Atasan dan Bawahan

Atasan dan Bawahan.

Ketika mendengar kedua frase di atas, apa yang ada dalam pikiran kita? Tidak melulu soal pekerjaan. Tidak juga soal pakaian. Apalagi soal tulisan. Mungkin saja soal makanan, bukan?

Saat perut kenyang, kita akan jadi eneg kalau ngomongin soal makanan. Ketika isi kepala udah kecapean, kita menjadi jenuh untuk memulai sebuah tulisan. Ada kalanya, isi lemari sudah kepenuhan, mending ga usah ngomongin pakaian. Bagaimana dengan pekerjaan, ah, ini sudah malam, lupakan kalau ada beban.

Dan masih saja ada itu, atasan dan bawahan. Ketika dua pasangan itu disebut-sebut, mungkin saja terlintas dalam pikiran kita tentang pekerjaan. Sayangnya, aku tidak pernah menjadi atasan. Jadi, kemungkinannya adalah sangat besar, dalam konteks pekerjaan aku tidak bisa bercerita secara objektif. Kalaupun bisa mungkin hanya akan berandai-andai, jika aku menjadi mereka. Walaupun, tidak begitu berminat, mengandaikan diri ini berada di sebuah kekuasaan. Ah, lagi pula, siapa yang begitu berkuasa. Hanya YANG punya DUNIA. #serius Jika keadaan memaksa, okelah, aku akan berandai-andai. Tapi menjadi bawahan. Haduh, aku malah lupa, kalau menjadi bawahan itu bukan perandaian. Seperti itu mungkin yang dialami para atasan. Seringkali mereka lupa kemudian menjadi semena-mena. Bicara soal semena-mena, tidak hanya atasan yang mengalami. Bukan tidak mungkin, bawahan bisa berbuat hal sama. Hal terkait semena-mena itu, intinya, bisa dilakukan siapa saja.

Dalam dunia berpakaian, pun. Rasa-rasanya tidak mungkin kita hanya beratasan atau berbawahan. Gila kali. Loh, kok ini bahasan agak porno jadinya, ya? Menariknya, kadang kita memperhatikan bagaimana orang-orang di sekitar kita memadu padankannya. Sekali-kali, kita pun mencoba nya di diri kita. Makin ke sini, perpaduan itu makin adaa saja. Ada yang terlihat pantas, pun tidak pantas. Dan tetap saja, perpaduan yang kita pakai itu adalah pilihan. Dan terserah kita mau apa. Tapi coba saja telaah lagi lemari kita yang sudah kepenuhan. Mungkin itu bisa jadi kebijaksanaan kita saat belanja. Apakah harus selalu, ketika usai membeli atasan, kemudian kita harus membeli bawahannya?

Mungkin agak sedikit maksa, jika kita mengandaikan atasan dan bawahan pada makanan. Tapi toh, setidaknya seringkali ada bawang goreng sebagai ‘atasan’ dalam setiap makanan, terutama makanan khas Indonesia. Ini akan menjadi fungsi yang saling melengkapi. Betapa lezatnya makanan jika memiliki atasan yang pas. Para chef itu menyebutnya dengan topping. Pernah tau pizza? Atasannya menjadi pilihan utama saat kita ingin menikmati makanan khas italia itu.

Advertisements

Melayu Seleraku

Maafkan selera ku, yang melayu itu, yaa.

Ah, agak malu-malu rasanya aku ingin mengakui, setelah hampir 5 tahun belakangan lagu dari seniman Indonesia yang mendayu-dayu itu meledak di pasaran musik kelas nasional dan kelas negeri tetangga, aku masih belum bisa merubah selera ku yang satu itu. Di saat teman-teman sejawat ngomongin artis keren semacam Beyonce, Rihanna, Adele atau Tompi, atau siapa lagi si, kurang tau jugaa, aku tetap pada jalur selow macam ini (ga harus browsing, kan, biar tau artis-artis itu?) Lagu-lagu mendayu macam ST12, Kangen Band, atau yang kerenan dikit Melly Goeslaw dan Kahitna tetap menjadi pilihanku. Bingung, kenapa ada yang ngomong kalau mereka norak atau selera kelas F. (Jiah, terus kenapa kalau kelas F?)

Lirik-liriknya jelas lebih akrab di kuping dan bersahabat dengan kisah cinta ku yang melankolis. Entah, karena lagu-lagu kelas dunia itu yang aku ga ngerti arti liriknya. Yang pasti, lagu melayu begitu masih menjadi seleraku.

Sesekali harus menahan malu, kalau ada yang pinjem iPod ku. Seketika, setelah melihat list lagunya, ada yang dengan terang-terangan ngebalikin, atau ada yang sedikit lebih halus dengan gimmick ‘eh, thanks, din, gw cabut dulu, yaa’ sambil pura-pura sibuk mau ngapain. Dan dengan sederhana, aku menyimpulkan mereka gak selera campur eneg.

Dan, pagi ini, lepas jaga malam dengan liputan tanpa berita, aku masih menikmati sinar matahari ditemani hangatnya teh hijau kesukaan. Kuping disumpel, dengan sederet lagu-lagu melayu Indonesia. Oh, lagu-lagu begini masih tetap nyaman untuk menghibur pagi. Seperti kebanyakan kita, saat mendengarkan lagu, paling enak kalo kita ikut berdendang (haduh! Ini melayu yaa, bukan dangdut, bahasanya TOLONG). Tapi, jujur aku masih malu-malu mau nyanyi-nyanyi kecil. Tempat nge teh kesukaan ku ini, dipenuhi kaum borjuis, yang hampir dapat dipastikan, ga suka lagu-lagu begini.

