Jalan Lain untuk Hidup Baru

Hari ini mungkin hari yang ditunggu-tunggu Imim, kembaranku yang tempo hari kuceritakan itu. Berulang kali ia mengeluhkan pada ku dengan berbagai rencana besar dalam hidupnya yang tidak pasti dan belum juga mengarah, menurutnya. Tuntutan dari berbagai pihak yang membuatnya pecah kepala, mulai bercahaya hari ini. Sejak sekitar 10 hari lalu ia dinyatakan dapat mengikuti (lagi) program pengabdian kepada pemerintah untuk Dokter Gigi (baca: PTT), ia mulai sibuk merencanakan dan mempersiapkan segala perintilan untuk hidup barunya. Meski sebagian kelihatan dipersulit, ada baiknya kita berpikir positif saja. Toh, tidak ada hidup yang tidak sulit.

Dini hari, tadi pagi kita semua menghantar Imim ke Bandara. Bukan lebay beramai-ramai anter ke Bandara, tapi kita semua mungkin merasakan hal yang sama. Kita akan kehilangan keberadaan Wanita Super ini untuk rentang waktu cukup lama. Program yang dijadwalkan setahun lamanya ini, mungkin tidak bisa kita hitung dalam hitungan 365 hari di kalender. Selain dalam rangka tugas negara ini, Imim pun sedang merencanakan sesuatu, dimana semua wanita seusianya mengimpikan rencana itu. Jika lancar dan panjang jodohnya, Imim pun akan tinggal dan menetap di sana, sampai birokrasi yang mengaturnya mengetuk palu merubah keputusannya.

Mulai hari ini, lagi, aku akan ditinggal menghadapi hari-hari ku di Jakarta sendirian. Oh, sungguh, kami bukan pasangan kembar yang segitu kompaknya. Kita tidak harus selalu bersama. Aktivitas kita jelas, jauh berbeda. Tapi dia satu-satu nya Wanita Super di dunia ini yang bisa kuandalkan. Bagaimana tidak? Dua puluh lima tahun lebih dia bertahan menjadi kembaran ku. Adakah yang lebih setia dari itu? Tidak sekalipun dia mengkhianati ku, atau mencoba menusukku dari belakang. Cuma dia, aku bisa berbagi apa saja, dari berbagi soal pikiran-pikiran aneh ku sampai berbagi pundi-pundi dollar ku. Hehe, menyenangkan bukan? Ayolah, menjadi kembaranku tidak seburuk itu kok. Selain kebagian urin-uringan ku yang up and down, gak jarang, Imim kebagian yang baik-baiknya (tapi apa, ya?)

Well, hari ini Imim berangkat. Ga tau harus senang atau sedih. Yang pasti berharap untuk kesuksesan dan keselamatannya di sana. Jika jodoh itu kemudian meminangnya, jagalah Imim dengan baik. Dia harta berharga ku saat ini. Selain masih menyimpan sekantong rupiah yang belum dibayar-bayar pada ku (tetep yeh, mim, jangan lupa bayar utang).

Bagaimana pun, aku sudah merindukan saat-saat aku mengandalkannya Wanita Super ini. Take care, Mim. We are waiting you at home.

5 thoughts on “Jalan Lain untuk Hidup Baru

  1. been there Din.. waktu Nilla ninggalin aku (eng, perasaan aku yg ninggalin duluan xD)
    ntar kalo satunya dah nikah pasti lebih berasa lg “pisah”nya. Jd hari “perpisahan” itu kan pasti ada cepat ato lambat. Semoga kuat ya Din🙂 (kayak apaaa coba?? :D)

    btw, itu Dilla Melani sama Ririn?? Ririn pake Wrap yg di dalem itu babynya ya?😀

  2. Nil, utang gw yang mana sik??

    Btw, setiap gw baca artikel ini, gw pasti berkaca2 (kalo gak bisa dibilang nangis) , cuman sekali gw ga nangis, waktu dilamelan bela2in bacain ini buat gw, dia gak asik bgt, gak bikin rerharu. Zzzz..

    Can’t wait to see you at home, nil. Next month!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s