Tek Keretek Tek

Keretek. Keretek.

20110415-111611.jpg

Tempat minum kopi ini kedengaran hening di kuping ku. Padahal hanya dua atau tiga meja yang kosong. Yang lain tampak sibuk dengan teknologi gagdet di mejanya. Ada yang cukup dengan blackberry, komputer tablet, laptop berukuran mini hingga hampir 20 inc. Dan bunyi celoteh pengunjung dan suara ‘keretek-keretek-keretek’ terdengar satu-satu. Sambil tetap serius mengamati apa yang ada di depan mereka sekarang. Sesekali pengunjung dari berbagai kalangan ini menyeruput minuman yang dipesannya. Bahkan pandangan mereka tak mengalikan perhatian mereka sedikit pun terhadap benda berteknologi tinggi.Tak begitu monoton, di pojok suatu ruangan tempat aku duduk ini beberapa laki dan perempuan muda sedang berkumpul. Tertawa renyah ditengah obrolan mereka, yang, hemm, kelihatan tidak penting. Atau ternyata penting ya? Sudahlah toh, itu tidak akan menjadi urusan ku. Kita punya urusan sendiri-sendiri di Minggu sore ini. Bersantai. Menikmati akhir minggu yang hampir habis.

Keretek. Keretek.

Di tengah riuh obrolan ringan dan suara bising kendaraan di megahnya kota jakarta beberapa warga metropolitan ini, terdengar tarikan dari kretek yang mereka hisap. Kupandangi satu-satu mereka, sambil sesekali pura-pura ikutan sibuk dengan papan ketik di hadapanku. Oke, mereka menikmati setiap hisapan itu. Ketika hisapan terakhir habis, diambil lagi batang berikutnya. Begitu ternyata cara mereka menikmati hisapan dengan bunyi ‘tek keretek tek itu’. Aku, menikmati asapnya. Sesekali protes. Mungkin akan sesak di sini. Lalu, apa kemudian aku menyalahkan? Ah, rasanya terlalu naif. Ini mauku memilih tempat ini. Toh, aku juga menikmatinya. Menikmati sisa asapnya. Juga nikmat bunyi ‘tek keretek tek’ itu. Aku menikmati bagaimana mereka menikmatinya.

Kubayangkan, tempo hari, pemerintah yang berkuasa dengan gencar mengumandankan larangan merokok di gedung-gedung mewah kota jakarta.namun pemerintah lupa akan larangan tersebut bahwa negara ini bisa kaya (yah, kaya bukan?) karena apa? karena salah satunya yang membangkitkan prekonomian bangsa ini adalah industri kretek. Tidak hanya itu pengusaha-pengusaha cafe atau restoran yang ikut meramaikan lalu lintas perekonomian. Tempat-tempat ini menjadi muara buang jenuh masyarakat Jakarta karena mereka menyediakan tempat yang nyaman untuk santai-santai sambil meng-kretek. Ah, rasanya sayang, jika rentetan tulisan-tulisan yang mengatur itu, merenggut apa yang sedang mereka nikmati sore ini.

Mungkin kita perlu sedikit rapi untuk menikmati pada tempatnya. Apa yang mereka tak suka, toh, mereka punya alasan sendiri. Mereka butuh udara segar, mungkin, untuk generasi mendatang. Menikmati kretek pun, bukan artinya kita harus merenggut kebebasan mereka toh mereka punya hak untuk merokok apapun Itu alasannya demi kesehatan, kita hargai dengan tanggung jawab yang sudah kita emban. Udara segar yang mereka impikan, kita wujudkan dengan etika ber – kretek. Bagi peng – kretek yang menikmati setiap tarikannya, toh, cukup pintar dengan segala risiko nya. Menikmati bagaimana wangi cengkeh ketika dibakar kemudian dihisap, dengan suara ‘tek, keretek, tek’, masuk melalui rongga mulut dan mengalir dalam darah penikmatnya. Tidak menghembus sisa bakarannya ke muka mereka yang tidak ingin menikmati.

Keretek. Keretek.

Pandanganku beralih ke jalanan. Ini Minggu sore padahal. Jakarta masih saja macet dan bikin gereget. Terbayang jika Senin segera datang. Pernah kita lihat di beberapa angkutan umum di Jakarta, yang terhitung tidak lagi layak ini. Sesak, ditambah kemacetan. Kita atau mereka, tentu jenuh. Gerah, ini parkir, ya?? Mulut mulai butuh menghisap komposisi cengkeh, tembakau, dan kandungan zat nikotin, well, akui saja memang bikin ketagihan. Tapi yang lain sudah pasti mengeluhkan, jika kita dengan semena-mena membakar dan memenuhi kotak sesak itu dengan asap yang udaranya bercampur dengan buangan monoksida kendaraan. Bagaimana dengan wanita hamil di sebelah kita, yang sedang berusaha keras menjaga kandungannya. Agar tetap sehat, sampai jiwa mungil lahir dan menghirup udara bersih di dunia. Ah, kita memang tidak hidup sendiri di kota yang jelas-jelas kelebihan penduduk ini. Dan bagi kita (atau mereka) harus bertahan. Di tengah amukan kemacetan. Menghargai yang lain. Toh, itu sudah menjadi etikanya. Keluar dari kotak sesak itu, kita bisa duduk manis, dengan tenang, dengan senyum di sekitar kita. Kemudian menikmati suara ‘kretek!’ pada tempat dimana yang lain menghargainya.

