Welcome you, 25.

Dua lima itu akhirnya datang. Ditunggu ditunggu tidak juga, sih. Tapi, selamat datang saja kalau begitu. Menjadi dua lima tidak lantas membuat ku merasa lebih tua apalagi renta. Tentu saja tidak.

Lalu setiap kita, mengalami perubahan mengenai kebiasaan, impian, bahkan berat badan. Begitulah di perjalanan usia ku yang menginjak dua lima ini. Mau dikatakan apa ya, ukuran banyak tidak nya perubahan pasti relatif adanya. Yang jelas, pasti ada perubahan. Beberapa kebiasaan buruk mulai muncul menjelang usia dua lima ini. Begitu juga tentang impian. Sebagian impian tidak terwujud (tentu saja), kemudian impian itu pun berubah.Hal serupa juga terjadi dengan masalah berat badan. Ya sutralah, tidak terlalu penting untuk di bahas ๐Ÿ˜€

Rasa nya menyenangkan ketika menerima serbuan BBM, mention – an twitter, beberapa misscall, SMS dan notification di facebook hari ini. Dan ini bukan hari raya. Bukan pula tahun baru. Seperti semangat baru menerima ucapan selamat dan doa dari para sahabat dan keluarga. Aku mendapatkan lebih dari sekedar kado hari ini.

Makasi, ya, bagi yang meluangkan waktunya untuk mengetik beberapa kata, atau sekedar memencet satu tombol (untuk retweet atau dialled call). Makasi karena udah mengirimkan doa nya.

Di usia dua lima ini, aku tidak punya birthday date. Berhubung, yang berwenang, again, sedang bertugas di luar kota.

Tapi, Alhamdulillah, hari ini aku berkumpul bersama keluarga. Sekedar syukuran dan makan-makan enak di Bandar Jakarta, Ancol. Tidak ada yang berhalangan. Denya, sudah datang dari Bandung. Berl, yang ‘sok’ sibuk nya bukan main menyempatkan hadir walaupun terlambat. Nun, Cicip, dan Khalish, cakep cakep dateng dari Bekasi. Imim pun sudah kembali ke peradaban. Begitu juga mama dan papa. Datang, satu paket ๐Ÿ˜€

Dan hari pertama di usia dua lima ini, mimpi kembali dirangkai, semangat kembali dipupuk, dan harapan kembali disinari. Selamat datang dua lima ๐Ÿ™‚

Selamat ulang tahun juga buat Imim, kalau begitu.

Posted in Uncategorized

Tidak Lebih Penting dari Masa Depan

Kenapa kaca depan mobil sangat besar dan kaca spion begitu kecil? Karena masa lalu tidak sepenting masa depan kita.

Begitulah kata itu menginspirasi malamku. Aku akan mengambil pelajaran dari apa yang pernah terjadi, dan itu tidak boleh menganggu masa depan ku.

Tidak satu pun yang bisa, yang mampu mengusik semangat ku. Ya, siapa pun akan berkata aku keras hati. Tidak ku pandang apa pun dengan remeh, tapi sadar saja, kita semua begitu kecil.

Doa – Mac Arthur

Pagi ini, ketika tekad ku sudah bulat untuk mengajukan surat itu, aku menerima sebuah pesan elektronik dari seorang teman.

Baca deh.

Ini doa Jendral Douglas MacArthur untuk anaknya.

Doa untuk Putraku

Tuhanku…

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya.
Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan.
Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan.

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang Putera yang sadar bahwa
mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

Tuhanku…

Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak.
Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.

Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar
untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi,
sanggup memimpin dirinya sendiri,
sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.

Berikanlah hamba seorang putra
yang mengerti makna tawa ceria
tanpa melupakan makna tangis duka.

Putera yang berhasrat
Untuk menggapai masa depan yang cerah
namun tak pernah melupakan masa lampau.

Dan, setelah semua menjadi miliknya…
Berikan dia cukup Kejenakaan
sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh
namun tetap mampu menikmati hidupnya.

Tuhanku…

Berilah ia kerendahan hati…
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki…
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna…
Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud,
hamba, ayahnya, dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia”

Baiklah, hari ini aku gagal mengajukan surat itu. Aku masih harus disuruh berpikir lagi. Mungkin prosedur standar nya memang begitu. Tapi itu tidak membuat ku mundur. Ketau diri an ku lebih besar dari apa pun hari ini. Akan ku coba lagi Senin. Dengan script yang lebih matang tentunya.

