Bangun

Pantas saja banyak orang yang lebih memilih tetap terlelap dalam mimpi. Karena ketika bangun, kenyataan sering kali menyakitkan. Mimpi buruk pun ternyata jauh lebih baik dari kenyataan.

Tapi, malam ini, lengkap sudah. Aku merasa penyakit insomnia ku semakin parah. Aku menyadari tidak hanya aku yang mengalami ini. Liat saja, timeline twitter ku malam ini. Masi ada beberapa, yang aktif. Mungkin mereka bernasib sama dengan ku. Atau sebagian lagi, memang hidup seperti kalong -malam bekerja, siang malah tidur- atau seperti zombie -gak tidur-tidur lebih dari 24 jam-

Bagaimana mungkin aku memilih untuk tetap bangun, padahal kenyataan jelas-jelas ‘sedang’ tak menyenangkan. Bukankah, jauh lebih baik untuk tidur kemudian bermimpi?

Well, malam ini aku sedang tidak meratapi nasib ku. Tidak juga sedang meratapi nasib orang lain. Hanya baru saja bertemu dengan kenyataan yang membuat sekujur tubuh bergetar lebay. Hehe. Dan kemudian, tubuhku memutuskan untuk tidak tidur. Menerima kenyataan yang tidak kita duga sebelumnya, tidak terlalu sulit, ternyata. Kita hanya perlu sedikit lebih pintar.

Malam ini, aku tetap bangun setelah menguak fakta. Aku hanya tetap bangun, tidak bertingkah. Tenang, dan mencoba tidur dengan segala cara.

Bolak balik, ganti posisi tidur. Tidak menemukan hasil. Bolak balik kamar mandi. Baca buku, idupin tv, matiin TV lagi. Aku masih juga bangun. Dan cara terakhir (I wish) adalah coba-coba dengan wordpress for blackberry baru ini. Ternyata, lumayan juga.

Menerima kenyataan membuat kita belajar untuk tidak egois. Membiarkan yang sudah seharusnya. Berat, tidak juga. Kenyataan untuk masing-masing kita sudah punya porsi nya. Sebagian merasa dirinya begitu benar. Yang lain merasa terdzalimi. Lalu, kata-kata seorang sahabat dengan nickname @anisabahar di twitter, kali ini perlu kugaris bawahi. Hidup memang kejam.

Dan ini menuju pukul 3 dini hari. Aku masi bertahan untuk bangun. Menghadapi kenyataan yang kubuat menyenangkan. Dan bisakah sekarang aku memilih untuk tidur? Bukan kah seharusnya ini sudah waktunya? Dimana yang insomnia pun, sudah meninggalkan kenyataan. Aku? Segera menyusul. Nanti, aku ceritakan bagaimana aku memilih untuk tetap bertahan dalam mimpi. Selamat tidurrrr. :*

Posted in Oh

One thought on “Bangun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s