Ntang Bontang

Akhirnya, kerjaan ‘ini’ membuat ku keluar kota juga. Lumayan, sambil menyelam minum air. Lumayan lama, aku tidak menghirup ‘kerjaan’ luar kota seperti ini. Walaupun, tetap aja sii kerjaan ku yang ini sangaatt berbeda dari kerjaan jalan-jalan ku yang lalu.

Tidak banyak yang dapat dilakukan di Kota Bontang, yang selentingan ku dengar merupakan kota dengan pendapatan tertinggi di seluruh Indonesia. Hal ini dapat dipastikan karena adanya 2 perusahaan besar yaitu PT Badak NGL dan Pupuk Kaltim yang beroperasi di sana. Bontang, jauh dari kegiatan hura-hura, tentu saja. Sekitar 6 jam melalui jalan darat dari Balikpapan. Sebenarnya, untuk mempersingkat waktu dari Balikpapan, bisa menggunakan pesawat kecil untuk ke Bontang. Tapi sayang sekali, pesawat kecil tersebut prioritas untuk pegawai PT Badak dan Pupuk Kaltim. Aku, sebagai tamu, memilih jalan aman melalui darat saja. Dari pada tiba-tiba ga jadi naik karena kepenuhan antrian😀

Menjelang sore, kusempatkan untuk mengunjungi Bontang Kuala, konon merupakan kampung tertua di Bontang. Tata kampung ini tergolong unik. Rumah berbaris rapi beralaskan kayu di atas perairan. Mobil tak bisa melewati jalan kayu itu (kecuali darurat, katanya). Kami menyusuri perkampungan tersebut. Selainnya, perkampungan tersebut hampir sama dengan perkampungan di Indonesia lainnya. Kehidupan yang sederhana, tapi tak selalu prihatin😉 Di ujung kampung tersebut, kami duduk di warung-warung, beristirahat sebentar, disuguhi kopi susu hangat dan setangkup roti bakar. Semilir angin.

Katanya, ga lengkap ke Bontang kalo ga makan kepiting. Udara dingin malam itu membuat kami lapar, dan tak malu-malu melahap kepiting lada hitam dengan porsi seadanya. Hari pertama di Bontang, di tutup dengan tangan dan perut yang panas karena kepedasan.

Tak ada lagi yang bisa kami lihat di Bontang ini. Selain kompleks perumahan PT Badak, yang terkesan eksklusif dari wilayah sekitarnya (lebay dikit). Ujung bagian (mana) Bontang, terdapat pelabuhan. Pun, tak ada yang unik. Hanya kapal-kapal layar, sederhana. Tanker bukan, ya? Sepertinya bukan. Dalam bayangan ku kapal tanker jauh lebih gagah dari yang kulihat di Pelabuhan Loktuan itu.

Tak berlama-lama di sana. Sudah saatnya kembali ke ‘keras’nya hidup Jakarta. Menghadapi keseharian yang ‘megah’ dan ‘gerah’ Seperti rute pergi, untuk pulangnya, kita harus jalan darat lagi ke Balikpapan. Beruntung, memilih flight paling akhir. Kami sempat mampir untuk keliling kota Balikpapan yang didominasi oleh beberapa Perusahaan Minyak besar di Indonesia, seperti Total E & P, Chevron, dan Pertamina. Pasar Kebun Sayur menjadi sasaran kami untuk belanja souvenir dan titipan mama. Hem, maaf, aku tak belanja banyak kali, ini. Titipan langka mama pun tak berhasil kutemukan. Maaf, ya, ma😦 Lapar lagi, kami ngemil seafood bakar khas Banjar. Aku memilih cumi bakarnya. Nyuummmm😀

Sambil menunggu waktu boarding tiba, kami sempatkan untuk menikmati angin pantai Lamaru. Indomie dan Kelapa muda ikut memanjakan perut ku. Sedikit bosan memang, andai ke sana bersama pasangan mungkin jauh lebih menyenangkan (yeah!). Setidaknya ‘fun better’ dari pada dengan rekan kerja yang brawel ini (maaf Bang Jul, hehe).

Waktu berangkat benar-benar hampir tiba. Kepiting kenari lada hitam khas Tarakan sudah ditangan. Walaupun dikemas rapat, baunya, menggoda! Hajar aja apa niiihhh. Mengingat flight kita belum dipanggil-panggil. Nice to see you Bontang. Nice to see you again Balikpapan :*

3 thoughts on “Ntang Bontang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s