. Prinsip yang dimiliki setiap kita jelas berbeda. Saya menemukan, ada teman yang prinsip nya kudu banget punya Suami (atau istri) orang kaya (punya duit melimpah). Ada yang yakin banget bilang, ga akan balikan sama (mantan) pacar kalau udah putus. Ada yang keukeuh semeukeuh ga mau pacaran (mau nya langsung taaruf – an, PDKT cara islami). Bahkan ada yang musti punya pasangan dengan muka ganteng (keciaannn, yang kurang tampan, sini saya tampung, wkwkwk).

Di dunia kerja, ada yang punya prinsip ga mau digaji rendah (prinsip semua orang kali, ya? hehe). Mending ga kerja daripada gaji kecil, begitu katanya. Ada lagi yang ga mau pindah kerja, kalo gaji nya ga naik 50-100% dari gaji sebelumnya. Selain itu, ada yang ngotot, ga mau jadi pegawai.

Memiliki prinsip, adalah hak setiap kita tentunya. Siapa yang berhak mengatur prinsip apa yang seharunya kita pegang. Siapa yang bisa-bisanya ngelarang kita. Asal, benar, jangan fanatik. Atau ngotot.

Saya, heemm, sejujurnya punya prinsip, tapi gak ngotot, kok. Sangat tenggang rasa, toleransi, dan terima masukan. Kadang prinsip juga ga berani saya umbar, takut kemakan omongan. Pengecut yaaa? hehe.

Oke, mudah2an kita bisa hidup damai dengan prinsip kita masing-masing, tanpa merendahkan yang satu dan menerima kenyataan, bahwa prinsip bisa menjadi apaa saja. Tidak perlu memaki, merusak, atau saling menyakiti. Tarik nafas panjang saja, kalau tidak setuju.πŸ˜€

Posted in Oh

One thought on “Sang Pencerah – Prinsip

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s