Hidup ini penuh tantangan dan ujian, Tetapi tidak seperti yang kita bayangkan. Kata berangkai E-T-I-K-A itu diajarkan sepanjang pengalaman hidup kita sebagai individu yang tidak sendirian. Saling menghargai, sesimpel itu. Yang tidak suka atau tidak berminat, toh sudah menjadi pilihan mereka. Pilihan untuk menikmati kretek, di detik setiap kita butuh, itu cara kita atau mereka menikmati hidup. Mengatasi kerasnya hari-hari, bertahan. Menikmatinya. Slow, Bang.

Keretek. Keretek.

Kembali, kupandangi mereka satu per satu di tempat minum kopi ini. Ah, mereka terlalu menikmatinya. Terlalu enggan meninggalkan setiap nikmat hisapannya. Mungkin bagi mereka kesehatan bukanlah hal yang terpenting ketika satu batang dikeluarkan dari bungkusnya dan mereka memulai menghisapnya, cara inilah yang mereka pertahankan untuk menjaga kestabilan keuangan rumah tangga negara ini yang dipenuhi peraturan yang mengekang warga negaranya untuk mendaptkan suatu kebebasan, tetapi tidak bisa disalahkan juga karena cita rasa yang diberikan kretek adalah warisan dan temuan nenek moyang kita dulu. Aku, beralih pada layar berwarna dihadapanku. Rasa ingin tahu ku pun mulai muncul, ingin mengetahui sejarah kretek dan rasa, jari tangan ku mulai sibuk dengan menggerakan kursor papan pintarku untuk mengetahui tentang kretek, Mengapa harus kretek?

Beretika saja kita. Saling menghargai. Slow, bangg 🙂

Posted in Oh

Jalan Lain untuk Hidup Baru

Hari ini mungkin hari yang ditunggu-tunggu Imim, kembaranku yang tempo hari kuceritakan itu. Berulang kali ia mengeluhkan pada ku dengan berbagai rencana besar dalam hidupnya yang tidak pasti dan belum juga mengarah, menurutnya. Tuntutan dari berbagai pihak yang membuatnya pecah kepala, mulai bercahaya hari ini. Sejak sekitar 10 hari lalu ia dinyatakan dapat mengikuti (lagi) program pengabdian kepada pemerintah untuk Dokter Gigi (baca: PTT), ia mulai sibuk merencanakan dan mempersiapkan segala perintilan untuk hidup barunya. Meski sebagian kelihatan dipersulit, ada baiknya kita berpikir positif saja. Toh, tidak ada hidup yang tidak sulit.

Dini hari, tadi pagi kita semua menghantar Imim ke Bandara. Bukan lebay beramai-ramai anter ke Bandara, tapi kita semua mungkin merasakan hal yang sama. Kita akan kehilangan keberadaan Wanita Super ini untuk rentang waktu cukup lama. Program yang dijadwalkan setahun lamanya ini, mungkin tidak bisa kita hitung dalam hitungan 365 hari di kalender. Selain dalam rangka tugas negara ini, Imim pun sedang merencanakan sesuatu, dimana semua wanita seusianya mengimpikan rencana itu. Jika lancar dan panjang jodohnya, Imim pun akan tinggal dan menetap di sana, sampai birokrasi yang mengaturnya mengetuk palu merubah keputusannya.

Mulai hari ini, lagi, aku akan ditinggal menghadapi hari-hari ku di Jakarta sendirian. Oh, sungguh, kami bukan pasangan kembar yang segitu kompaknya. Kita tidak harus selalu bersama. Aktivitas kita jelas, jauh berbeda. Tapi dia satu-satu nya Wanita Super di dunia ini yang bisa kuandalkan. Bagaimana tidak? Dua puluh lima tahun lebih dia bertahan menjadi kembaran ku. Adakah yang lebih setia dari itu? Tidak sekalipun dia mengkhianati ku, atau mencoba menusukku dari belakang. Cuma dia, aku bisa berbagi apa saja, dari berbagi soal pikiran-pikiran aneh ku sampai berbagi pundi-pundi dollar ku. Hehe, menyenangkan bukan? Ayolah, menjadi kembaranku tidak seburuk itu kok. Selain kebagian urin-uringan ku yang up and down, gak jarang, Imim kebagian yang baik-baiknya (tapi apa, ya?)

Well, hari ini Imim berangkat. Ga tau harus senang atau sedih. Yang pasti berharap untuk kesuksesan dan keselamatannya di sana. Jika jodoh itu kemudian meminangnya, jagalah Imim dengan baik. Dia harta berharga ku saat ini. Selain masih menyimpan sekantong rupiah yang belum dibayar-bayar pada ku (tetep yeh, mim, jangan lupa bayar utang).

Bagaimana pun, aku sudah merindukan saat-saat aku mengandalkannya Wanita Super ini. Take care, Mim. We are waiting you at home.