Dulu, ada radio dengan lagu-lagu Indonesia ditambah iklannya yang sedikit. Sekarang, selain aku udah jarang dengar radio – maklum udah lama ga naek mobil kalo berangkat kerja – tapi kayanya ga ada lagi radio macam begitu. Lagu-lagunya pun sudah mengikuti selera masyarakat sosialita jaman sekarang. Plus iklan dan celotehan penyiarnya yang ga abis-abis. Argh, ya sudah, aku kembali mengandalkan alat pemutar musik kuning bening kesayangan ini. Walaupun lagu-lagunya juga udah lama ga update.

Postingan selewatan begini, ingin sedikit menyampaikan keinginan sebenarnya, boleh ga aku berdendang kecil di sini? Seriusan, aku sedang sangat menikmati masa-masa sendiri di pagi hari dengan lagu-lagu budak cinta ini. Boleh, ga? Boleh yaaa.

Oke, terima kasih kalau boleh. Suka, deh. Dan mendadak pagi ini, gw pengen tau apakah band bernama GOLIATH akan ngadain konser dalam waktu dekat ini. Pengen nonton mega konsernya dong. Plis, tempatnya nya jangan gerah. #eh.

*gubrak*

Jahat yang Baik

Mungkin itu sebabnya Tuhan tidak membiarkan kita tahu segalanya. Jika kita tahu, mungkin kita akan jadi terlalu takut hidup di dunia ini. Diri kita sendiri, mungkin pernah menjadi orang jahat. Begitu pula dengan orang-orang di sekeliling kita. Kalau dibiarkan untuk tahu semua, yang jahat-jahat menjadi ketauan. Dan kita akan memilih untuk mendekam di dalam kamar dari pada jadi korban kejahatan.

Satu hal yang aku percaya, pada dasarnya manusia itu baik. Kita semua punya hati. Cuma bedanya, ada hati yang sehat, yang sakit, atau yang sakit parah. Dan itu tidak akan menjadi selamanya. Yang sehat, bisa jadi sakit. Begitu pula sebaliknya, sakit parah pun, bisa sembuh. Pembunuh, pencuri, perampok, pemerkosa, atau koruptor, punya hati yang kemudian timbul rasa menyesal. Hati itu bisa mati, karena terbiasa. Tapi selama masih hidup, hati akan tetap hidup sebenarnya. Jika kemudian mereka memakai kata mati untuk hati, itu hanya mati suri.

Dalam hidup, kita tidak bisa memaksa semua orang punya hati yang sehat. Kita bisa menjadi korban dari hati orang-orang yang sakit, atau malah, kita yang menjadikan orang lain sebagai korban hati kita yang sedang sakit. Ketika kita merasa orang lain berbuat jahat pada kita, kita pun harus ingat, mungkin kita juga pernah jahat pada mereka. Begitu banyak yang jahat, tapi itu mungkin juga ada pada diri kita sendiri.

Itulah gunanya saling memaafkan. Apakah semuanya akan selesai dengan kata maaf? Kita pun melanjutkannya dengan introspeksi. Ketika salah, introspeksi tetap harus dicoba. Dicoba terus, walau pun naik-turun terus ada dalam hidup kita. Memang begitu seharusnya bukan?

Kita sendiri yang harus membuat hati kembali hidup atau membiarkannya tetap mati. Seringkali, ketika dijahati, kita menyibukkan diri dengan memaki. Seakan kita yang paling punya kesempurnaan hati. Padahal, tanpa kita sadar, bisa hilang jati diri.

Tidak satu pun, orang di dunia ini yang tidak pernah berbuat jahat (kalau pun ada, dia bukan orang, tapi nabi 😉 ) dan di perjalanan ini, aku menemukan kejahatan yang baik. Itu mengapa, aku menyebutnya dengan JAHAT yang BAIK. Ketika mereka sibuk dengan jahat yang menyakiti, kita pun tak sanggup untuk diam saja, tidak membalas. Balas dengan menjahati. Namun, kejahatan yang paling seru yang pernah kutemui adalah, kejahatan yang dibalas dengan kebaikan.

Jahat yang dibalas dengan kejahatan, itu sudah biasa. Beberapa kasus kriminal yang aku temui, hampir semuanya karena motif dendam sakit hati. Emosi tidak mampu ditahan. Hal yang kecil diawali dengan memaki, kemudian bisa berlanjut dengan kekerasan yang bikin mati. Imbasnya kita yang merasakan sendiri. Masalah pun menjadi sulit diakhiri. Berada dalam jeruji besi, adalah santapan kosong yang kita hadapi di setiap pagi.

Mungkin kita perlu mencoba dengan teori Jahat yang Baik itu. Biarkan saja mereka sibuk berbuat jahat di luar sana. Kita, tidak perlu ikut-ikutan. Ingat-ingat bahwa kita tidak pernah sempurna. Kita bukan yang paling benar, paling pintar, paling beradab. Jauh. Tidak perlu bicara soal kualitas. Rasa-rasanya kok kurang pantas, ya. Bayangkan, saat kita semena-mena atau tak sengaja jahatin orang lain, eh orang itu tetap baik sama kita. Rasanya? Yang ada malu muka sendiri. Daleeemm!

Sekali-sekali kita rasakan dengan berbuat kebaikan. Rasanya jauh lebih menyenangkan. Dan menghibur diri dengan sebuah kemenangan. Orang mau jahat juga sungkan. Rasakan! *tertawa licik*

Well, cukup sudah teori di Jumat pagi ini. Aku, mungkin salah satu yang jahat. Yang tidak berhenti menyakiti. Yuk, mending kita sama-sama berbaik hati. Maafin yaa 🙂

Love,

@incredibledinna

Posted in Oh