Mudah mudahan yang terbaik.

 

Mundur Enam Belas November

Sama sekali aku tidak pernah membayangkan bahwa hari ini akan terjadi. Mungkin terlalu mellow jika aku menanggapi nya dengan menulis another mellow posting lagi di blog ini. Tapi memelototi blog ini adalah satu satu nya yang bisa menghiburku hari ini. Tidak sahabat sahabat ku. Tidak pacarku. Bahkan tidak juga Imim. Mereka menemaniku, penuh support. Tapi aku butuh jalan keluar sekarang. Aku butuh penyelesaian dari makian dan kata kata tolol yang dilontarkan pada ku pagi ini.

Dan akhirnya aku akan memutuskannya dengan cepat, sebelum keadaan kembali menjadi lebih rumit. Sebelum kehadiranku hanya menambah beban nya. Seperti yang dia sampaikan kepadaku. Siapa yang dapat disalahkan? Ini murni kesalahan ku. Aku tidak kabur, hanya mengalah.

Menurut teoriku, aku adalah orang yang penuh pertimbangan. Tapi kenyataannya tidak begitu. Sering kali aku gegabah, dan keputusan itu salah. Penuh pertimbangan pun, keputusan itu salah. Dan kesalahan itu aku. Selalu aku. Sore ini pun menyempurnakan kesalahan ku. Aku tak bisa berhenti terngiang dengan kalimat nya. Bagiku terlalu ketus.Dan itu memang pantas buatku. Menyakitkan memang, tapi kata orang orang banyak yang lebih parah dari itu. Oh ya, baiklah, akui saja aku memang tidak kuat. Siapa pun yang berusaha meyakinkan ku, menghiburku,ย  hanya sanggup kubalas dengan sepatah terima kasih.

Aku akan tetap tidak kuat.

Aku akan menghiburku dengan tagline ‘hari ini akan menjadi hari ini’. Toh akan berlalu juga. Dan berbagai rencana (tanpa pertimbangan), telah menyeruak di sebagian kepala ku, yang TOLOL ini. Katanya. Aku akan mundur, meski tidak dalam waktu yang kubayangkan sebelumnya. Kuakui, awalnya memang aku akan mundur. Tapi tidak besok, mungkin dua bulan lagi. Dan keputusan ku harus dipercepat. Aku akan mundur besok, ketika pagi itu tiba. Aku kehabisan ide, bagaimana aku bisa mundur dengan cara yang terhormat. Toh, hormat itu sudah tidak mungkin lagi bagi ku. Setelah sederet kesalahan yang ditusuknya, tepat diotakku.

Well, setelah kemarahan yang disampaikannya pada ku, aku masih sedikit berharap bahwa kemunduran ku akan menjadi hubungan pertemanan yang baik. Aku memang bukan tetangga yang baik di balik kubikel ku. Tapi aku punya sedikit ingin. Ketika di jalan, kita akan dengan ringan menyapa. Penuh kehangatan seperti dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Meski kita tidak perlu ada hubungan bisnis lagi. Kita akan berteman baik. Aku akan melupakan apa yang pernah disampaikan padaku, juga ingin dia melakukan hal yang sama. Melupakan bahwa aku pernah membuatnya begitu SUSAH. Tentu bukan hal mudah membuatnya mengerti bahwa aku tidak bermaksud begitu. Sama sekali tidak.

Tidak ada pembelaan di sini. Aku akan tetap salah. Dan menerimanya.

Tidak ada yang mudah untuk sebuah kemunduran, tapi, karena memang harus, mau apa lagi. Aku tidak pernah suka jalan pintas, tapi mungkin ini jalannya, entah harus kita sebut pintas atau tidak. Aku mundur, dengan kerendahan hati. Aku tidak bermaksud untuk kalah, aku mengalah. Dan tidak sedikit harap pun, kecuali maaf. Dan tidak ada makian dan dendam setelah ini. Hanya jangan membenci ku. Aku mundur saja, tapi kemudian kita berteman setelah ini.

Bismillah.

*untuk yang tetap bersama ku hari ini. yang menemani airmata untuk sebuah tarikan napas. untuk yang tetap membuat ku berharga. dan untuk yang minjamin laptop sore ini. Juga cokelat hangat nya. Big thanks.