Dikembalikan

Aku pernah, begitu menginginkan sesuatu. Merasa membutuhkannya, padahal sebenarnya tidak. Merasa ingin memilikinya, padahal bukan hak ku.

Anggap saja, barang itu kupinjam. Atau tak sengaja tertinggal di kamarku. Yang punya, berulang minta dikembalikan. Pertama baik-baik, belakangan emosi nya tak mampu ia kendalikan. Makian tak sungkan dilontarkan padaku. Aku sadar, barang yang tertinggal itu begitu berharga baginya. Begitu dia butuhkan. Dan memang hak sekaligus miliknya.

Bukan karena harga nya yang mahal, atau bentuknya yang mewah. Tapi karena memang seharusnya barang itu bersamanya.

Hari ini, barang itu kukembalikan. Setelah berkali-kali kubuang, karena sering terngiang makian si pemiliknya. Seolah aku merenggut apa yang menjadi hak nya. Meskipun, mungkin memang. Ini, dengan cara yang anggun, dengan cara yang rupawan. Kukembalikan pada yang memiliki. “Aku tau, kamu lebih membutuhkan”

Dramanya, aku akan merindukan kenangan bersama barang itu. Bagaimana aku tak kan bisa tidur tanpanya. Bagaimana kubiarkan dia memenuhi siang malam ku. Menghabiskan waktu untuk tertawa dan menangis bersamanya. Tak kutinggal ia, kala liburan ku tiba. Dia membunuh sepi ku. Meredam sakitku. Mewarnai jenuhku.

Barang itu, sebuah pemutar musik dengan teknologi kini. Aku tak menamainya apa-apa. Lagu-lagu di dalam nya, tak semua nya kusuka. Namun, tidak bisa dihapus. Bisa, sih. Cuma ribet. Jadi, kubiarkan saja. Lagipula, barang itu bukan punyaku.

Aku bisa menari bahagia ketika mendengarkannya, sekali aku jatuh tersakiti. Lagunya ada yang bisa membuatku menangis. Kemudian aku bisa menangis berkali-kali. Mungkin karna itu, kemudian aku ingin membuangnya. Lupa kalau seharusnya barang itu dikembalikan saja.

Pemutar musik canggih itu, membuatku belajar. Bagaimana tidak, di dalamnya beberapa list lagu tentang matematika dan teori kuliah. Ah, sering ku skip lagu lagu macam begitu. Terlalu lelah otak ini, mendengarnya. Okelah! Terpaksa kudengarkan, sebagai inspirasi mengerjakan tugas kuliah ku yang selalu deadline.

Ini, akan menjadi hari pertama tanpa nya, setelah hem, beberapa bulan belakangan aku bersamanya. Aku tak begitu ingat tanggalnya. Aku catat di buku harian ku, tapi sudahlah. Mudah-mudahan barang itu tak kan tertinggal lagi di kamarku. Tak kan dengan tak sengaja kutemukan di jalan. Dan tak perlu aku berdebat lagi dengan pemiliknya.

Dengan maaf, kukembalikan. Masih utuh, tapi harganya mungkin sudah agak kurang. Sering tidak sengaja kebanting. Hehe. Jagalah yang baik, supaya tidak perlu marah lagi. Aku tidak menginginkannya, tak ingin dia ada di genggaman ku lagi. Dia menghiburku, tapi lagu-lagu mellow yang membuat ku banjir air mata itu, terlalu menyakitkan.
Makasi, ya.🙂

4 thoughts on “Dikembalikan

  1. sedih terus..

    blog itu kan kadang2 jadi pengingat kita. kalo baca dari tulisan lalu, jangan lagi LDR terus berteman baik sama yg single aja ya..

    *sotoy. hehe

  2. kembalikan saja
    akan membuatmu tenang
    tentram dalam menjalani harimu
    betapa tidak,jikalau yg punya menginginkan
    dan kamu merasa sudah memilikinya
    akan ribet lagi

  3. Saatnya memang udah tiba, nil, sudah saatnya dikembalikan.. Toh smua yg semula rasanya enak didengar, tp klo bukan punya sendiri, rasanya kaya ngutang.. Biarkan lirik2 yg mengalun jd pelajaran yg berharga.. Thats my inil:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s