Mengayuh Sepeda ke Utara Kota Jakarta

Kebingungan mau kemana lagi sepedaan akhir pekan ini. Car Free Day di Sudirman Thamrin, hanya ada di hari Minggu. Hari itu, hari Sabtu yang mendung dan sedikit gerimis. Kondisi tubuh sudah mulai gak enak. Mungkin memang pas nya tidur tidur seharian di kamar. Tapi akhirnya itu tidak menjadi pilihan ku. Aku tergoda untuk mengayuh sepeda ku yang hampir kulupakan itu.

Aku memutuskan untuk mengayuh sepeda ku menerobos gerimis menuju utara Kota Jakarta. Bersaing dengan kendaraan-kendaraan yang sebagian masih giat menjalani aktivitasnya. Bersepeda, selalu menumbuhkan excited tersendiri bagi ku. Ketika melaju kencang di jalanan kosong, terhembus angin di jalan turunan, ngos ngos an di tanjakan, atau berhenti menunggu detik-detik lampu merah berubah menjadi hijau. Quite fun!!

Aku menuju pusat wisata Ancol. Untuk masuk, aku tidak perlu membayar biaya kendaraan bermotor. Cukup orang nya saja. Seharusnya per orang dikenai IDR 13000, beruntung, aku sampai sebelum jam 7 pagi, sehingga  hanya perlu membayar setengahnya🙂

Kawasan Ancol, mempunyai jalur khusus untuk bersepeda sehingga kita tidak perlu merasa terintimidasi dengan mobil atau motor yang liwat, mereka punya jalur sendiri.

Di sini, kita bersepeda sambil menikmati udara laut. Beruntung cuaca tidak terlalu terik pagi itu. Tak perlu merasakan kulit tersengat terik matahari. Aku mengayuh menuju dermaga yang memang sengaja dibangun untuk pengunjung yang ingin bersantai menikmati suasana pantai.Kelaparan, kusempatkan untuk sarapan di warung warung pinggir pantai yang tersedia.

Aku bertemu dengan pedagang ikan yang berjualan dari perahu. Ikan yang dijual tidak begitu banyak, wajar saja, hasil pancingan di sana mungkin sudah tidak kaya lagi. Pantai utara kota Jakarta ini memang sudah tidak begitu segar lagi, banyak pencemaran yang terjadi. Tapi satu hal, bahwa harga ikan di sini jauh lebih murah dibandingkan harga ikan di pasar modern dan tradisional, apalagi di restoran restoran seafood yang kita temukan di Jakarta.

Tidak kehabisan ide, kita memutuskan untuk berlayar. Sepeda diangkut ke perahu. Menyenangkan juga menjadi nelayan. Meskipun tak ada ikan yang berhasil dipancing, tapi berada di lautan membuat ku merasa tenang, lepas dari hiruk pikuk ibu kota. Aku tidak melupakan, bagaimana, aku membiarkan wajahku tertiup hembusan angin pagi itu. Mengamati buliran air yang terbentuk ketika perahu ku melaju. Lautnya tidak biru. Coklat saja. Tapi lumayan lah, daripada kita harus menambah protes protes yang sudah banyak kita teriakkan untuk pemerintah Jakarta. Lagi pula, itu bukan karena lautnya yang kotor (meskipun ku temukan banyak sampah mengapung) tapi karena dasar lautnya adalah lumpur.

Begitulah Sabtu pagi ku terlewati saat itu. Dengan semangat yang masih tersisa, aku mengayuh sepeda ku kembali ke perkotaan. Lelah, tapi senang. Mungkin ada hubungannya dengan psikologi ku karena harus kembali ke perkotaan.

Tapi belum lagi sampai beberapa meter aku meninggalkan kawasan Ancol.  aku tak sanggup lagi mengayuh sepeda ku ke Perkotaan. Sudahlah, mari kita ‘grab‘ taksi. Sabtu siang, sore, dan malam. Aku tepar di kamar.

Sabtu ini, memang tidak terlalu sehat, tapi bersyukur karena masih ada yang membantu ku untuk melipat sepeda, mengangkat nya ke taksi, dan terutama membayari argo taksi menuju pusat kota. Tererengkyuuhhh😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s