Jahat yang Baik

Mungkin itu sebabnya Tuhan tidak membiarkan kita tahu segalanya. Jika kita tahu, mungkin kita akan jadi terlalu takut hidup di dunia ini. Diri kita sendiri, mungkin pernah menjadi orang jahat. Begitu pula dengan orang-orang di sekeliling kita. Kalau dibiarkan untuk tahu semua, yang jahat-jahat menjadi ketauan. Dan kita akan memilih untuk mendekam di dalam kamar dari pada jadi korban kejahatan.

Satu hal yang aku percaya, pada dasarnya manusia itu baik. Kita semua punya hati. Cuma bedanya, ada hati yang sehat, yang sakit, atau yang sakit parah. Dan itu tidak akan menjadi selamanya. Yang sehat, bisa jadi sakit. Begitu pula sebaliknya, sakit parah pun, bisa sembuh. Pembunuh, pencuri, perampok, pemerkosa, atau koruptor, punya hati yang kemudian timbul rasa menyesal. Hati itu bisa mati, karena terbiasa. Tapi selama masih hidup, hati akan tetap hidup sebenarnya. Jika kemudian mereka memakai kata mati untuk hati, itu hanya mati suri.

Dalam hidup, kita tidak bisa memaksa semua orang punya hati yang sehat. Kita bisa menjadi korban dari hati orang-orang yang sakit, atau malah, kita yang menjadikan orang lain sebagai korban hati kita yang sedang sakit. Ketika kita merasa orang lain berbuat jahat pada kita, kita pun harus ingat, mungkin kita juga pernah jahat pada mereka. Begitu banyak yang jahat, tapi itu mungkin juga ada pada diri kita sendiri.

Itulah gunanya saling memaafkan. Apakah semuanya akan selesai dengan kata maaf? Kita pun melanjutkannya dengan introspeksi. Ketika salah, introspeksi tetap harus dicoba. Dicoba terus, walau pun naik-turun terus ada dalam hidup kita. Memang begitu seharusnya bukan?

Kita sendiri yang harus membuat hati kembali hidup atau membiarkannya tetap mati. Seringkali, ketika dijahati, kita menyibukkan diri dengan memaki. Seakan kita yang paling punya kesempurnaan hati. Padahal, tanpa kita sadar, bisa hilang jati diri.

Tidak satu pun, orang di dunia ini yang tidak pernah berbuat jahat (kalau pun ada, dia bukan orang, tapi nabi😉 ) dan di perjalanan ini, aku menemukan kejahatan yang baik. Itu mengapa, aku menyebutnya dengan JAHAT yang BAIK. Ketika mereka sibuk dengan jahat yang menyakiti, kita pun tak sanggup untuk diam saja, tidak membalas. Balas dengan menjahati. Namun, kejahatan yang paling seru yang pernah kutemui adalah, kejahatan yang dibalas dengan kebaikan.

Jahat yang dibalas dengan kejahatan, itu sudah biasa. Beberapa kasus kriminal yang aku temui, hampir semuanya karena motif dendam sakit hati. Emosi tidak mampu ditahan. Hal yang kecil diawali dengan memaki, kemudian bisa berlanjut dengan kekerasan yang bikin mati. Imbasnya kita yang merasakan sendiri. Masalah pun menjadi sulit diakhiri. Berada dalam jeruji besi, adalah santapan kosong yang kita hadapi di setiap pagi.

Mungkin kita perlu mencoba dengan teori Jahat yang Baik itu. Biarkan saja mereka sibuk berbuat jahat di luar sana. Kita, tidak perlu ikut-ikutan. Ingat-ingat bahwa kita tidak pernah sempurna. Kita bukan yang paling benar, paling pintar, paling beradab. Jauh. Tidak perlu bicara soal kualitas. Rasa-rasanya kok kurang pantas, ya. Bayangkan, saat kita semena-mena atau tak sengaja jahatin orang lain, eh orang itu tetap baik sama kita. Rasanya? Yang ada malu muka sendiri. Daleeemm!

Sekali-sekali kita rasakan dengan berbuat kebaikan. Rasanya jauh lebih menyenangkan. Dan menghibur diri dengan sebuah kemenangan. Orang mau jahat juga sungkan. Rasakan! *tertawa licik*

Well, cukup sudah teori di Jumat pagi ini. Aku, mungkin salah satu yang jahat. Yang tidak berhenti menyakiti. Yuk, mending kita sama-sama berbaik hati. Maafin yaa🙂

Love,

@incredibledinna

Posted in Oh

3 thoughts on “Jahat yang Baik

  1. aku jg kayakny sering berbuat jahat, tp menurutku mereka lah yg selalu membuatku terlihat jahat di mata yg lain dan dlm pikiranku sendiri

  2. terkadang saya berpikir bahwa saya harus terlihat jahat agar orang lain disekitar Saya itu terlihat baik
    apakah itu hati yang sakit? atau mungkin parah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s