Twitter, Penting Abis!

Siapa yang belum punya account Twitter? Yap, tidak perlu tunjuk tangan. Bagi kita yang memilih untuk tidak punya account tersebut mungkin punya beberapa pertimbangan tersendiri.

Tapi, bagi kita (saya atau kamu) yang hampir tidak bisa melepaskan pandangan matanya atau jari-jari tangannya dari Twitter tentu sempat merasa kehilangan, heboh, dan uring-uringan sendiri karena aplikasi UberTwitter di-suspend. Gimana ga kaget, pas bangun pagi, bagi kita yang terbiasa, pasti langsung nge-check UberTwitter. Dan, tanpa malu-malu, Twitter mengirimkan maaf nya kepada kita karena kita tidak lagi dapat menggunakan UberTwitter. Jadilah, akhir pekan ini, timeline makin sepi karena aplikasi lain tidak mampu ‘memuaskan’ kita sehebat UberTwitter.

Bagaimana kita bisa hidup tanpa Twitter? Begitulah pertanyaan ‘lebay’ kita di akhir pekan ini. Toh, kenyataannya belum ditemukan bukti nyata, bahwa kemudian ada pengguna Twitter yang meninggal karena Twitter (kecuali Twitter-an sambil nyetir). Yeah, tentu saja tidak. Bahwa akhirnya timeline kembali berwarna setelah kita mencoba bertahan menggunakan aplikasi Twitter lainnya semacam Twitter for Blackberry, Social Scope, atau Blaq. Bersyukur saja UberTwitter tidak tinggal diam, mereka muncul dengan Sampul yang berbeda namun isinya tetap sama. Then, We are welcoming for UberSocial🙂

“Kenapa lo ga pake Twitter, si?”

Begitu pertanyaan ku pada beberapa teman yang memilih untuk tidak memiliki account Twitter. Alasan yang mereka utarakan ada benarnya.

1. Lo pikir, kenapa kejadian tuh perang dingin antara si ____ dan ____ ?

2. Apaan coba, isinya cuma uring-uringan orang-orang. Ga penting.

3. Kalau mau ngobrol, kenapa harus liwat Twitter? Kenapa ga BBM or ngomong langsung sama orangnya.

4. Ga ngerti gw pakenya, lagi pula temen-temen gw ga rame yang punya Twitter. Mending facebook aja deh.

5. Twitter cuma bikin yang dekat jadi jauh!

6. Bukan jaman gw lagi, that’s for ABG – ers, cuy!

7. Gilak males banget, kadang Twitter isinya cuma pamer dan bikin sirik doang. Ga deh, gw ga ikutan. Gw pengen hidup tenang tanpa Twitter.

Hem, mungkin itu kira-kira jawaban mereka yang tetap tidak menggunakan Twitter. Ada yang mau nambahin?

Eniwei baswei (ouch! Can’t believe I’m using this conjunctive), saat ini kondisinya bukanlah bahwa aku sedang keranjingan Twitter – an, meski baru dua tahun belakangan aku mengenal jejaring sosial semacam ini. Sepanjang dua tahun ini pula, aku mampu update 1 tweet setiap 6 detik. Tapi, aku juga mampu tidak update 1 tweet pun dalam 24 jam atau lebih sedikit.

Bagi kita yang begitu ekspresif ber-Twitter-an, media ini dapat membunuh emosi, kesepian, kemanyunan, bahkan melatih ke-kreatif-an. Aku bisa mengacungin jempol bagi mereka yang bisa tetap update sekalimat dua kalimat di Timeline nya, apalagi kalimat-kalimat yang keren dan menginspiratif. Sekalipun sederhana, aku tetap acungi jempol.

Suatu malam, aku menerima BBM seorang teman. “Bok, I have no idea what I have to write on My Blog, even on Twitter! I’m blank in my f*ckin insomnia” Ini contoh nyata, bahwa nge -tweet pun butuh ide kreatif. Tidak semua kita mampu ber Twitter dengan baik. Twitter itu bakat, perlu latihan, dan hanya bagi mereka yang kreatif. Bagi yang tidak berbakat, mungkin akan memilih sebagai penikmat saja. Sesekali melakukan retweet, tapi tidak meramaikan Timeline. Dalih lain adalah, bahwa, mereka mengatakan bahwa mereka terlalu sibuk untuk nge tweet. Kenyataannya banyak sekali orang yang SANGAT sibuk, menyempatkan diri untuk nge tweet. Kesimpulannya, kesibukan bukan alasan kenapa kita update twitter atau enggak. Hanya antara mau dan tidak, atau perlu atau tidak. Selain bakat, twitter – an bisa menjadi Hobby bagi sebagian orang.

Satu pelajaran penting adalah bahwa ‘tweet mu adalah harimau mu’.

Kebiasaan ‘terlalu’ ekspresif di Twitter juga ada bahaya nya. Kalimat #random bisa jadi dapat menyinggung beberapa pihak. Kadang tanpa sengaja kita lakukan, dengan atau #tanpamention khusus untuk siapa, lalu seseorang menjadi tersinggung. Sehingga, ber Twitter-an pun ada etika nya. Tentu tidak akan aku bahas di sini, aku, jauh dari apa yang mereka sebut dengan Pakar Etika dalam Twitter. Beberapa Twitter ku bukan tidak pernah menyinggung orang lain, sahabat atau pihak mana saja. Ini menjadi pelajaran berharga, bahwa selain punya efek SERU, twitter bisa menimbulkan permusuhan atau setidaknya ‘gondok dalam hati’

Intinya, meski kadang membosankan, Twitter masih Penting Abis! Dan postingan ini semata-mata ingin menyampaikan bahwa blog ini juga sudah punya Twitter loh. Sekian dan terima kasih. Hihi😀

Posted in Oh

3 thoughts on “Twitter, Penting Abis!

  1. haha,, temenku yang satu ini emang eksis abies..
    ak punya account twitter tp termasuk pengguna yg kurang eksis,, cukup menyimak sesekali.. untuk saat ini ak lebih suka maen game drpada twitter-an..haha
    sekian dan terima kasih😀

  2. Hehe, iya. Twitter dunia kecil tapi sejatinya luas itu memang banyak manfaatnya, paling nggak utk apdet berita trkini. Atau pengen tau apa isi kepala seseorang terutama selebriti idolamu…hehehe.
    Tp klo saya fungsi utamanya adalah belajar dr org2 beken yg suka share ilmu keren nya di kul-twit…:)

  3. gw punya twitter cuma karena gw pengen tau updatenya elshinta n tmc aja. selebihnya gw ngrasa sia-sia… kebanyakan orang pada sok eksis aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s